Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 6. Kamar pengantin*


__ADS_3

“ Kenapa sih kamu… kayaknya kalau berbau roman romanan kamu kayak menghindar. Trauma?” tanya


Saka menyelidik, dia kenal baik dengan Irvan, mantan suami Alana, yang awalnya


terlihat mesra dan romantis, tapi tiba tiba tidak ada hujan dan angin langsung


meninggalkan Alana yang tengah hamil muda dan mengirimkan surat cerai tanpa ada


pemberitahuan apa apa. Begitupula dengan keluarga Irvan yang hanya diam dan


menutupi semua jejak anaknya, serta tidak memperdulikan Alana yang sedang


mengandung keturunan mereka.


“Mungkin juga…   dan kamu mesti janji sama aku ya,


Bby! Apa yang dimulut harus yang sama dengan yang dihati, kalau gak lebih baik


gausah diucapkan. Karena itu sama dengan boong, dan boong itu dosa lo, Bby!”


“Sayangggg… suamimu ini bukan Genta Putra Alana yang masih balita, yang mesti


diajarin mana yang benar dan mana yang salah… Yakinlah suamimu yang tampan dan


menarik ini akan menjaga kalian dan anak anak kita kelak, dalam suka dan duka,


dan apa yang menjadi keluhan dan masalah, kita akan menyelesaikannya bersama,


begitu my beautifull lady?”


“  Sejak kapan kamu bisa ngegombal? Cih! Gombalanmu sungguh menjijikkan, sungguh bukan


seperti kamu yang biasa, bby.” Kata Alana sambil mengerutkan keningnya.


“Sejak kamu jadi istriku lah. Kalau bukan istri, ngapain dirayu?”  tanya Saka sambil tersenyum.


“Aku masih heran, bby. Kenapa kamu mau sama aku, aku gak secantik , gak sekaya, gak semuda


istrimu … kenapa kamu gak cari yang lebih muda, lebih cantik, lebih kaya ?”


tanya Alana lagi, dia tahu Saka tampan, kaya, pasti banyak yang mau kan?


“Tadi kan sudah dibilang kan sayang, aku gak nyari yang kaya karena aku sudah kaya.”


Jawab Saka dengan nada sombong.


“Astafirullah, Bby! Sombong amat!” canda Alana sambil mencubit lengan Saka.


“Kamu cantik kok, tapi mungkin kamu gak percaya diri saja. Dan kamu juga pilihan Yara buat


aku.” Jelas Saka dengan nada sendu.


“Jangan marah ya, Bby. Aku cuman mau nanya mengapa kamu tidak mengambil pilihan memakai


cara medis bayi tabung untuk mendapatkan keturunan? Malah Yara menyuruhmu menikah lagi.” tanya Alana lagi.


Saka terdiam sesaat, dia bingung mau jawab apa dengan Alana.


“Ada hal yang kamu belum ketahui, aku rasa Yara belum siap untuk memberitahukannya.  Tapi kamu pasti akan tahu juga pada akhirnya. Tunggu saja saat itu tiba, sayang. Tadi kamu banyak nanya, sekarang giliranku


nanya, apakah kamu tidak menyukaiku, sehingga kamu begitu berat untuk menerimaku sebagai suami?” tanya Saka balik dengan nada yang serius.


“ Aku bukan berat menerimamu, Bby. Aku hanya merasa gak pantas saja, maaf.” Jawab  Alana sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“ Apaan sih, Sayang. Kenapa kamu bisa punya pikiran kayak gitu, kamu itu luar biasa, kamu


bisa mengatasi masalah kamu, bertahan hidup, berjuang sebagai orang tua tunggal. Kamu keren, Sayang! “


Jelas Saka dengan nada memuja, sambil mengelus pipi lembut Alana.


“ Aku menyukaimu dari dulu, cuman karena kamu hanya menganggapku sahabat, ya aku


harus sadar diri dan mengubur perasaanku.” Jawab Alana sambil memainkan jari


jari tangannya karena dia gugup, saat mengakui perasaannya. Suasana  di mobil selama perjalanan itu menjadi hening, Saka juga tidak pernah mengangka kalau Alana menyukainya dari dulu, dia


berpikir bahwa Alana hanya menganggapnya tidak lebih dari seorang sahabat baik.


Alana hanya termenung sambil memandang keluar jendela mobil.


‘Bodoh sekali aku mengatakannya …. Aku jadi malu.’ batin Alana.


“Kamu tidak usah malu, aku juga menyukaimu dari dulu, kalau tidak aku gak mungkin


bersahabat denganmu sampai sekarang, bahkan aku tambah menghormatimu saat kamu


memilih melahirkan Genta, sekalipun kamu tahu itu akan menjadi pilihan yang


berat buat kamu yang baru saja ditinggalkan oleh suamimu.” Jelas Saka sambil


mengembangkan senyumnya yang khas, dia tampak semakin tampan dan menarik. Saka menyimpan sesuatu dalam hatinya, ia tidak mau mengungkapkannya sekarang, ia takut membuat Alana menjadi kecewa.


“Bby, karena kita sudah menikah, aku mohon, apapun yang akan kamu lakukan, tolong


komunikasikan dengan aku ya. Aku gak mau kalau tiba tiba terima talak atau


terima surat perceraian seperti dahulu. Karena bagiku komunikasi itu penting.


dengan ikhlas.” Lanjut Alana dengan nada sendu, tak terasa ada dua aliran air


bening yang meluncur di pipi Alana, sejujurnya kejadian perceraiannya masih


membekaskan luka yang tertoreh dalam, yang membuat dia trauma, karena dia tidak


mengerti mengapa suaminya memilih pergi meninggalkan istri yang sedang hamil


muda dan menceraikannya begitu saja tanpa kata.


Tiba tiba ada genggaman tangan besar yang menggenggam erat tangan mungil Alana, seakan


memberi kekuatan dan kemudian tangan besar itulah yang mengusap lembut pipi


Alana yang basah dengan air mata.


“Aku gak bisa menjanjikan kalau langit akan selalu terang, aku juga gak bisa janjiin


kamu kalau gak akan ada badai dalam kehidupan rumah tangga kita kelak. Tapi aku


janji, kita akan melaluinya bersama sama. Dan menyelesaikannya bersama sama.


Aku akan selalu jujur dan membicarakan semua keluh kesah ku kepadamu,


harapanku, kamu juga akan melakukan hal yang sama. Begitu? Aku juga sudah


mengatakan begitu kan sama kamu, sayangg.” tanya Saka dengan lembut, sambil


menarik tangan Alana dan mengecupnya dengan lembut, sembari masih memusatkan

__ADS_1


perhatiannya pada mobil yang dikendarainya dengan perlahan menuju penthouse


miliknya.


****


Cekrek.. tit


Saka mempersilahkan Alana masuk kedalam kamar Penthouse miliknya dan Alana kembali


tercengang dengan dekorasi dalam kamar tersebut, yang ditata bak kamar


pengantin baru, penuh dengan taburan bunga mawar merah di ranjangnya, lilin


aromatherapy yang menyeruakkan keharuman romantic dan kamar itu terhubung


dengan private swimming pool yang berhadapan dengan area tempat tidur mereka.


Bahkan pantry dan minibar di dekat swimming pool yang sudah terisi dengan


berbagai macam buah buahan yang segar, dan makanan khas hotel berbintang 5.


Alana mengagumi dekorasi dan pemandangan yang terpapar begitu indah di hadapannya.


“Siapa yang menyediakan kamar yang seperti ini buat malam pertama kita, Bby?” tanya Alana


dengan pandangan yang tidak bosan bosannya menyelidik setiap sudut kamar penthouse itu.


“Ini emang kamar yang biasa keluarga Perdana pakai kalau kita ada di kota ini. Seluruh


lantai ini emang dikhususkan untuk keluarga, tapi ini merupakan kamar utama,


dan sengaja didesign untuk kita.” Jawab Saka dengan santai.


“ Kapan mendesignnya? Ini indah banget!” seru Alana masih berlarian kesana kemari,


bahkan saat ini dia ada di pantry menikmati makanan dan kudapan yang disediakan disana.


“Kalau makanannya sih baru diisi oleh pegawai dibawah, kalau dekornya mungkin sudah


disiapkan sejak pagi tadi.” Sahut Saka sambil memandang Alana bahagia yang bak


anak kecil yang disediakan mainan yang ia sukai.


“Tadi pagi? Aku bahkan belum setuju dengan pernikahan ini, Bby? Bagaimana mereka bisa


tahu?” tanya Alana sambil membulatkan kedua matanya, heran dengan kinerja Saka


yang seakan menjebaknya disebuah pernikahan yang hanya dia yang baru tahu hari


ini, sedangkan orang orang terdekatnya bahkan sudah tahu lebih dulu.


“Anggap saja, kita sehati… aku tahu kalau kamu gak bisa  menolak pesona seorang Narendra


Sakabumi.” Jawab Saka sambil menyentil kening Alana dengan sayang.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2