Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 49. Cinta Tak Bersyarat*


__ADS_3

" Kalau saja tadi kamu tidak bertengkar dengan pamanmu, pasti kamu tidak akan jujur dengan aku." lanjut Saka sambil masih melanjutkan kegusarannya.


Yara hanya menghela nafasnya.


"Aku tadinya kesal karena Paman selalu menyudutkan Alana, mengatakan kalau Alana itu tidak menginginkan kesembuhanku, makanya aku terpancing emosi, tadinya aku sudah mengubur dalam dalam masa laluku. Paman selalu mengatakan ia tahu yang terbaik untukku, padahal ia tidak tahu. Saat aku hamil juga bilangnya begitu, ia buang anakku dengan alasan itu, aku jadi kesal, kemarahanku yang dulu keluar lagi. Aku terkadang benci dengan kenyataan bahwa aku harus menuruti sesuatu yang aku ga suka." kata Yara dengan nada amarah yang tertahan, ia masih merasakan sesak didadanya mengingat pamannya pernah membuang anaknya. Dan tidak pernah jujur kemana dia membuangnya.


" Aku tidak membela Alana, dia ingin kamu sembuh, bahkan sebelum aku kesini aku sempat berselisih paham dengan dia." desah Saka putus asa.


" Emang kenapa bertengkar? " tanya Yara dengan heran.


" Dia ingin pergi setelah melahirkan anak yang dikandungnya untuk kamu rawat, dia bahkan bilang bahwa kamu pasti sembuh, ia tidak ingin ada diantara kita. " lanjut Saka dengan nada lemah.


" Kamu tidak boleh membiarkan dia pergi, mas!"


" Aku juga tidak segila itu, Yara!" jelas Saka sambil mengacak rambutnya dengan frustasi. Masalah seakan akan tidak mau pergi dari kehidupan pernikahannya.


" Kenapa tiba tiba Alana berpikir begitu? Pasti ada sesuatu kan? Apa karena paman?" tanya Yara menyelidik.


" Bukan, ini lebih rumit dari itu. Ini karena Irvan Sanjaya. Mantan suami Alana. "


" Dia mau balikan dengan Irvan? Alana benar benar gila!" seru Yara dengan nada heran.


" Bukan, ceritanya bahkan lebih rumit dari itu."


" Lha iya, maksudnya gimana sih, mas? Aku juga kepingin tahu." desak Yara lagi, ia benar beanar ingin tahu kenapa Alana berhubungan lagi dengan Irvan bahkan setelah Irvan menninggalkan Alana saat mengandung Genta.


" Irvan itu gay. "


" Astafirullah " potong Yara sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, matanya sampai melotot karena kaget.

__ADS_1


"Dan untuk menutupi status nya yang tidak bisa dan tidak mau menghamili Alana, dan juga karena desakan orang tua Irvan, ia kemudian menjebak seorang laki laki dengan minuman keras dan obat perangsang, untuk menghamili Alana. Begitupula Alana diberi obat tidur supaya Alana tidak tahu denagn siapa ia berhubungan badan." jelas Saka lagi.


" Yang benar??? Mas, keji sekali tindakan mas Irvan itu. Trus Alananya sekarang gimana? Siapa laki laki malang yang dijebak itu? Apa dia tidak tahu? Bagaimana kamu tahu tentang itu , mas? " cecar Yara dengan marah, rasanya ia ingin memotong motong tubuh Irvan itu yang sudah merencanakan hal sebejad itu.


" Irvan sendiri yang menemui kami dan meminta ampun atas dosa dosanya dimasa lalu, supaya berkurang rasa bersalahnya."


" Lalu bagaimana dengan Alana? Siapa.."


" Yara sayang, satu satu nanyanya. Mas gak bisa cerita dengan benar kalau kamu begini." potong Saka dengan nada lembut, seakan dia sudah tidak ingat kalau sebelumnya ia marah dengan Yara karena Yara membohonginya.


" Maaf, habisnya mas lama ceritanya, jadi gak sabar nunggunya." seru Yara sambil mencebik kesal. Entah kenapa setelah Yara mengungkap rahasia masa lalunya dia tampak lebih segar dan tidak nampak seperti orang yang sakit.


" Baiklah, mas mulai. Alana tidak baik baik saja. Ia sangat terpukul. Karena kamu tau gak siapa laki laki yang dijebak untuk menghamili Alana?"


" Ya ampun, mas. Ya aku gak tau siapa laki laki itu. Emangnya aku paranormal?" tanya Yara dengan raut wajah yang kesal karena mas Rendranya tidak kunjung menyelesaikan cerita yang ingin ia ketahui.


" Laki laki yang dijebak malam itu adalah aku!!"


" Ya gak tahu, kan aku juga dicekoki minuman keras dan obat kuat. Dan aku bangun bangun udah di kamar sendirian."


"Bagaimana bisa?"


"Masa harus cerita detil sih, Yara sayanggggg." bantah Saka masih malu menceritakan bahwa tubuhnya pernah dibopong oleh lelaki itu. Membayangkannya saja membuat Saka bergidik.


" Ehm, kamu gak tahu sama sekali kalau kamu melakukan itu dengan Alana?"


"Sumpah, Yar. Aku gak tahu, aku gak inget, aku tahu tahu udah di dalam kamar hotel sendirian."


"Jadi, Genta?"

__ADS_1


" Huum."


"Pasti?"


" Ya, Alana ingin memastikan kebenarannya dengan test DNA, dan setelah ia tahu, ia malah marah, ia ingin bercerai dariku."


" Lho kok aneh, kan mestinya dia senang? Kalau ternyata daddynya Genta adalah kamu?" Yara mengernyitkan dahinya, ia bingung dengan kenyataan kalau Alana malah marah dan kecewa. Mestinya dia senang. Dan tunggu, berarti keluarga Perdana sudah memiliki keturunan dan ahli waris.


" Ayah dan Ibu sudah tahu? " tanya Yara lagi, ia senang berarti tujuannya membuat keluarga Perdana memiliki keturunan berhasil, sekalipun bukan dari rahimnya sendiri.


" Belum, aku emang mau cerita sama kamu dulu, baru nanti sepulangku mengantar Alana aku akan mengatakannya pada ayah dan ibu."


"Mas, kamu harus hati hati, aku takut Alana akan melarikan diri darimu karena tidak mau kamu membagi cinta dengan aku."


"Hmm, kamu tidak usah banyak pikiran, bagaimana dengan persiapan hati mu untuk berangkat ke Penang?" tanya Saka sambil membelai bahu Yara yang ada disampingnya itu.


"Aku berubah pikiran, mas. Kita tidak lagi harus menuruti kemauan paman. Aku tidak mau berobat di Penang. Aku mau di Indonesia saja. Kalaupun aku harus mati, biarlah aku mati ditengah tengah keluargaku sendiri." kata Yara sambil matanya menatap ketempat lain.


" Yara, sayang, ini bukan karena menuruti kemauan paman. Aku mau kamu sembuh. Walaupun apa yang bisa kuberikan kepadamu hanya kehidupan pernikahan yang tidak sempurna, tapi aku benar benar menyayangimu. " ujar Saka dengan lembut. Saka menatap Yara dengan penuh kasih,lagi lagi ia mendekatkan wajahnya dan kembali mencium bibir istrinya itu. Ciuman kasih sayang, mungkin bukan ciuman yang penuh gejolak, tapi Yara bisa merasakan bahwa Saka mencintainya dengan cinta yang tulus, cinta tak bersyarat, bukan karena kasihan, bukan karena tuntutan.


" Mas, aku bukan wanita sempurna.."


"Yara, aku juga tidak bisa memberimu cinta yang seutuhnya, karena disini, dihatiku ini juga ada Alana, tapi aku ingin melindungimu, menjagamu, memegang tanganmu, sampai kamu melepaskannya untuk kebahagiaanmu, aku rela." bisik Saka lirih, air mata nya luruh, Saka sadar, hatinya terbagi. Yara juga menangis, ia tidak menyangka kalau Allah sedemikian sayang kepadanya, memberi suami yang memberi cinta tak bersyarat, selalu mencoba mengerti, memberi madu yang tidak ingin memiliki suaminya dengan egois padahal Alana bisa memberikan kebahagiaan, cinta bahkan keturunan, sebuah kesempurnaan yang tidak bisa ia berikan.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2