Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
130. Terungkap 1


__ADS_3

JANGAN LUPA VOTE YANG BANYAK YA... LIKE DAN GIFT YANG BANYAK...


SUPAYA DITENGAH KERJAAN YANG BANYAK THOR SEMANGAT UPDATE, THANK YOU🙏🏻


***


" Lalu apa yang terjadi dengan hubunganmu bersama Yara.. ehm maksudku Ivara?" tanya Saka lagi.


Rangga terdiam seakan meresapi pertanyaan Saka yang sulit ia jawab.


" Waktu itu, banyak sekali perbedaan antara kita. Ivara yang lebih tua 2 tahun dariku sudah bisa menghasilkan uang dan sudah bekerja sedang aku masih belum menghasilkan apa apa. Tapi aku benar benar mencintainya. Ivara yang cantik, baik dan perhatian. Aku mencintainya dan ingin menikahinya tapi terganjal restu pamannya Vara itu. Singkatnya kami melarikan diri dan pergi dari paman Vara, lalu kami nikah siri, sampai Vara hamil, ia tetap mempertahankan kehamilannya yang sulit karena dokter sudah memvonis bahwa dirinya akan sulit mendapatkan anak dan setelah perjuangan yang luar biasa, Vara melahirkan seorang anak laki laki dengan selamat. Tapi saat Vara melahirkan, pak Raharja atau paman Yara itu mengambil anakku dan membunuhnya di hadapan mataku. Sedangkan waktu itu aku dipukuli beramai ramai oleh para pengawalnya, dengan tujuan membunuhku juga. Tapi mungkin nasib berpihak kepadaku saat aku dibuang di semak semak di jalan arah ke luar kota, ada orang yang menemukanku. Dia adalah pak Tirta sopir ayah kandungku, yaitu pak Burhan. Dan dari ayahku itulah aku mendapat info tentang pak Raharja. Jujur aku ingin membalas dendam dengan Ivara karena ia mengkhianati cinta kita. Tapi saat aku bertemu dengannya, aku tidak bisa! Maaf, Ren.. maaf!" jelas Rangga dengan nada parau dan lirih kepada semua yang ada disana.


Matanya masih saja dibasahi dengan air mata yang tidak henti hentinya mengalir, ia berulang kali melepas kacamatanya hanya untuk menghapus air mata yang merembes tiada henti. Bahkan pada saat ia bercerita tentang anaknya yang dibunuh, seluruh orang yang mendengar juga tidak hentinya menitikkan air mata.


Saka bingung, kenapa Rangga meminta maaf kepadanya. Mungkin karena ia membantu pak Burhan untuk menculik Yara? Tapi saat ini Saka tidak peduli sama sekali. Ia hanya memikirkan bagaimana mengurus pemakaman, pengajian dan tahlilan untuk istri pertamanya itu.

__ADS_1


Alana dan ibu menatap Rangga dengan penuh iba, air mata pun tidak habisnya keluar dari pelupuk kedua wanita beda generasi itu. Dasar wanita pasti tidak akan ada yang tahan melihat nasib anak yang dibunuh oleh paman Yara karena dendam, juga tentang kisah cinta bertepuk sebelah tangan, cinta tak tersampaikan, dan cinta mati yang dibawa sampai mati macam kisah Rangga dan Yara. Mereka tidak habis pikir kenapa paman Yara bisa segitu kejinya membunuh anak yang tidak berdosa.


***


Pemakaman Yara sudah selesai dilakukan. Tapi karangan bunga masih terus berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga Perdana. Para kolega, klien, dan penanam saham berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa, atas meninggalnya Yara, yang dikenal sebagai istri CEO dan juga menantu keluarga Perdana yang sangat kaya raya. Bahkan perusahaan Saka dan ayah Langit, meliburkan para karyawannya selama 7 hari untuk suasana berkabung.


Walau ini sudah 7 hari pun sudah berlalu, tapi aliran ucapan bela sungkawa masih banyak berdatangan, ini saatnya tahlilan hari ke 7 pasca kematian Yara. Selama 7 hari itu bibi Yara menginap di rumah Yara bersama Alana dan Saka. Alana terkadang masih pulang untuk mengurus Alendra dan Genta yang tidur di rumah utama, yaitu rumah ayah Langit dan ibu Irsyana. Bibi Yara tidak memperdulikan suaminya lagi. Ia tahu suaminya masih belum bisa move on, masih menyimpan dendamnya. Ia sudah tidak peduli. Ia tidak mau lagi mengurus Raharja yang hanya tetap memandang cintanya pada Arjani, dan tidak pernah peduli padanya. Ia hanya dijadikan tameng dan selama ini ia menyimpan semuanya rapat rapat.


Rangga pun tiap hari datang, karena Saka memang menghelat pengajian 7 hari berturut turut, untuk mendoakan Yara. Rangga datang setiap pagi dan pulang menjelang malam. Ia tidak peduli dengan penampilannya yang semakin acak acakan. Cambang dan kumispun mulai tumbuh subur karena pemiliknya tidak pernah memperhatikan penampilannya. Wajahnya yang tampan tampak kuyu dan tak berwarna, tambah kurus karena selama 7 hari ini ia hanya terpekur melantunkan ayat ayat suci mengiring kepergian bidadarinya.


" Bi, ini sudah hampir waktunya sholat maghrib, ehm apa bibi tidak berniat untuk menjenguk paman?" tanya Saka memulai percakapannya dengan bibi Yara yang saat itu ada di ruang tengah. Bibi Yara meninggalkan acara pengajian Yara, dan memilih berada di ruang tengah yang berbatasan dengan taman luar dan ruang makan.


Bibi hanya berdiri menatap keindahan taman belakang dan kolam renang yang sengaja didesign Saka dengan lampu sorot dari dasar kolam, membuat kolam itu tampak bersinar sangat kontras dengan langit yang tampak meredup karena matahari sudah mulai balik ke peraduannya.


Saka merasa inilah saat yang tepat untuk mengorek rahasia paman Yara sebenarnya. Rangga sudah menceritakan dari sudut pandangnya, paman pun juga tapi entah kenapa ia merasa Rangga dan paman Yara belum menceritakan hal yang sebenarnya. Ada rahasia besar yang ditutupi. Dan Saka merasakan itu.

__ADS_1


" Rendra, sehabis ini mungkin bibi akan pulang ke Singapura dan mengurus perceraian dengn pamanmu. Rasanya bibi tak sanggup lagi melihat satu per satu orang yang bibi sayangi menjadi korban dari apa yang dilakukan pamanmu." kata bibi Yara masih dengan tatapan menghadap ke arah taman belakang. Seolah bibi ingin meniris segala kepenatannya dengan memandang keindahan alam.


" Bi? Apa maksudnya? Pikirkanlah dulu, bi! Jangan melakuan tindakan gegabah yang nanti akan bibi sesali." jawab Saka dengan raut wajah sendu. Sebenarnya ada dendam apa lagi yang tidak terungkap, yang masih tersisa dan tersimpan? Bukankah Yara sudah jadi tumbalnya?


" Bibi akan bercerita saat semua acara pengajian untuk Yara selesai. Bibi ingin bertemu dengan Rangga, Alana , dan orang tuamu. Setidaknya bibi ingin meminta maaf atas apa yang sudah terjadi kemarin kemarin." kata bibi masih setia menatap taman belakang. Entah apa yang ia pandangi sehingga ia bahkan tidak memandang Saka saat berbicara dengan Saka. Bibi bukannya tidak tahu dengan apa yang terjadi kemarin, bibi hanya lelah, hanya tidak ingin lagi mengurus dendam suaminya yang berakibat semuanya hancur.


" Bi?"


" Ren, bibi akan kekamar dulu. Bibi mau sholat dulu ya. Bibi ingin menenangkan diri dengan sholat. Oh ya, terimakasih karena kalian masih mau menerima dan menampung bibi disini." ujarnya dengan nada lembut, kini sambil memandang menantunya dengan sendu. Ia segera beranjak ke kamar tamu yang sudah selama 7 hari ini ia tempati. Ia tidak lagi memikirkan suaminya yang memghilang entah kemana. Atau sebenarnya bibi tahu dimana suaminya tapi ia sudah tidak mau lagi menjadi tameng pak Raharja yang masih mengagungkan sakit hatinya dan mengorbankan orang orang yang ada di sekelilingnya.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2