
" Argggh.." sebuah suara yang tentu saja bukan suara papa Adjie maupun suara mama Lina.
" Indra.. kamu sudah sadar?" tanya mama Lina sambil berdiri mendekati ranjang rawat inap Indra. Mama Lina bergegas meninggalkan kebersamaannya bersama papa Adjie.
Indra tampak memegang i kepalanya, walaupun Indra masih belum membuka kelopak matanya.
Papa Adjie mendesah kesal, usahanya mengalami penundaan gara gara Indra siuman. Kenapa Indra siuman dulu sih? Mbok ya tunggu sebentar lagi. Padahal tinggal sedikit lagi, gerutu papa Adjie dalam hati.
Indra masih belum menjawab, mama Lina terlihat khawatir dengan perkembangan Indra yang sadar tapi tampak kesakitan, sepertinya ada sesuatu yang terjadi, ada sesuatu yang salah dengan kondisi Indra. Tapi mama Lina heran, kok malah papa Adjie santai saja.
Ketika mama Lina melirik calon suaminya, ia melihat kalau papa Adjie tengah kesal akan sesuatu, sehingga ia memegang lengan papa Adjie yang tampak tegang dan mencoba menenangkan perasaan papa Adjie, walau mama Lina ga tau apa yang mengganggu perasaan papa Adjie.
Mama Lina ga tau aja kalau sebenernya papa Adjie kesal karena Indra siuman pada saat yang salah.
" Mas, jangan cemas. Indra akan baik baik saja." pikir mama Lina, papa Adhie gusar karena kondisi Indra yang tidak baik baik saja.
" Iya sayang." jawab papa Indra sambil membalas dengan menepuk nepuk lembut tangan mama Lina yang memegang lengannya.
Wajah mama Lina merona, mendengar panggilan sayang yang baru saja terlontar dari bibir papa Adjie. Papa Adjie emang ya, ga mau kalah ama anak ABG, sosor terus😂.
" Kita panggil dokter ya, mas! Si Indranya kok malah ga mbuka mata sih, mas.Aku juga jadi khawatir." kata mama Lina sambil menarik tangannya yang digenggam sama papa Adjie.
" Iya, dek. Mas juga khawatir." sahut papa Adjie yang sejurus teringat dengan kondisi anaknya yang aneh. Perasaan Indra ga punya penyakit bawaan atau penyakit berat deh!pikir papa Adjie sambil mengerutkan keningnya. Papa Adjie langsung menekan tombol di bawah nakas agar dokter segra datang.
" Indra, kamu kenapa?" tanya mama Lina dengan nada khawatir.
" Mama?" Indra merespon karena ia mendengar suara yang sangat dikenalinya. Suara mama Lina yang sangat ia sayangi.
" Iya,ini mama, ndra! Kamu kenapa? Apa yang kamu rasain? Kepala kamu sakit?" tanya mama Lina bertubi tubi sambio memijit kepala calon anak tirinya. Membuat papa Adjie menjadi kesal, karena cemburu. Duh, papaaaa!
__ADS_1
"Ma, Indra haus!" rengek Indra bak anak kecil ketemu mamanya.
" Iya, sayang! Ini mama ambilkan buat kamu." kata mama Lina penuh kasih sayang. Ia mengambilkan minum di gelas serta sedotan yang terletak di atas nakas dan memberikannya kepada Indra dengan penuh kasih sayang, tapi sebelum minuman itu sampai ke bibir Indra, papa Adjie merebutnya.
" Biar aku saja, dek. Nih, Ndra minumannya. " kata papa sambil membantu anaknya, mengangkat setelan ranjang rawat inap Indra, supaya Indra mudah untuk minum. Tapi Indra menolak minuman yang di berikan papanya.
" Mamaaaa...minumnya mana?" tanya Indra dengan nada merajuk.
" Loh itu..." papa Adjie ingin berkata kata tapi langsung dipotong oleh mama Lina.
" Iya, ini nak... ini sama mama." kata mama Lina sambil mengambil minuman yang dibawa papa Adjie sambil mengkode papa Adjie untuk mengalah dengan anaknya yang kayaknya sedang ngambek sama papanya.
" Ma, nanti temani Indra disini ya. Mama tidur sama Indra, ya!" pinta Indra masih memejamkan mata, tidak mau membuka matanya.
" Iya.." sahut mama Lina sambil mengelus dahi Indra yang mengerut karena memikirkan sesuatu.
tok tok tok
Dokter masuk bersama perawat, papa Adjie dan mama Lina pun menyingkir demi kelancaran pemeriksaan Indra.
" Dok, anak saya sebenrnya sakit apa?" tanya papa Adjie yang penasaran dengan kondisi anaknya yang tepar aja gak mau membuka mata juga sekalipun sudah siuman.
" Gak ada yang serius sebenrnya. Ia hanya kelelahan,shock dan mungkin lebih ke arah kejiwaannya sih pak !" sahut dokter itu singkat.
" Hah? Jadi dia ada gangguan kejiwaan?" teriak papa yang kemudian disikut oleh mama Lina yang rupanya tidak suka mendengar perkataan calon suaminya.
" Ha ha ha, bukan gitu pak Adjie. Mungkin karena sesuatu dan lain hal yang membuat dokter Indra menjadi cemas dan kepikiran." lanjut dokter itu dengan senyum bijaksana.
Papa hanya tersenyum kecut dan menggut manggut saja. Tentu saja ia tahu apa yang jadi kepikiran anaknya.
__ADS_1
Setelah dokter keluar dari ruangan itu, papa mendekati brankar Indra dengan niat ingin mengajak bicara Indra lagi.Tentunya kali ini papa Adjie harus mengeluarkan stok sabarrrr dan sabarrrrr yang ekstra karena anaknya melakukan perang dingin kepadanya, dengan tidak mau memandang dan tidak mau menjawab pertanyaannya dan memilih untuk diam saja,serta berkomunikasi dengan mama Lina saja.
" Indra, mama Lina keluar dulu ya. Mama mau beli makanan buat semuanya. Kamu mau titip sesuatu?" tanya Mama Lina dengan hati hati. Ia tahu dari gesture calon suaminya yang gelisah, kayaknya ada masalah yang harus ia selesaikan dengan anaknya. Dan tentunya kalau ada mama Lina, persoalan gak akan bisa selsai karena Indra bahkan hanya mau ngomong sama mama Lina saja.
" Ma, jangan lama lama. Indra ga mau makan apa apa. Mama makan dulu saja." jawab Indra maaih betah memejamkan kedua matanya. Karena dirinya masih malas berinteraksi dengan papanya.
" Sayang, kamu harus makan yang banyak. Mama belikan bubur mau ya? Nanti mama yang akan menyuapi kamh. Mau ya, sayang?" mama Lina membujuk Indra supaya mau dibelikan makan, dan kesehatan Indra akan cepet pulih. ia juga tidak tega melihat anak angkat yang bakal menjadi anak tirinya itu sakit.
" Hmmm. Tapi mama juga harus jaga kesehatan. Mama juga harus makan." katanya sambil masih enggan membuka matanya. Karena Indra tahu ada papanya di ruangan itu.
" Iya, mama pergi dulu ya.. Assalamualaikum.."
" Waalaikumsalam.. " sahut papa dan Indra bersamaan
Setelah mama Lina pergi dari ruangan rawat inap Indra. Hanya ada keheningan saja yang ada do sana. Baik papa maupun Indra masig saja enggan membuka percakapan.
Lebih tepatnya papa bingung mau mulai darimana.
" Ndra, maaafin papa kalau papa kesannya memaksa kamu untuk menikah dan melupakan Alana.Tapi papa sangat kuatir sama kamu. Tidak baik kamu menyukai istri orang. Apalagi istri kamu itu bakalan menjadi anak tiri papa." tegas papa Adjie dengan suara lembut.
" Apa?" Indra membuka matanya dengan lebar sekarang.
.
.
.
TBC
__ADS_1