Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 31. Tegas*


__ADS_3

“Maaf… maaf… gimana?” tanya Michele gelagapan karena baru saja tersadar dari lamunannya yang indah.


“Saya tadi bertanya, apakah itu berarti saya harus menyerah dan menghentikan seluruh


pengobatan Yara dan membawanya pulang.” Ulang Saka dengan nada kesal.


“ Bukan begitu tepatnya, nyonya Yara tetap terapi obat, tapi bisa sih kalau tidak di rumah sakit, dan


menambahnya dengan memenuhi keinginannya.” Saran Michele dengan dada yang


berdebar debar. Dia berharap usahanya untuk mendapatkan Saka dan simpatinya


akan berhasil melihat cinta Saka terhadap Yara. Michele ingin memiliki Saka, lewat


pengabdiannya pada pengobatan  Yara.


“Baiklah kalau begitu, nanti saya akan mengkonsultasikan dengan keluarga, terutama Paman


Yara yang mengurus semua keperluan Yara disini. Dan kalau tidak ada keperluan lain, saya pamit dulu.” Tegas Saka lagi.


“Tuan, saya belum selesai. Saya menawarkan kesepakatan untuk menjadi  menjadi rahim pengganti nyonya Yara, sehingga nyonya Yara bisa mendapatkan keinginannya untuk menimang bayi dari anak kandung anda.”


Alana yang ada dibelakang dokter, dan menguping pembicaraan itu, segera menjentikkan jarinya,


“Bener kan firasatku.!! “ gunam Alana lirih, tapi Alana juga tidak melakukan tindakan apa


apa. Saka memandangi punggung istrinya dengan tatapan heran. Ia yakin istrinya


mendengar apa yang dikatakan dokter Michele, kok Alana hanya diam.


“Trus sebagai gantinya, apa yang kamu dapat?” tanya Saka mencoba mengikuti permainan dokter muda itu.


“Ya sederhananya, saya jadi istri kedua tuan. Saya tahu tuan Narendra belum


memiliki ikatan psikologis dengan saya, belum mencintai saya, tapi lambat laun


setelah kita menikah, pasti akan ada benih benih cinta yang akan tumbuh di hati tuan Narendra terhadap saya.” Jelas Michele dengan hati dag dig dug, karena berharap Saka akan menerima apa yang disampaikannya.


“Ceritanya, anda melamar saya??” tanya Saka sambil tersenyum smirk... Ia menegaskan perkataan itu karena ia tahu Alana akan dapat mendengar dengan jelas perkataan dokter itu.


“Ehm, yaaa, jujur saya menyukai tuan saat pertama kali saya melihat tuan. Seperti jatuh


cinta pada pandangan pertama.” sahut Michele masih dengan debaran jantung yang


makin menggila. Ia menyukai pria tampan yang ternyata adalah suami pasiennya sendiri.


Dengan memutuskan urat malu yang ada, dia berusaha memiliki Saka bagaimanapun caranya. Michele terbiasa mendapatkan dengan mudah apa yang dia inginkan tanpa harus bersusah payah. Itulah kenapa dirinya menghalalkan segala cara untuk memiliki Saka walaupun dengan begitu dia harus rela menjadi istri kedua tuan Saka.


“Saya sudah memiliki istri, dokter! Untuk apa saya memiliki istri lagi?” tanya Saka dengan


nada ketus.


“Saya hanya menawarkan menjadi rahim pengganti saja. Anda bahkan tidak perlu menikahi saya, bahkan tidak perlu menafkahi saya.” Tawar Michele kekeuh.

__ADS_1


Saka memegang kepalanya yang sebenarnya tidak pening. Dia hanya bingung kalau ada


orang yang sedemikian tidak tahu malunya.


“Dok, maaf… saya tidak berminat! Dokter juga bukan type saya. Kalau tidak ada hal lain yang perlu dibicarakan, saya permisi.” Saka bingung dengan Alana, kenapa Alana hanya diam saja? Padahal ia yakin kalau Alana mendengar semuanya dengan jelas.


Saka berusaha untuk pergi dari tempat itu, jujur dia sudah mulai muak dengan


perilaku dokter Michele, tapi dokter itu malah memegang tangan Saka dan dengan


pandangan memohon, dia berusaha membujuk Saka untuk mengabulkan permintaannya.


Ini gilaaa!! Bener bener gila, batin Saka.


“Dokter, maaf… anda berpendidikan, kalau kecantikan saya kira relatip, anda bisa mencari pria yang lebih baik dari saya. Jangan mempermalukan diri sendiri untuk sesuatu yang ga perlu diperdebatkan semacam ini. Ini mempermalukan kode etik kedokteran serta title yang anda miliki.” Sergah Saka dengan nada ketus.


“Tuan…”kata kata Michele terputus karena tiba tiba seorang wanita datang menghampiri Saka dan Michele lalu bergelayut mesra di lengan Saka sehingga membuat mata Michele membulat sempurna dan mulutnya ternganga karena kaget .


“Bby, ayo kita pergi sekarang… urusan kamu sudah selesai kan?” tanya Alana sambil


bermanja manja di pelukan Saka, sedang lengan Saka yang satunya masih dipegang


oleh Michele yang seakan tidak rela kehilangan Saka saat itu. Namun Saka


menepis tangan Michele dan memeluk Alana.


“Kamu sudah makan sayang? Kasihan anak kita kalau kamu masih lapar.” Kata Saka dengan lembut dan penuh kasih sayang.


“Sudah, tapi selera makanku tiba tiba hilang gara gara ada wanita yang mau merebut daddynya anak anak.” Sarkas Alana sambil melirik Michele yang sudah pias melihat


“Inii…?” Michele semakin pucat mengetahui siapa yang menggelayuti lengan kekar Saka.


“ Bby, ayooo…” desak Alana dengan nada manja.


“ Emang anaknya daddy dan mommynya pingin makan apa sih?” tanya Saka sambil mencubit pipi Alana dengan sayang dan mengecup keningnya, memperlihatkan kemesraannya dengan Alana didepan dokter Michele.


“ Pingin pulang aja, Bby! Yukk..” ajak Alana lagi, dia sudah gerah melihat Michele yang


tidak tahu malu, bahkan ingin menikung suami pasiennya. Dunia oh dunia, batin


Alana.


“Iya… maaf dok. Saya pergi dulu… terimakasih tawarannya tapi saya dengan tegas menolak


lamaran anda, saya tidak berminat.” Ujar Saka sambil memeluk Alana dengan posesif.


“Maaf dok, kalau saya sudah yang kedua, kamu mau jadi yang ketiga? Keenakkan cowo ini dong…” sarkas Alana sambil menumbuk dada kekar suaminya perlahan. Lalu mereka berdua berlalu bersama sambil berpelukan.


“Tungguuu, maafkan saya… saya bener bener khilaf, apa yang saya lakukan bener bener


konyol. Saya tidak tahu kalau bahkan tuan ini sudah menduakan nyonya Yara dan


tidak setia padanya ditengah nyonya Yara sakit parah.” Ujar Michele dengan

__ADS_1


wajah yang merah karena malu. Alana memutar bola matanya dengan jengah,


mendengar perkataan dari Michele, dia seakan pingin menempelkan sambal ke muka


dokter muda itu, karena ungkapannya benar benar tidak tahu malu.


“ Dan anda baru saja mengajak suami saya bertindak tidak setia ditengah istrinya hamil.”


Jawab Alana sambil lalu, Alana dan Saka malas mengurus manusia picik macam


dokter Michele yang menganggap dirinya manusia paling benar dan menghakimi


orang lain tanpa tahu alasan apa yang mendasari.


Dokter Michele hanya bisa memandangi sepasang manusia yang berlalu dari hadapannya tanpa bisa membalas perkataan nya.


Sesampainya di luar resto, Alana langsung pasang muka datar, jutek dan dingin, bahkan


menarik tangan yang menggelayuti lengan Saka saat mengajak keluar Saka dari resto tersebut.


“Loh loh… kenapa sih? Kok tiba tiba jadi jutek.” Tanya Saka gemas melihat bibir Alana


yang sudah bimoli*). (\=Bibir Monyong Lima Centi).


“Tanganmu bekas dipegang pegang pelakor. Banyak virusnya…” sarkas Alana.


“Habis ini dicuci dehhh…jangan cemberut gitu ahh…”


“Malass..”


“Senyum dulu dong… nanti diajak belanja…”


“Gak hobby!”


“Diajak jalan jalan?”


“Gak suka!!”


“Diajak makan es krim?”


“Dimana?” tanya Alana dengan mata yang berbinar binar, membuat Saka tertawa terbahak bahak, melihat tingkah Alana yang menggemaskan.


“Disitu tuh … ada kedai es krim, kubeliin buat dedek yang diperut kamu ya. Biar dedeknya


seneng.” Ujar Saka sambil mengelus perut istrinya yang masih rata. Alana


mengangguk angguk dengan semangat, kayak boneka yang ada di dashboard mobil.


“Habis ini langsung jenguk Yara yaaa” pinta Alana dengan wajah melas.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2