
Alana merasa bahwa dirinya gak boleh egois, Alana langsung menghela nafasnya dengan kasar,
dan merebut piring yang dipegang Saka.
“Bunda Yara, dedek bilang Bunda harus makan, kalau gak dedek pasti syedih. Bunda gak mau
dedek sedih kan?” ujar Alana sambil menirukan suara anak anak, membuat Yara
melongo dan mau menerima suapan dari Alana.
“Nah gitu dong, bundaaa. Dedek kan sayang sama bunda, jadi bunda harus sehat dan makan
yang banyak ya.” Bujuk Alana masih dengan menirukan suara anak anak dalam
berbicara dengan Yara.
“Tapi mulutku gak enak, Al! “
“Iya, gak usah dihabisin, yang penting makan dulu separuh saja… “ bujuk Alana lagi.
Saka memandang kebersamaan Yara dan Alana, perjuangan Alana mengalahkan egonya membuat Saka sedikit banyak terharu.
“Ra, gimana selama kamu disini? Apa kata dokter ada perkembangan?” tanya Saka hati hati,
dia tahu dokter yang menangani Yara adalah dokter Michele itu.
“Hmm, gak taulah, mas… malas bahas penyakitku. Gak ada progress berarti juga. Bosan! Aku rasanya kepingin balik ke Indo aja.” Keluh Yara.
“Emang dokter kamu bilang apa?” tanya Alana iba, tapi dia tidak menunjukkannya pada
Yara, Alana tahu Yara tidak suka dikasihani.
“Dokternya jarang bahas penyakitku. Bahkan beberapa minggu ini yang ditanyain mas Rendra aja…”
“Nada nadanya ada yang cemburu nihh.” Goda Alana, padahal dalam hatinya dia juga
sudah tahu kalau dokter ganjen itu emang super menyebalkan.
“Aneh aja, Al! Kamu gak lihat sih… Pas ada mas Rendra disini, dokter itu mencuri curi
pandang ke mas Rendra terus.”
“Oh ya… mas Rendramu laku keras ya disini.” Sarkas Alana sambil mencebik, memandang Saka yang gelisah di terror dua wanita yang disayanginya.
“Sekarang sudah bikin aliansi menyerang suami sendiri ya?” goda Saka dengan nada
menyindir kedua wanita yang bersekongkol.
“Mas Rendramu setelah banyak penggemar jadi sombong ya, Yarr!”
“Lucu banget tau, mas… Masa dia nanyain apa makanan kesukaanmu. Kamu selama disini tinggal
dimana. Apa korelasinya sama penyakitku coba? Kapan hari nanyain no ponsel mas
__ADS_1
Rendra sama paman… tapi gak dikasih sama paman. Kayaknya paman udah mulai gak
suka dengan dokter itu. Akupun begitu… pasrah saja deh.” Kata Yara sambil
manyun. Wajahnya yang cantik kini tambah tirus. Rambutnya pun kini dipotong
super pendek, untuk menghilangkan jejak bahwa udah rontok disana sini.
Saka memandang istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan, Alana pun menghela
nafasnya dengan berat. Ia tahu Yara kehilangan pengharapan.
“Sudahlah, gausah bahas dokter itu. Apa kamu mau dirawat di Indonesia saja? Atau mau
pindah di Penang? “ tanya Saka dengan lemah lembut.
“Indonesia saja ya, mas! Supaya aku bisa dekat dengan kalian di saat saat terakhirku.”
Ujar Yara dengan antusias, ia mengatakan saat saat terakhir itu seperti tanpa beban dan rasa takut.
“Kamu itu ngomong apa? Mas gak suka kalau kamu mulai putus asa kayak gini! Kamu pasti
bisa sembuh, emang kamu gak kepingin menimang bayi seperti cita cita kamu?”
bahas Saka dengan nada suara yang lebih tajam dari yang sebelumnya.
“ Apa ya salah kalau berserah? Aku itu bukan putus asa loh, mas. Tapi belajar menerima
kenyataan. Jangan suka membohongi diri sendiri deh! Aku bisa merasakan
“Yar, berikhtiar juga penting selain berserah dan menerima kenyataan.” Jelas Alana
dengan lembut, ia tahu beban dihati Yara lebih besar dari apa yang saat ini
diperlihatkannya. Ia hanya berusaha berpasrah, berdamai dengan dirinya sendiri,
menerima kenyataan yang pahit.
“Kamu sudah tahu penyakitku kan, Al? Kamu juga tahu kemungkinan terburuknya kan? Aku hanya belajar menerima itu bukan sebagai beban, tapi sebagai ujian naik tingkat, biar hidupku lebih ringan dijalani. Terapi yang kujalani itu menyakitkan, tidak bisa
melayani suami, tidak bisa menjadi istri yang sempurna, tidak bisa melakukan
apa apa itu berat, Al! Aku berpasrah supaya hidup yang kujalani lebih ringan.
Dikasi kesembuhan, sukur… enggak ya gak maksa.” Alana hanya mengangguk lemah, membenarkan pemikiran Yara. Yara harus diberi sugesti positip, pemahaman yang di pikirkan saat ini juga merupakan salah satu sugesti positif supaya dia tidak terlalu memikirkan penyakit yang dideritanya.
“Raa, kita harus tetep berusaha, apapun itu hasilnya kita pasrahkan pada yang kuasa. Tapi setidaknya kita tidak boleh berhenti berjuang.” Ujar Saka sambil memeluk tubuh
rapuh Yara yang bertambah kurus. Saka mengecup kening Yara memeluknya erat,
membuat air mata di pelupuk mata Alana yang sedari tadi ia tahan, bobol juga.
“Hei sudah… gak ada yang patut ditangisin.” Ucap Yara sambil mengurai pelukan Saka.
__ADS_1
Wajahnya yang pucat merona malu, ia gak enak juga sama Alana.
“Aku nangis bahagia, soalnya kamu kan mau pulang… jadi aku gak usah lama lama ninggalin Genta, dan gak susah juga kalau mau nengok kamu!” bantah Alana sambil mencebik.
“Mana ada nangis bahagia kok sampe terisak isak gitu… emangnya aku Genta yang bisa kamu bohongi?”
Sarkas Yara sambil memutar bola matanya karena jengkel dengan kebohongan Alana.
“Kamu ini lo, mommyy… kalau mau boongin Yara, mbok ya cerdas dikitt!” goda Saka membela Yara.
Alana langsung mencubit pinggang Saka yang berotot, dan memukul lengannya.
“Ohhh, jadi kamu sudah mulai nakal ya..” ujar Alana dengan ketus.
“Ampun, mommy… sumpah ya sayang, cubitanmu kayak ibu tiri, pedes banget.” Sahut Saka sambil
masih pura pura kesakitan.
Yara memandang kemesraan dua insan itu dengan tatapan iri, karena sampai kapanpun ia tidak bisa melayani suaminya dengan baik, ia harus merelakan orang dicintainya untuk bersama dengan orang lain.
Dan Yara sudah memilih Alana sebagai orang yang akan menggantikan posisinya kelak
menjadi istri Saka satu satunya. Ini yang Alana tidak pernah tahu, Saka dan
Yara sudah mendiskusikan masalah itu. Sekalipun Saka gak pernah setuju dengan
perkatan Yara yang selalu berbicara seakan dirinya akan meninggal dan menyerah
dengan penyakitnya.
Alana memandang Yara yang terlihat menerawang jauh dalam lamunannya. Bahkan ekspresi wajah Yarapun sendu. Alana khawatir kalau Yara drop dan pingsan karena penyakitnya.
“Yarr… “ panggil Alana sambil memegang punggung tangan Yara.
“Oh ehhh , maaf maaf… he he he aku senang ternyata kalian tampak mesra, aku gak salah kan, mas? Memilih Alana sebagai istrimu dan menjadikannya ibu dari anak anakmu
kelak. Pesanku buat kalian …. Salinglah mencintai, buatlah cinta yang ada
dihati kalian itu fondasi yang kuat untuk mengarungi hidup.” Kata Yara dengan
lembut, tapi matanya tersirat rasa sedih yang luarbiasa, dan itu bisa dirasakan
oleh Alana. Alana tahu, tidak mudah untuk berbagi kasih sayang suami. Pasti
Yara sakit hati menghadapi kenyataan kalau dia bukan pihak yang bisa
membahagiakan Saka sebagai suami.
.
.
.
__ADS_1
TBC