Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
152. Kakak Angkat Alana


__ADS_3

JANGAN LUPA VOTE YANG BANYAK YA... LIKE DAN GIFT YANG BANYAK...


SUPAYA DITENGAH KERJAAN YANG BANYAK THOR SEMANGAT UPDATE, THANK YOU🙏🏻


***


Lio mengajak Kalandra yang ingin menemui Rangga. Kalandra kemudian ditinggal oleh Lio disana karena ia harus segera mengantar ayah, ibu dan mama Lina untuk menemui Alana.


Rangga memang sudah lebih dahulu sadar. jadi dia bisa melihat Kalandra yang hanya duduk di sofa sejak ditinggal oleh Lio di kamar Rangga.


Kalandra hanya memandang laki laki yang mengaku sebagai papanya dengan binar mata yang berbeda. Ia sangat bahagia dan juga sedih secara bersamaan. Ia sedih karena Opanya yang sangat lembut dan sangat menyayanginya malah hendak membunuh orang tua satu satunya. Di lain sisi ia sangat bahagia karena ia mendapatkan seorang papa yang sangat ia harapkan. Walaupun gak komplit, ia ga memiliki mama yang katanya sudah meninggal. Ia mesti nanya kenapa mamanya meninggal.


"Kalandra sayang, sini! Kenapa kamu duduk disana? Sini sama papa." kata Rangga dengan lembut, ia jujur masih bingung dan sedikit canggung. Dalam hati ia berpikir bahwa ia harus banyak belajar dengan Saka bagaimana menangani anak seperti ketika Saka dengan Genta dan Alendra.


"Iya, pa!" kata Kalandra dengan sopan.


"Kalandra, maafkan papa! Papa belum bisa membahagiakan kamu."


"Pa, Andra senang kalau ternyata Andra masih punya papa. dulu opa sering bilang kalau Andra anak yatim piatu, Andra tidak punya orang tua. Ternyata papa masih hidup, Opa sudah boong sama Andra."


"Andra, kamu tahu nak? Kalau papa sangat bahagia bisa menemukan Andra di kehidupan papa. Jangan tinggalin papa ya, nak!"


"Pa, harusnya Andra yang bilang gitu. Papa gak malu punya anak seperti Andra?"


'Tentu tidak!! Papa sangat bahagia punya anak seperti kamu. Nanti kamu harus tinggal sama papa ya, nak!"


"Iya, pa!! Tadi om Lio bilang kalau papa seorang dokter hebat. "


"Ha ha ha iya, papa emang seorang dokter, tapi om Lio sangat berlebihan kalau bilang om adalah dokter hebat." kata Rangga sambil mencolek pipi gembil Kalandra. Kalandra pun tertawa kecil.


"Tadi yang juga kena tembak itu siapa, Pa?' tanya Kalandra ingin tahu.

__ADS_1


"Oh itu tante Alana."


"Kenapa Opa gak suka dengan tante itu?" tanya Kalandra dengan polosnya.


"Karena Opa merasa tante itu yang menyakiti mama, kamu, padahal bukan. Opa lah yang membuat mama sakit, karena Opa misahin kamu dari mama yang membuat mama jadi pikiran."


"Opa kan selalu sama Andra. Kenapa kok gak boleh ketemu sama mama?"


"Nah itu papa gak tahu."


"Kenapa mama meninggal?"


"Karena emang sudah waktunya mama menghadap yang kuasa, ha ha ha rasa ingin tahumu itu persis seperti papa waktu kecil. " kata Rangga sambil tertawa terbahak bahak lalu kemudian Rangga meringis kecil karena dadanya yang tertembak menjadi nyeri, sedangkan Kalandra juga tertawa melihat papanya yang bahagia.


"Papa sakit lagi?" tanya Kalandra dengan cemas.


"Jangan kuatir, papa gak pa pa." kata Rangga menenangkan Kalandra.


"Masuk!"


"Hei, Ga! Gimana ? Apa yang masih kamu rasakan?" tanya Indra yang sudah masuk bersama Lio dan yang lainnya.


"Aku rasa besok aku sudah bisa pulang. Kalandra biar tidur sini sama aku saja." kata Rangga dengan binar bahagia, bahkan ia sudah tidak dingin dan  datar seperti robot saat anaknya disampingnya, ia sudah ceria karena anaknya bagaikan matahari yang mencerahkan hari harinya.


"Emang Kala mau ditidurkan dimana? Udah biar sama aku saja di hotel. Kasihan kalau harus tidur di rumah sakit." tanya Lio, diangguki oleh ibu Irsyana.


"Iya nak Rangga, biar anakmu tidur sama Genta dan Alendra. Kasihan dia kalau harus tidur di rumah sakit ah." kata ibu Irsyana memandang anak Rangga dan Yara dengan sayang.


"Eh ada miripnya sama Yara juga ya Yah?" tanya ibu dengan lugas, biasa si ibu itu sukanya ceplas ceplos.


"Hush, ibu. Biar Kalandra yang memutuskan, mau apa gak  ia tidur sama Genta dan Alendra."

__ADS_1


"Kamu mau tidur sama anaknya tante Alana dan om Saka? Mereka itu adik adik kamu juga." kata Rangga dengan santai, ia lupa kalau anak anak itu masih polos.


"Pa, apa dik Genta dan dik Alendra itu anak papa dan mama juga?" tanya Kalandra polos, pertanyaannya sontak membuat Rangga garuk garuk kepala, ia bingung mau jawabnya. Sedang yang lainnya juga hanya bisa tersenyum, emang sulit bicara dengan anak anak, karena kita harus bisa menjelaskan pakai bahasa yang bisa dimengerrti oleh anak anak kecil semacam Kalandra.


"Iya, adik angkat. Karena papa dan mama kamu itu masih saudara angkatnya tante Alana dan om Saka." kata ibu menengahi. Jawaban ibu membuat Kalandra manggut manggut lucu.


"Nah kamu nanti panggil ini sebagai nenek dan kakek, kalau yang itu panggilnya oma Lina." jelas Lio setelah ibu Irsyana mengatakan bahwa Rangga adalah adik angkat Saka.


"Aku boleh ya, lihat adik Genta dan Alendra. " tanya Kalandra dengan antusias. Ia tentu sangat bahagia karena ia tidak pernah bertemu manusia kecil seperti dirinya. Ia disekolahkan di private school yang sekolahnya sama dengan prinsip dasar homeschooling. ia ga pernah punya sepupu atau keluarga yang lain. Itulah sebabnya ia suka banget bisa ketemu teman kecil macam dirinya.


"Boleh." kata Rangga menyetujui, ia melihat kalau Kalandra sangat bahagia punya keluarga. Sama seperti dirinya, yang senang saat ia berada di rumah Saka karena itulah yang seharusnya disebut sebagai sebuah rumah. Ramai, penuh canda tawa, saling support dan kasih sayang.


"Terimakasih, tante dan om sudah sudi menjaga Kalandra." kata Rangga sambil tersenyum tulus kepada ibu Irsyana, ayah Langit dan juga mama Lina yang dengan baiknya mau mengasuh Kalandra, tadinya Rangga berpikir anaknya tidak akan diterima oleh keluarga Perdana karena masa lalunya dengan Ivara yang dulunya juga menantu di keluarga Perdana.


"Eh kok tante, panggil seperti Saka dan Alana juga Lio, panggil juga kami itu ibu, ayah dan mam Lina, okey."


"Lhah saya gimana dong?" tanya Indra dengan suara memelas. Ia juga kekurangan kasih sayang seorang ibu, saat ia melihat mama Lina dan ibu Irsyana yang dengan penuh kasih merangkul teman teman anaknya, ia menjadi kepingin juga.


"Ha ha ha sayangnya ibu tidak punya anak perempuan, seandainya ibu punya anak perempuan, pasti sudah kujodohkan dengan kamu, dokter Indra." kata ibu dengan tersenyum. Ibu emang begitu cerewet, galak tapi baik hati.


" Saya sekalian diangkat anak saja, boleh ya?" tanya Indra dengan suara memelas. Membuat semua orang yang ada disana tertawa terbahak bahak, kayaknya Indra seperti kucing yang minta dipungut oleh tuannya.


"Ya udah, kamu saya angkat anak saja, jadi kakaknya Alana. Gimana?" kata mama Lina dengan senyum yang masih ada di wajahnya. Mungkin mama Lina merasa kasian ganteng ganteng kepingin dipungut jadi anak.


Wah, sbenernya kalau bisa jadi menantu akan lebih baik lagi, tapi jadi anak angkat mamanya alana juga baik, pikir Indra dengan hati senang. Yeay jadi kakaknya Alana!!


..


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2