
Tetep ya vote yang banyak supaya thor semangat💪🏻💪🏻💪🏻dan like setiap sudah bacaaa yaaa,😘
Makanya, budayakan like dan vote😘😘 yang banyak. Author sangat amat berterima kasih buat readers yang sudah meluangkan waktu dan upaya buat nge vote tanpa paksaan karena berarti reader menghargai author yang sudah susah payah bikin cerita ditengah kesibukan yang ada. Sekali lagi makasihh💋💋
Happy reading!!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Rupanya paman Yara sudah datang bersama bibi yang matanya terlihat sembab dan merah. Tak jauh beda dengan paman Yara,bahkan ada sorot kemarahan dimata paman yang tidak dapat ia sembunyikan.
" Paman?" sapa Saka dengan sopan, tapi tiba tiba tanpa disangka sangka paman Yara langsung menampar pipi Saka dengan keras.
Plakkk!!
Saka sampai terjatuh karena ia tidak mengira akan mendapatkan tamparan yang begitu keras, sehingga ia limbung dan terjatuh.
Paman meluapkan kemarahannya kepada Saka. Ia menganggap Saka tidak becus untuk mengurus Yara. Alana langsung berteriak histeris melihat ada darah di sudut bibir Saka.
" Dasar kamu wanita penggoda, dasar kamu ja**ng!! Kamu yang membuat Yara meninggal. Pasti kamu yang membunuh Yara. Kamu yang menculik Yara." sergah Paman Yara yang sudah siap untuk menampar pipi Alana juga.
Plakk!!
__ADS_1
Tangan paman yang sudah terjulur untuk menampar Alana terhalang oleh sebuah lengan yang kokoh yang melindungi wajah Alana dari pukulan sang Paman.
" Rangga?" seru Alana yang wajahnya dilindungi oleh lengan Rangga. Sedangkan pinggang Alana diraih Rangga dan ditariknya mendekat, agar posisinya menjadi dibelakang Rangga, jadi Rangga ada diantara paman Yara dan Alana.
" Mau berapa orang lagi yang kamu ingin korbankan untuk memuaskan dendammu, Bapak Raharja yang terhormat?" tanya Rangga dengan datar. Saka tertegun. Ternyata semuanya berkaitan dengan dendam? Dendam siapa lagi? Dendam apa lagi?
Paman Yara hanya mendesis jengkel melihat Rangga datang dengan gaya sok pahlawan. Saka sudah bangkit berdiri dan mengusap bibirnya yang pecah karena kena pukulan paman tadi. Saka langsung mendekati Alana dan menarik Alana dalam pelukannya, supaya posisinya menjauh dari Rangga dan Paman Yara.
" Paman, Saka tidak akan mengambil pukulan atau tamparan tadi sebagai hal yang perlu diperhitungkan. Tapi kalau paman tidak bisa menahan diri pada acara pengajian dan pemakaman juga acara tahlilan Yara besok, Saka akan mengambil tindakan tegas." kata Saka sambil memberi kode pada pengawal pengawalnya yang tadi merasa bingung, karena mereka juga mengenal paman Yara sebagai mertua bosnya, tapi kok malah menantunya sendiri dipukul.
" Intinya adalah gara gara wanita ja**ng itu kamu jadi berubah Rendra. Kamu menduakan Yara, membuat ia menjadi sakit." tuduh paman memutar balikkan fakta. Jujur amarah Saka sudah diubun ubun, tapi tangan Alana yang memegang lengannya menahan Saka untuk melakukan hal hal yang lebih dari itu. Saka masih berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya.
" Pesan terakhir Yara adalah berdamai dengan paman. Sekalipun paman telah melakukan kejahatan yang tak termaafkan dan layak untuk masuk ke penjara, tapi Yara sebelum meninggal telah berpesan agar tidak membalas perbuatan paman yang telah menghilangkan nyawa anaknya dan melakukan percobaan pembunuhan terhadap Rangga." kata Saka dingin. Ia tidak lagi sungkan pada paman Yara yang menurutnya keterlaluan.
Dari tadi hanya Alana saja yang di jadikan alasan bahwa kematian Yara adalah akibat Saka dan Alana menikah lagi. Dan Alanalah yang merayu Saka supaya mengacuhkan Yara. Pikiran pikiran negatif yang dimiliki paman Yara membuatnya membenci Alana.
Rangga yang setelah melindungi Alana, ia hanya terdiam dan menatap paman Yara dengan pandangan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata kata. Rangga sangat membenci paman Yara, yang sudah merengut kebahagiaannya, tapi dilain pihak ia benar benar menahan amarahnya sesuai dengan keinginan Yara untuk mengampuni dan melepaskan paman Yara supaya ia tidak membalas paman Yara.
Tapi Rangga dan Saka hanyalah manusia biasa kalau paman Yara berulang kali melakukan tindakan provokasi seperti itu, pasti mereka juga akan membalas.
" Rendra, paman pasti akan membalas rasa sakit hati Yara yang sudah Alana buat." desis paman Yara, tapi Saka sudah tidak mendengarnya karena ia sudah masuk rumah dengan memeluk Alana dan melindunginya dari tatapan paman Yara.
__ADS_1
" Kelakuanmu tidak berubah bapak Raharja, selalu saja menghalalkan segala cara untuk memuaskan keinginanmu. Kamu tidak pernah peduli kalau seandainya orang orang terdekatmu akan menjadi korban dari kelakuan kamu yang bejat." decih Rangga sambil menatap paman Yara dengan tatapan menbunuh.
" Ayah dan ibumu yang menghancurkan Raharja yang polos. Kalian yang telah merusak keluargaku, kalian yang telah membunuh kakakku!" sergah paman Yara dengan mata melotot. Ia mendorong tubuh Rangga, tapi segera pengawal Saka melerainya.
" Jaga ucapanmu bapak Raharja yang terhormat. Dendammu berakhir di Ivara dan anakku. Jangan lagi kamu mengusik Alana atau Rendra. Kalau tidak aku tidak akan segan untuk memasukkan kamu kedalam bui. Semua bukti kejahatanmu ada di tanganku. Sedikit saja kamu mengusik mereka, maka kupastikan kamu akan habis ditanganku. Lihatlah? Mana istrimu? Dia yang berulang kali kau sakiti dengan penghianatanmu, untung saja ibuku sudah melukai asetmu yang berharga sehingga tidak akan ada Raharja kecil yang bisa meneruskan kelakuanmu yang bejad. Ingat karma dari dosamu membunuh anakku maka kamu juga akan mati terbunuh. Ha ha ha ha ha." ketawa Rangga tampak menyeramkan bagi siapa saja yang mendengarnya. Ada campuran rasa sedih, kecewa dan marah disana.
" Ha ha ha kamu salah, Rangga! Kamu yang akan terbunuh di tangan anakmu sendiri. Ha ha ha." paman Yara tertawa, menertawakan kebingungan Rangga kini.
" Apa maksudmu? Anakku tidak mati? Dimana kamu sembunyikan anakku? Kamu memang ba** ngan laknat." sumpah serapah Rangga pun keluar dengan lancar menyumpahi paman Yara yang hanya tertawa terbahak melihat Rangga yang tampak marah dan memberontak di dalam pegangan para pengawal Saka.
Saka yang sempat mendengar sekelebat tentang dendam antara paman Yara dan Rangga menjadi bingung. Ia sedang mengumpulkan puzzle, potongan potongan informasi yang ia dengar dari saat ia menguping percakapan Rangga dan paman Yara tadi. Ia tidak berusaha ikut campur, karena ia belum tahu duduk perkara sebenarnya.
Alana menemani bibi Yara, dan beberapa pelayat yang merupakan pegawai pegawai Saka yang ada di kantor, maupun di tempat kerja ayah Langit. Malam itu juga mereka mulai ikut pengajian, karena sudah diberitahukan melalui whatsapp kantor mengenai meninggalnya istri CEO mereka dan menantu dari owner perusahaan dimana mereka bekerja. Sedangkan kalau teman, Yara tidak memiliki teman, jadi tidak ada teman Yara yang akan melayat.
Bibi Yara yang sedari tadi menangis di samping jenasah Yara, dan ditenangkan oleh Alana, menjadi sasaran Saka saat ini. Mungkin ia bisa mengurai rahasia paman Yara. Kayaknya bibi Yara yang paling diam dan hanya nrimo saja dengan perlakuan paman Yara, tapi matanya, gerak geriknya menyiratkan bahwa sebenarnya ia adalah orang yang paling menderita.
.
.
.
__ADS_1
TBC