
Hai readersss..
penasaran sama apa yang terjadi sama Alana?
Saka?
apa Yaraaaa??
😂😂😂
Mau sedikit cerita ya, jadi ini itu harus diedit dan di revisi ulang, karena ada sedikit mis komunikasi dri awal saja dengan editor. Jadi ini ceritanya harus diselesaikan di satu buku.. ntar penjabaran di buku yang satunya. Karena belum bisa edit beneran jadi yang buku satunya dipindah langsung kesini.
Makanya segera klik vote dan likenya dongg, biar cepat updateee 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
KALAU VOTENYA BANYAK, UPNYA BISA 2 EPISODE...
Yang udah vote ... i lap yu pullllll
Happy reading!!!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Flashback
" Keluarga pasien Alana?" tanya suster itu dengan suara tegas.
" Saya sus. Saya suaminya." jawab Saka dengan mantab.
__ADS_1
...
" Dokter sudah menunggu di dalam juga, tuan! Silahkan ditanyakan terkait dengan persalinan istrinya. Pasien sudah mengalami rembes air ketuban. Saat ini pasien sudah diberi suntikan antibiotik dibawah kulit dan juga infus untuk memacu kelahiran." jelas suster sambil mendorong Saka untuk segera masuk ke ruangan VK, karena Saka hanya terbengong mendengar penjelasan dari suster tadi.
Saka langsung berteriak sebelum ruangan VK ditutup sempurna.
" Lio, hubungi ayah dan ibu!!" teriaknya kepada Lio yang masih ada di luar ruangan VK.
Didalam ruangan VK, Saka hanya bisa terpaku, ia meliihat Alana yang terbaring merintih di sebuah ranjang yang bentuknya seperti tempat duduk yang landai, dengan kedua kaki yang diangkat dan ditutup oleh sehelai kain berwarna hijau.
" Tuan, silahkan tanda tangani pilihan anda, sudah tidak ada waktu lagi. Sepertinya pasien akan segera melahirkan, kondisi seperti ini sangat rancu. Air ketubannya sudah rembes, hanya ada 2 opsi, melahirkan normal atau operasi tapi pasien udah pembukaan lima jadi saya rasa melahirkan normal merupakan pilihan terbaik. Cuman karena semua kemungkinan bisa terjadi, kami mohon anda bisa menandatangani pilihan anda supaya kami bisa segera melakukan tindakan kepada pasien." kata dokter dengan tergesa, karena Alana maaih merintih dan sesekali berteriak karena obat pemacu kelahiran yang masuk di jalan lahirnya membuat ia merasakan kontraksi yang sangat rapat dan sangat menyakitkan dibandingkan kontraksi normal.
" Baik.dok, mana surat pernyataannya? " tanya Saka dengan nada mantab. Saka tidak tahan melihat dan mendengar teriakan dan rintihan Alana. Inginnya ia yang merasakan kesakitan menggantikan Alana.
" Ini tuan" kata suster sambil menyerahkan surat pernyataannya. Saka tampak mantab memilih dan menandatangani surat itu dengan cepat. Dokter mengambil surat itu membacanya dan mendesah perlahan.
" Tenang, bu. Tarik nafas dan hembuskan tarik lagi dan hembuskan. " kata suster itu membiarkan Alana mencakar tangan suster karena rasa sakit kontraksi yang tak terkira.
" Bby, sakitttt!" teriak Alana.
Saka langsung bergegas ke samping Alana, menenangkan dan menggantikan tugas suster yang tadinya memegang tangan Alana. Alana meremas tangan Saka, Saka melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana perut Alana bisa kelihatan bentuk bayi yang menggeliat ingin keluar dari jalan lahir ibunya. Saka berkeringat dingin, ia merasakan kesakitan Alana dan merasa perutnya turut mulas. Saka berusaha menyeka keringat Alana yang mengalir di keningnya. Alana terus berteriak. Saka berusaha menenangkan istrinya itu.
" Arghhhh, sakittt Bbyyyy!!" seru Alana lagi.
" Sayang, bertahan ya! Demi aku dan anak yang ada di kandungan kamu." bisiknya sambil mencium pipi Alana yang mengalir air mata kesakitan.
" Tenang, bu. Ini kelahiran yang kedua kan ya? Mestinya udah pinter dong ! Ayo tarik nafas dan hembuskan perlahan. Betul, seperti itu. Lagi, Bu. Pembukaannya udah sempurna ya. Tinggal sekali tarik nafas panjang dan hembuskan kuat. Dan Stop!! Ga usah ngejan lagi." bayi yang dinanti sudah dilahirkan hanya keanehannya tak ada suara tangis bayi yang biasanya terdengar setelah kelahiran. Tapi dokter hanya diam dan sibuk dengan bayi yang sudah ada di dalam tangannya, setelah ia menggunting plasenta bayi yang terhubung dengan ibunya.
__ADS_1
Saka melihat bayinya yang hanya diam, sambil menenangkan Alana yang masih merasakan kesakitannya, dokter bekerja keras membuat bayi itu menangis, dengan menepuk pantat bayi itu dengan keras tapi tak ada perubahan besar yang terjadi, membuat dokter itu menghela nafasnya dengan kasar, memandangi Saka dan menggelengkan kepalanya. Saka hanya bisa menangis dalam diam. Ia tidak ingin Alana yang baru saja bertaruh hidup atau mati menjadi ikut sedih dan bisa jadi depresi karena kematian bayinya.
Memang itulah yang dipilih Saka, Saka memilih menyelamatkan Alana. Ia tahu resikonya, Alana pasti marah besar kalau tahu Saka memilih menyelamatkan dirinya. Dokter menyerahkan bayi itu ke seorang suster yang lalu membersihkan dan memandikan bayi itu.
Alana yang masih lemas, tidak menyadari keanehan yang terjadi, dimana anaknya tidak menangis. Alana masih mengumpulkan sisa sisa tenaganya untuk menyunggingkan senyum di wajahnya kepada Saka yang masih dengan setia membersihkan dahinya yang berkeringat.
" Bby, kamu lihat babynya dulu. Kenapa suster langsung membawanya keluar? Biasanya kan iniasi dini kan? " kata Alana dengan lemah.
" Mungkin karena kondisi kamu yang lemah, sayang. Kamu mungkin disuruh istirahat dulu." kata Saka berkilah.
" Bby, kamu gak adzani dedek dulu. Ayolah kamu malah bengong disini. Susul dedek di kamar bayi." perintah Alana sambil mendorong tubuh Saka yang menempel ketat sama dirinya.
" Sayang, aku minta maaf..." kata Saka yang perkataannya tidak dapat ia selesaikan dengan baik. Ia sebenarnya ingin mengatakan secara jujur apa yang terjadi dengan anak yang sudah ia lahirkan itu.
" Kamu minta maaf buat apa?" tanya Alana keheranan. Saka hanya memandang dokter yang masih melakukan treatment kepada Alana dan menjahit luka Alana. Dokter hanya diam tampak pasrah, menyerahkan semua keputusan kepada Saka sebagai suaminya. Tapi Saka tampak diam dan menuruti keinginan Alana untuk keluar dan menyusul anaknya. Sebelumnya Saka ingin memastikan kondisi Alana.
" Dok, tapi kondisi istri saya gimana?" kata Saka memastikan.
" Stabil, pasien hanya butuh istirahat selepas ini." jawab dokter dengan nada datar. Saka langsung berlalu keluar setelah mengecup kening istrinya dengan sangat lama seolah tak ingin meninggalkannya.
.
.
.
TBC
__ADS_1