
Jangan lupa vote like vote like vote like vote likeπππ
Sambil nunggu update, bisa cek karya thor yang lain.π
Happy reading!!!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
" Iya, dedeknya Genta bakal lahir dalam minggu minggu ini." jelas Alana dengan nada lembut pada anaknya. Ia mengusap kepala anaknya yang masih setia di dalam gendongan daddynya.
" Asikkkk. Dedeknya Genta bakal lahir. Genta bisa main sama dedek." kata Genta dengan suara riang.
"Bener itu Lana?" tanya ayah dengan nada bahagia. Ayah senang karena bakal menimang cucu baru. Dia sudah tidak sabar.
" Iya katanya dokter tadi dalam 3-4 minggu lagi Alana akan melahirkan. Mungkin bisa lebih cepat. Doakan aja yah, supaya ayah cepet gendong cucu lagi. Dan Genta akan ketemu sama dedeknya." ujar Saka sambil mencubit hidung Genta yang sedang dalam gendongannya.
" Saka, bukannya ibu tidak senang dengan kabar gembira ini. Tapi apakah kamu sudah tahu kalau Yara juga masuk di rumah sakit ini? Dia menyusul kamu dari Penang. Mungkin karena dia kelelahan penyakitnya kambuh. Kan kamu tahu sendiri kalau dia tidak boleh pikiran dan tidak boleh kelelahan." kata ibu mengingatkan kondisi Yara yang juga ada di rumah sakit yang sama.
" Ya bu, Saka baru saja tahu dari Alana, dan Lio. Ketika Saka hendak menengoknya, Lio bilang kalau Yara diisolasi, karena imun tubuhnya melemah drastis. Karena Saka baru sembuh, Saka juga harus dicek dulu supaya Saka tidak malah menambah penyakit Yara. Jadi Saka harus menunggu besok kalau mau nengokin Yara ." kata Saka sambil menghela nafasnya dalam dalam.
"Nah susahnya Alana juga lagi dalam masa bedrest total. Karena mulut rahimnya menipis sehingga takutnya terlalu banyak gerak akan membuat dia pendarahan. Jadi sementara ia harus bed rest sampai masa tidak dapat ditentukan. Mungkin bahkan dia bisa bedrest sampai melahirkan. Tadi Alana ngeyel mau nengokin Yara, padahal dia baru saja keluar dari ruang gawat darurat gara gara pendarahan." lanjut Saka lagi sambil mengusap rambut Alana dengan sayang. Sedangkan Alana hanya diam saja. Suaminya itu emang sukanya melapor lapor sama ayah dan ibunya. Kalau begini kan ruang gerak Alana jadi terbatas. Dia sudah bisa membayangkan kalau bakal di atas tempat tidur terus sampai melahirkan. O em Ji!! Bakalan bosan dah!!
Genta yang memeluk daddynya, dan menyandarkan kepalanya yang kecil itu di dada daddynya yang nyaman. Mungkin karena ia juga sudah mengantuk, Gentapun tertidur nyaman di dada daddynya itu.
__ADS_1
Saka juga menepuk nepuk punggung Genta dengan sayang. Ia tahu kalau Genta tertidur di gendongannya.
" Sebentar, bu. Saka mau nidurin Genta di ranjang Saka aja. Kasihan kalau Genta harus tidur di gendongan Saka." kata Saka sambil masih terus menepuk nepuk punggung anaknya itu dengan halus, supaya anaknya tidak terbangun.
" Genta biar ikut kakek di hotel aja, jangan tidur disini. Emang kamu kira ini hotel. Ini rumah sakit, Sak. Kasian Genta!" kata ayah tidak setuju. Ayah Langit berpendapat kalau ini kan rumah sakit, sebersih bersihnya pasti tetep banyak kuman kan? Lebih baik dengan kakek neneknya saja. Toh, Genta itu anak yang mandiri.
" Iya kakekkkk, ini Saka cuman naruh doang. Nanti kalau ayah pulang, tinggal gendong aja." jelas Saka sedikit mencibir kepada ayahnya yang lebih protektip dengan cucunya ketimbang dengan anaknya sendiri.
" Saka, ibu dan ayah mau pulang dulu saja. Kalian harus banyak istirahat. Ibu juga kasihan sama Genta kalau harus tidur di ranjang rumah sakit. Ayo yah, Alana kamu jangan sampai kecapean juga, ingat jangan sampai anak kamu kenapa kenapa." nasihat ibu sambil mengajak ayah Langit yang sudah menggendong Genta.
" Iya bu, Alana juga gak mau sampai terjadi apa apa sama dedek kok." kata Alana sambil mengelus perutnya yang buncit.
"Ya wis, kamu langsung istirahat. Ayah dan ibu pamit. " kata ayah Langit. Saka dan Alana langsung mencium tangan orangtuanya dengan takzim.
Alana dan Saka terdiam saat mereka hanya kembali berdua di dalam kamar. Kali ini Saka benar benar bertobat dari keomesannya. Ia hanya memandang Alana dan mengelus keningnya. Ia ingin Alana cepat istirahat. Supaya bayi dalam kandungannya sehat dan lahir normal pada waktunya.
" Belum bisa tidur, Bby!" rengek Alana dengan nada manja.
" Kenapa?" tanya Saka dengan nada heran.
" Mungkin dedek kangen sama kamu, Bby!" jawab Alana sambil malu malu.
" Hah??? Yang bener?" tanya Saka dengan nada sukacita.
__ADS_1
" Hubby!! Emang kamu gak kangen sama kami berdua?" tanya Alana dengan nada kesel.
" Aduh, mommy sayang. Hubby rinduu bnget sama kamu dan dedek!" sahut Saka cepat. Ia gak mau Alana ngambek gara gara Saka salah bicara.
" Kamu tahu gak sayang, waktu kemarin itu aku bermimpi, aku mimpi kamu itu berlari menjauh dari aku. Aku berusaha mengejar kamu, tapi kamu selalu berlari. Kamu menghindar dariku. Aku sedih banget, aku berjanji kalau aku berhasil menemukanmu, aku gak akan melepaskan kamu lagi. Aku akan merubah seluruh sikapku, aku mau kita memulai semuanya dari awal." jelas Saka menceritakan saat ia tidak sadar diri berhari hri itu. Saka rindu setengah mati dengan Alana. Tapi ia berusaha menahan hatinya, ia tidak mau terlihat tidak adil dengan Yara. Itulah yang menyiksa Saka.
" Bby, aku juga merindukanmu." jawab Alana malu malu.
" Tidurlah, sayang. Kasihan kalau dedek harus bergadang karena kamu tidak tidur tidur. Ingat nasihat dokter, bed rest total." ujar Saka dengan lembut.
" Bby, tetep ga bisa tidur." rengek Alana lagi.
" Sini, hubby akan naik ke ranjang kamu dan tidur sambil memeluk kamu. Biar kamu bisa cepet tidur. Mau?" tanya Saka lagi.
" Mau, Bby!" jawab Alana sumringah. Alana sudah kangen dipeluk oleh Saka. Entah itu emang ngidamnya si dedek atau emang maunya Alana sendiri. Begitu berada di dalam pelukan suaminya yang nyaman dan hangat, mata Alana jadi berat. Tak butuh waktu yang lama. Alana pun memejamkan matanya. Dan terbang ke alam mimpi.
Saka hanya memandangi wajah Alana yang cantik. Ia serasa seperti mimpi saat Alana tertidur didalam pelukannya. Beberapa hari yang lalu, jangankan bisa memeluk tubuhnya dengan perut buncit Alana yang sangat ia rindukan itu, mendengar suaranyapun Saka tak bisa. Sekarang ia sangat bersyukur banget bisa kembali memeluk Alana dan merasakan anaknya yang bergerak sangat aktif di dalam perut Alana.
" Dek, daddy sayang banget sama kamu. Sehat sehat di perut mommy ya. Daddy pingin banget ketemu sama kamu. Jangan nakal. I love you." bisik Saka sambil memeluk perut Alana dan mengusap tonjolan di perut Alana, sementara Alana sama sekali tidak terganggu dengan aktifitas Saka mengelus perutnya karena sudah tertidur nyenyak.
.
.
__ADS_1
.
TBC