Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
89. Bed Rest Alana!!


__ADS_3

Jangan lupa vote like vote like vote like vote likeπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Sambil nunggu update, bisa cek karya thor yang lain.😘


Happy reading!!!


***


" Baik dok. Saya mengerti. Terimakasih sudah membantu istri saya. "


" Untung tadi rekan saya, dokter Indra segera mengantarkannya ke UGD, untuk melakukan tindakan penyelamatan pertama. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi kalau saja pasien lebih lama diberi tindakan." jelasnya lagi


" Sekali lagi, terimakasih dok. Saya akan kembali ke kamar saya, maaf penampilan saya yang sangat kacau. " kata Saka tidak menghiraukan ucapan dokter paruh baya itu. Saka masih kesel dengan dokter Indra yang dengan seenaknya memeluk meluk istrinya. Sekalipun ia juga dalam hati terbersit rasa terima kasih karena dokter Indra sudah bergerak cepat membantu Alana supaya bayinya tidak kenapa kenapa.


Saat sampai di ruangannya, Saka langsung mencari dimana ponsel dan dompetnya.


Ia mencari di samping nakas ranjang rawat inapnya. Siapa tahu Lio menaruhnya disana. Tapi Saka tidak menemukannya disana. Ia ingin segera bisa menghubungi Lio, supaya bisa segera mengurus urusan administrasi Alana. Ia ingin Alana dan anaknya segera di urus dengan baik oleh rumah sakit.


Tok tok tok


" Maaf tuan, kami mengantar nona Alana, yang ditaruh di ruangan VVIP 3." kata seorang suster dan seorang perawat laki laki yang mengantar Alana yang masih tertidur efek diberi obat penenang.


" Oh iya, administrasinya nanti biar diurus oleh asisten saya." sahut Saka dengan nada dingin.


" Administrasinya sudah diurus tuan. Kami hanya melakukan yang diperintahkan saja."

__ADS_1


sahut suster itu lagi.


" Siapa yang mengurus? Asisten saya belum saya beritahu tentang ini?" tanya Saka dengan nada heran.


" Kami kurang tahu tuan. Tuan bisa mengecek langsung ke administrasi." sahut suster itu lagi.


Saka hanya terdiam. Ia masih kebingungan mencari barang barang pribadinya. Ditaruh dimana oleh asistennya. Tiba tiba ia melihat lemari pakaian yang terletak disudut kamar dekat kamar mandi. Saka langsung mendekati tempat itu dan membukanya. Benar saja semua barang pribadinya mulai baju baju dan peralatan mandi serta semua perawatan pribadi berkelas milik Saka ada disana, termasuk ponselnya juga.


Saka meraih ponselnya yang rupanya selalu di charge oleh Lio dan mencoba menghubungi Lio, asistennya. Ia menyuruh Lio untuk segera datang dan menyelesaikan administrasi Alana. Saka masih belum tahu menahu tentang masalah Yara yang juga dirawat di rumah sakit yang sama. Lha kalau tau apa ya satu ruangan VVIP 3 buat Saka, Alana dan Yara? 🀭🀭


Di lain pihak, Lio langsung bergegas datang ke rumah sakit untuk mengerjakan apa yang dititahkan oleh bos mudanya. Lio senang Saka sudah sadar, karena masih banyak sekali pekerjaan kantor yang membutuhkan campur tangan Saka dan juga tanda tangannya. Belum lagi urusan kerjaan yang di Penang yang sedang genting. Tau sendiri banyak tikus perusahaan yang hendak menggerogoti perusahaan yang Saka miliki, yang omsetnya ratusan juta per bulan.


Saka kiinii biisa sepuuasnyya meemandangii Alana yang tampak cantik walaupun sedang tertidur. Saka mengelus perut Alana yang masih buncit dan merasakan pergerakan anaknya.


" Alana sayang, aku juga sangat mencintaimu. Meskipun cinta ini tidak sempurna, tapi aku bener bener akan mati kalau kamu pergi dari sisiku. Kamu, Genta dan Our baby are precious for me. Kamu tahu sayang, saat aku tahu kamu pergi dariku, serasa ada sebagian dari jiwaku yang turut hilang bersamamu. Aku mencintaimu. Maaf, maaaf, maaf.." bisik Saka lirih di telinga Alana. Air mata Saka tak dapat terbendung saat ia mengungkap rasa yang ada di dalam hatinya. Ia mungkin merasa tidak adil kalau cinta nya kepada Yara terkikis, ia berusaha menutupi dengan mencoba berusaha selalu ada buat Yara, padahal hatinya sudah terbagi banyak buat Alana.


Air mata Saka menetes di jari Alana, Saka tahu berkali kali ia menyakiti Alana dan Genta. Entah apakah masih bisa dirinya mendapatkan maaf dari Alana dan anaknya.


" Bby... kamu kenapa? Masih sakit?" tanya Alana, saat pertama kali sadar yang diingatnya hanya kesehatan Saka. Saka semakin sedih mendengarnya. Ia tidak pernah memberi yang terbaik buat Alana, padahal Alana tidak pernah menuntut apa apa. Bahkan uang bulanan yang tiap bulan diberikan Saka juga tidak pernah dipakainya, apalagi kartu kredit platinum, gold sepi tagihan.


" Ada apa, Bby? Kok kamu nangis? Apa anak kita kenapa kenapa?" ujar Alana shock dan langsung memegang perutnya, ia mengucap syukur alhamdulilah saat perutnya dan anaknya masih bergerak dengan aktif.


" Anak kita baik baik saja, yang. Aku juga gak kenapa kenapa. Maaf, kalau aku mengecewakanmu. Aku mengabaikan kamu dan anak anak kita. Kamu mesti tahu satu hal kalau aku sangat mencintaimu. Karena itulah aku berusaha ada untuk Yara, karena aku tidak mau dianggap tidak adil. Tapi keinginanku itu malah membuatmu sakit dan merasa terabaikan. Bahkan aku juga mengabaikan anak anakku. Maaf, Lala sayang. Maaf, maukah kamu memaafkanku sayang? " tanya Saka dengan sendu. Ia masih memegang tangan Alana dengan erat seakan takut kehilangan Alana lagi.


" Bby, kamu emang harus ada juga buat Yara... Astafirullaaahh, Bby. Aku lupa bilang Yara juga ada di rumah sakit ini. Ya Allaaahhh, aku lupa, kita harus segera menemui Yara. " seru Alana panik. Dia ingin melepas infus dan alat alat yang menempel ditubuhnya dan ingin segera turun dari ranjangnya.

__ADS_1


" Wo wo wo...Alana sayang, sabar sabar. Kamu gak boleh turun dari ranjang. Dan eits jangan berani berani kamu melepas infus itu dari tangan kamu. Aku akan menemui Yara, kamu tiduran manis saja disini." perintah Saka sambil memegangi tubuh Alana supaya tidak banyak bergerak, sesuai pesan dari dokter Yani tadi.


" Bby, tapi Yara itu mintanya kamu dan aku." rengek Alana.


" Tidak boleh. Aku tidak mengijinkan kamu untuk turun dari ranjang ini. Dokter tadi bilang kamu harus bedrest total bahkan kamu gak boleh turun untuk mandi, nanti kamu akan aku mandikan diatas ranjang saja. Kalau mau buang air kecil atau besar kamu harus digendong."


" Bbyyyyy, aku gak sakit. Yara membutuhkan kita, Bby!" rayu Alana lagi. Ia juga ingin melihat kondisi Yara.


" Aku gak mau kalau anak kita kenapa kenapa, sayangku Alanaaa. Tunggu besok. Kalau dokter mengijinkan, kamu akan aku bawa melihat Yara. Untuk sekarang, aku bilang tidak, Alana Mahenku tercinta." sahut Saka tegas. Ketegasan Saka membuat Alana auto manyun. Bibirnya dimonyongin lima centi. Dan bukannya marah, Saka malah tersenyum dan langsung mencubit bibir istrinya yang tengah manyun.


" Bby,.." Alana masih mau usaha untuk merayu Saka.


" Alana, kamu harus bed rest total. Nanti aku tanyakan dulu sama dokter, kalau emang boleh aku juga akan mengijinkan." ulang Saka lagi.


Saka nampak memencet mencet ponselnya. Alana keheranan dibuatnya.


" Nelpon siapa sih, Bby?" tanya Alana lirih. Tapi Saka hanya mengkodenya untuk tidak berbicara lebih lanjut.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2