Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 51. Kemana kamu?*


__ADS_3

Saka langsung menutup hubungan teleponnya dengan sepihak. Ia tahu sebentar lagi asisten nya akan segera mengirim sesuai apa yang ia perintahkan.


Tapi apa yang ditunggunya tidak kunjung masuk. Saka menjadi geram dengan tingkah lelet asisten pribadinya yang bernama Lio. Pengen nglemparin barang barang yang ada di dalam apartemen dan mengobrak abrik saking frustasinya si Saka. Ia takut Alana nekad melarikan diri. Ia takut karena selain dia emang udah bucin dengan Alana. Ia juga takut ada apa apa dengan anak yang ada dalam kandungan Alana. Kalau sampai kandungan Alana ada apa apa, Saka pasti tidak akan bisa memaafkan diri. Ia jengkel dan kesal dengan dirinya sendiri. Padahal tadi ia sudah merasa ada yang aneh dengan Alana. Dan merasa Alana akan melarikan diri.


Drrrrt... drrttt


Lio is calling..


" Mau nunggu sampai kapan? Kenapa share lokasi yang aku minta tidak kamu penuhi?" tanya Saka dengan nada dingin dan ketus, ia masih berusaha sebisanya menahan amarah yang sudah sampai di ubun ubun kepalanya.


"..."


" Apa ? Bagaimana bisa itu tidak terlacak? "


"..."


" Bagaimana alat sialanmu itu bisa tidak terdeteksi? Bukankah alat itu akan tetap jalan walau ponsel mati?"


"..."

__ADS_1


" Dimana posisi kamu sekarang? Dan dimana anak buah yang aku minta kemarin untuk mengawal tindak tanduk Alana ?"


" Aku tunggu kedatanganmu, di apartemen. Jadi menurut pengawal yang kamu kirim, mereka tidak melihat Alana keluar dari lobby maupun basement apartemen? Tapi nyatanya Alana tidak ada disini, jerk! Suruh mereka cari sampai ketemu!! Jangan lupa cek semua penerbangan menuju Indonesia dan keluar negri atas nama Alana Mahen Sandhoro. Oh ya, cek semua kartu kredit milikku yang dibawa oleh Alana, dan cek semua rekening bank atas nama Alana, siapa tahu kita bisa melacak keberadaan istriku melalui itu."


Saka langsung menutup sambungan telepon selulernya tanpa menunggu jawaban dari asisten pribadinya itu. Ia sudah terlampau marah, tapi ia harus segera menutup semua akses yang memungkinkan Alana lari darinya. Apalagi ia hanya beberapa jam saja meninggalkan Alana, jadi kemungkinannya Alana belum pergi jauh. Apalagi Saka tahu persis, kalau Alana tidak mungkin meninggalkan Genta dan orang tua nya, terutama papanya yang sedang sakit.


" Genta...aku harus mengontrol Alana lewat Genta. Aku harus telpon ibu nih." gunam Saka lirih, Saka memikirkan beberapa kemungkinan. Kalau Alana sudah berangkat naik pesawat, bisa jadi sekarang ia sudah ada di Indonesia, karena Singapura Jakarta hanya 1 jam, dengan perjalanan ke bandara mungkin sekitar 3 jam. Kemungkinan ia sudah berada di rumah ayah dan ibu, karena kalau Alana ingin membawa Genta lari, ia harus pulang dulu ke rumah ibu, karena Genta dititipkan si rumah ayah dan ibu Saka.


"..."


" Assalamualaikum, bu. Iya ini Saka, apa Alana ada dirumah ibu? " tanya Saka langsung to the point. Nada suara Saka datar dan biasa saja. Ia juga tidak mau membuat ibunya khawatir.


"..."


"Bu, nanti Saka akan jelaskan dirumah. Saka akan mencari Alana sampai dapat, dan sesudahnya Saka akan merantai kakinya supaya dia tidak dapat lari lagi dari seorang Narendra Sakabumi Perdana. Ingat bu, Alana pasti akan mencari Genta. Pastikan Genta aman bersama ibu. Jangan lepaskan pengawasan kepada Genta, ya bu. Nanti Saka akan kirim orang untuk menjaga sekaligus mengawasi Genta supaya Alana tidak bisa mengambil Genta. Karena Genta adalah cucu pertama keluarga Perdana." jelas Saka dengan nada datar, seakan informasi yang diberikan nya tidak membuat ibunya terkejut.


"..??????"


" Benar, bu. Saka sudah melakukan test DNA atas Genta, dia memang anak kandung Saka. Bu, plis jangan tanya bagaimana. Nanti akan Saka jelaskan saat Saka sudah ada dirumah." lalu Saka menutup sambungan telepon itu sepihak, sebelum ibunya kembali menceramahinya panjang dan lebar. Ia harus segera menutup semua akses Alana. Ia harus segera menemukan istri cantiknya yang sedang mencoba melarikan dari nya.

__ADS_1


Saka teringat akan seseorang. Yara!


" Halo assalamualaikum paman.. apakah paman sudah dalam perjalanan ke bandara?" tanya Saka dengan nada dingin. Ia masih mengingat kelakuan paman Yara itu.


"..."


" Baiklah, paman, bibi dan Yara bisa langsung ke hotel saja. Urusan rumah sakit akan saya urus besok. Biar Yara bersenang senang dulu di hotel. Saya akan kirim orang untuk mengantar dan menjemput paman dan Yara. Karena saya ada urusan yang mendesak. Walaikumsalamm dan sampaikan salam juga buat Yara." kata Saka sambil kemudian menutup teleponnya, untuk menghubungi Lio, ternyata teleponnya masih belum bisa dihubungi, Saka tahu, Lio pasti dalam perjalanan ke apartemennya, untuk mengurus anak buah yang dikirimnya buat memata matain Alana.


"Arrrgggghhh" teriakan frustasi Saka memenuhi ruangan apartemen yang kedap suara itu. Ia mengedarkan pandangannya seputar apartemennya, bahkan aroma Alana masih tercium di apartemen yang selalu Saka tempati. Membuat Saka semakin rindu. Ia rindu menjamah tubuh istrinya, ia rindu wajahnya yang imut, ia rindu pelukannya, ia rindu dengan aroma tubuh Alana yang menggoda, bahkan dengan memikirkan Alana, sanggup membuat junio menggeliat protes. Saka memasuki area kamar tidurnya, dimana kemarin dan tadi pagi peperangan cinta bersama Alana terjadi, bahkan saat didalam apartemen itu setiap sudut ruangan didalam apartemen itu menjadi saksi pertempuran panas antara Alana dan dirinya. Saka pun mengambil bantal yang dipakai Alana untuk tidur, menciuminya dengan rakus, menghirupnya dalam dalam, mengais sedalam dalamnya aroma sampo dan body foam Alana yang tertinggal disana, supaya kerinduan yang membuncah karena ditinggalkan Alana bahkan belum sampai 24 jam, terobati. Saka seperti orang gila saat ia duduk di kasur king sizenya sambil memeluk, menciumi bantal yang Alana pakai dan meneriakkan nama Alana dengan suaranya yang semkin parau. Bahkan tanpa sadar, Saka mengeluarkan air mata. Ya! Saka menangis. Saka menangisi kepergian Alana, yang bahkan tidak meninggalkan sepucuk pesan.


Kemana kamu pergi sayangkuuu? jerit Saka dalam hati.


Jangankan surat ataupun pesan. Bahkan semua bajunya pun ia tinggalkan begitu saja. Alana pasti sedang tergesa gesa saat ia ingin melarikan diri. Ia hanya memanfaatkan waktu dimana Saka menjenguk Yara, dan meninggalkannya seorang diri di dalam apartemennya. Alana pasti tanpa persiapan yang matang, karena ia hanya membawa dompet, ponsel dan surat identitasnya saja. Bodohnya tadi Saka tidak menyembunyikan paspor Alana terlebih dahulu, supaya Alana tidak bisa melarikan diri seperti ini.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2