Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 60. Damai*


__ADS_3

Saka kembali memeluk Alana dan menggelitik pinggangnya, yang membuat Alana meronta kegelian sehingga handuk yang membalut tubuhnya pun terbuka, mempertontonkan tubuh Alana yang putih mulus.


Lagi lagi Saka hanya bisa menelan salivanya berkali kali, supaya ia bisa menahan diri tidak kembali menyerang istrinya. Berdekatan dengan Alana selalu membuatnya tidak ingin meninggalkan kamar tidur. Karena ia ingin selalu dan selalu ingin mengajak Alana bertindak mesum.


" Bby, lapar."rengek Alana dengan nada manja manja menggoda iman.


" Kamu disini saja, diluar ada Irvan. " ujar Saka dengan nada datar, karena ia ingat bahwa Irvan masih ada di luar. Dan memikirkan bahwa Alana seharian ini bersama dengan Irvan membuat darahnya naik.


" Bby, masa aku cuman handukan aja sih. Gak diambilin baju dulu?" tanya Alana sambil memperlihatkan handuk yang sudah ia betulkan paska melorot akibat hantaman tangan nakal Saka. Saka hanya tersenyum mesum.


" Kamu bahkan lebih cantik kalau tidak menggunakan apa apa." goda Saka sambil mencubit pipi Alana.Yang membuat Alana mencebik manja.


" Oh begitu ya?Ya sudah! Apa kalau gitu aku keluar pakai begini aja ya? Kan aku lebih cantik kalau pakai begini doang? Bahkan katamu aku lebih cantik tanpa pakai apa apa. Mungkin ada baiknya kalau aku keluar tanpa apa apa? Bdgitu, Bby? " goda Alana balik. Jangan pernah bersilat lidah dengan Alana, karena kepandaiannya mengolah kata sungguh diatas rata rata. Dan Saka menyesal sudah menggoda Alana dengan kata katanya, ia takut kalau Alana nekad maka ia akan rugi bandar. Tubuh Lana yang mulus akan dilihat oleh orang banyak.


Apalagi si Irvan yang notabene mantan suami Alana masih ada di luar. Saka hanya diam dan langsung mengambilkan baju tidur Alana beserta outer kimono untuk menutupi pakaian tidur Alana yang tipis.


Saka menyerahkan pakaian itu tanpa bersuara. Bibir Saka udah monyong lima centi gara gara berdebat dengan Alana tadi. Alana sadar kalau suaminya dalam mode marah, maka ia langsung bangkit membuka handuk yang melilit tubuhnya, sengaja mengambil dan memakai pakaian tidurnya yang ia pakai tanpa dalaman, dengan gaya menggoda, membuat Saka sontak melotot memandang Alana yang tampak seksi.


" Masih marah? " tanya Alana mendekati tubuh Saka yang menegang karena lonjakan gairah tiba tiba akibat live teasing yang dipertontonkan Alana tadi.


" Hmm." Saka mengangguk menandakan dirinya masih marah tapi mata Saka masih memandang tubuh istrinya.yang cantik dan mulus.


Cup.


Alana mengecup bibir Saka yang masih setia merajuk dengan bibir yang dimonyong monyongin, padahal matanya sudah jelalatan, wajah Saka seperti itu yang membuat Saka semakin menggemaskan dimata Alana.

__ADS_1


" Jangan marah, nanti dedek diperut mommy ikut ngambek lohh. " rayu Alana dengan nada manja, yang membuat Saka tidak kuat lagi.


" Daddy gak marah kok, sayang" kata Saka sambil mengusap perut Alana, dan menaruh telinganya di sana, berusaha mendengarkan pergerakan anak yang ada di dalam kandungan Alana.


" Aku ambilin makan dulu diluar. Sayang, kamu gak boleh nakal didepan cowo lain ya. Kamu hanya boleh kayak tadi didepanku aaja. Ngerti???" ancam Saka dengan wajah diseram seramkan, membuat Alana tergelak.


" Iyaaaa, hubby sayang. Cepat ya, Bby. Aku sudah lapar, dedek juga." Alana mendorong tubuh Saka untuk segera menjauh, mengambilkan makanan. Meski ini sudah malam, tapi energi yang terkuras saat melayani Saka dan menuntaskan kerinduannya tadi membuat dirinya lapar to the max.


Saka keluar dari kamar setelah berjam jam menghabiskan waktu bersama Alana didalam kamar. Anak buahnya, Lio dan Irvan rupanya sudah selesaii makan.


Bahkan Lio dan anak buahnya masih berjaga, sedangkan Irvan sudah memilih tidur di sofa ruang tamu, mungkin ia kelelahan karena sedari siang harus mengurus Alana yang bawel dan banyak maunya. Hanya karena ingin menebus dosa, ia mau membantu Alana. Sebenarnya Irvan malas berhadapan dengan Saka.


" Yo, istirahatlah di ruang kerjaku, sedangkan anak buah kamu, suruh berjaga bergiliran saja, seperti biasa, yang ingin tidur bisa masuk ke kamar tamu. " perintah Saka sambil mengambilkan makanan yang sudah dibeli Lio untuknya dan untuk Alana. Rencananya ia akan membawa makanan itu kedalam kamar dan menikmatinya berdua bersama Alana.


" Tahan dulu! Aku hendak menanyainya nanti. Aku harus fokus pada Alana dulu."


" Baiklah, bos!"


"Bagaimana dengan Yara? Apakah dia baik baik saja di hotel? " tanya Saka serius.


" Nyonya Yara baik baik saja. Malah kayaknya nyonya cenderung bahagia saat ada di hotel. Bahkan nyonya mengajak berbelanja di mall dan makan di resto dalam mall." ujar Lio memberikan detil info laporan keseharian anak buahnya kepada Saka.


" Bagus.. awasi terus dan berikan update dari anak buah kamu ke aku tiap saat. Besok kita balik ke Indonesia, sekalian mengantar Alana, juga aku mesti banyak ngomong sama ayah dan ibu perihal Alana dan Genta sama mereka. Mereka juga harus tahu kondisi dan fakta yang sebenarnya kan?" jelas Saka lagi kepada asisten pribadinya.


" Baik, bos. Ada lagi?" tanya Lio.

__ADS_1


" Siapkan penerbangan pagi untuk aku dan Alana. Karena siangnya aku akan nyusul Yara. Banyak yang aku harus omongin sama Yara." perintah Saka lagi.


Saka selesai mengambil makan untuk Alana dan dirinya, lalu bergegas masuk ke dalam kamar tidurnya. Ia tidak mau kalau Alana sampai kelaparan. Tapi saat ia masuk ke dalam kamar, Alana tampak ketiduran menunggu Saka mengambilkan makanan untuknya.


Saka tidak tega untuk membangunkan Alana, tapi di sisi lain, ia juga tahu kalau Alana belum makan sama sekali daritadi.


" Sayang, bangun dulu. aku suapin makan ya. Aku tahu tadi kamu sama sekali belum makan. Aku takut dedek kelaparan." ujar Saka sambil menepuk pipi Alana dengan lembut. Ia tidak mau membuat Alana kaget.


Tapi Alana hanya memutar badannya ke kiri dan menutup wajahnya dengan guling, mengacuhkan panggilan Saka.


" Alana, kasihan dedek. Yuk, makan dulu. Aku suapin ya.?" Saka langsung mengangkat Alana dan mengganjal kepala Alana dengan dua bantal, supaya Alana bersandar di bantal itu, lalu menyodorkan gelas air putih yang sudah diberi sedotan. Supaya Alana mudah dalam meminumnya.


" Bby, aku ngantuk." kata Alana dengan nada manja manja.


" Dikittttt aja. Ya? Nih, mana mulutnyaaa? Dibuka dulu.." ujar Saka telaten. Ia membujuk Alana sampai ia mau makan,karena Saka mengkhawatirkan bayi yang ada di dalam kandungan Alana.


Alana meminum airnya dulu dan kemudian berusaha mengambil makanannya sendiri karena ia tidak mau disuapin oleh Saka.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2