Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
124. Pergilah Bidadari Surgaku!


__ADS_3

Tetep ya vote yang banyak supaya thor semangat💪🏻💪🏻💪🏻dan like setiap sudah bacaaa yaaa,😘


Makanya, budayakan like dan vote😘😘 yang banyak. Author sangat amat berterima kasih buat readers yang sudah meluangkan waktu dan upaya buat nge vote tanpa paksaan karena berarti reader menghargai author yang sudah susah payah bikin cerita ditengah kesibukan yang ada. Sekali lagi makasihh💋💋


Jujur ini episode yang menyedihkan yang ga bisa kubayangkan. Pas nulis ini aku bener bener sesak. Seakan air mata itu kumpul di dadaku. Tapi ahhh ini hanyalah sebuah cerita saja.


Happy readingggg


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


" Katakanlah, Yarr.. apa yang bisa kulakukan pasti akan kulakukan untukmu." kata Saka sambil memegang tangan Yara yang sedari tadi digenggam oleh Alana, sehingga tangan Alana dan Saka serta Yara dalam satu genggaman. Karena suara Yara sudah sangat lirih, Saka berusaha mendekatkan tubuhnya ke arah Yara, supaya ia bisa dengan jelas mendengar suara Yara.


" Mas, tolong kamu bisa memaafkan Rangga, janganlah buat dia masuk penjara, dia sudah cukup banyak menderita karena aku dan paman. Aku juga sudah mohon kepadanya untuk mengampuni dan melupakan apa yang dilakukan oleh paman. Biarlah kita semua hidup dalam damai saja. Bisa kan, mas?" kata Yara lirih. Saka hanya mengangguk tanpa suara. Alana berusaha menahan tangisnya dalam diam. Ia mengigit bibirnya hingga sedikit berdarah. Ia tidak mau menambah beban Yara. Tapi dadanya terasa begitu sesak melihat kondisi Yara yang seperti ini. Saat mengetahui semua yang dialami Yara, gak ada seorangpun yang bisa menghujat.


" Mas Rendra, tolong jaga Alana dan anak anak, jangan pernah sakiti mereka. Sampaikan salamku buat Genta dan Alend. Sampaikan maafku untuk ayah dan ibu. Maaf aku mengecewakan mereka. Maaaf aku belum bisa memberi kebahagiaan yang mereka mau, yaitu cucu dan keturunan buat keluarga Perdana. " lanjut Yara sambil memejamkan mata. Meniriskan air mata yang menggantung di pelupuk matanya.


" Kamu akan bisa menyampaikan ini sendiri, Yar. Aku tahu kamu wanita yang kuat." kata Saka sambil menggenggam tangan Yara semakin erat, seakan ingin memberi kekuatan untuk Yara. Tapi Yara hanya menggeleng lemah.


Ia tidak menjawab Saka, tatapan matanya sekarang tertuju pada Alana. Ia menatap Alana dengan sangat intens, seakan ia ingin menghapalkan wajah ayu yang sedang menangis dihadapannya.

__ADS_1


" Kamu cantik, Lana. Terkadang aku iri denganmu. Kamu cantik, pintar, sehat dan bisa memberikan keturunan buat mas Rendra. Tapi aku bahagia karena akhirnya aku bisa mempersatukan kalian, jodoh yang sebenarnya. Karena aku juga tahu, disini, dihati ini hanya ada kalian, tidak ada aku disana. Maafkan apa yang sudah kuperbuat dimasa lalu dan juga lisanku yang mungkin menyakitimu, Lana. Aku menyayangimu." bisik Yara lagi, membuat Alana semakin terisak. Ia tidak pernah ingin merebut apa yang dimiliki Yara. Ia terperangkap dalam situasi yang sulit. Ia seperti berjalan dalam genggaman takdir.


" Aku menyayangimu juga. Ingat, Yara. Kamu berjanji akan menggendong Alend, akan merawat Alend. Kamu pasti sehat! Kamu harus semangat!" kata Alana menyemangati Yara, dengan air mata yang tidak mau berhenti meleleh dipipi Alana. Kedua laki laki yang ada di rungan itu juga tidak pernah bisa menahan air mata yang turun. Mereka bukan laki laki yang cengeng. Tapi situasi yang menyesakan dada ini membuat mereka harus meluapkan rasa, kesedihan dalam bentuk tangisan.


" Aku ingin sekali, tapi ragaku sudah tidak mampu.." Yara menjeda ucapaannya karena rasa sakit itu membuat dadanya semakin sesak, nafasnya agak tersengal.


" Rangga, terimakasih. Sekali lagi maaf karena aku selalu membuat kamu menderita. Terimakasih kamu masih sudi mengobati aku walau aku ini yang selalu membuat kamu menderita. Kamu juga harus tahu,kalau selain aku menyayangi mas Rendra dan Alana. Tapi di dasar hatiku yang paling dalam, aku mencintai kamu. Maaf kalau seringkali cintaku menyakiti kamu. Kalau aku nanti bertemu dengan anak kita, aku akan sampaikan betapa aku bangga pernah jadi bagian yang terindah dalam hidup kamu. Dan betapa mulia hati ayahnya yang selalu rela berkorban demi aku dan anakku." bisik Yara di dekat Rangga, dengan satu tangan yang memegang erat tangan Rangga. Laki laki dingin berkacamata itu tidak menahan tangisnya. Ia menangis dalam diam. Sambil bibirnya mengucapkan kata kata I LOVE YOU berkali kali tanpa suara. Dadanya serasa ingin meledak mendengar pengakuan Yara. Ya, didalam dasar hatinya yang terdalam ia juga menyimpan rasa cinta yang mendalam dengan Ivara. Cinta pertama dan yang sampai saat ini masih tersimpan rapi di hatinya. Dendam itu hanya di kulit luarnya saja, tapi sejuta cinta itu tersimpan rapat di dalam batinnya.


Setelah seluruh ungkapan hatinya ia keluarkan semua, ia mengulas senyum lemah. Gengaman tangan kepada ketiga orang di sekitarnya itu mengerat, wajahnya tampak sedikit pias seperti menahan rasa sakit yang mendera.


" Alhamdullilah ya Allah.. akhirnya aku bisa meninggal dengan tenang.." lanjut Yara lirih sambil tersenyum dan setelah itu menarik nafas beratnya dengan penuh kelegaan.


Dan selepas itu pegangan tangan Yara pada Alana,dan Saka di tangan kanannya serta tangan kirinya yang dari tadi menggenggam Rangga mulai mengendur. Dan nafasnyapun lepas dari raganya. Membuat Alana dan Saka menjadi panik.


Rangga yang masih memegang tangan kiri Yara yang lemas, mulai bergerak, ia menolakkan tubuh Saka dan Alana yang masih ada disamping kanan Yara. Ia berusaha memacu detak jantung Yara dengan tangannya. Dan memeriksa kondisi Yara dengan sthetoscope yang ada di samping ranjang Yara.


Tapi setelah berusaha cukup lama, Rangga kemudian terduduk di samping kanan Yara dengan berlutut, sambil memegang tangan Yara yang sudah tak berdaya. Pandangannya tertuju pada Yara yang tampak tenang dan tersenyum menghadap penciptanya, setelah pengampunan dan permohonan terakhir ia ucapkan.


" Innalilahi wainna Ilaihi rajiun..Pergilah dengan tenang bidadari surgaku, aku juga mencintaimu." hanya itu yang terucap dari mulut Rangga. Ia tidak menoleh, tidak berbicara dengan yang lain, ia hanya mengelus wajah Yara yang tirus dan pucat dengan rasa sayang. Menatap tubuh kurus bidadarinya yang mulai dingin. Menangis? Rasanya sudah habis air mata Rangga untuk Ivara. Cinta yang tak bisa ia miliki.

__ADS_1


" Innalilahi, ya Allah ampuni semua dosa dosa Yara...Bby kamu harus kuat." kata Alana menangis sambil memeluk Saka yang hanya diam, Saka terlihat terpukul dan frustasi. Saka bukan frustasi karena merasa cemburu dengan apa yang dilakukan Rangga sekarang, tapi ia merasakan penderitaan Yara yang berat disaat saat terakhirnya itu. Sampai akhirnya Saka mengusap wajahnya dengan istigfar berulang ulang untuk mengungkap kerelaannya atas kepergian Yara.


Saka berusaha mengurai kecanggungan bersama Rangga dengan menepuk bahu laki laki berkacamata itu, yang menatap nanar jasad Ivara nya yang sudah terbujur kaku.


Rangga yang sebenarnya adalah suami Yara, entah bagaimana seharusnya Saka bertindak, karena ia juga suaminya.


Karena kedua laki laki itu hanya diam dan membisu, terpukul dengan caranya masing masing sehingga Alana mengambil inisiatif untuk menutup jasad Yara dengan selimut putih yang ada di ranjang Yara itu.


" Biarlah aku yang mengurus semuanya, aku ingin ia dimakamkan di sisi makam anakku." kata Rangga datar. Wajahnya masih sarat dengan kesedihan, tapi air matanya sudah kering.


Alana memandangi Saka dengan kode keras. Ia tahu Saka juga ingin menunjukkan rasa hormat terakhirnya terhadap mendiang istri pertamanya itu.


" Baiklah, tapi karena semua orang tahunya dia adalah istri pertamaku, jadi biarlah aku yang menanggung seluruh biaya pemakaman dan acara tahlilannya biarlah dilakukan dirumah Yara." kata Saka sambil menghela nafasnya. Ia lelah, ia tidak ingin berdebat. Ia mengatakannya dengan nada lembut, karena ia tahu mungkin laki laki berkacamata itulah yang paling kehilangan.


Rangga hanya mengangguk, ia tahu posisinya. Orang tidak tahu siapa dirinya dan hubungannya dengan Yara.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2