
Pagi pagi benar Saka dan Alana sudah sampai bandara. Kalau hanya sendiri, Saka suka naik heli, karena lebih cepat sampai dan hemat waktu, tapi karena Saka bersama Alana, jadi Saka mengambil penerbangan komersil untuk pulang ke Indonesia.
" Bby, Yara gak apa kamu tinggal sendiri di Penang?" tanya Alana dengan nada khawatir.
" Tenang, aku sudah menyuruh anak buah Lio untuk menjaga Yara. Lagian ada paman dan bibinya juga. Nanti setelah mengantar kamu, dan menjelaskan semuanya kepada ayah dan ibu, baru sore nanti aku berangkat ke Penang." jelas Saka sambil mengecek ponsel pintarnya. Ia masih bekerja dan memberikan instruksi instruksi kepada para anak buahnya. Melalui email, laptop dan ponselnya, Saka mengatur kerajaan bisnisnya. Kalau ada yang memang tidak bisa ia selesaikan melalui online, baru dia akan turun tangan sendiri.
" Hmm... trus kemarin gimana kabar mas Irvan?" tanya Alana sambil lalu seperti ia tidak peduli.
" Aku sudah bilang, aku gak mau denger nama cowok lain disebut pake bibir kamu." kata Saka sambil merajuk. Saka langsung mengecup bibir Alana tanpa aba aba. Ia ingin menghilangkan jejak laki laki lain di bibir Alana. Ia hanya ingin Alana mengingatnya dan menyebutnya. Jangan pernah lupa Saka ini type posesif.
" Ya ampun, Daddyyyy! Aku cuman nanyaaa." jelas Alana sambil.memukul lengan berotot Saka. Ia malu karena Saka tiba tiba mengecup bibirnya ditengah keramaian.
" Aku juga cuman ga suka aja kamu nanyain laki laki lain." jawab Saka dengan nada sambil lalu. Ia ga mau mendengar Alana membahas laki laki lain titik.
" Kayaknya dia belum sepenuhnya laki laki deh Bby." bisik Alana lirih.
" Alanaaa... jangan nge ghibah." Saka merinding mengingatnya.
" Eh bener, dia masih suka mandangin kamu. Mestinya yang cemburu itu aku." Alana berbisik dengn suara yang tendensius, membuat Saka mengingat kejadian saat ia pertama kali menjamah Lana, berkat ditipu oleh Irvan ( Baca episode lalu )
" Alaanaaaa!!!! " geram Saka dengan suara tertahan.
__ADS_1
Alana hanya tertawa sambil meninggalkan Saka, yang kesal dengan tingkah labil Alana. Alana mendekati Lio yang juga ikut berangkat ke Indonesia. Ia sengaja melakukan itu, seringkali kalo Alana melakukan itu, Saka akan langsung kebakaran jenggot. Ia juga cemburu.dengan kakak angkat sekaligus assistennya itu.
" Yo, agenda kita di Indonesia apa?" tanya Alana dengan gaya songong dan dingin, seperti yang biasa dilakukan Saka, membuat Lio tersenyum melihat tingkah kekanak kanakan dari Alana. Lio juga tahu, Alana hanya ingin membuat Saka marah.
" Nyonya, di Indonesia nyonya bos hanya boleh istirahat. Gak boleh bekerja lagi. Ingat kan?" jawab Lio sambil tersenyum dingin. Ia tahu bahwa bosnya mendekati mereka. Ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Lio hanya tidak ingin terjebak dalam permainan Saka Alana. Tapi yah, karena posisi Saka adalah bosnya, mau tidak mau ia akan terlibat. Walau ia sebenarnya juga kaka angkatnya Saka.
" Aku bosan! " rajuk Alana sambil melipat kedua tangannya ke dada.
" Minta sama pak bos saja, siapa tahu dibolehin." saran Lio lagi.
" Apa yang diminta? " tanya Saka sambil menyambar omongan Lio.
" Ibu Alana minta kerja lagi, sudah bosan katanya, bos." jawab Lio datar.
" Dasar laki laki posesif, udah anaknya mau dua, masih aja cemburu. Lio itu asisten kamuuuuuu. Tapi kalau dia mau jadi asisten aku juga gak nolak. Secara punya asisten ganteng, dan dingin kayak gini boleh juga." pancing Alana sambil berkacak pinggang dan matanya menilai Lio dari atas ke bawah berulang ulang dengan gaya menyebalkan. Membuat Saka semakin cemburu dan naik darah.
" Alana!!!" sergah Saka sambil menarik lengan Alana menjauh dari asistennya dan memasukkan Alana ke area private lounge VVIP keberangkatan.
" Lepasin, Bby. Sakittt tauk!" ujar Alana sambil mengusap lengannya yang sakit akibat ditarik tarik Saka.
" Ehhh... maaff. Mana yang sakit, sayang?" tanya Saka sambil membantu Alana membelai kulit lengannya yang lembut. Tampak ada bekas kemerahan yang tertinggal di kulit putih dan mulus Alana. Saka menelan salivanya dengan kasar, ada yang berubah saat ia membelai kulit putih dan mulus milik Alana, seperti ada aliran listrik ratusan volt yang menggugah bagian tubuh Saka yang lain. Alana langsung menarik tangannya yang sedang dipegang Saka, saat ia melihat perubahan di mata Saka yang sudah memancarkan sinar gairah yang sama saat Saka sedang ingin mengambil jatah.
__ADS_1
" Bby, pandangannya yang biasa saja bisa gak? Ini di area publik. " rajuk Alana sambil memangku tangannya.
" Jadi kalau gak di area publik mau?" tanya Saka sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum smirk. Alana hanya melirik jutek. Ia malas dengan tingkah mesum Saka saban kali mereka hanya berduaan seperti ini Tapi ia juga tahu, lebih baik ia yang melayani kemesuman Saka yang akut daripada melihat wanita lain yang melakukannya kan.
" Bby, kehamilanku kan baru trisemester pertama. Jadi aku boleh kerja ya? Kamu kan tahu aku gak bisa nganggur. " bujuk rayu Alana.
" Kita tanya dokter dulu aja, kapan jadwal kamu ketemu dokter lagi? " tanya Saka dengan nada dingin. Ia sebenarnya malas meluluskan keinginan Alana untuk bekerja lagi, tapi ia juga tahu wanita hamil gak boleh stress yang bisa mengakibatkan perasaan tidak bahagia. Demi anak yang di dalam kandungan Alana.
Karena ia juga tahu, Alana tidak mendapat cintanya yang sempurna. Ia masih harus memikirkan Yara. Kalau saja Saka tahu betapa rumitnya poligami, ia juga malas berpoligami. Bukan banyak sukanya, malah banyak susahnya. Harus bagi perhatian, harus membagi cinta. Nanti kebanyakan jaga Alana, netijen julid pasti bilang, karena Alana istri muda makanya diperhatikan terus padahal Yara itu jauh lebih muda dibanding Alana dan aslinya lebih cantik dari Alana. Kalau jaga Yara yang sedang sakit ntar dibilangnya, gak perhatian sama istri yang sedang hamil. Padahal Alana sudah dipaksa menjadi orang ketiga dalam pernikahan Saka dan Yara. Dipaksa untuk melahirkan keturunan keluarga Perdana. Pusing pala berbie, eh pala Saka ding! 🤭
"Awal minggu depan, emang kamu bisa nganterin aku? " tanya Alana lagi, ia tahu suaminya sibuk, apalagi Saka juga harus mengurus Yara yang masih dalam perawatan di Penang. Alana hanya bisa menhela nafasnya dengan kasar dan mengalah, toh sudah jadi pilihannya untuk menjadi istri kedua Saka.
" Kuusahakan sayang. Kuusahakan untuk bisa menengok dedek dan mengawasi tumbuh kembangnya." janji Saka kepada Alana.
Alana hanya terdiam dan menatap sendu Saka yang masih tampak tampan dimatanya.
.
.
.
__ADS_1
TBC