
“Jadi maksud kamu…. Genta?” tanya Saka dengan muka bodoh.
“Iya… dia kemungkinan besar anak kamu.” jawab Irvan lirih.
“Kenapa kamu bilang kemungkinan besar? Maksud kamu aku berselingkuh lagi dengan orang lain? ” tanya Alana dengan meradang, dia marah dengan konspirasi menjijikan yang dilakukan mantan suaminya dengan kekasih gaynya yang menjebaknya dengan hubungan zinah bersama laki laki lain di saat mereka masih ada di dalam ikatan rumah tangga.
“Ehm maksudku aku kan ...., ehm ya karena aku gak bisa berhubungan intim dengan kamu, Alana! Aku kan gak bisa… “
“Aku gak bisa percaya…” geleng Alana kuat kuat.
"Sungguh kamu laknat, Van!! Kalian menjebak aku, bahkan kalian juga melihat ... oh my God... what a crazy world. Kamu sudah gila, Van!!! Kalian sudah gila!!!" sergah Saka dengan nada ketus, ia masih membayangkan tubuhnya yang telanjang diangkat oleh Tonny dan Irvan, oke stop memikirkan imajinasi seperti itu.... Saka menepuk jidatnya berkali kali... sambil beristigfar.
“ Ehm... maaf... maaf... tapi itulah kenyataannya. Waktu itu …” jawab Irvan lirih.
“Aku gak percaya!!! Kamu bener bener..." sergah Alana lagi dengan
suara tertahan, ia tidak mau membuat seluruh pengunjung memandang kepada
dirinya karena suaranya yang keras. Ia berdiri dari tempat duduknya, ia sangat
marah dan jengkel, ia juga tidak bisa percaya dengan fakta yang diungkap oleh
mantan suaminya.
Begitu menjijikkan dipaksa berhubungan intim dengan orang yang bukan suaminya waktu itu hanya karena ingin menutupi status gay nya, rasa mual dan pusing menyerangnya tiba tiba. Membuat tubuh Alana yang sedang berdiri menjadi limbung dan tak berdaya tiba tiba, sehingga Alana pun terjatuh dan tidak sadarkan diri. Untung Saka yang berada di sampingnya langsung bisa menangkapnya, sehingga perut Alana tidak terbentur oleh meja café.
“Alanaaa!!!”
***
“Arrghh..”
“Kamu sudah sadar sayang?” tanya Saka dengan suara lembut.
“Hmmh…Apa aku tadi sedang bermimpi?”
“Ehmm, sayangnya tidak… kamu hanya pingsan setelah mendengar kenyataan yang
menyakitkan itu. “ Saka pun merasakan hal yang sama, ia merasa kenyataan yang
terpampang dihadapannya itu membuat dia bimbang. Saka sudah menyuruh asisten
pribadinya untuk menyelidiki keberadaan Genta dan menyuruh asistennya untuk
mengetes DNA Genta dengan ayahnya, Langit Perdana karena dia sudah tidak sabar
untuk mengetahui kenyataan sebenarnya.
Tapi Saka masih harus menunggu hasil itu keluar. Sakapun menantinya dengan resah, kalau benar Genta itu adalah anaknya, jadi selama ini ia sebenarnya sudah memiliki
keturunan yang adalah darah dagingnya sendiri.
“Bby… jadi kita?” Alana tidak sanggup melanjutkan kata katanya.
“Kalau dilihat dari kronologinya maka apa yang dia bilang itu bisa jadi benar.”
__ADS_1
“Sekarang dia dimana?” tanya Alana tanpa menyebutkan nama mantan nya itu.
“Dia balik ke habitatnya.. maksudku balik ke apartemennya, ternyata selama ini dia juga
tinggal disini bersama keluarganya. Ehmm mengikuti pengobatan yang ia sebutkan
tadi.” Kata Saka dengan nada resah.
“Kamu kenapa, Bby?”
“Kalau yang dikatakan nya itu benar berarti, Genta itu adalah anakku… anak kandungku sendiri..” ada terselip nada bahagia disana, Alana hanya menunduk, dia tidak tahu apakah
harus senang ataupun sedih. Ia merasa dijual kehormatannya oleh mantan suaminya, untuk menutupi status gay nya.
Saat ia masih terikat dalam ikatan pernikahan dengan Irvan ternyata ia malah
berhubungan badan dengan Saka. Alana bingung, haruskah ia merasa beruntung
karena ternyata yang mengambil keperawanannya adalah Saka, suaminya sendiri.
“Bby, aku merasa…”
“Jangan merasa bersalah… kamu tidak salah. “ potong Saka.
“Aku tidak tahu harus bagaimana?”
“Serahkan padaku, kamu percaya kan sama aku?” tanya Saka lembut sambil membelai rambut Alana yang panjang dan mengecupi ujung ujungnya.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan dengan Genta.”tanya Alana lagi.
pikirkan itu. Kalau ini emang benar berarti ikatan darah emang lebih kental daripada air, dari dulu aku sangat menyayangi dia, bahkan kamu kan tahu kalau aku juga yang memaksanya untuk memanggil aku daddy.” Jawab Saka dengan diplomatis, ia tidak perlu mengatakan pada Alana bahwa saat ini, ia sedang menyuruh asisten pribadinya untuk mengecek DNA Genta dan ia baru akan mengetahui hasilnya besok.
“Aku tahu, aku hanya belum bisa menerima kenyataan bahwa mas Irvan seperti itu.”
“Sudahlah, yang aku heran kok dia bisa kepikir untuk menyatukan kita.”
“Kejadian itu sesudah kamu menikah dengan Yara. Bagaimana kamu tidak tahu sih, Bby?”
“Tidak tahu apa?” tanya Saka kebingungan.
“Ya itu… maksudnya.. ehm… “
“Kok bisa berhubungan intim dengan kamu?”
“Iya, Bby… kok kamu gak ngerasa? Kalau aku waktu itu aku gak lihat karena lampunya kan
gelap dan kupikir itu mas Irvan,aku juga heran sesudahnya mas Irvan dingin dingin aja.”
“Jadi selama ini kamu gak pernah berhubungan dengan Irvan?” tanya Saka dengan nada bahagia.
Alana hanya menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Saka itu.
“Makanya aku bingung waktu itu, Bby! Dia hanya melakukannya sekali, dan kemudian jadi..”
“Makanya, punyamu sempit….”
__ADS_1
“Hubbyyyyyyy… omongannya gak pernah dijaga ya!” Alana sigap memu kul lengan Saka dengan bantal.
“Auuchh .. ampun sayang, aku kan bercerita yang sebenarnya.”
“Gak usah dijelasin kayak gitu juga kale, Bby!”
“Waktu itu Yara di Singapura, aku masih ingat kalau aku ke club, dan minum . Gak banyak sih. Tahu tahu paginya aku terbangun di sebuah kamar hotel dalam kondisi telanjang. Aku merasa sih kalau habis berhubungan badan, tapi kupikir aku hanya sekedar mimpi basah saja, kamu tahu kan laki laki kan biasa punya fantasi ****. Apalagi aku waktu itu sedikit frustasi mengetahui penyakit Yara.”
“Jadi kamu tahu tentang penyakit Yara sudah lama?” tanya Alana dengan wajah sedih.
“Iya, tapi belum separah sekarang. Belum sampai dioperasi pengangkatan rahim.”
“Berarti kamu sudah tahu lama kalau Yara tidak akan bisa memberi kamu keturunan?”
“Bukan begitu, rahimnya diangkat sekitar setengah tahun yang lalu, belum lama. Awalnya Yara dan aku masih percaya kalau dia masih bisa berusaha melalui bayi tabung. Tapi harapan Yara pupus saat dokter memintanya untuk mengangkat kandungannya.”
“Kasihan Yara.”
“Tapi Tuhan menyiapkan keturunan dari kamu, karena ternyata aku juga yang pertama bagimu.”
“Ehm, kamu gak mau ngetest DNA Genta dulu, Bby? Siapa tahu omongan mas Irvan itu bohong?” tanya Alana sambil menautkan jari jarinya, tanda ia cemas.
“Kamu maunya gitu?” tanya Saka dengan lembut, ia tidak mau menyakiti perasaan Alana kalau ia mengatakan bahwa ia sudah melakukan test bahkan sebelum ia suruh.
“Biar aku yakin aja…”
“Lala sayang…”
“Cuman biar aku yakin saja…”
“Baiklah, sekarang kamu mau nginap di rumah sakit atau kita pulang saja?”
“Aku pingin pulang apartemen, Bby! Bukankah kita besok bakal balik ke Indonesia?” tanya
Alana dengan nada manja.
“Ehm sayang, aku mau cerita sesuatu, Yara minta kamu mengantarkannya ke rumah sakit Penang. Gimana ?” tanya Saka dengan hati hati.
“Kok terburu buru? Bukannya lusa ya?” tanya Alana balik dengan menunjukkan raut wajah heran.
Kemudian Saka menceritakan secara detil kejadian yang membuat Yara memutuskan untuk berangkat ke Penang lebih cepat.
“Astafirullah, Bby!!! “
“He he he kamu mesti nyadar kalau pesona suamimu itu benar benar memabukkan.”
“Astafirullah… amit amit jabang bayiiii.” Kata Alana sambil mengusap usap perutnya yang
sedikit membuncit.
.
.
.
__ADS_1
TBC