
“Sore, nyonya Yara.. gimana kabarnya?” tanya dokter Michele dengan senyumnya yang
mengembang. Seolah dia lupa apa yang dia lakukan kemarin. Saat dia mencobaa merayu
Saka yang notabene adalah suami dari pasien yang sedang ia rawat ini. Bahkan sekarangpun dia masih gigih mencoba.
“Masih seperti inilah, dok! Gak ada perubahan yang signifikan juga. Saya juga lelah”kata
Yara dengan raut wajah sendu.
“Apa ada keinginan yang belum tercapai?” tanya dokter itu dengan nada hati hati. Tidak
ada salahnya mencoba, siapa tahu kalau nyonya ini malah menyetujui kalau
dirinya bersanding dengan suaminya yang tampan itu, pikir dokter Michele. Segala daya,upaya harus diusahakan demi
mencapai cita cita mulia.
“Maksudnya?” tanya Yara dengan raut wajah heran. Sok perhatian banget nih si dokter.
“Yaaa, mungkin keinginan kamu yang ingin kamu wujudkan tapi belum terwujud?” tanya
dokter itu lagi.
“Ya kan dokter udah pernah nanya… pertama, saya pingin sembuh. Kedua, saya oingin bisa
merawat bayi tapi anak kandung suami saya sendiri. Itu saja… yang lainnya saya sudah punya semua. “ jelas Yara dengan nada sombong, tiba tiba dia gak suka
dengan dokter ini. Entah kenapa…
“Dengan stadium seperti ini memang kita banyak mengandalkan mukjizat, selain itu juga harus bahagia, makanya saya sarankan untuk melakukan terapi obat diimbangi dengan maintain hidup yang bahagia…”
“Saya sudah bahagia sih dok…”
“Tapi kan masih ada keinginan yang belum tercapai?”kata dokter itu kekeuh.
“Yang mana?”
“Yang ingin merawat bayi, tapi anak kandung suami nyonya sendiri.?”
“Yahhh, tapikan pasti ada prosesnya, 9 bulan lah …”
Cekrek..
“Mas, kamu kesini?” tanya Yara dengan wajah sumringah.
“Iyalah, besok aku harus balik dulu ke Indonesia, kamu kutinggal dulu ga pa pa kan?”
“Gak apa…mungkin lusa aku baru pindah perawatan, jadi kamu yang antar kan ?” tanya Yara dengan nada manja,
Saka tidak peduli dengan kehadiran dokter Michele bahkan juga tidak menyapanya, Saka hanya berjalan mendekati Yara dan memeluknya dengan sayang.
“Tentu…” kata Saka sambil mengecup kening Yara.
__ADS_1
“Alana dimana?”tanya Yara karena ia tidak melihat sosok Alana mengikuti Saka.
Fix! Dokter Michele hanya bisa panas hati melihat kemesraan Saka dan Yara. Dia masih setia curi curi pandang kea rah Saka, yang masih tetap cuek dan tidak memandang
kepada dokter itu.
“Maaf, mengganggu. Kalau boleh saya tahu, kenapa mau pindah ke rumah sakit lain?
“tanya dokter Michele memotong pertanyaan Yara dan lagi kali ini dengan memandangi Saka yang tampak dingin dan cuek.
“Karena mungkin disini Yara tidak happy, mungkin juga karena dokternya sudah setengah hati dalam melakukan pengobatan…” sindir Saka dengan intonasi datar.
“Ehm, mungkin anda salah paham. Stadium penyakit nyonya mendekati akhir, dimanapun
tempat pasti dokter akan menyarankan hal yang sama.” Jawab dokter Michele salah
tingkah. Pandangan mata Saka yang dingin justru membuat dokter Michele semakin
terjatuh dalam pesona suami pasiennya ini.
“Mungkin saya sebagai suaminya ingin mejaga perasaan istri saya karena dokter yang merawatnya menginginkan menjadi dirinya menjadi istri muda.” sarkas Saka dengan nada ketus, membuat Yara semakin heran.
“Whats?? Maksudnya apa mas? Dokter siapa yang mau jadi istri mudamu?”
“Tanyakan saja pada dokter yang merawatmu itu. “ jawab Saka sambil mengangkat dagunya
menunjuk kepada dokter Michele yang merah padam karena posisinya yang tersudut.
“Ehm begini nyonya, saya menawarkan kesepakatan, saya bersedia menjadi rahim pengganti bagi bayi yang diinginkan oleh nyonya. Itu hanya sebuah tawaran." bantahnya cepat.
“Sudahlah sayang, kamu harus banyak istirahat dan gak usah banyak penjelasan terhadap orang yang berpotensi menyakiti dirimu nanti potong Saka cepat, ia tidak mau
Yara meladeni dokter yang Saka anggap sakit jiwa karena tetep gigih berusaha walau sudah ditolak.
Tapi perkataan Saka disalah artikan oleh dokter Michele. Ia menganggap saka menutupi keberadaan Alana dari Yara, sebagai istri mudanya bahkan sudah hamil dengannya.
“Sayangnya, suami anda sudah berlaku tidak jujur dengan berselingkuh, memiliki wanita lain tanpa sepengetahuan istrinya, yaitu nyonya Yara.” Ujar dokter Michele dengan
angkuh, niatnya ia ingin membeberkan aib Saka, supaya Yara memutuskan lebih
baik memilih dirinya yang sudah jelas Yara tahu daripada selingkuhannya yang
mungkin Yara tidak tahu.
“Kamu punya istri lagi, mas?” tanya Yara dengan tatapan heran karena salah paham. Masa 2 istri masih kurang sih si Saka ini….
“Enggak!” geram Saka menahan marah, ia tahu dia tidak boleh gegabah karena Yara belum dalam kondisi yang baik, emang dokter sialan itu bener bener deh… masa malah
menstimulasi pasiennya supaya marah dan kondisinya bisa jadi malah bisa semakin parah.
“Saya tidak bohong nyonya… oleh karena itu saya menawarkan diri menjadi istri tuan
Narendra, supaya nyonya Yara mendapatkan anak, tanpa saya harus menikah dan
__ADS_1
dinafkahi oleh tuan Narendra.” Jawab dokter Michele dengan diplomatis.
“Apa? Kamu mau jadi istri muda suamiku? For God sake!!! “ sergah Yara dengan nada marah,
ia heran dengan dokter ini, pasti ada kelainan jiwa dengan dokter ini sampai bisa sedemikian rupa mencintai dan terobsesi pada suaminya.
“Tenang, Yara! Kamu gak usah hiraukan dia, aku juga tidak mungkin menikahi dokter itu.
Hanya kamu yang akan tetep mengisi hari hariku. Okey? Calm down… relaxxxx,
ssshhh!” kata Saka sambil memeluk Yara dan
membenamkan kepala Yara di dadanya.
“Sebentar mas… aku gak apa… aku cuman heran saja, kenapa ada orang yang tidak malu
seperti ini. Pantes aja perasaanku gak enak kalau ada kamu dan dia disini.” kata Yara sambil menunjuk dokter Michele dengan tampang kesal.
“Tenang, Yaraaa!”
“Aku gak bisa tenang mas. Ini harus dijelaskan hingga masalahnya jelas. Gini ya Dok! Suami saya sudah menikah, dia sudah memiliki istri kedua, dan madu saya itu
sekarang dalam kondisi hamil muda. Jadi tolong, anda menjauhlah dari kehidupan
kami. Untung saja aku sudah mutusin untuk pindah rumah sakit, bisa gila aku lama lama dengan dokter sialan ini. Sekarang saya minta dokter keluar dari kamar saya, sebelum saya berteriak minta petugas keamanan untuk menyeret anda dari sini.” Kata Yara dengan meradang.
“Tapi saya dokter rumah sakit ini..”
“Saya gak peduli, karena saya membayar semua fasilitas rumah sakit ini termasuk saya juga membayar anda. Saya disini tidak gratisan, jadi saya berhak untuk melemparkan
anda keluar dari kamar saya.” Lanjut Yara dengan wajah merah padam karena
marah. Dokter Michele pun beranjak
pergi, ia tidak mau membuat pasiennya semakin murka dengan kehadirannya ditempat itu.
“Yaraaa..” panggil Saka lembut, setelah dokter Michele keluar dari ruang perawatan Yara.
“Hmmmh…”
"Tenang okeyyyy…” bisik Saka dengan suara lembut.
“Gimana bisa tenang? Dia melamarmu jadi istri ke 3? Gila ajaaaa!!! Aku sebel, mas! Apa Alana tahu tentang ini?”
“Iya…. Kemarin dia sudah ngusir dokter itu, tapi ternyata dokter itu masih gigih
mencoba.” Kata Saka menjelaskan sambil mengedikkan bahunya, tanda ia juga tidak
habis pikir dengan obsesi dokter Michele untuk mendapatkannya, bahkan rela untuk menjadi yang kedua eh ketiga.
.
.
__ADS_1
.
TBC