Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Extrapart 25.


__ADS_3

Tok Tok Tok...


Pintu ruangan rawat inap milik Indra terbuka lebar, Indra melihat ke arah pintu dan dan dari sana mama Lina masuk bersama dengan beberapa paperbag yang sengaja dia bawa untuk acara makan bersama di dalam ruang rawat inap Indra.


Mama Lina sadar mungkin Indra tidak suka dengan makanan yang ada di rumah sakit dan lebih baik membeli beberapa makanan yang mama Lina tahu sebagai makanan kesukaan Indra.


Selain itu dia juga tahu bahwa Papa Aji belum makan sama sekali sehingga dia juga memiliki kesadaran untuk memberikan makanan kepada ada orang yang yang nantinya akan menjadi calon suaminya itu.


Sebenarnya mama Lina bukannya sudah yakin tentang hal Perjodohan ini, karena pada awal bertemu dengan papa Aji ini, Saka sudah menegaskan ini hanya untuk membuat Indra mau untuk menikah, karena memang prasyarat awal dia ingin menikah setelah Papa Aji menikah dengan mama Lina.


Sebenarnya mama Lina juga masih bingung, apa dia harus berpura-pura menikah dengan papa Aji ataukah memang harus melakukan pernikahan yang sesungguhnya seperti pasangan yang lain.


Karena pada perkembangannya dia melihat bahwa Papa Aji serius menjalani hubungan ini bersama dengan dirinya. Sebagai seorang wanita, dia juga bukannya tidak peka dengan perasaan yang diberikan oleh Papa Aji kepadanya. Kayaknya dia mesti harus berbicara dari hati ke hati kepada Papa Aji mengenai hal ini.


" Maaaaa, suapin dong!" rengek Indra dengan nada manja.


" Indra kalau kamu mungkin lupa, usia kamu itu bukan usia di mana Kalau makan harus disuapin Kalau tidur harus di nina boboin. kamu itu sudah tua, sudah waktunya kamu itu malah punya anak dan nyuapin anak kamu. kenapa kamu malah minta suapin sama mama Lina sih?" desak Papa Aji dengan nada tidak terima. Entah kenapa ketika melihat Indra bermanja-manja dengan calon istrinya bukannya senang, papa Aji malah merasa kesal dan rasanya ingin marah.


" Sudahlah Mas! Mungkin karena Indra lagi nggak enak badan, jadi dia bawaannya sedikit manja!" kata mama Lina melerai pertengkaran dari ayah dan anak ini. Sebenarnya Indra ingin menggoda Papanya saja, tapi dia sungguh menikmati kasih sayang dari seorang mama yang mungkin belum puas dia dapatkan sewaktu dulu. Dia sangat senang bermanja-manja dengan mama Lina walaupun usianya sudah bukan lagi usia untuk bermanja-manja. Menurutnya kehangatan seorang ibu itu bisa membuatnya sedikit lupa dengan Alana.


" Tapi Dik! Nanti Indra itu kelepasan dan terus maunya bermanja-manja sama kamu! Lalu nanti Mas gimana?" rajuk Papa Aji sambil memonyongkan bibirnya 5 centi, membuat indera sontak merasa jijik dengan papanya yang alay. Apakah begitu Itu kalau sedang jatuh cinta?

__ADS_1


" Papa! Please deh! Papa itu sudah tua. Gak usah bertingkah alay ala ABG jatuh cinta! Bikin Indra mau muntah nih!" kata Indra dengan nada mau muntah ketika mendengar perkataan papanya yang dianggap alay seperti anak anak muda zaman sekarang yang sedang jatuh cinta.


Papa Aji hanya bisa mencebik kesal mendengar perkataan anaknya yang yang menghina dirinya sekali.


Sedangkan mama Lina hanya tersenyum saja melihat interaksi manis antara papa dan anak, saat melihat Papa Aji saling menggoda dengan anak laki-lakinya yaitu Indra.


" Sudah ini kamu makan dulu mau tetep disuapin apa mau makan sendiri?" tanya mama Lina dengan nada halus kepada anak angkat sekaligus calon anak tirinya.


Indra tidak menjawab pertanyaan mama Lina melainkan dirinya langsung membuka mulut tanpa mau memegang kotak makanan yang sudah dibuka oleh mama Lina, pertanda dirinya ingin kalau mama Lina mau menyuapi dirinya.


Melihat hal itu, Papa Aji hanya melengos dengan kesal. Rupanya Indra sengaja ingin menggoda Papanya supaya Papanya itu marah. Dan memang, entah kenapa Papa Aji merasakan dadanya panas melihat interaksi mama Lina yang begitu sabar dan telaten melayani anak kandungnya itu.


" Ya udah, kalau nyadar belum muhrim. Jangan ngajak-ngajak pulang. Biarin aja mama Lina di sini nungguin anak angkatnya yang masih sakit. Papa aja yang pulang sana!" kata Indra yang tidak terima kalau mama Lina pulang yang sekarang.


Dibilangin dia itu lagi mode manja sama mama angkatnya ini.


Perasaan nya Indra mengatakan bahwa Papanya itu sedang rempong, ngeselin, dan bikin emosi. Mau pulang, tinggal pulang saja ngapain harus ngajak-ngajak mama Lina, coba? Biarin aja mama Lina di sini nungguin dirinya, kalau Papa Aji mau pulang sih pulang aja! Batin Indra mulai kesal dengan papanya.


" Indra tidak boleh begitu sama papa!" peringat mama Lina yang tidak enak dengan papa Aji. Padahal sebetulnya Papa Aji mengajak mama Lina pulang karena ada satu tujuan yaitu membicarakan masalah pernikahan mereka.


" Ya begitulah itu, dek Eva. Indra selalu melakukan hal itu sama Papanya." kata Papa Aji dengan sedikit memelas berharap diperhatikan lebih oleh mama Lina. sedangkan Indra hanya berdecak kesal melihat Papanya sekarang ikut-ikutan bertingkah manja dengan mama Lina.

__ADS_1


Wah kedua orang ini bakalan seru terus-menerus mencari perhatian dari mama Lina.


" Jangan begitu Mas, mungkin Indra hanya perlu diperhatikan lebih sama Mas Aji. Lagian Mas Aji tidak usah mengantar aku pulang, kayaknya nanti Saka dan Alana akan menjemput Mama di sini." kata mama Lina yang tidak enak dengan papa Aji dan juga Indra yang terus-menerus berebut mencari perhatiannya. Dan benar saja tidak selang beberapa lama Saka dan Alana datang untuk menjemput mama Lina sekalian pulang bareng.


Saka yang melihat wajah Indra ditekuk 10 menjadi kesal.


" Udah tua masih manja aja. Hanya gara-gara papanya mau nikah sama mama Lina aja langsung terkejut! Kayaknya emang kamu cari perhatian saja, supaya ditengokin sama Alana. Aduh!!" teriak Saka ketika jari lentik Alana mampir ke perutnya yang berotot.


Sebetulnya Saka juga cuman pamer sama Indra kalau dirinya dan Alana itu mesra-mesraan. Indra yang mengerti tujuan Saka berteriak tadi menjadi kesal.


" Pulang sana!! Biar Alana disini saja, dia kan mau jagain saudara angkatnya.."


" Ih ogah!! Saudara nemu dimana? Tong sampah?" balas Saka yang gantian kesal, membuat Alana hanya bisa memutar bola matanya dengan kesal karena melihat tingkah mereka yang seperti anak-anak.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2