
Tetep ya vote yang banyak supaya thor semangat💪🏻💪🏻💪🏻dan like setiap sudah bacaaa yaaa,😘
Makanya, budayakan like dan vote😘😘 yang banyak. Author sangat amat berterima kasih buat readers yang sudah meluangkan waktu dan upaya buat nge vote tanpa paksaan karena berarti reader menghargai author yang sudah susah payah bikin cerita ditengah kesibukan yang ada. Sekali lagi makasihh💋💋
yuk langsung aja baca.
Happy readingggg
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
" Ehm hai Al... maap aku mengajak kalian bertemu baru sekarang. Gimana ya ceritanya, secara garis besar awalnya aku udah cerita dengan mas Rendra, masalah masa laluku yang kelam. Ehm, nah aku ingin menjelaskan secara terbuka kepada kalian, mas Rendra dan Alana. Agar aku bisa kembali menghadap yang kuasa tanpa ganjalan." jelas Yara terbata, dengan nada ragu dan seakan menyimpan beban yang besar.
Kegugupan bukan saja milik Yara. Tak tahu kenapa Saka merasa kalau ini bakal menjadi perpisahannya dengan Yara.
"Yara.. Bisakah ini kita bicarakan dirumah saja?" tanya Saka dengan nada hati hati. Ia ingin semuanya tahu kalau ia juga mempertahankan Yara bukan menyia yiakannya.
" Mas, justru untuk itulah aku ingin ketemu kalian. Aku memanggil kamu dan Alana agar masalah kita clear. Kalian juga tahu kalau aku sakit parah dan bakal mati?" Yara mengangkat tangannya tanda ia tidak ingin disela karena ia melihat Saka akan menginterupsi perkataannya.
" Ehm aku juga ga tau harus mulai dari mana, jelasnya aku sudah bikin banyak kesalahan dimasa lampau. Tapi jujur, aku tidak pernah menyesalinya. Aku pernah bahagia dengan laki laki yang pernah menjadi suamiku secara siri karena terhalang restu dari pamanku. Dan dia adalah Rangga." kata Yara sambil menunjuk laki laki berkacamata yang duduk di sampingnya. Laki laki hanya mengangguk tanpa ekspresi.
__ADS_1
" Dia adalah laki laki yang mengorbankan nyawanya untuk berusaha menyelamatkan anak yang sempat aku lahirkan dan hendak dibunuh oleh pamanku, tapi nasib baik berpihak padanya ia diselamatkan seseorang." kata Yara sambil menghela nafasnya dengan berat. Tapi ia tahu kalau inilah kebenaran yang harus ia ungkapkan pada mereka. Alana sudah keruh wajahnya, ia tidak bisa menyembunyikan air mata yang sudah siap jatuh dari pelupuk matanya.
" Anakku katanya bukan hanya dibuang tapi juga dibunuh oleh pamanku. .." Yara kembali menjeda perkataannya. Air matanya yang tadinya mengalir ringan kini sudah tidak tertahankan untuk mengalir secara deras. Isak tangisnya membuat Alana ikutan menangis.
Alana merangsek maju, menolak tubuh Saka yang menutupi tubuhnya dan memeluk Yara, air mata mereka berdua mengalir bersamaan saling membasahi baju masing masing. Suasana keharuan sangat mencekam. Dada Saka pun terasa tercekik seperti kekurangan pasokan oksigen. Laki laki yang duduk di samping Yara hanya diam, namun sesekali membuka kaca matanya dan menghapus ujung ujung matanya yang ada air mata. Kata kata penghiburan keluar dari mulut Alana, berusaha menenangkan Yara.
" Aku akan melanjutkan semuanya, aku harap kalian mau memaafkan aku saat semuanya terungkap, dan mungkin keadaanya tidak akan sama lagi. Dan ingatlah mas Rendra kalau aku juga pernah mencintaimu dan aku juga sudah merelakan kamu bersama dengan Alana agar Genta dan Alendra akan bahagia memiliki keluarga yang utuh. " lanjut Yara lirih. Ia seakan kehabisan energi untuk menangisi nasibnya dan kehidupannya yang mengerikan. Alana mengeratkan pelukannya pada Yara yang ada disampingnya. Ia ingin memberi kekuatan pada tubuh rapuh Yara.
" Mungkin hanya aku didunia ini yang punya jalan hidup yang menyedihkan dan tanpa akhir yang bahagia. Bahkan saat ini aku hanya bisa menghitung hari menanti kematianku dalam diam. Karena sudah tidak ada yang bisa aku lakukan." kata Yara sambil terkekeh getir. Laki laki yang ada di samping Yara hanya mendesah perlahan. Saka yang memperhatikan laki laki itu hanya bisa diam juga, anehnya ia tidak merasakan hawa permusuhan keluar dari dirinya, padahal dirinya terkenal paling posesif. Keberadaanya sebagai anak tunggal membuat ia selalu mempertahankan apa yang menjadi miliknya.
" Va.." panggil laki laki yang ada disampingnya itu, tapi Yara mengangkat tangannya sekali lagi agar dirinya tidak dijeda jeda.
" Alana, aku bukannya tidak mau pulang. Mungkin juga waktunya sudah terlalu sempit. Mungkin juga setelah kalian tahu semua ini, kata yang lebih tepat adalah aku ga layak untuk menginjakkan kaki di keluarga Perdana lagi. Aku bakalan sangat malu." ujar Yara sambil mengusap air matanya, sedangkan laki laki yang ada di samping Yara hanya diam tanpa ekspresi yang berarti.
" Mas Rendra, Alana. Maafkan kami. Maafkan Rangga yang mungkin dianggap membantu papanya. Aku mohon lepaskanlah Rangga, mas! Dia melakukan itu karena kesalahaanku." lanjut Yara lagi.
" Tapi... dia menyakitimu?" Saka membantah tapi ia melihat ekspresi Rangga yang kemudian mendongak dan menatap tajam netra Saka tanpa kata.
" Rangga adalah pihak yang tersakiti olehku. Ia hampir mati terbunuh oleh paman, karena dianggap menculik dan melarikan aku. Padahal aku secara sukarela mengikutinya dan mau menikah dengannya secara siri." Yara menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan.
__ADS_1
" Aku mempunyai anak dengan Rangga, mas. Tapi dihari dia dilahirkan dihari itulah ia diambil nyawanya oleh tangan pamanku sendiri dan disaksikan oleh Rangga yang waktu itu berusaha menyelamatkannya." lanjut Yara dengan suara lirih namun masih bisa didengar oleh semua. Alana tidak berusaha menahan air matanya yang terus mengalir. Ia tahu rasanya, ia juga seorang ibu.
Bahkan Saka pun sudah tidak bisa menahan air matanya. Ia teringat dengan saat saat Alendrabayu tak bernafas dan di anggap meninggal. Dia tahu rasanya kehilangan. Dia tahu perasaan Yara dan Rangga.
" Waktu itu aku sempat melupakan hal hal seperti ini dan hanya mengingat beberapa potongan gambar yang terlintas dipikiranku. Karena ternyata paman membawaku ke seorang dokter ahli jiwa yang terakhir memberikan aku semacam hypnotheraphy untuk melupakan masa lalu yang buruk. Baru saat kira kira 2 bulan yang lalu bertemu dengan Rangga, aku mulai mengingat hampir semua masa laluku itu." tatapan mata Yara yang kosong menyiratkan kesedihan hatinya yang mendalam. Tidak ada seorangpun kini yang menghentikan Yara meluapkan semua jeritan hatinya yang tertahan.
" Statusku waktu itu bahkan masih menikah dengan Rangga. Apakah aku ini masih layak menjadi istri kamu, mas Rendra? Dengan sebegitu banyaknya dosa yang kumiliki bahkan sangat layak kalau aku harus menanti kematian dengan cara yang menyiksa seperti ini." ujar Yara semakin lirih.
" Mas Rendra, kalau aku meninggal nanti aku hanya punya satu permohonan kecil untuk diluluskan. Anggap saja ini permintaan terakhirku sebagai istrimu." bisik Yara lagi. Entah kenapa dada Saka dan Alana terasa sesak. Seakan akan ada sesuatu buruk yang akan terjadi.
" Katakanlah, Yarr.. apa yang bisa kulakukan pasti akan kulakukan untukmu." kata Saka sambil memegang tangan Yara yang sedari tadi digenggam oleh Alana, sehingga tangan Alana dan Saka serta Yara dalam satu genggaman. Karena suara Yara sudah sangat lirih, Saka mendekatkan tubuhnya ke arah Yara.
.
.
.
TBC
__ADS_1