Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 72. Genta Kangen Daddy


__ADS_3

Hai gengs...


thor kembali lagi membawa update.


Karena kesibukan mungkin thor hanya bisa berusaha setiap hari update, belum bisa crazy update.


Jangan lupa like dan votenya.


Bentar lagi bakal end, tapi emang belum tamat betulan hanya harus ganti buku....


BTW gengs, saya suka ketawa sendiri baca komen komen di bawah bacaan. Kok kalian seneng banget ya lihat Saka menderita. Satu lagi, kalian kok seneng sama Alana, padahal Alana nih istri kedua. Tolong jawab rasa penasaran akyu di komen bawah ini ya.😂😂


Jangan lupa di..


like like like like like like like


Dukung thor dengan


vote vote vote vote vote vote


THANKS BANGET YANG SUDAH NGEVOTE, maaf ga bisa nulis satu satu.


jangan lupa juga buat baca karyaku yang lain ya....


Terjebak dalam tubuh Keyra.🆕


Menikah dengan ipar


Rasa itu masih ada.

__ADS_1


Kalau mau ikut di grup untuk dapet poin gratis dariku juga silahkannnn.


Yukk langsung baca aja.


Happy reading.


Salam dari thor cantik pengemis like dan vote. Muachhhhhh muach 💓💓


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Alana.."


"Ya bu. Ada apa? Kenapa ibu tergesa gesa?" tanya Alana keheranan melihat ibu Irsyana tergopoh gopoh mencarinya.


"Lana, Saka mencarimu. Tadi ibu ditelepon sama Saka, tapi ibu sengaja tidak mengangkatnya. Lalu Saka menelepon ayah."


"Bu, ayah gak tahu aku di Lembang?" tanya Alana dengan nada khawatir, ayah itu orang yang lurus. Dia gak pernah bohong makanya ibu Irsyana tidak menceritakan rencana pelariannya kepada ayah Langit.


"Ayah bilang apa bu? " tanya Alana ingin tahu.


" Ibu bilang kalau ibu sedang pergi arisan, jalan jalan sama teman ibu, nah ibu juga gak ngajakin kamu dan Genta. Sekarang gini deh, kita harus cepat bertindak, kayaknya anak itu bakal pulang Indonesia hari ini juga. Kamu rencananya gimana? Mau ketemu sama dia atau kamu masih mau menghilang? Sampai kamu benar benar yakin sama perasaan kamu dan perasaaan Saka?" cecar ibu dengan nada tergesa gesa. Ia tahu anaknya tidak akan puas saat ia tidak ketemu dengan istri mudanya. Apalagi Alana sedang hamil baby boy keturunannya, meski Genta juga keturunan Saka juga.


" Maaf bu, Alana masih kesel sama Saka. Alana bukannya gak cinta sama Saka, bu. Tapi Alana sakit hati saat Alana gak dianggap sama sekali. Alana tahu resiko menjadi istri kedua, bahkan Alana gak masalah dijadikan rahim pengganti, tapi gak taulah bu, hati Alana itu kayak keseeeeel banget gitu. Sudah diduakan, masih juga di tigakan dengan pekerjaannya." jelas Alana sambil menangis sedih, lagi lagi hormon kehamilannya membuat Alana sedih berlebihan. Biasanya Alana adalah sisok wanita yang tangguh.


" Alana, kamu boleh sebel banget sama Saka, tapi ibu mohon, jangan kamu bercerai darinya. Kamu sudah ibu anggap anak ibu sendiri, bahkan lihatlah, ibu malah belain kami daripada si Saka itu. Kamu boleh menghindari Saka saat ini. Ibu juga tahu ini bukan keinginanmu sendiri melainkan ini keinginan bayi yang ada di dalam kandunganmu yang suka banget ngerjain daddynya. Ya Alana, jangan tinggalin ibu ya, nak." ibu Irsyana malah ikutan mewek, berdrama bareng menantu kesayangannya yang sedang dalam kondisi labil karena kehamilannya.


" Bu, kalau Saka marah gimana? Nanti ibu bakal dimarahin dong?" tanya Alana takut kalau hubungan Saka dan ibunya bakal renggang gara gara dirinya. Alana gak tahu apakah ini adalah ngidam cara baru, karena ia bener bener sebel bin kesel sama Saka, males ketemu, males bicara sama Saka tapi juga gak mau pisah dari Saka.


"Tenang, Lana. Ibu sudah punya cara, kamu tenang saja. Lha sekarang kamu maunya gimana? "

__ADS_1


" Sementara ini, Lana masih belum bisa ketemu sama daddynya anak anak. Ibu maafkan Alana, Lana bukan menantu yang baik. Alana malah ninggalin Saka saat Saka mungkin butuh, Lana. Tapi gak tau kenapa, Alana gak bisa." isak tangis Alana semakin kenceng.


" Ya sudah, kamu habis ini bersiap siap. Ibu gak bisa lagi nemenin kamu disini. Ibu harus segera pulang ke Jakarta. Kalau gak nanti, Saka curiga. Ibu harap kamu gak pakai semua kartu yang diberikan Saka. Nih, kamu pake kartu ibu saja. Itu kartu debit dan kartu kredit ibu. Saka mungkin gak akan ngecek kartu ibu. Bentar lagi kamu akan ibu antar ke Bandung, kerumah ibu waktu ibu belum menikah dengan ayah Langit. Sementara kamu tinggal di Bandung sama Genta. Untuk kehidupanmu sehari hari kamu pakailah uang ibu. Gak usah bekerja ya, Lana. Kamu jaga anak anakmu saja. Sampai kamu bener bener siap bertemu Saka." ujar ibu Irsyana mengatur kepergian Alana.


" Bu, makasih. Ibu mau ngertiin Lana. Meski Saka anak kandung ibu. " ujar Alana sambil memeluk tubuh ibu Irsyana, ibu balas memeluk Alana dengan sayang.


" Nenek sama mommy main peluk pelukan, Genta juga mau main peluk sama dedeknya Genta. " kata Genta langsung memeluk perut Alana yang membuncit, membuat Alana hampir kehilangan keseimbangan. Untung ibu Irsyana sigap memegangi tubuh Alana yang limbung, karena dalam posisi tidak siap saat di peluk oleh Genta.


" Aduh, Genta hati hati ya. Nanti adik bayinya jatuh. Genta kalau mau peluk mommy jangan keras keras. " ujar ibu Irsyana memperingatkan Genta dengan lembut.


" Iya, nek. Maafkan Genta ya, mom." kata Genta sambil mengangguk anggukkan kepalanya.


" Iya, sayang." kata Alana sambil menyembunyikan tangisnya melihat Genta yang pintar dan sayang dengan adiknya juga mommynya.


" Mommy kok nangis? Mommy kangen sama daddy ya? Genta juga suka nangis kalau kangen sama daddy. Daddy Saka lama ya pergi kerjanya. Soalnya daddy kerja cari uang buat Genta dan adik bayi ya." cerocos Genta dengan riang. Ya allah, dada Alana tambah sesak, ia berusaha menahan tangisnya yang seakan tak mau berkompromi, Alana merasa belum bisa memberikan kasih sayang yang utuh buat Genta. Hati Alana bak teriris sembilu, Genta sejak kecil mandiri tanpa kasih sayang ayah, dan bahkan dirinyapun kurang memberi kasih sayang karena sibuk bekerja mencari uang untuk penghidupan mereka yang serba sulit dulunya. Bahkan disaat materi tercukupi, kasih sayang itu masih minim yang diterima oleh Genta.


" Mommy sayang banget sama Genta." Alana hanya bisa menjawab itu saja, diam diam ibu Irsyana menangis, ia menyesali tingkah laku anaknya yang membuat cucunya kehilangan sosok ayah.


" Lana, ibu harap kamu tidak terlalu lama memisahkan mereka. Kasihan Genta dan adiknya kelak. Mereka juga butuh kasih sayang dari Saka seutuhnya, sebagai daddynya. Apalagi merekalah pewaris keluarga Perdana. " jelas ibu Irsyana sambil mengusap air matanya. Ia menepuk bahu Alana yang masih memeluk Genta yang kebingungan menghapus air mata mommynya.


" Cup, cup, mommy jangan nangis terus, nanti adiknya Genta sedih, trus ikutan nangis, trus nanti sakit loh, momm. Genta gak mau kalau nanti adiknya Genta sakit." kata Genta masih menghibur mommynya yang masih belum melepaskan pelukannya ke Genta.


" Sudahlah, Lana. Kita harus bersiap. Barang barang kamu sudah ibu suruh mbok Sum yang siapin. Kita akan makan dulu, baru berangkat. Nanti kamu dan Genta akan tinggal di rumah ibu yang di Bandung itu. " jelas ibu Irsyana sambil menggandeng Alana disisi kanannya dan Genta di sisi kirinya.


" Genta nanti nenek harus pulang ke Jakarta. Genta jaga mommy ya. Jangan sampai mommy kenapa kenapa. Nanti kalau Genta mau laporan sama nenek atau butuh apa apa, Genta telepon nenek melalui ponselnya Genta yang dipegang mbak Lea, baby sitter Genta. Okey?" kata Ibu Irsyana kepada Genta. Sedangkan Genta hanya manggut manggut mendengarkan semua instruksi dengan seksama.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2