
Sesampai Alana dirumah Ayah Saka, ia langsung mencari Genta. Anak laki lakinya yang ditinggalkannya di rumah besar Perdana karena ia menjenguk Yara hampir satu minggu.
Alana rindu dengan anaknya itu, ia meninggalkan Saka yang sedari tadi mendampingi langkahnya. Pikirannya hanya ingin menemui Genta di taman belakang. Alana tahu, Genta dan baby sitternya sering menghabiskan waktu di area taman, karena Genta termasuk anak yang aktif.
" Mommy! " panggil seorang anak kecil sambil berlari mengangkat kedua tangannya, untuk menghampiri Alana.
" Alana, jangan lari. Ingat kehamilanmu! " seru Saka mengingatkan.
Alana berjalan lebih cepat untuk meraih tubuh Genta dan menciumi seluruh wajah chubby anaknya itu. Perlakuan Alana itu membuat Genta tertawa terkekeh kekeh. Genta sangat rindu mommynya yang selama hampir seminggu hanya dilihatnya melalui video call di ponsel maupun laptop kakeknya.
" Genta tidak kangen Daddy?" tanya Saka sambil mengembangkan tangannya meraih tubuh Genta yang ingin digendong Alana.
" Kangen!" seru Genta sambil berpindah ke tubuh Daddynya yang kekar dan tinggi besar.
Saka menggendong Genta dan memeluknya dengan posesif. Menciumi Genta seperti yang dilakukan Alana. Bau bedak bayi dan minyak telon yang masih melekat di tubuh Genta membuat Saka enggan melepaskan pelukannya pada Genta. Bahkan semakin intens menciumi perut Genta sampai Genta terbahak karena kegelian.
" Daddyyyy... mommy belum puas cium Genta udah main rebut aja." rajuk Alana.
" Ehhhh, ini anak dua, pulang rumah bukannya ngucapin salam dan bebersih dulu malah sudah pegang pegang bayi. Kalian ini gimana sih?" ujar ibu Irsyana, ibu Saka, Neneknya Genta.
" Nenek!" Genta berontak dari pelukan Saka dan berlari menuju neneknya yang selalu memanjakannya selama ia tinggal disitu.
" Assalamualaikum ibu." salam Alana sambil mencium tangan ibu Irsyana. Saka juga melakukan hal yang sama.
" Kum calam"
__ADS_1
Dan lucunya malah dijawab oleh Genta yang membuat neneknya tertawa terbahak.
" Yang benar itu Wa ‘alaikumsalam, Genta. Coba diulangi" perintah ibu Irsyana. Maksudnya supaya Genta menglafalkannya dengan benar.
" Kum calam" Genta mengulangnya sambil mengangguk angguk mengemaskan, membuat ibu Irsyana, neneknya menjadi gemas dan menciumi wajah Genta yang tampan. Genta bukan cadel tapi emang belum bisa melafalkannya dengan benar.
" Kalian kok baru pulang? Ayo bebersih dulu, ibu tunggu di ruang makan. Ibu akan bersihkan Genta dulu. Ayo Genta, nenek bersihkan tangan Genta. Genta sudah laparkan? " tanya ibu Irsyana sambil menggendong Genta yang tampak bulat terawat selama tinggal di rumah besar, membuat Alana terharu dan hampir saja meneteskan air mata.
Saka merangkul bahu Alana dan mengajak Alana masuk ke kamarnya untuk bebersih.
Setelah selesai, mereka langsung ke ruang makan yang tampak sudah ramai dengan celoteh manja Genta yang disuapi oleh ibu Irsyana, neneknya. Tampak juga ayah Langit ada disana meladeni setiap pertanyaan dan perkataan Genta yang tampak ingin tahu segala hal.
Saka langsung menarik kursi untuk Alana dan kemudian Saka duduk di samping Alana. Alana langsung mengambilkan makanan untuk suaminya sebelum ia mengambil makan untuk dirinya sendiri.
Genta sibuk bertanya macam macam hal kepada kakek dan neneknya. Bahkan mommy dan daddynya pun tidak lepas dari celotehan dan pertanyaan aneh.
" Ya ngomong aja toh." kata ayah Langit tidak terlalu memperdulikan. Emang benar seseorang kalau udah jadi kakaek atau nenek akan lebih memperhatikan cucunya ketimbang anaknya sendiri. Bahkan Ayah Langit hanya memperhatikan Genta yang rupanya sudah selesai makan dan ingin main dengan baby sitternya.
" Genta main dulu sama mbak ya. Nanti mommy dan daddy nyusul ya nak. " kata Saka sambil mengusap kepala anaknya dengan rasa sayang. Genta terkekeh riang, ia menarik baby sitternya untuk bermain bersama.
" Mau ngomong apa, Nak?" tanya ibu dengan nada heran. Gak biasa biasanya Saka minta Genta pergi agar bisa ngomong. Pasti ada sesuatu rahasia yang gak boleh diketahui atau didengar Genta.
" Ini tentang Genta. " ujar Saka sambil menghela nafasnya. Alana hanya memandang Saka dengan raut wajah khawatir. Takut ayah dan ibu berpikiran negatif dengannya.
" Ada apa dengan Genta? Kamu ini lo. Mau jelasin aja mbulettt wae. " sergah ayah Langit dengan logat jawanya yang kental karena tidak sabar oleh tingkah Saka, anak semata wayangnya.
__ADS_1
" Genta itu anakku dengan Alana, yah." sahut Saka singkat, tapi lagi lagi ia mengucapkan sebuah kalimat yang memiliki arti yang banyak, sehingga orang tuanya menangkap dengan artian yang berbeda.
" Ya ayah juga sudah tahu!" potong ayah Langit dengan cepat. Bukannya saat menikah dengan Alana otomatis Genta adalah anak Saka. Itu juga Ayah Langit tahulah.
" Bukan itu maksudku. Genta itu anak kandungku dengan Alana." jelas Saka lagi. Ayah langsung terbatuk batuk karena terkejut mendengar kabar itu. Ibu yang sudah mendengar sekelumit cerita Saka waktu ditelepon tidak berani memberitahu ayah Langit karena tidak tahu duduk permasalahan sebenarnya. Ayah Langit yang tidak menyangka mendengar kabar yang mengejutkan, menjadi berang. Ia menyangka kalau Saka melakukan hal hal.yang melanggar norma. Karena setahu ayah, Alana.pernah menikah dengan Irvan.
" Kok bisa? Jadi kalian?" tanya ayah sambil menuding Saka dan Alana dengan ekspresi marah. Alana yang sudah kebat kebit hatinya, hanya bisa menunduk sambil menangis. Alana tahu kalau ayah bakalan marah, karena ayah Langit terkenal sangat berwibawa dan lurus jalannya.
" Saka juga baru tahu, tapi Saka sudah melakukan test DNA atas Genta, Yah. Dan hasilnya Genta positif anak Saka." lalu Saka menceritakan secara detil apa yang sudah terjadi. Alana hanya bisa menangis, ia malu dengan kondisi pernikahannya terdahulu yang membuat masalah di keluarga Perdana.
Ibu Irsyana menghampiri menantunya yang sedang sedih, dan mengelus bahunya serta menarik tubuh menantunya itu untuk dipeluk.
" Maafkan Lana, Yah. Bu. Lana malu.."
" Eits sudah sudah. Segala sesuatu mungkin terjadi ya ada hikmahnya. Sudahlah, yah. Kasihan ini menantumu masih hamil cucu kamu, jangan dibuat sedih apalagi stresss. " seru ibu Irsyana sambil melotot ke suaminya, yang masih memasang wajah tegang pada Saka.
" Iya iya, Lana .. ayah gak marah sama kamu, gak marah sama Saka. Apalagi setelah dengar cerita Saka barusan. Sudah gak usah sedih, ga usah dipikirin, ga usah stress." hibur ayah Langit sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal karena dari tadi si ibu masih melotot dengan ayah.
Lama lama ayah jengah dipandangin begitu oleh ibu.
" Alana itu malu, Yah. Dia bahkan sempat melarikan diri dari Saka saat di Singapura. Karena.ia gak mau sama Saka lagi. Untung aja ketemu. Saka takut kalau Alana hilang, Saka tidur sama siapa." perkataan Saka yang itu sukses mendapat gaplokan sayang dari ayahnya.
.
.
__ADS_1
.
TBC