Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 64. Harus Adil*


__ADS_3

" Ngomongnya itu lo Saka, gak pernah jauh jauh dari itu." sungut ayah Langit seusai memberikan gaplokan sayang pada Saka. Ia tidak mengerti anak semata wayangnya itu super deh, kalau masalah gituan. Nurun dari siapa sih?? 🤣


" Alana istri sah ku, yah! Masa gak boleh. Itu termasuk ibadah." bantah Saka, sambil mengelus lengannya yang digaplok ayahnya.


" Iya tapi menjurusmu itu loh, nak. " sahut ayah sambil memijit keningnya yang tiba tiba nyeri.


" Halah kayak ayah enggak aja. Buah itu jatuh ga jauh dari pohonnya. Udah gak usah banyak debat. Kalian itu lo kayak anak kecil aja. Lha, Saka gimana dengan Yara?" tanya ibu dengan wajah sendu. Ibu masih setia memeluk Alana.


" Kayaknya Yara ada perkembangan setelah Saka keluarkan dari rumah sakit di Singapura. Mungkin Yara tertekan, pas di rumah sakit Singapura. Ini dia sekarang ada di Penang. Rencananya nanti sore Saka kesana untuk menemani Yara berobat di Penang. Doakan aja mudah mudahan bisa pulih ya, bu! Amin." kata kata Saka juga diaminkan oleh Alana, ayah dan ibu.


" Jadi kamu berangkat ke Penang sore ini, nak?" tanya ayah.


" Hu um. Sore ini, kan harus adil. Bener ga sayang?" tanya Saka sambil melirik Alana yang masih sendu.


" Apaan sih, Bby?" potong Alana cepat.


" Aduh, sebenernya ibu seneng banget. Genta cucu kandung ibu. Pantesan ibu itu kalau sama Genta kayak tak terpisahkan." ujar ibu mengalihkan pembicaraan dengan raut wajah sumringahnya.


" Halah ibu lebay. Genta itu versi laki laki dan versi kecilnya Alana. Persis. Lagian ya bu, pinternya itu loh. Persis Alana pas sekolah sama Saka dulu. " sanggah ayah Langit, yang otomatis disanggah balik sama ibu.


" Lebay gimana to , yah! Justru bagus kalau anak laki laki wajahnya mirip ibunya. Biasanya orang jawa bilang tuh ngrejekeni (\=membawa rejeki di dalam keluarga ). Kalau anak perempuan wajahnya mirip ayahnya."


ujar ibu Irsyana tidak mau kalah. Alana dan Saka hanya memandang ayah ibunya yang sedang saling berdebat tanpa ikut campur.


" Kamu sudah ngurus akte lahirnya Genta? Mestinya dia sudah menyandang nama keluarga Perdana. " perintah ayah kepadaa Saka.


" Sudah dari pertama, Saka menikahi Alana. Genta sudah sah menyandang nama keluarga Perdana." ujar Saka bangga.

__ADS_1


" Tumben loh anak ini bisa gercep. Yo wes. Istirahat sana. Katanya nanti sore


mau ke Penang. Alana biar tinggal menginap disini aja, ga usah pulang kerumah kalian, toh Genta udah terlanjur suka disini. Biar ibu yang urus Genta dan Alana. Apalagi kalo pas ngidam. " sambung ibu Irsyana lagi.


" Iya, ajak istrimu istirahat. Ingat Saka. Hanya istirahatttt!!! Kasihan Alana kalau kamu ajak main wik wik wik siang tengah hari bolong begini." ungkap ayah Langit jujur. Soalnya tingkah laku Saka sangat terbaca. Saka seperti sangat gembira disuruh istirahat bersama Alana di kamar. Pasti karena pingin mengambil jatah Junio dimuka, sebelum berangkat ke Penang.


" Ya allahhh ayah, ibuuu. Kok ya gak kasian sama anaknya. Itung itung sebagai bekal to. " sahut Saka enteng, Saka langsung menggandeng dan menarik Alana ke kamar tidurnya. Seperti biasa Saka akan mengambil jatah Junio dimuka. Hadehhh!!


***


Alana masih setia bergelung di dalam selimutnya. Tubuhnya yang polos seakan malas untuk sekedar bebersih di kamar mandi yang ada di dalam kamar. Itu semua karena Saka yang mengambil jatah Junio selama seminggu dimuka. Bisa dibayangin? ( thor ga mau cerita detil ahhhhh, biar reader penasaran🤭🤭 )


" Sumpah ya, Bby. Badanku sakit semua. Kamu nengok dedek gak kira kira. Masa jatah Junio seminggu diropel siang ini. " sungut Alana yang merasakan pegal disekujur tubuhnya.


" Maap sayang, padahal aku juga udah halus loh mainnya. Gak menghentak kayak biasanya. Malah kamu yang merintah, faster, Bby. Ayo lebih .." bibir Saka sudah ditutup dengan tangan Alana yang mungil. Saka memanfaatkan itu untuk menjilat tangan Alana dengan sensual, sampai Alana kegelian.


" Biarin, slurp! Tubuhmu aja manis." ujar Saka setelah menjilati punggung polos Alana dan menanam beberapa stroberi disana.


" Bby, cukupppp. Astaga, aku mau mandi! " desah Alana setelah kesekian kalinya Saka menggunakan lidahnya untuk menyapu dada Alana yang tampak lebih montok setelah hamil adiknya Genta. Alana mencoba lari dari Saka menuju kamar mandi. Tapi Saka merengkuh tubuhnya yang polos dan menggendongnya kembali ke ranjang. Menaruh kakinya di tubuh Alana, membuat Alana laksana guling hidup bagi Saka. Alana meronta, Saka semakin mengeratkan pelukannya sambil menciumi tubuh Alana yang ada dalam pelukannya.


" Selama aku di Penang, kamu dirumah saja. Kalau mau pergi, pakai supir ibu, pak Komang saja. Bawa pengawal. Ingat jangan pergi sendirian. " ujar Saka lembut.


" Hmmm" Alana malas menjawab. Tubuhnya lelah. Tapi ia ingin mengantar Saka saat nanti sore Saka berangkat ke Penang. Setelah itu baru nanti dia bisa istirahat dan bersantai.


" Kamu boleh ke kantor, tapi jangan lama lama. Ingat pesanku, bawa pengawal." kata Saka lagi.


" Aku boleh kerja? " tanya Alana dengan mata yang berbinar, sambil menoleh ke arah Saka karena posisi Saka di belakang tubuh Alana, dan kepala Saka ditaruh di ceruk leher Alana, sehingga saat Alana menengok ke arah Saka, pipinya menempel ke pipi Saka. Membuat Saka leluasa menciumi pipi halus Alana.

__ADS_1


" Engga bekerja. Dilarang ketemu klien diluar kantor. Hanya memantau kerjaan anak anak kantor. Sebagai wakil CEO lah." jelas Saka.


" Oke, gapapa, asal ga cuman nganggur." lanjut Alana dengan nada manja.


" Kamu kan bisa shopping, nglihatin Genta, masak. " jelas Saka dengan sabar.


" Iya deh nanti aku ke kantornya cuman kalau aku kangen kerja ke kantor aja. Kayak sudah terbiasa gitu, Bby. Tapi kamu bener, nanti aku juga lakukan hal hal itu sama ibu dan juga ke rumah mama." kata Alana setelah berpikir beberapa saat.


" Ya itu. Jangan sampai kecapekan." nasihat Saka lagi.


" Ya, Tuan besar. Kayaknya aku lebih capek kalau ada kamu deh, Bby." rajuk Alana.


" Kok bisa?" tanya Saka heran.


" Ya iyalah, mengurus Junio yang ga pernah puas itu. Maunya masuk aja. Ga pernah puas." rajuk Alana.


" Bukannya ga pernah puas, tapi gampang tergoda sama ini." sahut Saka sambil meremas dada Alana yang membesar akibat kehamilannya.


" Dasar. Tuan besar yang mesum. Minggir, ini tangan ngapain coba?" sergah Alana sambil menepis tangan Saka yang sudah menggerayangi dada Alana.


***selanjutnya adegan disensor*** tiiiiiiiiitttt...


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2