Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 75. Kehaluan Saka


__ADS_3

Hai readers


Jangan lupa untuk selalu memberikan vote, gift dan juga like yang banyak ya.


Itu sangatt memepengaruhi  mood author dalam update,


Jangan lupa support juga dengan sweet komen. Happy reading!!


***


Saka dan Lio sampai ke Villa ibu Irsyana sudah malam, karena terkena kemacetan di area tol cikampek dan arah tol cipularang, bahkan di arah menuju villa Lembang juga macet.


(Jadi pastinya ia gak mungkin bisa ketemu dengan Alana karena Alana sudah pergi dari Lembang ke Bandung sejak sore 😂😂, kasian babang Saka)


Maklum, itu weekend, tentu banyak yang ingin berlibur ke daerah Bandung dan Lembang. Tapi Saka bener bener gak peduli, sudah 3 hari ini dia tidak mendengar suara Alana. Ia kangen to the max. Apalagi Genta, dulu sebelum Saka tahu kalau Genta adalah anak kandungnya, ia selalu maksa Genta untuk memanggilnya daddy. Dia rindu, sangat rindu dengan mereka.


Saat sampai ke Villa, Saka memang menemukan mobil Alana disana. Jadi dia yakin kalau Alana ada disini, di Villa ibu.


Tapi berita buriknya, eh berita buruknya, Alana, Genta dan mungkin ibunya sudah pergi lagi dan kali ini tanpa jejak.


" Kemana pun kamu pergi, aku pasti akan bisa menemukanmu, Alannaaaaa!!!" geram Saka sambil meninju tembok sampai tangannya berdarah darah. Lio hanya bisa memandangi bosnya dengan tampang kasian, dan berjanji dalam hatinya tidak akan berpoligami. Karena berpoligami serumit ini.


***


Di Bandung, rombongan ibu Irsyana dan Alana sore itu sudah sampai. Karena mereka sudah langsung berangkat sejak jam 3 sore, apalagi Lembang ke Bandung tidak terlalu jauh, 2 jam kemudian pun mereka sudah sampai. Para pengawal dan pegawai yang dibawa Alana mereka berangkat sendiri. Mobil Alana ditinggal di Lembang. Mereka mau menghilangkan jejak Alana hanya sampai di Lembang.

__ADS_1


" Lana, kamu suka gak disini?" tanya ibu Irsyana, mertuanya sambil memandang Alana dan Genta dengan sayang.


Alana masih memandangi dengan takjub sekeliling rumah ini. Rumahnya tampak asri dan bersih walau bentuknya sangat sederhana. Ia menyukai rumah ini. Dekat dengan kota tapi tidak bising. Halamannya luas sekali, banyak pepohonan buah disana, namun rumahnya sederhana hanya sebesar paviliun rumah utama ibu Irsyana yang di Jakarta.


" Lana suka, bu. Rumahnya sederhana tapi membuat orang yang melihat menjadi betah untuk tinggal di tempat ini." jawab Alana dengan wajah yang berseri seri. Alana juga melihat Genta yang berlari larian kesana kemari diiringi oleh baby sitter Genta yang tampak kewalahan mengikuti Genta yang sangat aktif.


" Huum, tempat ini emang dibuat begitu. Rumahnya masih seperti dulu, cuman halamannya yang ibu perluas. Jadi seperti rumah di desa, tapi padahal dekat banget dengan kota. Dekat sini juga ada sekolahan, kalau Genta mau sekolah, dekat sama fasilitas umum. Dekat dengan rumah sakit bersalin. Supaya ibu juga gak was was ninggalin kamu disini." jelas ibu kepada Alana yang masih mengarahkan pandangannya ke halaman yang asri.


" Iya bu, rasanya nyaman dan menenangkan." ujar Alana sambil menghirup sebanyak banyaknya oksigen untuk memenuhi paru parunya, dan kemudian menghembuskannya perlahan. Alana merasa nyaman dan moodnya meningkat.


Diusia kehamilannyanya yang ke 31 minggu, alias 7 bulan lebih, moodnya semakin swing. Apalagi didukung dengan masalah masalah yang menderanya semakin membuat Alana stress. Dirumah ini Alana merasakan mendapat ketenangan.


" Bu, terimakasih. Alana sayang ibu. " ungkap Alana sambil terisak sedih.


Tapi emang dari dulu, sewaktu Alana kecil bersahabat dengan Saka, ibu mertuanya ini selalu membelanya saat bertengkar dengan Saka. Bahkan Saka sering marah, dan bertanya sebenernya yang anak kandungnya itu Saka atau Alana, kok yang dibela selalu Alana.


" Sudah jangan nangis. Nanti bayimu sedih, ibu gak mau cucu ibu kenapa kenapa. Disini kamu urus Genta dan bayimu saja. Ibu mau balik dulu ke Jakarta. Saka kayaknya bakal sampai sore ini." kata ibu sambil menepuk bahu Alana dan bersiap hendak berangkat.


" Bu, ini udah mau maghrib juga, nanti ibu nyampenya malam loh. Ibu gak nginep dulu aja. " kata Alana masih ingin bermanja dengan ibu mertuanya, maklum ia gak bisa menghubungi mamanya, ntar ketahuan Saka, sedang orang hamil biasanya bisa bermanja dengan suaminya. Saat mode berjauhan dengan suami kayak begini Alana mau bermanja dengan siapa?


" Engga Lana. Kalau ibu gak pulang, nanti Saka bisa melacak kamu disini. Ibu yakin Saka sudah lupa dengan tempat ini. Dia dulu kecil pernah kemari. Tapi mungkin sekarang dia sudah lupa. Disini hanya ditempati oleh mang Asep, dan bu Dar, isterinya. Mbok Sum, juga ibu tinggal disini. Pengawal ayah juga, nanti mereka jaganya di depan rumah, kamu jangan khawatir. Jaga Genta baik baik. "


" Iya bu, hati hati di jalan. Sampai rumah hubungi Lana ya, bu." ujar Alana mengantar ibu mertuanya masuk ke dalam mobil.


Nenek Irsyana tidak pamit dengan Genta karena Genta di kamar mandi sedang dimandikan oleh baby sitternya.

__ADS_1


Alana pun masuk ke dalam kamar yang tadi sudah ditunjukan oleh ibu mertuanya, yang merupakan kamar utama di rumah itu. Walau terlihat sederhana dari luar, tapi rumah itu interiornya sangatlah mewah. Kamar tidur utamanya saja ada ranjang berukuran king size. Ada kamar mandi dalam yang berisi bath tube dan shower seperti kamar mandi di hotel hotel berbintang lima. Jendelanya yang besar dengan tralis yang indah menghadap ke taman besar, dan walking closet yang sudah lengkap terisi baju bajunya yang dibeli ibu mertuanya saat jalan jalan beberapa hari di Lembang kemarin. Rupanya mbok Sum juga sudah menaruh semua keperluannya di kamar itu, tas make up dan tas perginya juga sudah nangkring manis di meja rias di dalam kamar itu.


Alana membaringkan tubuhnya yang mudah lelah di ranjangnya yang nyaman dan tak lama kemudian ia pun tertidur tanpa sempat sekedar mandi sore dan membersihkan tubuhnya.


***


"Alana, ini aku sayang!! Arghhh, Kamu gak tahu kalau aku sangat merindukanmu. Kamu nakal sayang, buat Junio menunggu. Hubby kamu yang paling ganteng sedunia sudah disini." ujar Saka saat melihat Alana di dalam kamar sedang berbaring di tempat tidurnya.


Saka menghampiri tempat tidur dimana Alana berbaring, ia membelai tubuh Alana yang halus lembut. Perutnya yang tampak menbuncit diiringi dengan bentuk dada favoritnya yang membesar dan tampak kenyal, membuat Junio tak segan segan memberontak dari tempatnya. Tegang sempurna ingin keraih kenikmatan meledak di sarang kenikmatannya.


" Walaupun kamu tidur, wajahmu tampak cantik, dan sempurna. I Love you with all my heart. Tubuhmu tampak seksi dan menggairahkan, sayang. " bisik Saka di telinga Alana, Saka ingin membangkitkan gairah istrinya yang di rindukan.


Saka membelai tubuh Alana yang tertidur, menciumi setiap jengkal tubuhnya yang halus. Tak terasa bukti keperkasaan Saka pun menempel ketat di tubuh Alana dan menuntut ingin keluar dari tempatnya. Tapi Saka tidak mau terburu buru, ia masih setia mengecupi seluruh tubuh Alana yang hanya diam tanpa respon.


Saka tidak kurang akal, ia berusaha menindih tubuh Alana, tapi tidak menaruh seluruh beban tubuhnya ke tubuh istrinya yang berperut buncit itu, sehingga tidak membahayakan istrinya yang sedang hamil. Tapi karena ia terlalu terburu buru, Saka pun kehilangan keseimbangan, dan terguling jatuh dari ranjang.


Gubrakkk!!!!!


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2