Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
83. Aku diantara mereka


__ADS_3

"Iya ayah, maafkan Lana, yah. " tangis Alana pecah. Ayah jadi kelimpungan dan dari sorot matanya ia ingin meminta pertolongan pada ibu, tapi ibu hanya cuek dan diam saja.


"Eh loh eh, kok kamu malah nangis. Ayah itu gak marah sama kamu, tapi akibat yang ditimbulkan dari kepergianmu adalah Saka jadi pingsan dan belum sadar sampai sekarang. Ayah tahu kalau semuanya adalah salah Saka tapi ayah maunya kamu terus terang sama ayah biar ayah yang menghajar Saka, dan masalah tidak berlarut larut. "


jelas Ayah dengan suara lembut. Alanapun menghentikan tangisnya mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


"Iya yah, maafkan Lana yang jadi cengeng dan merepotkan." kata Alana lagi, isaknya masih ada, Alana berusaha menahan kesedihannya. Ia tahu ia juga turut andil dalam riwehnya masalah ini.


" Iya ayah juga ngerti, kamu kan lagi hamil. Makanya kamu jadi emosinya up and down. Sudah gitu yang mengaruhi kamu juga salah. Lha wong anak lagi tukaran Danblagi biat kesalahan malah kok diajak minggat berjamaah. Harusnya ya anakny itu diarahkan yang baik. Mana lagi hamil. Dibopong kesana kemari gitu. Apa ga kasian?" kata ayah dengan sinis. Ayah menyindir ibu. Ibu hanya terdiam. Ibu tahu kalau dirinya salah juga. Habisnya ibu kadang gemas dengan Saka yang kadang ga pengertian dan ga peka. Coba kalau Saka itu peka pasti dia udah nikah dengan Alana dulu. Bukan malah menikah sama Yara.


"Lana, ibu mau ngomong. sini kamu duduk dulu, supaya kamu agak nyaman, soalnya ibu takut kamu kecapean kalau berdiri terus." ujar ibu sambil menarik tangan Alana untuk duduk bersaman ibu di tempat duduk yang tersedia di selasar lorong dekat UGD itu. Alana berpikir kalau ibu ayah dan Lio berada di depan UGD karena Saka tambah parah dan harus dirawat di UGD. Ia gak tahu kalau Yara ada di Indonesia bahkan sekarang sangat dekat dengan dirinya.


"Ada apa bu, apakah Saka tambah parah? Ya alllah ampuni Lana yang sudah membuat Saka jadi begini bu." kata Alana sambil masih terisak. Gak tau kenapa Alana jadi super cengeng.


"Hei, kamu gak usah menyalahkan diri kayak begitu, Saka baik baik saja. Ia hanya masih malas untuk bangun, Karena menurut dokter segala alat vitalnya berjalan dengan baik., mungkin alam bawah sadarnya memerintahkan ia untuk jangan bangun sampai kamu membangunkannya. Kayak putri tidur gitu, tapi ini beda ini pangeran yang tidur." kata ibu sambil menahan tawanya. Moso ya Saka pangeran tidur sih😆


" Halah ibu ini lebay, pangeran apa?? Wong ya masih gantengan ayah kemana mana kok!" sergah ayah yang masih kesel sama Saka.


"Ayah itu loh, gak mau ngalah sama anaknya. Lagian ini lagi proses membujuk putri untuk membangunkan Saka, gitu loh!"

__ADS_1


"Oh jadi itu toh rencananya? Masa bisa Saka bangun hanya karena Alana dateng bu?"


"Lha coba saja kita lihat. Menurut novel yang sering ibu baca, gitu itu karena alam bawah sadarnya yang gak kepingin sadar, karena mungkin di dalam alam mimpinya ia bertemu dengan sesuatu yang ia sukai. Mungkin ia menemukan Alana di dalam mimpinya." sahut ibu sok pinter, padahal itu semua ia hanya baca di novel karangan NOPHIE ( sekalian promosi he he he )


"Oooo masa bener?" tanya ayah masih dengan nada tidak percaya.


"Lha kita coba saja dulu ya yah!" ujar ibu sambil menarik Alana bangun dan menuju ruang rawat inap Saka.


"Loh bu, Alananya kok ggak diberitahu masalah Yara itu gimana sih bu?" tanya ayah saat melihat ibu tergesa gesa ingin membawa Alana ke ruang rawat inap Saka.


"Oh iya ibu lupa. Lana, yuk duduk lagi dulu saja!" kata ibu sambil menarik tangan Alana untuk duduk manis disampingnya. Dan Alana hanya menurut dengan wajah yang masih heran karena ia mendengar nama Yara disebut sebut.


"Yara ada di Indonesia, Lana" jelas ibu singkat.


"Yara sudah sembuh bu? Alhamdullilahhh!!" kata Alana sambil meraupkan kedua tangannya ke wajahnya tanda ia sangat bersyukur dengan berita kesembuhan Yara.


"Justru sebaliknya. Ia menyusul Saka dari Penang ke Indonesia. Dan ia lepas dari pengawasan para pengawal, ia berangkat sendiri tanpa istirahat dan memforsirnya. sehingga kondisi tubuhnya bukan semakin baik ia malah jadi semakin parah. Sekarang ia meminta untuk menemui kamu dan Saka, menurut dokter kemungkinan itu adalah permintaannya yang terakhir." jelas ibu dengan suara yang lembut, ia tidak ingin membuat Alana shock. Tapi ya namanya juga berita yang mengejutkan, tetap saja Alana menjadi terkejut, ia menangkupkan tangannya kemulutnya, matanya berkaca kaca dan sekali lagi isak tangisnya terdengar.


"Jangan nangis, Lanaaa. Nanti dedek bayinya ikutan sedih."

__ADS_1


"Tapi bu, dimana Yara sekarang?"


"Ia maunya ketemu kamu dan Saka, sedangkan Saka belum sadar sampai sekarang. Tolong kamu bujuk Saka untuk bangun, Ia harus bertanggung jawab atas kesembuhan Yara dan kelahiran dedek bayi, sementara ini kamu tepis dulu kebencian kamu kepada Saka, demi Yara dan anak yang ada di dalam kandunganmu." sambung ayah Langit sambil memeluk bahu Alana dengan sayang. Ia menyayangi Alana, ia tidak membedakan antara Saka Alana dan juga Yara.


"Iya, Lana. Kamu bujuk Saka untuk sadar dulu, masalah yang lain bisa diurus belakangan, supaya memenuhi keinginan Yara. Dengan penyakitnya yang seperti itu, kecil kemungkinananya untuk bisa membaik, kecuali mukjizat buat Yara terjadi." lanjut ibu lagi.


"Bu, ini salah Alana, mestinya aAana nolak untuk menjadi orang yang ada diantara mereka. Alana.."


"Sudah Lana, jangan menyalahkan diri kamu saja. Ini sepertinya emang sudah takdir yang harus kamu, Yara dan Saka jalani. Keikhlasan Yara, Kebaikan hati kamu, melahirkan keturunan buat keluarga Perdana sangat ibu dan ayah hargai."


"Benar, Lana. Awalnya ayah juga menolak pernikahan poligami kalian, karena ayah tahu seperti apakah anak ayah si Saka itu. Ayah sangat berterimakasih kamu mau berkorban perasaan untuk membuat kami merasakan kebahagiaan memiliki cucu dari darah daging kami sendiri. Bahkan kamu juga tidak hanya ingin memiliki Saka untuk diri kamu sendiri, kamu malah masih berharap Yara bisa sembuh, kalau bukan hati kamu yang mulia, ayah sudah tidak tahu lagi apa itu namanya."  jelas ayah dengan nada sendu, ia sadar Alana banyak dirugikan tapi ia juga tahu tanpa pengorbanan Alana, Keluarga Perdana tidak akan memiliki keturunan yang akan mewarisi harta kekayaan keluarga Perdana yang tidak akan habis dimakan oleh tujuh turunan dan tujuh tanjakan ( he he he)


 


.


.


.

__ADS_1


TBC besok jam 13.00


__ADS_2