
Mungkin Indra gak akan menyangka kalau hari ini akan tiba. Hari dimana papanya tidak lagi ada dalam bayang bayang ancamannya karena papa Indra akan berusaha sebail baiknya untuk memenuhi apa yang diinginkan Indra.
Sore itu papanya menginginkan Indra untuk datang ke rumah utama. Rumah dimana Indra sudah lama tidak pernah lagi menginjakan kakinya, karena terlalu sering ia numpang di rumah mama Lina.
Indra membuang nafasnya kasar, ia memasuki ruangan kerja papanya,dimana papanya minta Indra menemuinya.
" Pa, Indra sudah datang. Apa yang papa mau bilang, Indra malam ini harus tinggal di rumah mama Lina." kata Indra dengan nada datar, sebenrnya Indra tidak bermasalah dengan papanya. Ia hanya merasa bahagia saat tinggal di rumah mama Lina. Selain ia bisa banyak berinteraksi dengan mama Lina, ia juga bisa memandangi Alana walau kejauhan.
" Papa akan mrnuruti keinginan kamu. Jadi tolong kamu persiapkan juga dirimu supaya kamu juga mau mengikuti keinginan papa." sahut papanya singkat. Papa Indra hanya berdoa supaya mama Lina tidak menolak drama ini. Sebenernya ide drama ini dari Saka, Saka sudah mengabarinya tadi sore supaya papa Indra segera mengatakannya kepada Indra tentang perjodohan itu.
" Apa maksud papa?" tanya Indra dengan raut heran yang tidak dapat ia sembunyikan.
" Papa setuju menikah lagi." jawab papa Indra dengan sedit ragu.
" Ha ha ha , tapi persyaratannya adalah papa menikah dengan mama Lina, bukan dengan wanita lain pa!" ejek Indra dalam nada suara jumawa. Ia yakin, kalau papanya tidak akan mungkin membuat sandiwara dengan mama Lina. Dan kayaknya papa Indra juga belum pernah berdekatan dengan mama Lina. Indra jadi merasa yakin kalau papa tidak mungkin bersandiwara tentang pernikahan seperti itu dengan mama Lina.
" Iya, dengan mama Lina seprti yang kamu minta. Tapi kamu juga harus mau menikah dengan wanita yang papa jodohkan dan mendapatkan cucu dalam waktu 1 tahun." jelas papa Indra lagi.
" Ini gila pa! iya kalau wanita yang papa jodohkan bisa langsung tok cer dan bisa langsung hamil. Gimana kalau tidak?" tanya Indra dengan nada cemas. Ia merasa terjebak dalam lingkaran setan yang ia ciptakan sendiri.
" Terserah kamu. Dan mulai dri sekarang. Kamu jangan lagi tinggal di paviliun, karena saat mama Lina jadi sama papa, berati mama Lina akan tinggal disini. Sementara mama Lina masih masa pingit. Kamu jangan tinggal disana." perintah papa Indra dengan tegas.
Jujur, perintah itu membuat Indra kehilangan separuh nyawanya. Entah itu karena ia tidak bisa bermanja dengan mama Lina untuk sementara waktu atau karena ia tidak akan bisa berdekatan dengan Alana lagi dan mengaguminya walau dari jauh.
__ADS_1
" Pa, bolehkah malam ini saja aku balik kesana? " pinta Indra dengan wajah lesu tak bergairah.
Papa Indra tahu, sebenranya Indra sedih bukan karena ia diharuskan menikah dengan orang lain. Tapi karena Indra harus berjauhan dengan Alana.
Ya Alana lah pangkal dari sua masalah yang ada. Saka bersusah payah karena Indra selalu merecoki kehidupan rumah tangganya bersama Alana,sekalipun Alana tidak pernah sekalipun memberi harapan.
Papa Indra tahu kalau Alana bukan hanya sekedar cantik, ia memiliki aura yang membuat setiap laki laki ingin memilikinya. Alana mewarisi kecantikan mama Lina, haruskah papa Indra merasa bangga karena sebentar lagi ia akan nikah dengan mama Lina sekalipun ini tahapnya masih nikah boongan?
Tapi papa Indra harus melakukan ini. Ia tidak mau Indra terus menerus mengganggu rumah tangga orang lain.
" Ndra, papa mau kamu mulai sekarang mikirin kehidupan kamu. Jangan kamu terbelenggu dengan Alana. Dia akan menjadi adik tiri kamu. Jangan pernah mikir yang tidak tidak." peringat papa Indra lagi, membuat Indra lemas. Ia tak menyangka kalau papanya jadi sama mama Lina berarti apa pun yang terjadi nantinya ia tidak akan mungkin bisa bersama dengan Alana lagi.
" Pa, kalau itu semudah yang diomongkan. Indra ga akan sesakit ini." sahut Indra sendu. Ia tidak lagi bisa menahan rasa sakit yang menusuk di dadanya. Apakah ini rasanya sakit jantung? Sakit sekali. Indra sampai harus memegang dada kirinya yang berdenyut nyeri.
" Sakit sekali!" kata Indra sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
" Ndra, kamu harys ke rumah sakit! Sekarang, Ndraa!!" kata papa Indra dengan cemas. Ia langsung memanggil asistennya yang tidur di rumah utama. Untuk segera memanggil supir, agar mengantar Indra ke rumah sakitnya, supaya Indra bisa segra ditangani.
Indra lemas, ia terduduk di sofa ruang kerja papa Indra dengan wajah pias. Ia masih memegang dadanya yang sakit. Ia bukan sakit jantung. Tapi hatinya nyeri. Ia sakit hati, ia harus merelakan Alana kalli ini. Tapi hatinya tak sanggup. Bukannya Indra tidak sadar dengan apa yang saat ini terjadi. Tapi ia hanya diam saja membiarkan semuanya dalam diam.
Indra bahkan sudah tidak merasakan saat tubuhnya di bawa naik mobil, dan dilarikan ke rumah sakit miliknya. Papanya yang cemas langsung menghubungi Saka. Agar mengabari mama Lina, siapa tahu dengan kehadiran mama Lina Indra bisa sembuh. Walau papa Indra juga belum tahu apa yang menjadi penyakit Indra.
***
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Saka, Alana dan mama Lina langsung menuju ruang VVIP tempat Indra dirawat.
" Indra, kamu kenapa?" mama Lina langsung menghambur ke brankar Indra. Meskipun Indra bukan anak kandungnya, tapi seringnya indra betcurhat dan bermanja dengan mama Lina membuat mama Lina merasa bahwa Ibdra juga bagian dari anaknya selain dengan Alana dan Saka. Mama Lina rmang segitu baiknya kalau dengan orang lain.
" Ma, kayaknya Indra lagi istirahat. Mungkin kita akan balik kesini lagi kalau Indra sudah sadar." kata Alana sambil memeluk mamanya yang tampak sedih melihat ketidak berdayaan tubuh Indra. Indra yang biasanya riang kalau berada di seputaran mama Lina, jadi begitu rapuh.
" Emang Indra sakit apa, om?" tanya Saka kepada papanya Indra yang duduk di pojokan brangkar Indra.
" Belum tahu. Kalau untuk observasi awal, Indra tidak memiliki riwayat penyakit apapun." jelas papa Indra dengan lesu.
" Lalu kenapa Indra jadi begini,om?" tanya Alana.yang tidak tahu menahu mengenai konspirasi papa Indra dan Saka.
" Om tadi bicara dengan Indra, supaya ia bisa menerima perjodohan dengan wanita lain. Dan om juga akan menerima persyaratan dia untuk mencari mama baru untuknya. Terus dia begini. " jelas papa Indra lagi sambil memandang Indra yang terbaring lemah selah menerima perawtan oleh dokter dokter di rumah sakitnya.
" Persyaratan? Apa kamu ada dibalik semua itu, Bby?" tanya Alana dengan nada menyelidiki.
" Aku..."
.
.
.
__ADS_1
TBC