Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
84. Balas Budi Alana


__ADS_3

Hai reader


i am back.. Jangan lupa untuk selalu vote, like dan juga kasih gift buat thor, agar thor semangat terus!! Cerita ini emang melalui proses editing, jadi mungkin akan kelihatan beda dengan yang pertama kali baca. Mudah mudahan kalian suka dengan ceritanya,,,


happy reading!!


***


Happy reading!!!


 


 


"Benar, Lana. Awalnya ayah juga menolak pernikahan poligami kalian, karena ayah tahu seperti apakah anak ayah si Saka itu. Ayah sangat berterimakasih kamu mau berkorban perasaan untuk membuat kami merasakan kebahagiaan memiliki cucu dari darah daging kami sendiri. Bahkan kamu juga tidak hanya ingin memiliki Saka untuk diri kamu sendiri, kamu malah masih berharap Yara bisa sembuh, kalau bukan hati kamu yang mulia, ayah sudah tidak tahu lagi apa itu namanya."  jelas ayah dengan nada sendu, ia sadar Alana banyak dirugikan tapi ia juga tahu tanpa pengorbanan Alana, Keluarga Perdana tidak akan memiliki keturunan yang akan mewarisi harta kekayaan keluarga Perdana yang tidak akan habis dimakan oleh tujuh turunan, tujuh tanjakan dan tujuh tikungan ( kata netijen maha benar)


" Ayah jangan bilang begitu, Lana tahu ayah dan ibu orang baik, kalian sudah sayang sama Lana sejak Lana masih kecil. Ayah dan ibu yang bantu uang sekolah Lana saat papa udah gak bisa kerja lagi dan terpaksa menjual rumah untuk biaya berobat papa yang sakit sakitan. Alana cuman mau berbagi apa yang Lana bisa lakukan yaitu memberi kalian kebahagiaan melalui dedek dan Genta." lanjut Alana sambil mengelus perutnya yang buncit dengan suka cita.


" Wah iyaaa, mana nih cucu kesayangan kakek yang pintar? Kakek udah kangen nih! " kata ayah sambil mengalihkan perhatian, supaya Alana gak sedih berkepanjangan.


" Ya dirumah to, kek. Ini rumah sakit, kek. Nanti kalau Genta kenapa kenapa gimana?" sahut ibu Irsyana manyun. Tadi kan dia juga sudah bilang sama ayah kalau tidak ngajak Genta ke rumah sakit karena banyak virus, dan penyakit bertebaran.

__ADS_1


" Bu, kalau Lana mau jenguk Yara dulu bisa?" tanya Alana sambil memegang tangan ibu, sambil memperlihatkan mata puppy eyesnya yang sering membuat ibu tak bisa menolak keinginan Alana.


" Lana, bukannya ibu gak boleh, ibu cuman khawatir kalau kamu nanti kecapean. " tolak ibu halus.


" Ibu.. Lana baik baik saja. " jawab Alana dengan pasti.


" Nanti kamu jenguk Saka juga ya? Bangunin dia supaya ia juga ikut menjenguk Yara. Ibu takut itu permintaan terakhirnya." kata ibu sambil menahan perasaan sedihnya.


" Ibuuuu, Yara pasti bisa bertahan." sahut Alana lagi.


" Lana, gimana kalau kita jenguk Saka dulu. Yara biarlah beristirahat dahulu, bukannya ibu melarang tapi Yara baru saja disuntik obat penenang dan obat penghilang rasa sakit. Sedangkan Saka, sudah kebanyakan tidur. Ayo, Lana, buat Saka bangun. Dia harus bertanggung jawab akan semua yang sudah terjadi. Biar saat dedek lahir, ada daddy yang bisa jagain. Mau ya, Lanaa." pinta ibu Saka dengan lembut. Alana hanya mengangguk pasti. Ia tahu, keruwetan ini harus diakhiri. Keputusan di tangan Saka, apakah dia mau berubah atau tidak. Alana hanya pasrah. Kalaupun ia harus mundur, maka ia rela, demi kebahagiaan orang orang yang ia sayangi.


" Ayolah bu, Alananya diajak makan dulu sebelum kita menjenguk Saka. Kasihan dedek yang didalam perut Alana. Pasti cucu kakek kelaparan. " ajak ayah Langit.


" Ayah sudah pesan tempat di resto ayah yang didalam hotel. Bahkan ayah juga sudah menyuruh pak Thoriq supir ibu untuk menjemput Genta. Ayah sudah kangen sama cucu ayah yang lucu dan pintar itu. Nanti malam biar Genta tidur sama ayah ya, Lana?" pinta ayah Langit dengan wajah penuh harap.


" Emang ayah dan ibu menginap dimana? Bukannya di rumah ibu?" tanya Alana dengan heran.


" Ayah kamu mana mau tinggal disana. Paling ayah maunya tinggal di hotel ayah yang mewah itu." sindir ibu dengan nada datar.


" Bukan begitu bu, nanti kan ayah mau ngajakin Genta main di wahana permainan yang ada di mall sebelah hotel itu loh. Jadi lebih efisien aja habis main, trus Genta bisa langsung tidur di kamar hotel kita." jelas ayah karena melihat ibu sudah manyun, bisa gawat kalau trus gak dapet jatah bulanan, eh jatah harian ding🤭.

__ADS_1


Dan di pintu lobby depan rumah sakit tampak mobil ayah sudah mejeng cantik disana dan supir pribadi ayah sudah menunggu di depan membukakan pintu untuk ibu dan Alana masuk. Ayah duduk di samping pak supir, dan ibu serta Alana duduk di tengah. Dan saat mobil ayah sudah melaju menuju hotel ayah, ibu memegang tangan Alana dengan era


" Lana, ibu minta apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalin ibu dan ayah. Ibu benar benar menyayangi kamu seperti putri ibu sendiri. " kata ibu dengan wajah sendu. Jujur ibu takut kalau Alana memilih untuk bercerai dengan Saka. Bukannya ibu tidak menyukai Yara, tapi emang ibu sudah sayang banget sama Alana sejak dulu sewaktu Alana dan Saka masih kecil.


" Ibu, jangan ngomong kayak gitu. Alana juga sayang sama ibu dan ayah. Alana merasa beruntung punya ibu dan ayah mertua seperti kalian yang baik dan perhatian." jawab Alana sambil balas memegang erat tangan ibu Irsyana seolah menenangkan hati ibu agar tidak usah khawatir.


" Iya Alana. Ayah yakin ibu juga sayang sama Yara, tapi mungkin karena sedari dulu kamu kan udah dekat dengan kami. Sehingga chemistry nya beda." jelas ayah lagi. Ayah gak mau dianggap pilih kasih, karena Alana bisa melahirkan keturunan Perdana trus ayah dan ibu lebih sayang dengan Alana dan membenci Yara. Porsi kasih sayangnya sama sekalipun beda dalam pengungkapannya.


" Iya ayah, Alana ngerti. Dari dulu ayah dan ibu kan udah sangat baik sama Lana. Bahkan ketika papa Lana terpaksa menjual rumah dan jatuh miskin karena sakit sakitan, ayah dan ibulah yang membantu sekolah Lana sampai Lana bisa lulus dan mendapatkan beasiswa ke jenjang selanjutnya. Lana sangat berterimakasih sama ayah dan ibu. Oleh karena itu Lana ingin membahagiakan ayah dan ibu melalui Genta dan dedek, sekalipun dari awal, Lana gak pernah terlintas dalam pikiran Lana kalau Lana akan menikah dengan Saka." kata Alana sambil kembali terisak.


Dia sangat ingat apa yang terjadi waktu lampau. Rasa ingin membalas budi terhadap kebaikan keluarga Saka itu terlalu tinggi. Alana menghargai dan menghormati kedua orang tua Saka. Tidak heran ibu sangat sayang dengan Alana juga.


 


 


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2