
" Kalau kamu mau dilepaskan dan ga disiksa oleh anak buahku, cepat katakan dimana Alana dan dimana Alana menyimpan kameranya?" lanjut Saka dengan nada dingin, aura membunuh tampak jelas disana, karena ia sudah tidak sabar dengan permainan Alana yang membuat dirinya kalang kabut.
" Tuan Narendra yang terhormat, biarkanlah saya pergi. Alana cuman ingin menghindar sebentar dari kamu. Pasti dia akan balik kok. Dia hanya butuh waktu untuk sendiri dulu." kata Irvan dengan nada pasrah.
"Lalu siapa yang akan jaga Alana dan babynya kalau dia pergi dariku?" tanya Saka dengan nada dingin.
" Kalau kamu mau, aku bisa bantu." kata Irvan lagi menawarkan bantuan.
"Sebenernya apa sih maumu? Kamu itu masih gay apa sudah normal?" tanya Saka lagi.
" Sumpah! Aku hanya mau bantu. Tentu aku sudah normal dong." kata Irvan sambil membuat lambang peace dengan tangannya.
" Jadi kamu sudah suka sama wanita?" tanya Saka dengan tatapan tajam dan menyelidik.
" Kenapa pertanyaanmu dan pertanyaan Alana bisa sama sih? Kalian janjian?" tanya Irvan balik. ia kesal selalu diberi pertanyaan yang sama.
Apalagi suami istri, Saka dan Alana ini, kayaknya yang paling getol untuk membullynya.
" Jawab aja!! Jangan banyak nanya. Apa kamu mau kuhukum dengan berat." jawab Saka dingin.
" Ampun kakak. Saya sudah normal, tapi percayalah, aku bukan ingin mengambil Alana dari kamu. Ini murni karena aku berharap Alana memaafkan aku. Jangan hukum aku. Aku hanya ikut perintah Alana agar aku mendapatkan maaf darinya." kata Irvan sambil menangkupkan kedua tangannya memohon ampun.
" Yang merintah Alana kan? Lalu sekarang dimana dia? "
" Dia di Ascot.."
" Sial, kenapa kamu gak bilang dari tadi?" tanya Saka dengan raut amarah yang sudah tak dapat ia tahan lagi.
" Karena Alana minta aku mengulur wajtu, supaya dia dapat melarikan diri. Eh, loh malah kelepasan. Aduh nih mulutttt!" kata Irvan sambil memukul bibirnya sendiri yang tadi tak sengaja membocorkan rencana Alana kepada Saka.
" Apa? sial, sial, sial. Hukum orang ini, Yo!!!!Dan jangan lepaskan sampai Alana ketemu."
__ADS_1
gertaj Saka sambil menoyor kepala Irvan dengan keras.
" Kamu kan ga tau kamar Alana, gimana kamu bisa temuin dia?" tanya Irvan dengan wajah polosnya.
" Sebutkan! Kalau kamu berani bohong, jangan harap kamu bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup." ancam Saka lagi.
" Kamu kan mau punya anak. Kata orang orang dulu, pas hamil itu orangtuanya gak boleh melakukan hal hal yang gak baik. Katanya karmanya bakal jatuh ke anaknya. Jadi kamu gak boleh menyakiti aku, soalnya..."
" Diammmmmmmmm!!!!!" kata Saka sambil memijit keningnya yang tiba tiba berdenyut denyut nyeri menghadapi orang seperti Irvan.
"Kalau pusing minum obat, Pak" nasihat Irvan lagi saat menatap Saka yang memijit keningnya yang nyeri.
" Mulutmu pernah disobek? Bisa diam gak? " tanya Saka dengan tatapan membunuh.
Irvan hanya diam, menutup mulutnya dengan tangan dan mengangguk angguk dengan cepat.
" Bagus!!. Sekarang katakan dimana Alana?"
" Ngomong! Maksud kamu itu apa? dimana Alana?" cecar Saka geram.
" Tadi katanya gak boleh ngomong kalau gak mulutku mau disobek." ujar Irvan sambil manyun.
" Tapi kalau kamu gak sebutin nomer kamar Alana. Bagaimana kita bisa jemput, dodolll." potong Saka dengan frustasi.
" 705." sebut Irvan dengan cepat.
" Yo, seret orang ini bareng kita. Kalau Alana gak ada disana, aku serahkan dia sama kamu. Kamu mau buat dia jadi kayak gimana terserah kamu." geram Saka.
" Maafkan aku Alana. Aku tidak bisa membantumu. "ujar Irvan lirih, saat ia juga dibawa dengan beberapa anak buah Saka menuju kamar yang disewa Alana.
" Kamu tau passcodenya? " tanya Saka lagi kepada Irvan.
__ADS_1
" Aku harap Alana belum tahu kalau kita sedang menuju kesana." jelas Irvan sambil berjalan mendekati Saka, karena Saka berjalan sangat cepat menuju kamar yang disewa Alana.
" Bagaimana bisa dia tahu pergerakan kita, kamu membocorkan kepadanya?" tanya Saka masih sambil berjalan cepat menuju kamar 705.
" Dia sangat pintar. Dia memata matain kamu melalui kamera yang dia pasang di vas bunga dekat dengan ruang tamu yang kamu pakai untuk menginterogasi aku. "
" Jadi? Alana mungkin sekarang sudah melarikan diri lagi?" tanya Saka sambil menghentikan langkahnya.
" Mungkin..."
" Ada baiknya kita tetap kesana bos. Paling tidak kita harus melacak jejak nyonya." ujar Lio memberi saran ketika Saka hanya terdiam.
" Baiklah. Ayo kita kesana." kata Saka aambil mengangguk perlahan. Irvan hanya bisa terdiam dan mengikuti langkah mantap mereka menuju ke kamar 705 yang disewa Alana.
" Tunggu, sebaiknya kamu Yo lewat tangga darurat. Sedangkan aku kesana naik lift. Karena akses jalan menuju dan keluar dari tempat itu setahuku hanya melalui tangga darurat dan lift saja. Dan karena kamar yang disewa Alana harus dibooking lewat receptionist di lobby bawah, coba kamu hubungi mereka siapa tahu Alana mengganti ruang kamarnya saja." kata Saka memberi instruksi kepada Lio, karena tiba tiba ia ingat, kalau yang sekarang ia hadapi itu adalah Alana yang cukup cerdas, tapi Saka meyakinkan dirinya kalau dirinya harus berpikir lebih cerdas dari istrinya itu.
Lio mengangguk dan membawa dua anak buahnya menuju tangga darurat. Sedangkan yang lainnya masih mengawal Saka menuju lift. Sebelum Saka sampai ke ruangan 705, tiba tiba ia mendapatkan pesan dari Lio bahwa mereka sudah menemukan mangsa buruan yang dicari Saka. Lio mengatakan dalam pesan singkatnya agar Saka menunggu di apartemennya saja. Karena mereka akan membawa mangsa yang mereka tangkap ke Apartemen saja. Saka tidak membuang waktu, ia bergegas kembali ke apartemennya lagi untuk menemui dan nantinya menghukum mangsa buruan yang tertangkap basah oleh Lio asistennya sedang terburu buru melarikan diri melalui pintu tangga darurat menuju ke bawah.
Membayangkan Alana berlarian di tangga darurat untuk menghindarinya, membuat Saka bergidik ngeri, karena posisi Alana saat ini sedang hamil muda. Bagaimana bisa Alana tidak memikirkan kehamilannya? Bagaimana Alana malah terobsesi untuk menjauh darinya? Bagaimana kalau saat Alana melarikan diri tadi terus terjatuh? Saka ngeri dengan anak yang ada di tubuh Alana. Ia takut kalau anaknya kenapa kenapa.
Sepanjang perjalanan menuju ke apartemennya Saka hanya terdiam dan tampak tergesa gesa. Irvan yang mengikuti Saka hanya menatap wajah Saka yang tampak sangat khawatir, dan dalam hati merutuki Alana yang bertindak ceroboh, dan lari dari Saka.
Sesampainya di pintu Apartemennya, Saka langsung masuk ke kamar tidurnya. Sedangkan Irvan dan anak buah Saka yang lain hanya menunggu di ruang tamu. Rupanya Saka lebih cepat sampai daripada Lio, karena tampaknya Lio belum ada di apartemen itu. Saka menginstruksikan pada Lio melalui pesan singkatnya untuk membawa mangsa yang tertangkap ke kamar tidurnya saja.
.
.
.
TBC
__ADS_1