Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
95. Buah Simalakama


__ADS_3

Hai gengsss... ketemu sama author centil pengemis like dan vote yaaa.


Readers yang baca klik vote dan likenya dongg πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» Yang udah vote ... i lap yu pullllll


Mau sedikit cerita ya, jadi ini itu harus diedit dan di revisi ulang, karena ada sedikit mis komunikasi dri awal saja. Jadi ini ceritanya harus diselesaikan di satu buku.. ntar penjabaran disana. Karena belum bisa edit beneran jadi yang buku satunya dipindah langsung kesini.


Oleh karena itu plissssss, jangan lupa like ( ini gratisssss) dan votee ( ini juga gratis kokkk) 😭😭😭... biar review dan updatenya bisa cepet.


πŸ˜˜πŸ˜πŸ˜‹


Jangan lupa vote like vote like vote like vote likeπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Sambil nunggu update, bisa cek karya thor yang lain.😘


So jangan lupa vote dan like yaaaa


Happy reading!!!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


" Saya dengar pasien ternyata melarikan diri dari rumah sakit di Penang ya? Hmmh kasusnya cukup rumit karena sebenarnya pasien juga sudah pasti sadar kalau tubuhnya kian melemah. Dan hanya keajaiban Tuhan yang bisa membantunya. Anda dan keluarga sebagai orang terdekatnya harus bisa menyiapkan hati untuk segala kemungkinan terburuk untuk pasien, sekalipun tidak menutup kemungkinan kalau keajaiban itu terjadi, pasien bisa sembuh total. Yang pasti


kami selalu berusaha semaksimal mungkin." jelasnya sedetil mungkin supaya Saka bisa menelan semua info dan melakukan yang terbaik untuk istrinya itu.


" Berarti memindahkan rumah sakit juga tidak akan merubah apa apa? Begitu maksudnya, dok?" tanya Saka dengan tatapan mata tajam.

__ADS_1


Dokter itu hanya menghela nafasnya dengan perlahan.


" Silahkan saja kalau mau pasien dipindah ke rumah sakit lain. Tetapi saya lebih menyoroti keadaan tubuh pasien yang tidak akan mampu untuk melakukan perjalanan keluar lagi, saya tidak akan bertanggung jawab apabila ada sesuatu yang buruk yang menimpa pasien, dan nanti tuan juga harus tanda tangan surat untuk pencabutan atau pemindahan pasien secara paksa ." jelas dokter Wicaksono dengan sabar. Saka semakin frustasi. Yara kritis!! Kalau dipindah beresiko. Tidak dipindah juga beresiko. Jadi jalan manapun yang dipilih oleh Saka itu berbahaya. Seperti memakan buah simalakama. Yang jelas Saka pun juga tidak bisa meninggalkan Alana dan calon anaknya yang kondisinya juga butuh perhatian.


" Bisa saya masuk dan menengoknya?" tanya Saka dengan getir. Ia menelan salivanya dengan kasar, bukan karena apa apa. Karena ia lagi membayangkan hal yang terburuk yang bisa terjadi pada istri pertamanya itu.


" Silahkan, tuan. Tadi saya sudah memeriksa dan kondisinya hari ini stabil. Saya rasa anda perlu menstimulasinya dengan baik. Karena ia sudah lebih sering kehilangan kesadarannya secara tiba tiba." kata dokter itu sambil menepuk bahu Saka untuk menguatkannya.


Krek.


Saka membuka pintu dengan hati hati. Ia takut menganggu istirahat Yara. Tapi Ia ingin tahu juga sedang apakah Yara disana.


Ternyata Yara sedang tidur. Wajahnya yang semakin tirus. Rambutnya yang emang sudah dipotong habis itu membuat wajahnya tampak lebih kurus dari yang terakhir Saka lihat. Saka hanya bisa menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan. Rasa panas di pelupuk matanya sudah menjadi kode bagi dirinya kalau sebentar lagi ia akan menangis.


Saka mendekati brankar tempat Yara beristirahat. Banyak alat bantu kesehatan yang menempel di tubuh kurus Yara. Termasuk alat bantu pernafasan juga. Hati Saka semakin sedih melihat kenyataan itu. Saat ia pulang dari Penang, kondisi Yara masih stabil, bahkan ia masih bisa memakaikan dasi unyuknya dan berbicara dengan suara biasa, bahkan masih bisa berjalan kesana kemari.Tangan Saka sudah membingkai wajah Yara yang pucat. Gurat gurat kecantikan Yara sudah memudar termakan garis kesakitan yang menggores dahinya.


" Mas Rendra.." suara parau dan lirih dari bibir Yara terdengar sangat memilukan ditelinga Saka. Saka cepat cepat menghapus aliran air mata yang menumpuk di pelupuk matanya. Ia menampilkan wajah cerianya.


" Sssst, kamu terbangun sayang? Apa aku mengganggu tidurmu?" bisik Saka di telinga Yara.


" Mas, kamu sudah sembuh? Aku sangat khawatir sama kamu. Maaf aku gak bisa melayani dan merawat kamu. Malah aku jadi begini, nyusahin kamu. " kata Yara lagi, masih dengan suaranya yang lirih.


" Aku sehat, Yar! Mestinya kamu tidak usah khawatir tentang aku. Kamu kan tahu aku malah khawatir kalau kamu kenapa kenapa. " bisik Saka lagi.


" Mana Alana? Apa dia sudah melahirkan?" tanya Yara penuh pengharaoan. Matanya berbinar binar memikirkan kemungkinan kalau Alana telah melahirkan.

__ADS_1


" Belum Yar. Masih kira kira 3 atau 4 minggu lagi sih!" jawab Saka lagi.


" Owh, tapi ia baik baik saja kan?" desak Yara lagi.


" Kemarin dia pendarahan. Mungkin karena cape. Kemarin mungkin dia terlalu ngurusin ku, jadi ya buat dia kepikiran juga. Ia gak bisa jenguk kamu karena ia harus bedrest total Ia tidak boleh turun dari kasur oleh dojter yang merawatnya. Tapi ia titip salam buat kamu. Kamu harus sehat saat ia melahirkan. Katanya kamu ingin gendong anak kita?" kata Saka berusaha menguatkan Yara.


Yara cuman mengulaskan sebuah senyum ringan. Rasanya Yara juga sudah tahu apa yang sedang ia alami. Mungkin ia juga tidak bisa bertahan kalau dirinya harus menunggu Alana yang melahirkan. Bahkan Yara tidak tahu apakah ia masih bisa bertahan seminggu kedepan.


" Anak kita? "


" Huum, Alana selalu bilang begitu sama anak yang dikandungannya juga Genta. Kamu adalah bunda dari Genta dan dedeknya. Kamu mesti lihat Genta yang sekarang. Dia pintar dan tampan kayak daddynya." ujar Sak dengan nada bahagia. Saat mengingat anaknya yang tampan itu Saka sangat bahagia. Yara menangkap binar sukacita di mata Saka. Ia bahagia saat Saka bahagia, walau kebahagiaan itu bukan dirinya yang memberi.


" Aku ingin sekali bertemu Alana. Aku ingin berterimakasih padanya. Ia sudah membawa kebahagiaan untuk kamu, mas. Ia juga sudah memberikan keturunan buat kamu. Tidak seperti aku yang hanya bisa menyusahkan kamu saja." lanjut Yara lirih dengan nada sendu. Bulir bulir air mata jatuh di pipi Yara yang tirus.


" Yar, kamu harus bertahan, Alana akan sangat sedih kalau kamu melepaskan harapanmu." bisik Saka ditelinga Yara. Yara seperti sudah kehabisan tenaga untuk membalas Saka. Yara hanya terdiam tidak memberi reaksi apa apa. Hanya air mata saja yang masih setia bergelayut di pipi Yara.


" Aku akan membawa Alana kesini, kamu mau ketemu Alana kan? Tapi kamu mesti janji sama aku kalau kamu akan bertahan." bisik Saka lagi, ia seperti merasa bahwa Yara sudah tidak bergairah melanjutkan hidupnya. Biarlah keinginannya untuk bertemu Alana menjadi pengobat Yara saat ini. Saka hanya berpikir, apakah keajaiban itu sungguh ada?


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2