
Tetep ya vote yang banyak supaya thor semangat💪🏻💪🏻💪🏻dan like setiap sudah bacaaa yaaa,😘
Makanya, budayakan like dan vote😘😘 yang banyak. Author sangat amat berterima kasih buat readers yang sudah meluangkan waktu dan upaya buat nge vote tanpa paksaan karena berarti reader menghargai author yang sudah susah payah bikin cerita ditengah kesibukan yang ada. Sekali lagi makasihh💋💋
Happy reading!!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
" Kalau Rangga benar benar bisa menahan diri, berarti Rangga itu hebat. Yara beruntung bisa dicintai dan dihargai oleh laki laki sepertu itu. Karena kesetiaan seperti itu langka loh, Bby!" kata Alana sambil menatap kagum Rangga yang bersiap keluar bersama orang orang yang membawa Yara.
" Maksudnya?" tanya Saka dengan nada tidak senang. Apa Alana lupa kalau yang dihadapinya adalah Saka si posesif ya? Dia lupa kalau Saka tidak suka Alana memuja laki laki lain.
" Lha tadikan kamu, Bby yang bilang kalau sulit bagi seseorang untuk melupakan dendamnya. Apalagi ini anaknya dibunuh lo, Bby! Tapi ia harus ngampuni orang yang membunuh anaknya. Kan berat, Bby!! Jadi kalau nanti Rangga bisa,berarti Rangga hebat." jelas Alana karena ia sudah mencium bau bau cemburu di nada suara Saka.
" Lagian, Bby. Aku kasian dengan jalan hidup Yara! Padahal Rangga kan baik ya, Bby? Ganteng juga. Pinter juga, sayang sama Yara, kan itu sudah jadi poin bagus ya untuk jadi suami. Ga ada alasan paman menolak mestinya." lanjut Alana, kata kata terakhir Alana ini membuat Saka kesel lagi. Karena lagi lagi Alana mengatakannya dengan penuh pemujaan, pada kisah cinta Rangga Yara yang menurutnya its eternal love. Rangga sampai ga punya istri lagi karena cintanya yang begitu dalam terhadap Yara.
" Trus kamu pikir, aku, Narendra Sakabumi gak punya poin bagus buat dijadikan suami?" tanya Saka dengan suara pelan dan tertahan. Mereka mengikuti orang orang yang membawa jenasah Yara ke mobil ambulance di basement, baru setelah itu mereka akan naik mobil mereka sendiri menuju rumah Saka yang dulunya ia temlati bersama Yara.
" Ohhhh, kalau kamu poinnya sangaaaaaaaaaaaat bagus." nada suara Alana sebenarnya sengaja dilebaykan, ia ga ingin Saka bikin masalah disini, karena menurut Alana Saka itu posesif daripada nanti perang dunia pecah mending mengalah. Alana langsung berjalan lebih cepat mensejajari Lio yang ada di depan Saka dan Alana, sedang Rangga berjalan disamping orang yang membawa Jenasah Yara.
" Biar mereka turun dulu, Lala!" kata Saka sambil menarik tubuh Alana karena lift penuh sesak. Alana hanya menurut saja.
" Lihat kamu nanti!! Kamu sudah berani membanding bandingkan suami kamu dengan pria lain! Dan memuja muji pria lain. Bagus Alana Mahen.. " desis Saka dengan suara tertahan saat mereka berdua tinggal sendiri. Alana hanya diam, ia tidak mau memprovokasi Saka dengan perkataan. Situasinya tidak mendukung, Alana gak mau ribut.
" Bby, paman Yara sudah sampai?" tanya Alana dengan nada manja mengalihkan perhatian suaminya yang lagi berang gara gara cemburu.
" Hmm"
__ADS_1
" Ya Allah, Bby! Kamu marah?"
" Menurutmu?"
" Ya aku jelas tetep milih kamulah, Hubbyku sayang, suami pilihan wanita di seluruh Indonesia, sudah tampan maksimal, pinter, gagah, kaya, baik, perhatian, pokoknya semuanya yang terbaik ada padamu." kata Alana sambil mencebik manja.
" Kamu ya.." Saka tidak jadi meneruskan perkataannya karena pintu lift sudah terbuka, dan mereka harus cepat berangkat, karena Saka harus lebih dahulu sampai kerumah tinimbang mobil ambulance. Saka harus menenangkan paman Yara, supaya tidak bertindak anarkis saat melihat Rangga.
" Bos, mobil sudah siap." kata Lio yang sudah duduk manis di mobil yang sengaja ia parkir didekat pintu lift, sehingga Saka dan Alana ga perlu jalan jauh jauh.
" Yo, ambulance sudah berangkat." tanya Saka setelah masuk ke dalam mobil bersama Alana.
" Belum, mereka mempersiapkan segalanya. Ada Rangga disana. Pihak rumah sakit sudah siap di rumah Bos! " kata Lio memberikan info.
" Laa,kamu telepon ibu dulu!" kata Saka memberi perintah. Ia takut ntar ibunya ngomel panjang lebar karena belum dikasi tahu.
"..."
"Bu, Lana mau ngasi tahu. Yara meninggal dunia, bu. Ini jenasahnya akan diurus di rumah Yara, jadi besok pagi akan dikebumikan dipemakaman keluarga kita." kata Alana kembali sedih mengingat apa yang sudah dialami oleh Yara. Tapi rupanya Alana terlalu straight to the point, membuat ibu shock di sana dan menangis histeris. Alana sampai ikut kebingungan.
" Bby, kamu telepon ayah sekarang, ibu nangisnya ga berhenti. Aku takut ibu kenapa kenapa." kata Alana sambil menutup speaker ponselnya mengisyaratkan Saka untuk menelepon ayahnya. Saka tanpa banyak bicara langsung melakukan apa yang diminta Alana. Dan Lio juga melajukan mobilnya supaya ia akan lebih cepat sampai.
" Ibu, ibu...istigfar bu.. ya Allah ibu ibu..." Alana tambah histeris. Karena kemudian ibu tidak menjawab pertanyaan Alana.
" Aduh, Bby!! Gimana ini? Aduh aku tadi salah harusnya aku tidak ngomong seperti itu di telepon. Aku lupa kalau.." racau Alana kebingungan. Air mata deras keluar dari pelupuk mata Alana. Ia kebingungan. Ia takut kalau sampai ada apa apa dengan ibu.
" Sshhh, tenang dulu sayang! Ibu gak akan kenapa kenapa. Ayah dirumah kok. Mungkin tadi ayah yang matiin telepon. Aku akan coba nelepon ayah lagi sehabis ini. Kamu yang tenang,yang sabar. Kamu juga harus istigfar. " kata Saka sambil memeluk Alana yang menangis juga.
__ADS_1
" Yo, sehabis kamu drop aku di rumah. Kamu langsung ke rumah ayah dan ibu. Cek kondisi disana." kata Saka ketika melihat mobil yang dikendarai Lio sudah masuk areal perumahan elit milik Saka dan Yara.
" Baik bos!" sahut Lio tanpa banyak bicara. Ia juga khawatir dengan kondisi ibu suri. Ibu itu setempo terlihat begitu tegar tapi ya ternyata tidak setegar yang dibayangkan. Karena ternyata ia juga menyimpan sisi lemahnya juga. Lio yang dari remaja sudah kehilangan sosok ayah dan ibu menjadikan ayah Langit dan ibu Irsyana sebagai pengganti orang tuanya. Emang juga mereka mengangkat Lio sebagai anak, tapi Lio selalu menempatkan diri bahwa ia hanya seorang bawahan yang mengabdi kepada atasannya.
Sampai di depan rumah, Saka langsung memeluk Alana untuk segera turun, sembari menunggu ambulance yang akan datang kemudian.
" Yo, kabari aku, aku akan siapin yang disini." kata Saka sambil memeluk Alana yang tampak sedih.Alana bingung dengan kondisi ibu.
Rupanya paman Yara sudah datang bersama bibi yang matanya terlihat sembab dan merah. Tak jauh beda dengan paman Yara,bahkan ada sorot kemarahan dimata paman yang tidak dapat ia sembunyikan.
" Paman?" sapa Saka dengan sopan, tapi tiba tiba tanpa disangka sangka paman Yara langsung menampar pipi Saka dengan keras.
Plakkk!!
Paman meluapkan kemarahannya kepada Saka. Ia menganggap Saka tidak becus untuk mengurus Yara. Alana langsung berteriak histeris melihat ada darah di sudut bibir Saka.
" Dasar kamu wanita penggoda, dasar kamu ja**ng!! Kamu yang membuat Yara meninggal. Pasti kamu yang membunuh Yara. Kamu yang menculik Yara." sergah Paman Yara yang sudah siap untuk menampar pipi Alana juga.
Plakk!!
.
.
.
TBC
__ADS_1