Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 35.Menjelaskan*


__ADS_3

POV IVARA


‘Rasanya ternyata sesakit ini, melihat suami yang dicintai, bermesraan dengan wanita


lain.’


“Tapi aku yang mengijinkannya, aku yang memilih Alana buat suamiku, ini bukan salah


Alana… aku harus belajar ikhlas!!’


‘Aku tidak bisa egois, aku gak boleh egois, kasihan mas Rendra, dia sudah memberi banyak kebahagiaan untukku tapi bahkan aku tidak bisa melayani kebutuhan biologisnya,


tidak bisa memberinya keturunan, tidak bisa membahagiakannya.’


‘Aku tidak boleh menangis dihadapan mereka, aku tidak boleh!! Aku harus kuat … harus


tahan.’ Batin Yara mensugesti dirinya dengan kuat. Ia berharap air mata di yang sebentar lagi tumpah bisa ditahannya. Ia malu karena Alana dan Saka masih ada disana.


‘Biarlah saat mereka pergi, aku akan menangis sepuasnya’.


‘Kasihan mas Rendra, ia harus menanggung malu karena dia tidak bisa memiliki keturunan saat bersama ku, kasihan mas Rendra tertekan, oleh keluarganya, saudara saudaranya karena ia anak tunggal yang harus meneruskan nama keluarga Perdana.’


Tapi air mata yang ditahan Yara, tetap mengalir mambasahi pipinya, bahkan tetap mengalir begitu deras. Seakan tanggul pertahanan Yara jebol, karena air mata itu begitu deras keluar. Yara tambah menangis dengan kuat saat Saka memeluknya dan memberi kehangatan. Aroma maskulin yang ia rindukan, pelukan yang menenangkan, Yara


sadar Saka bukan miliknya sendiri, ada hati yang lain yang harus ia jaga. Tapi


ia merindukan pelukan Saka ini, Saka mengecup keningnya dan puncak rambutnya.


Klik… suara pintu yang tertutup perlahan.


Alana!


“Yaraa…. Maaf aku harus mengejar Alana, dia sedang hamil, moodnya lagi gak baik. Aku


takut dia kenapa kenapa. Kamu gak apa apa kan?” tanya Saka dengan perlahan, ia


tidak mau menyakiti hati Yara.


“Kejarlah, mas! Dan pulanglah… biar Alana istirahat, aku kasihan dengan dedek bayinya


kalau dia harus kesana kemari, ntar dia kecapean,” jawab Yara sambil menyunggingkan senyum palsu diwajahnya, Saka tahu itu.


“Maaf, aku tinggal dulu, besok kita bicarakan lagi mengenai keinginanmu untuk keluar dari


rumah sakit ini dan ikut kami balik ke Indonesia.” Kata Saka lagi.


“Aku pulang ya… “ lanjut Saka sambil mengecup kening Yara dengan sayang.


“Hmmh… hati hati, sampaikan salamku buat Alana.” Sahut Yara dengan senyum terpaksa.


“Iya, jangan berpikir macam macam, aku mencintaimu.” Ujar Saka lagi.


“Aku juga..”


Tapi aku harus belajar untuk merelakan dan membagi kasih sayang Saka dengan Alana …


bahkan mungkin akan semakin terbagi dengan Genta dan anak anak Saka kelak, tapi

__ADS_1


harus ikhlas kan… ini pilhan yang aku pilih , batin Yara teriris.


Yara hanya bisa melihat punggung Saka yang menjauh darinya.


***


“Ya ampun sayang, makan kamu belepotan.” Ujar Saka sambil mengelap bibir Alana yang


belepotan saus spaghetty.


“Apakah makanan ini masih ada, Bby?” tanya Alana sambil mengunyah makanan itu,


sehingga suaranya pun tidak terlalu jelas.


“Apa?” tanya Saka lagi, sambil membereskan sisa sisa makanan di meja dan membuangnya ke tempat sampah.


“Spaghettynya masih?” tanya Alana dengan mulut penuh.


“Sayang… kamu sudah makan 2 porsi loh, bahkan makanan aku sudah kamu yang habisin, kamu yakin gak akan kekenyangan?” tanya Saka dengan kebingungan, ia tahu kalau kehamilan memicu istrinya menjadi cepat lapar dan nafsu makannya meningkat.


“Ga tau, Bby… kayaknya anak kamu doyan deh… “ jawab Alana masih mengunyah suapan terakhir.


“Aku aja belum makan lo, kamu sudah ambil makanannya..” potong Saka sedih.


“Beli aja lagi, agak banyakan supaya nanti kalau anak kamu laper sudah ada makanannya. Kamu kan tahu kalau nafsu makanku sedang tinggi tingginya.” Jelas Alana.


“Tapi kalau pesen online lama loh yang.”


“Yaudah nanti beli pas keluar sekalian jenguk Yara ya..”


“Bby, nanti nengok nya satu satu ya..”


“Hah? Nengok bayi kita?”


“Menjenguk Yara... dasar suami omes. Soalnya aku gak mau kejadian kemarin terulang lagi. Yara sedih kalau lihat kemesraan kita.” Kata Alana sambil mengunyah snack yang dibelinya di minimarket.


“Sayang…kamu tadi habis makan 2 porsi spaghetty loh…” potong Saka hati hati, saat melihat Alana kembali menyantap snack, Saka takut menyinggung Alana selain itu ia emang sengaja mengabaikan pernyataan Alana tentang Yara, karena bisa mempengaruhi mood Alana.


“Lha emang kenapa?” tanya Alana sambil menatap Saka heran.


“Kamu engga kenyang?” tanya Saka lagi sambil menelan salivanya, melihat mata Alana kini melotot memandangnya.


“Aku juga gatau, Bby! Aku cuman ngerasa laper terus aja. Padahal aku juga udah makan.


Kalau aku makan terus dan jadi gemuk, emang kamu gak mau sama aku lagi?” tanya


Alana dengan tatapan sendu.


Pertanyaan yang menjebak, kalau salah ngomong, Alana bisa mencak mencak, batin Saka.


“Mau kamu kayak gimana, aku tetep suka kok.” Jawab Saka diplomatis.


“Tapi kamu bilang aku makannya banyak. Aku takut nanti bobot ku naik banyak karena suka


makan, Bby!” ujar Alana sambil terisak. Lho loh, kok nangis… bener kan, pertanyaan yang menjebak, dijawab salah, gak dijawab juga tetep salah, batin Saka lagi.


“Tapi kan kamu emang hamil, jadi emang harus naik beratnya.” Jelas Saka dengan nada

__ADS_1


lembut.


“Kamu gak marah kan, kalau beratku naik?” tanya Alana masih menyimpan isaknya.


“Tidak sayanggggg, aku cuman takut kalau perutmu begah karena kebanyakan makan, karena aku gak mau kalau kamu perutnya sakit. Paham?” jawab Saka sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Alana yang masih tirus.


“Berarti aku nanti boleh makan spaghetty lagi?” tanya Alana dengan mata yang berbinar


binar.


“Boleh… sepuluh porsi cukup ga?” goda Saka sambil menghapus sisa air mata di pipi Alana.


“Bby…..!!!” Alana memukul lengan Saka dan mencubit perutnya yang berotot.


“Aduhhh! Sakit banget inii.. KDRT ini masuknya...” seru Saka sambil menekan perut yang dicubit Alana, sebenernya gak sesakit itu juga, tapi Saka hendak menggoda istrinya saja.


“Tapi aku tadi nyubitnya gak keras keras loh.. Apa masih sakit?” kata Alana sambil


memegang perut Saka yang dicubitnya.


“Ini yang sakit..” Saka mengarahkan tangan Alana untuk menyentuh Junio yang menegang, dan mengeras.


“Tapi aku tadi nyubitnya perut, kenapa yang sakit Junio?” protes Alana dengan polos.


“Soalnya selama disini jatahnya berkurang, jadi dia gusar, pingin berperang.” Bisik Saka


lirih ditelinga Alana, membuat bulu kuduk Alana meremang.


“Bby, kamu omes… kupikir kamu betulan sakit.”kata Alana sambil menarik tangannya yang diarahkan Saka untuk membelai Junionya.


“Ayolah, sayang… boleh ya .. ya… ya” pinta Saka dengan nada memelas.


“Bby, aku kangen Genta…”rengek Alana dengan manja, mendengar kemanjaan Alana membuat Junio Saka bergeliat geliat minta dilepaskan.


“Tadi pagi kan sudah video call sama Genta, sayang..” jawab Saka sambil merayu


tubuh Alana, yang membuat Alana mendesah.


“Ahhh..sayangg… maksudku aku mau pulang saja ya… kamu tetep disini gak apa..” jawab


Alana sambil merespon cumbuan Saka dengan desahan dan menahan


gejolak yang melonjak dahsyat.


“Ehmmm, …”


“Bbyy, ini di mejhaa makann ehrmmh, argghhhh akuu …” ledakan Alana segera disambut Junio yang sudah menanti dengan tidak sabar.


Saka dan Alana melakukan pertempuran hasrat yang dahsyat dan melabuhkan mereka dalam indahnya pantai cinta mereka berdua. Sampai kemudian tak selang berapa lama, Junio pun puas bersamaan dengan lemasnya Alana karena sampai di puncak bersamaan yang membuat deburan ombak gairah Saka yang menyurut.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2