
“Mas Rendra sangatttt baik, dia mengerti kondisiku, ia juga tidak memuaskan diri diluar. Itu yang membuat aku sakit, Al. Aku tidak bisa egois dan menuntut dia untuk
menerima aku apa adanya kalau aku saja tidak bisa memberi haknya. Aku sadar,
aku harus melakukan sesuatu, aku memilihkan dia calon istri yang bisa
menunaikan kewajibannya dan memberinya surga dunia serta keturunan dari darah
dagingnya sendiri, yaitu kamu.”
“ Jujur pada awalnya dia nolak, dia marah,
sampai akhirnya aku menerima keputusan paling pahit yaitu Kemo, arrghhh yang
bahkan bukan bertujuan menyembuhkan hanya meringankan sementara. Dengan kemo
aku tambah lebih tidak bisa memenuhi apa yang keluarganya mau… jangan nangis
Al… aku gak mau bayi didalam kandunganmu jadi sedih.” Kata Yara sambil menyeka
air mata yang jatuh di pipi Alana tanpa ia sadari. Alana tahu betapa berat
penderitaan Yara, saat ini. Air mata Alana jatuh tanpa dapat ia tahan.
“Saat aku pingsan berkali kali itulah, ia meluluskan permintaanku agar dia menikah
denganmu. Kemo tidak membuatku sembuh, Al… aku juga sudah mencoba yang lainnya,
tapi tubuhku kayaknya semakin tidak bisa menerimanya. Jadi tindakan yang saat ini aku bisa lakukan hanya pasrah. Mungkin dengan pasrah kesakitan ini bisa hilang dan digantikan kesembuhan.“ lanjutnya lirih. Yara adalah wanita yang kuat, ia menceritakan
pergumulannya dengan maut tanpa air mata dan ketakutan. Dalam hati Alana
mengamini doa Yara akan kesembuhannya. Dia juga berharap yang sama, sekalipun
mungkin nantinya dia tidak bisa memiliki cinta Saka sepenuhnya, dia rela.
“Jadi, sekarang apa yang kamu ingin lakukan, biar mas Rendra menemani kamu berobat.
Maaf, kalau aku mungkin gak akan bisa nemeni kamu , karena ada Genta dan bayi
ini yang harus aku urus.” Kata Alana dengan suara yang bergetar, ia masih menahan rasa sedih mengetahui penderitaan Yara.
“Maafkan aku menarikmu dalam situasi yang awkward, serba salah dan menyakitkan perasaanmu. Terimakasih kamu mau memahamiku, mau menerima permintaan konyolku, mau menemani wanita yang berpenyakitan kayak aku.”
“Ya ampun, Yarraaaa… ini pilihan aku! Sudahlah aku gak mau ngomong tentang yang sedih, inget yaaa kamu harus kuat dan sehat, masih ada bayi yang harus kamu urusin, aku mau ngurus kerjaan mas Rendramu, biar dia nanti yang urus keperluan kamu dimana kamu mau melakukan pengobatan.”
Kata Alana terdengar sangat tegas, yaaa, dia harus tegar dan kuat untuk menguatkan jiwa dan raga Yara yang rapuh.
“Kamu gak bakal kangen sama Sakamu?” tanya Yara menyelidik.
“Iya kangen, tapi nanti kamu baper kalau aku kangen?” goda Alana sambil mencubit pipi Yara,
“Nggaklahhh… kita bagi aja, kalau senin sampai kamis bolehlah ditemani aku, kalau weekend biar dia temani kamu , dannnn kalau kamu udah melahirkan biar dia temani kamu
__ADS_1
sampe kamu sehat.”
“Masih lama Yaraaaa, saat aku melahirkan kamu sudah sehat… “
“Kamu itu baik bangettt, hati kamu itu seluasss samudra.”
“Cihh gomballll!!! Darimana kamu belajar ngegombal?”
“Benerrr kamu itu baik, itu kenapa aku pilih kamu jadi maduku… orang lain pasti malah
doakan aku cepet mati.” Kata Yara dengan sendu.
“Gila!! Jaga omongan kamu. Jangan mikir yang engga engga. Kamu tuh sudah punya tanggungan dan kewajiban.”
“Tanggungan apa dan kewajiban apa??’ tanya Yara sambil mengernyitkan dahinya.
“Kamu kan mau ngurus bayiiii…Yaraaa! Kamu harus sehat untuk melakukan kewajibanmu
mengurus bayi mas Rendra.” Kata Alana sambil memegang pundak Yara. Yara hanya
bisa mengangguk pasrah, dalam hatinya berpikir apakah mungkin dia bisa bertahan
samapai Alana melahirkan?
“Besok mas Rendra anter kamu pulang kan?” tanya Yara lagi, setelah ia mengautkan hati
supaya dia tidak menangis dihadapan Alana yang sudah sangat baik, ikhlas berkorban, sekalipun Alana hamil, ia tidak memonopoli Saka untuk dirinya sendiri.
“Aku pulang sendiri saja…”
“Iyaaa, sudah, kamu cerewetttt!!” potong Alana saat ada perawat yang ,masuk ke
dalam membawa makanan, padahal sudah lewat makan siang.
“Sus, ini kok ada makanan?” tanya Alana memandang box makanan yang dia yakini bukan makanan rumah sakit.
“Ini dari suami bu Yara, membawa makanan .. katanya buat cemilan temen ngobrol ibu sama temannya.” ujar suster, yang tampaknya tidak tahu menahu akan hubungan antara
Saka, Yara dan Alana, mengira Alana hanya teman yang menjenguk Yara.
“Dia bukan temanku… dia itu…” ujar Yara.
“Saudaranya… ya saya saudara bu Yara.” Potong Alana cepat, ia tidak ingin suster itu
ghibahin hubungan mereka.
“Maaf, kalau begitu silahkan dilanjutkan, saya
tunggu diluar, soalnya sebentar lagi saatnya ibu Yara minum obat.” Kata suster itu sambil keluar dari kamar.
“Kenapa sih kamu…”protes Yara.
“Stop!! Aku cuman ga mau hubungan kita jadi bahan pergunjingan.” Potong Alana.
__ADS_1
“Kamu kok tahu apa yang mau kutanyain?”tanya Yara heran.
“Kamu lupa? Aku kan paranormal?” kata Alana sambil membusungkan dadanya.
“Masa?? “
“Ya gaklah!!! Kalau cuman menebak apa yang kamu pikirkan itu gampang!” sergah Alana
sombong.
Cekrek!!
“Paman..” panggil Alana dengan suara tercekat, ia tahu kalau paman Yara tidak
menyukainya. Alana hanya bisa mendesah pelan saat paman Yara hanya memandangnya sekilas dan tidak membalas salamnya.
“Kenapa paman? Kok mukanya muram gitu.” Kata Yara mengalihkan perhatian pamannya yang tampak kesal dengan kehadiran Alana. Yara juga tahu kalau pamannya tidak suka
sama Alana karena dianggap mengambil perhatian Saka dari Yara.
“Kamu besok akan dipindahkan ke Penang. Final medical check nya ditangani dokter Michele, sebentar lagi dia akan memeriksa kamu.” Kata Paman Yara dengan dingin. Alana
tahu ini saatnya dia pamit.
“Yaraa, Paman, Alana pulang dulu… semoga kamu cepet sembuh ya, Yarr!” kata Alana sambil memeluk dan mencium istri pertama suaminya itu.
“Iya.. hati hati dijalan…” balas Yara dengan nada riang, ia terhibur dengan hasil
perbincangan Alana dan dirinya. Yara jadi semakin positif menghadapi pengobatannya, tapi pamannya hanya berdecih … mengacuhkan Alana yang menganggukkan kepala kepadanya.
“Paman, Yara gak suka paman bersikap seperti itu.” Desis Yara dengan suara tertahan, ia tahu pamannya sangat menyayanginya, ia juga harus bersikap sopan, dia tidak mau
marah marah sekalipun dia kesal dengan sikap pamannya.
“Dia mendoakan kamu sebaliknya, itu yang membuat paman berkeras kamu harus sembuh!! Supaya dia tahu, siapakah yang berhak atas Rendra.” Kata paman Yara dengan
suara tegas.
“Paman jangan berpikiran negative, dia yang support Yara. Dia buat Yara semangat menghadapi pengobatan yang menyakitkan, bahkan kalau boleh kemarin Yara berdoa supaya Allah ambil saja nyawaku yang gak seberapa ini.” isak Yara pelahan, dia jengkel
dengan pamannya yang tidak mau mengerti, dia sebal karena pamannya tidak pernah
mau mendukung keputusannya untuk menikahkan Saka dengan Alana. Apa paman lupa kalau aku tidak bisa melayani mas Rendra secara biologis?? Batin Yara sedih.
“Maafkan paman, paman cuman kesal dengan Alana yang tidak tahu diri…”
“Dia bukan tidak tahu diri, aku yang menariknya dalan situasi ini.” Bela Yara cepat, ia tidak suka pamannya kembali menyalahkan Alana.
.
.
.
__ADS_1
TBC