
" Mas, aku bukan wanita sempurna.."
"Yara, aku juga tidak bisa memberimu cinta yang seutuhnya, karena disini, dihatiku ini juga ada Alana, tapi aku ingin melindungimu, menjagamu, memegang tanganmu, sampai kamu melepaskannya untuk kebahagiaanmu, aku rela." bisik Saka lirih, air mata nya luruh, Saka sadar, hatinya terbagi. Yara juga menangis, ia tidak menyangka kalau Allah sedemikian sayang kepadanya, memberi suami yang memberi cinta tak bersyarat, selalu mencoba mengerti, memberi madu yang tidak ingin memiliki suaminya dengan egois padahal Alana bisa memberikan kebahagiaan, cinta bahkan keturunan, sebuah kesempurnaan yang tidak bisa ia berikan.
" Aku bersyukur memiliki kamu, mas. Padahal aku tidak bisa memberi kebahagiaan. " kata Yara sambil mengeratkan pelukannya kepada Saka.
" Sudahlahh, trus bagaimana? Kita tetap berobat dulu ke Penang ya, sayang. Bukan karena paman, tapi karena aku ingin kamu bisa sembuh. Mau ya?" rayu Saka, supaya Yara tetap mau berobat sekalipun mungkin hasilnya kecil kemungkinan Yara untuk bisa sembuh.
" Mas, ..." keengganan Yara untuk terus menerus berobat membuat Yara sebenarnya ingin pulang saja. Tapi wajah penuh harap suaminya yang menginginkan dia sembuh, membuat Yara mau tidak mau mengiyakan kehendak Saka. Yara menarik nafasnya dengan kasar dan mengangguk lemah.
Saka berulang ulang berterimakasih dan mengecup kening Yara yang terlihat malas menghadapi kenyataan bahwa dia harus lagi berjuang untuk melakukan pengobatan yang membuatnya enggan untuk pergi.
" Kamu bersiap siap, mas akan menjemput Alana dan langsung berangkat bersamanya, kamu kan tahu kalau paman tidak suka kalau kita berangkat bersama Alana. Tapi kamu jangan khawatir, mas akan menjagai kamu saat di Penang setelah mas mengantar Alana pulang ke Indonesia. "
" Mas, aku mau pulang saja. Aku ga mau kemo."
" Yara, kamu harus semangat untuk sembuh."
" Kamu ga tau kalau kemo itu menyakitkan, mending kalau sembuh, ini malah tambah parah." rajuk Yara sambil mencebik dengan tatapan mengiba memohon Saka untuk tidak memaksanya melakukan kemo.
" Yara aku akan menemanimu."
" Massss, jangan kemo, terapi apa saja aku mau, tapi jangan yang satu itu, aku kayak disiksa antara hidup dan mati." rayu Yara lagi, berusaha menego ulang keputusan Saka.
" Begini saja, kita minta pendapat dokter di Penang dulu ya, pokoknya periksa dulu saja. Okey? Jangan takut, aku akan menemani kamu."
" Baiklah." Setidaknya ia bisa menolak kalau seandainya dokter disana meminta untuk terapi kemo.
" Aku akan bicara dengan paman dulu, supaya mengantarmu."
" Tidak usah, mas. Paman pasti akan mengantarku. Kamu pulanglah. "
__ADS_1
"Baiklah, aku pulang dulu untik menjemput Alana dan langsung berangkat. Kamu berangkat dan sampai disana kanu langsung ke hotel dulu, nanti malam aku susul. Kamu pasti senang kan? Karena gak langsung ke rumah sakit?" tanya Saka sambil mencolek dagu istrinya.
"Senangnya ya kalau bisa langsung pulang." jawab Yara ketus.
" Eitss, gak boleh marah sama suami. Nanti do.."
" Iya iya, maaf." potong Yara sambil manyun, karena masih kesal. Ia merasa ga akan sembuh, ngapain susah susah buang duit berobat, mending dibuat jalan jalan aja.
" Mas, kalau nanti pas konsultasi ternyata kemungkinan sembuhku cuman dikit, aku ga mau kemo lagi ya. Aku mau jalan jalan aja. Jadi,..."
"Yang penting konsul dulu, Yara sayang. Urusan yang lain dipikir belakangan saja. Okey sayang?"
"Hmm.. " jawab Yara sambil mengangguk malas.
" Aku pulang dulu. Assalamualaikum." pamit Saka sambil memberikan ciuman dalam di pipi kanan kiri Yara dan bibirnya.
Yara membalas salam dan ciuman Saka dengan penuh kerinduan.
"Assalamualaikum, .. Alana sayang?" Saka memasuki apartemennya yang terlihat lengang dan tidak ada tanda tanda kehidupan.
Perasaan tidak enak mulai bergelayut dipikirannya, ia mencoba menepis pikiran negatif yang mengisyaratkan kalau Alana pergi dari sini.
" Alana? Sayanggg?" panggilnya lagi. Setelah ia mencari di kamar, dibalkon, di dapur dan di kamar mandi, bahkan dibalik dipan dan juga di kolong ranjang siapa tahu Alana hanya mencoba bersembunyi untuk mengagetkannya.
Tapi kehadiran Alana tidak kunjung Saka temui, Saka mulai frustasi dan panik. Pasalnya Alana emang kepingin minggat. Tentu Saka khawatir kalau Alana bener bener minggat. Perasaannya dari tadi yang tidak enak saat meninggalkan Alana untuk menjenguk Yara kini datang lagi.
" Alanaaaa." geram Saka, dia hampir tidak bisa menguasai amarahnya.
Ingin membanting semua yang ada di apartemennya, gara gara kepergian Alana.
Saka kembali memastikan barang barang Alana yang ada di kamar apartemen itu. Semua tampaknya masih ada dan berada di tempatnya. Koper miliknya dan milik Alana ada di pojok ruangan kamar mereka. Baju yang memang sengaja ia tinggalkan di lemaripun masih tertata rapi. Saka merasa ada yang hilang diruangan itu, tapi apa? Oh, kayaknya tas yang biasa dia pakai, yang berisi ponsel pintar dan dompetnya. Matanya menatap sekeliling ruangan kamar tidur yang ditempatinya bersama Alana beberapa hari ini. Dia mencari tas laptop yang biasa dipakainya bekerja, dan ia menemukannya di meja ruang tamu depan.
__ADS_1
" Ayolah, Saka, berpikirlah. Kemana Alana pergi saat ini. Ya Alllahhhh, lindungilah Alana. Dia masih hamil muda. Bagaimana nanti kalau dedek kenapa kenapa. Aku tidak akan pernah bisa memafkan diriku. Alanaaa, kenapa kamu pergi tanpa pamit kepadaku. "racau Saka sambil masih mengacak dan menarik rambutnya dengan penuh frustasi. Wajah nya yang berpeluh, rambutnya yang acak acakan, kekhawatiranpun nampak jelas tergurat di wajahnya yang tampan.
" Tenang Saka... kamu pasti akan menemukannya. "gunamnya membesarkan hatinua sendiri. Karena Saka benar benar khawatir kalau sampai Alana meninggalkannya.
Saka meraih benda pipih yang ada di kantong celananya, ia hendak menghubungi no telpon Alana. Tapi suara operator yang menerima menandakan bahwa ponsel Alana dalam kondisi mati. Saka kembali berteriak frustasi. Dia kalut tapi ia terus berusaha berpikir jernih.
Saka tidak putus asa, dia menelpon asistennya.
"Halo, Yo, kamu sudah melaksanakan tugas yang aku perintahkan kepadamu kemarin?" tanyanya sesaat setelah sambungan telepon jarak jauh itu tersambung.
"..."
" Tentang Alana. Kamu sudah mengirim orang seperti yang aku mau? "
" ..."
" Bagus, pastikan mereka memata matain pergerakan Alana dari jauh dan tanpa ia ketahui. Kemarin aku sudah menaruh alat pelacak di ponsel Alana. Bisa kamu kirimkan lokasi Alana terkini di ponselku? Karena saat ini dia menghilang. Tapi ponsel dan tasnya ia bawa. Sekalipun ponselnya dalam keadaan mati."
"..."
" Kirimkan aku anting dan cincin yang kemarin aku sudah pesankan kepadamu. Aku kirim lokasi besok supaya kamu bisa mengirimkannya langsung. Sekarang aku akan mencari Alana. Pastikan kirim lokasi Alana di ponselku sekarang."
Saka langsung menutup hubungan teleponnya dengan sepihak. Ia tahu sebentar lagi asisten nya akan segera mengirim sesuai apa yang ia perintahkan.
.
.
.
TBC
__ADS_1