
Sesampainya di pintu Apartemennya, Saka langsung masuk ke kamar tidurnya. Sedangkan Irvan dan anak buah Saka yang lain hanya menunggu di ruang tamu. Rupanya Saka lebih cepat sampai daripada Lio, karena tampaknya Lio belum ada di apartemen itu. Saka menginstruksikan pada Lio melalui pesan singkatnya untuk membawa mangsa yang tertangkap ke kamar tidurnya saja.
Saka menanti dengan tidak sabar kembalinya Alana ke padanya. Ia berjalan mondar mandir di dalam kamar tidur apartemennya.
Tak lama kemudian pintu kamar tidur Saka ada yang mengetuk. Saka langsung membukakan pintu, didepan pintu ada wanita cantik yang sangat dia rindukan seharian ini, ini malah sudah hampir 12 jam wanita itu mencoba lari dari Saka. Wanita itu adalah Alana. Alana tampak menunduk, tubuhnya terbalut jaket dan rok terusan jeans dan sepatu putih. Alana tampak seperti anak kuliah yang sedang menanti sidang skripsi. Berdiri dengan gugup sambil mempermainkan jari jari tangannya.
" Kalian tunggu diluar saja. Yo, kamu pesan makan malam buat kita semua, aku mau bicara pribadi berdua dengan Alana."
" Baik, bos. " jawab Lio sambil mengangguk kan kepalanya dan segera mengundurkan diri. Tugasbya sudah selesai , biarlah bos mudanya menyelesaikan urusannya dengan istri nakalnya.
Alana ditariknya masuk kedalam kamar dan Saka langsung menutup pintu kamar tidurnya dan menguncinya dari dalam.
"Sudah puas jalan jalannya?" tanya Saka sambil menatap Alana dengan tatapan matanya yang tajam. Entah kenapa, Saka tidak sanggup memarahi Alana. Saka bahkan terbersit rasa rindu, ingin memeluk tubuh Alana yang mungil, ingin mengusap perutnya yang membuncit.
Alana yang sedari masuk tadi hanya bisa menunduk kemudian menggunamkan kata yang lirih tapi masih dapat Saka dengar dengan jelas.
"Maaf." cicitnya lirih.
Direngkuhnya tubuh istrinya yang mungil, dan kemudian langsung mengecupi wajah Alana yang cantik, istrinya yang sedari tadi membuat jantungnya berdetak tak beraturan. Yang sedari tadi membuat dirinya tak doyan makan. Yang sedari tadi membuat dirinya khawatir dan tak berhenti memikirkannya.
" Jangan diulangi lagi, jangan kamu berani pergi dari aku. Kamu harus tahu kalau aku tidak bisa tanpa kamu. " kata Saka sambil membimbing istri nya ke dekat kamar mandi.
__ADS_1
Menyiapkan keperluan mandinya dan membuka air di bath tube dan mengisinha dengan air hangat.
" Mandilah dulu, aku yakin kamu juga pasti belum makan. Mandi, makan trus istirahat. Kasian dedek kamu ajak berpetualang kesana kemari, pasti dia lelah." lanjut Saka sambil mengambilkan pakaian Alana yang ada di walk in closet.
Alana mendongak dan menatap Saka dengan tatapan heran.
" Kamu tidak marah?" tanya Alana sambil mengernyitkan dahinya.
" Kamu ingin aku marah?" tanya Saka balik.
" Kamu tidak ingin menghukumku? " tanya Alana lagi masih dengan raut wajah heran.
" Emang kamu ingin aku hukum apa? " tanya Saka sambil tersenyum smirk.
" Maaf, Bby!" Saka menghela nafasnya, akhirnya Alana ia tarik duduk di tepi ranjang dulu. Saka harus mengajak istri labilnya ini bicara dari hati ke hati. Anggap aja karena ini di ranjang, jadi ini semacam pillow talk lah, walau ga sama tiduran.
"Apa kamu segitu enegnya sampe kamu ga mau sama aku? Emang ingin pisah beneran sama aku? hmmh?" tanya Saka sambil menaruh kedua tangannya di bahu Alana dan menarik dagu Alana sehingga Saka bisa melihat dengan jelas netra Alana yang cerah dan bercahaya.
" Aku tidak tahu, Bby. Aku hanya lelah berpura pura ini baik baik saja. Padahal tidak." jelas Alana.
" Apa kamu tidak bahagia saat bersama ku?" tanya Saka lagi menyelidik apa yang Alana rasakan dari kedalaman mata Alana. Saka melihat kejujuran disana.
__ADS_1
" Aku bahagia, hanya saja tidak seratus persen." jawab Alana jujur. Seperti yang ia katakan tadi, ia sudah lelah berpura pura. Pelariannya selama 12 jam dan berakhir tertangkap membuat Alana sadar, ia membutuhkan Saka tapi juga ia ga ingin bahagia di atas penderitaan orang lain , maka ia berpikir lebih baik ia menjauh, entah untuk sementara atau selamanya.
" Maunya apa? Hmmh? " tanya Saka dengan lembut, ia menjalin hubungan dengan Alana bukan sehari dua hari tapi puluhan tahun, sejak ia TK . Jujur, baginya lebih mudah melepas Yara daripada melepas Alana, tapi jelas Saka tidak mungkin mengatakannya kepada Alana apalagi Yara. Alana akan jelas menolak kalau Saka menceraikan Yara. Yara pun akan dengan segera mengundurkan diri kalau Saka berkata seperti ini. Saka mengenal kedua wanitanya dengan baik. Itu yang membuat dirinya tidak mau mengatakan hal itu kepada mereka.
" Gak tau. Tapi ini yang membuat aku benci sama diriku sendiri. Aku tidak bisa menentukan pilihan kalau itu berkaitan dengan kamu." ujar Alana sambil menggeleng lemah.
" Mau pulang ke Indonesia saja?" tanya Saka sambil mengelus perut Alana yang membuncit. Ini yang ingin Saka lakukan sedari tadi. Ia ingin membelai anaknya yang ada di dalam kandungan Alana. Ia rindu dengan Alana, ia rindu dengan dedek yang ada di dalam kandungan Alana. Ia ingin nengokin dedek, tapi kayaknya waktunya belum tepat.
" Aku gak tahu apa yang aku mau. Saat ini aku hanya tidak ingin bersama Yara. Maaf ya, Bby. Aku tahu aku jahat, aku egois, mungkin akan ada sejuta hujatan orang buat aku. Makanya aku memilih untuk menjauh, aku memilih untuk sendiri dulu sampai aku tahu arah hatiku ini kemana. " jelas Alana sambil berusaha menghapus air mata yang tanpa kompromi jatuh di pipinya. Alana tidak ingin lemah, ia biasanya adalah wanita yang tegar dan mandiri.
Ketika ia ditinggal oleh Irvan, ia tidak menangis berlarut larut. Ketika keluarganya kehilangan sosok yang menjadi tumpuan ekonomi, Alana tidak segan untuk mengambil alih sebagai pencari nafkah keluarganya, Alana bekerja sambil sekolah, ia tidak malu, bahkan ia tidak pernah bergantung pada siapapun. Inilah yang membuat pikirannya kalut, karena saat ini ia merasa tidak bisa jauh dari Saka, ia merasa dirinya menjadi wanita yang lemah.
" Aku sudah bilang tadi pagi sama kamu, kalau ada yang kamu pikirkan bagikan sama aku, aku siap mendengarkan. " sahut Saka lembut, sambil masih memeluk Alana dan menaruh Alana di dadanya.
" Termasuk kalau aku memilih untuk pergi dari kamu?" tanya Alana sambil mendongak, ia ingin melihat ekspresi Saka.
" Kalau kamu ingin melihat aku hancur, maka pilihlah itu sebagai jalan yang terbaik yang harus kamu pertimbangkan. Karena kamu dan anak anakku adalah kehidupanku. Tanpa kalian apalah aku ini. " sahut Saka mantap.
.
.
__ADS_1
.
TBC