
Satu setengah jam dari waktu perpisahan alaynya tadi dengan Alana, Saka sudah sampai ke Penang.
Saka masih senyum senyum sendiri, mengingat Alana yang sore ini tampak alay karena nangis bombay sedikit tidak rela melepas kepergiannya. Drama yang cukup panjang, Saka kira bukan karena Alana. Tapi karena anak yang ada di dalam kandungan Alana yang tidak rela berjauhan dengan daddynya.
" Kalau pas hamil aja, Alana yang mandiri dan tegar menjadi melow, selalu pengin nempel, dan alay seperti drama queen, jangan jangan anak yang di dalam kandungan Alana itu cewe? Aku harus ikut Alana saat pengecekan dedek besok minggu depan. Hmm, brarti kira kira kehamilannya udah jalan 9 minggu. Wah, pasti lucu kalau bener anakku cewe. Pas, cowo trus cewe, trus kembar 3. Sayangnya aku dan Alana gak punya gen kembar. " gunam Saka sambil berjalan keluar dari area helipad hotel megah Saka yang di Penang.
" Gimana pak?" tanya Alex, sekretarisnya yang kali ini mengikuti perjalanannya ke Penang. Karena sekalian ada urusan bisnis perhotelan yang sedang ia tangani.
" Tidak. Aku hanya sedang berpikir saja. Besok kamu yang akan menemui klien kita yang hendak mensuplai kebutuhan hotel disini. Ingat, jangan sampai gagal." lanjut Saka sambil memberi perintah perintah selanjutnya sebelum akhirnya mereka masuk mobil. Dan rencananya, Alex juga akan menginap di hotel yang sama, bahkan mungkin mengatur pertemuan dengan kliennya di hotel itu sekalian.
Hotel dimana Saka tinggal adalah hotel yang ia beli sebagian besar sahamnya, jadi Saka selain mengantar Yara, ia juga ingin mengecek hotel yang baru saja ia beli sahamnya. Kebetulan hotel ini lokasinya berdekatan dengan rumah sakit yang ia dan Yara tuju.
Karena ini sudah waktu makan malam, Saka mengajak Alex dan pengawalnya untuk masuk ke resto hotel. Ia memanggil Yara, dan pamannya untuk sekalian makan malam disana. Saka memesan satu private room agar privasinya lebih terjaga.
Satu private room yang diminta Saka sangat luas. Bahkan sanggup menampung 100 orang dan makanan yang dipesan Saka bukan main main. Bisa bikin kenyang satu desa.😂
Sedangkan pengawal yang ia bawa cuman 2, pegawai yang akan diajak pertemuan hanya 10 orang termasuk Alex, dan total dengan keluarga dan orang yang sudah mengawal Yara, sejak 3 hari yang lalu paling hanya 25 orang, tapi tempat private ini menyediakan makanan untuk 100 pax. Hmmh, sultan mah bebas ya.😎
" Yara, aku sudah di resto hotel. Datanglah kemari. Aku menunggumu." ujar Saka lembut di ponsel nya, ia menelepon kamar Yara. Saka belum tahu kalau selama Yara disini, Yara sudah berbelanja belanja, salah satunya ia sudah membeli ponsel pintar agar nantinya ia bisa berhubungan dengan Saka lebih leluasa tanpa melalui pamannya.
"...."
__ADS_1
" Yara, ajak paman dan bibi makan disini." lanjut Saka lagi.
" ..."
" Oww, berarti kamu hanya sendirian di Penang?? Bagaimana bisa paman meninggalkan kamu sendiri disini? " tanya Saka dengan nada suara yang sudah naik satu oktaf, tanda ia sedang menahan emosinya.
"..."
" Baiklah, turunlah bersama pengawal yang aku tugaskan menjagamu. " ujar Saka lagi dengan nada datar. Kemarahan Saka sedikit memuncak. Bagaimana paman Yara yang seyogyanya menunggu Yara disini malah pulang bersama istrinya dengan alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Dan bagaimana anak buahnya hanya diam dan tidak mengabarkan apa apa.
" Jemput istriku dikamarnya." perintah Saka melalui ponselnya kepada pengawal wanita yang ia suruh menjaga Yara selama Yara ada di Penang.
Tanpa menunggu jawaban dari pengawalnya, ia langsung menutup teleponnya. Ia geram dengan kinerja anak buah Lio itu. Belum sehari ia sampai disini, ada masalah baru yang harus ia hadapi.
Saka menyempatkan menelepon Alana, mengabarkan kalau ia sudah sampai di Penang dan ber canda sebentar dengan Genta yang saat ini akan tidur bersama Alana. Ahhh, memikirkan Genta yang saat ini dikamar bersama Alana membuat Saka menjadi iri. Ia juga ingin bersama mereka. Ia ingin mengelus perut Alana yang membuncit akibat perbuatannya. Pikiran tentang Genta, Alana dan bayi yang dikandungnya sedikit mengikis kemarahan akan kinerja pegawainya.
" Hmmh, Yara, duduklah. Kamu harus makan dulu. Kamu mau makan apa?" tanya Saka dengan lembut.
" Apa sajalah, mas. Aku ngikut kamu saja. Oya mas, gimana kabar Alana?" tanya Yara lagi.
"Baik, anak anak juga baik, Yar. Bagaimana ceritanya Paman dan bibi meninggalkan kamu sendiri?" tanya Saka balik.
" Paman mengalami masalah dengan pekerjaannya. Bibi khawatir dengan kondisi kesehatan paman yang tampak terpukul dengan masalah yang menimpa perusahaannya." jelas Yara dengan nada lembut dan sabar.
__ADS_1
" Masalah apa?" tanya Saka sambil menaikkan kedua alisnya.
" Ada yang melakukan penggelapan dana perusahaan, yang melibatkan instansi pemerintahan lokal. Sehingga paman harus berurusan dengan kepolisian juga kehilangan uangnya." jelas Yara lagi. Saka hanya mengangguk saja.
" Kenapa gak bilang kalau tidak bisa menemanimu? Dan lagi yang menjengkelkan pengawalmu sama sekali tidak melapor apa apa." sahut Saka dengan nada keras, yang mengakibatkan pengawal yang mengawal Yara ketakutan karena suara Saka sampai ke telinga mereka. Mereka hanya menunduk menanti hukuman kemarahan Saka atas kelalaian mereka.
"Aku yang menyuruh mereka agar tidak memberitahukan tentang kepergian paman. Kupikir mereka berempat pasti bisa menjaga aku disini. Aku cuman tidak mau kalau memotong waktumu bersama Alana. Aku tahu kalau kamu selain bekerja kamu juga sibuk mengurus Alana dan bayinya." jelas Yara dengan nada sendu menenangkan kemarahan Saka.
"Yara, aku tahu.."
"Aku gak apa, Mas. Sungguh. Aku bahagia kalau Alana bisa membahagiakan kamu. "
"Emang kamu tidak merasa cemburu kalau waktuku lebih banyak untuk dia dan Genta ?" tanya Saka memancing.
"Bohong kalau aku gak merasakan apa apa. Tapi aku ikhlas, mas. Aku kan gak bisa memberimu kepuasan maupun keturunan. Aku sudah cukup bersyukur kalau kamu tidak membuang aku, mas. Dan masih memeperhatikan aku. Justru aku merasa bersalah karena mengambil waktu kamu dan Alana. Aku dengar Alana yang sedang hamil inginnya diperhatikan dan ingin selalu berdekatan dengan kamu."
"Kayaknya lebih baik saat aku bersama kamu, kita tidak usah bahas tentang Alana. Ini kulakukan bukan untuk menutupi fakta apapun, Yara. Tapi terlebih untuk menjaga perasaan kamu sebagai istriku juga. Paham?"
jelas Saka dengan nada lembut. Makanan yang tersedia didepan meja sedari tadi belum tersentuh sama sekali karena mereka keasikan ngobrol, Saka berinisiatif menyuapi Yara dengan sayang. Sambil berbicara tentang mereka.
.
.
__ADS_1
.
TBC