Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
145. Akhirnya..


__ADS_3

JANGAN LUPA VOTE YANG BANYAK YA... LIKE DAN GIFT YANG BANYAK...


SUPAYA DITENGAH KERJAAN YANG BANYAK THOR SEMANGAT UPDATE, THANK YOU🙏🏻


***


" Gerald, bawa pengawal yang lain keluar. Kalian berjaga diluar saja. " perintah pak Raharja kepada pengawalnya. Dia tentu ga enak kalau bicara bisnis tapi ada anak buahnya, sekalipun ia juga punya orang kepercayaan yang biasa menangani bisnisnya saat ia tidak ada.


" Baik tuan!" kata pengawal Raharja sambil mengajak teman temannya yang berjumlah 5 orang untuk keluar meninggalkan pak Raharja sendiri.


" Papaaaaa, ini ultah aku. Masa kalian malah bicarain bisnis sih!!" rajuk Indra betulan. Ia sudah sangat jarang punya quality time sama papanya malah di ultahnya ini, papanya mau sibuk bisnis. Apaan tuh!!


" Hei tenang son. I am yours."


" Apaan yours? Papa aja mau bicarain bisnis?"


" Sebentar saja, son. Oke, papa will not take your pleasure, papa akan cari room lain okey?" pinta papa Aji.


" Huh! Gak lebih dari 30 menit ya, pa! Or else i will move from here."


" Tenang nak Indra, om hanya ngomong bentar kok nak Indra. BTW slamat ultah loh ... semoga cepet dikaruniai momongan."


Ah pak Raharja bikin emosi, masih muda gini masa dipikir gue udah merit nasib nasib. Alanaaaaa...


" Dia belum menikah pak Raharja. Ha ha ha ia masih betah melajang." jelas pak Aji sambil tertawa melihat perubahan di wajah anaknya. Saat pak Raharja hendak keluar, ia berbalik menghadap arah Rangga dan Lio, pak Raharja tidak mungkin salah mengenali. Ia tahu betul siapa yang ia lihat itu.


" Rangga!!!" bentaknya dengan suara menggelegar.

__ADS_1


" Pengawallll, segera bawa pria itu ke ruangan kita." lanjut paman Yara dengan kemarahan yang maksimal, membuat pak Aji heran katena dari wajah penuh senyum sekarang jadi berubah seperti iblis yang mengerikan.


" Wo wo wo...ada apa ini? Itu teman anak saya. Dia adalah salah seorang dokter yang terkenal bahkan di luar negeri. " kata pak Aji sambil menghalangi pengawal pak Raharja yang hendak membawa Rangga.


" Saya tidak peduli."


" Pak Raharja,,saya juga tidak peduli dengan masalah anda. Kalau anda masih ingin kerjasama bisnis kita dilakukan, saya harap anda memberi saya muka." kata pak Aji dengan wajah geram. Dia mengenal Rangga atau dokter Rangga. Dia tahu Rangga itu sangat pintar, bahkan di luar negeri dia terkenal walau usianya masih muda. Makanya pak Aji berusaha menolong Rangga.


" Dia sudah membunuh keponakan saya. Keponakan saya itu sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri. Bagaimana perasaan anda seandainya kalau itu terjadi sama anak anda. Tentu sakit kan?" kata pak Raharja dengan nada dingin. Ia sedikit melunak mengingat ia sedang berbicara dengan calon investor resort


" Pembohongg!!!" sergah Rangga.


" Tenang dulu! Saya ingin tahu dari dua versi." kata pak Aji menengahi.


" Pokoknya saya tidak terima, pak Aji! Dia harus mati ditangan saya. Itu sudah janji saya didepan makam Ivara, keponakan saya." bentak pak Raharja dengan raut murka.


"Apa maksud kamu?"


"Sudahlah kamu tidak usah lagi berbohong! Pertemukan saya dengan anak saya dengan Ivara yang kamu culik, kemudian apapun yang ingin kamu lakukan dengan nyawaku aku rela."


"Baiklah!! Rupanya kamu sudah tahu dengan anak itu. Iya!! Aku mengambilnya dari kalian. Anak itu tahunya ayah dan ibunya sudah meninggal, dan hanya tersisa aku sebagai kakeknya yang akan mengurusnya. Tadinya aku hendak menjadikan dia alat untuk membunuh kamu. Bukankah itu bagus? Ia akan membunuh ayahnya sendiri!! Tapi rupanya kamu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sakratul maut,  kamu menyerahkan nyawamu sendiri. Ha ha ha ha." tawa pak Raharja terdengar sangat menyeramkan.


Ia sudah tidak lagi bisa bermanis manis kata. Entah kenapa ia begitu membenci Rangga, bukankah ia mencintai ibu Rangga begitu rupa sampai ia tidak bisa move on. Padahal ia sudah sering bergonta ganti pasangan, one night stand dengan banyak wanita penghibur, tapi setiap ia melakukannya hanya nama Jani yang ia teriakan ketika ia merasa puas.


"Baiklah, nyawaku milikmu, pertemukan aku dengan anakku dan jawab satu lagi pertanyaanku yang dari dulu ingin kutanyakan, dan kini sebelum aku mati, aku ingin kamu menjawab pertanyaanku."


"Hmmh, silahkan, tanyalah sampai puas supaya saat kamu menghadap sakratul maut, kamu tidak akan mati penasaran." Jujur pak Aji merasa melihat sisi lain dari rekan bisnisnya. Pak Raharja yang dikenalnya sangat lemah lembut dan penuh pengertian berubah seperti hewan buas yang tidak akan melepaskan mangsanya saat melihat Rangga. entah apa ayng mendasarinya, pak Aji pun ingin tahu.

__ADS_1


Indra dan Lio saling mengkode, tapi Lio menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau Indra ikut mati konyol. Ia harus melawan dengan perhitungan yang matang. Apalagi saat ini posisinya pak Raharja belum mengetahui kehadirannya. Tapi kamera yang ia pasang di lensa kontaknya membuat Saka bisa mengikuti secara jelas apa saja yang terjadi dan rekaman ini bisa jadi bukti untuk menuntut pak Raharja. Maka Lio tidak boleh gegabah, ia yakin saat ini Saka sudah bergerak, maka ia sudah memberi kode kepada Rangga untuk mengulur waktu.


"Kenapa kamu membenci saya, sampai kamu tega memisahkan cinta saya dan Ivara. Juga kenapa kamu mengambil anak saya? Bukankah setahuku kamu sudah membunuhnya didepan mataku dulu?"


"Ah pertanyaan basi, aku sudah pernah menjawabnya, Aku membenci kamu karena di dalam darahmu ada darah BURHAN. "


"Tapi kamu bisa membunuh Burhan. Kenapa harus aku dan Ivara." bantah Rangga.


"Karena ibumu mencintaimu, ia tidak mau mengecewakanmu. Ia memilih berkorban tidak kembali padaku daripada merusak hubungan kamu dan Ivara."


"Huh, apa dengan membunuhku, ibu akan menerima kamu?"  Sesaat pak Raharja terdiam, ia tahu bahwa Arjani sudah menolaknya berkali kali. Sekalipun sudah tidak ada Burhan di hubungan mereka, tapi Jani tidak mau kembali kepadanya.


"Arghhh aku tidak tahu, tapi gara gara kelahiranmu, ibumu harus terpisah denganku. Aku sangat mencintai Jani, sangattt!" kata pak Raharja sambil menangis seperti anak kecil. Fix!! Meenurut Indra pak Raharja sudah terkena gangguan jiwa, seperti ada dua kepribadian di dalam dirinya,


"Lalu kenapa kamu ingin anakku yang membunuhku?"


"Supaya kamu tahu rasanya saat orang yang terdekat denganmu menikam kamu dari belakang!!"


"Hah??"


"Kamu gak tahu kan rasanya dikhianati? Kamu gak tahu rasanya orang yang kamu cintai memilih Burhan daripada aku? Kamu gak tahu rasanya ketika Ivara memilih melarikan diri dan menikah denganmu, darah daging Burhan, ketimbang mengikuti keinginanku. Kamu akan merasakan sakitnya saat anakmu, darah dagingmu yang menusuk dan membunuh kamu. Ya, kamu akan tahu rasanya dikhianati oleh darah dagingmu sendiri! Kamu akan tahu rasanya.. ha ha ha ha." kata pak Raharja sambil menerawang jauh. Rangga saling pandang dengan dokter Indra, sebagai seorang dokter ia tahu persis bahwa apa yang dialami dan dilakukan oleh pak Raharja adalah karena ia sakit jiwa.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2