
Obsesi dokter Michele untuk mendapatkannya sangatlah aneh, tapi Saka juga sadar kalau dia tidak bisa melarang seseorang menyukai dirinya. Dia sadar pesonanya diatas rata rata. (cihhh!!!)
“Aku gak bisa larang dokter itu suka sama aku, Yarr.. itu hak dia..” jelas Saka dengan
nada lembut.
“Tapi setidaknya kamu tolak dia dong..”
“Aku sudah menolaknya kemarin, Yaraakuuu. Pesonaku emang bisa menarik gadis muda untuk takluk padaku.” Goda Saka.
“CIhhhhhh!!! Pantessss!!! Kamu suka ya , mas? Disukai dokter gila itu?”tanya Yara dengan pandangan menyelidik sambil berdecak sebal.
“Sudahlah, gak usah membahas hal yang gak penting… aku gak suka dengannya.. titik!! Kita
bahas acara lusa memindahkan kamu ke rumah sakit Penang… gimana?”
“Aku mau secepatnya… gimana kalau besok langsung? Aku gak mau nunggu lusa..”
“Kenapa? Jadwalnya kan lusa?” tanya Saka lagi.
“Aku gak mau menunggu… aku gak mau ketemu dokter gila itu.”
“Tapi kamu kan tahu Alana minta pulang ke Indonesia, aku mesti mengantarnya dulu, ,,,”
“Kamu ajak aja dia…ke Penang dulu baru balik.”
“Kamu kan tahu, paman…”
“Biar Paman menjadi urusanku, mas… kamu tenang saja. “potong Yara dengan nada yakin.
“Okelah, apa yang menjadi keinginanmu aku berusaha untuk mewujudkannya.” Saka mengecup kening Yara dengan penuh perasaan.
“Mas, jangan kamu suruh Alana balik sendiri ke Indo ya, aku gak mau kalau dia dalam keadaan hamil dan pulang sendiri.” Cecar Yara lagi.
“Iya, aku juga tahu, aku gak mungkin ninggalin dia sendiri, setidaknya aku harus mengawalnya pulang.”jelas Saka dengan nada lembut.
“Eh iya, kamu gak bareng sama Alana?”
“Kamu kan tahu apa yang menjadi salah satu syarat dia menikah dengan aku??”
“Ehmmm iya, aku lupa…” kata Yara lirih.
“Dia juga mau jaga perasaan kamu dan tentu saja paman.” Saka tahu saat terakhir Yara
bertemu dengan Alana ada peran paman Yara yang membuat Alana murung, dia tidak
menyalahkan Alana maupun paman Yara. Mereka berhak untuk memiliki pendapat
masing masing dalam menilai hubungan mereka yang carut marut seperti ini. Bukannya ingin membela diri tapi kondisi hubungan mereka emang sudah aneh. Bukan sengaja ingin menjalin hubungan lain ataupun berselingkuh tapi emang dilakukan atas dasar persetujuan dari semua pihak yang terkait, demi kepentingan banyak pihak,
dan tanpa Saka sadari, ia jatuh cinta dengan Alana pada akhirnya.
“Pulanglah, mas! Aku sudah gak apa apa…. Kamu mesti jagain Alana juga, apalagi Alana sudah hamil anak kamu. Jangan sampai dia kenapa kenapa.” Kata Yara lirih.
“Tapi kamu kan…”
__ADS_1
“Sebentar lagi paman masuk, aku mau ngomong tentang acara besok dengan paman. Aku gak mau kamu disini saat aku berbicara tentang itu.”
“Kenapa? Apakah ini menyangkut Alana?”
“Paman keterlaluan, mas… Alana adalah keputusanku. Aku gak bisa membuat dia tersakiti lagi. Dengan hubungannya dengan akupun dia sudah banyak tersakiti,, dia bukan
ingin merebut kamu dari aku, mas! Dan aku tahu pasti tentang itu. Aku gak mau
paman menyudutkan dia. Pulanglah!”
“Baiklah… jangan terlalu emosi dalam berbicara dengan paman, kamu ngerti? Jaga kesehatanmu, aku selalu berdoa kamu sembuh dan kita bisa seperti dulu lagi.”
“Mas, maafkan aku…”
“Untuk apa? Kamu tidak berbuat kesalahan
dengan ku…”
“ Maaf karena sekalipun aku sembuh, aku sudah tidak bisa lagi memberimu kepuasan batin..”
“Yaraaaa!!! Hubungan kita bukan hanya tentang itu saja. “ potong Saka dengan nada tinggi, entah kenapa dia tidak suka dengan perkataan Yara.
“Pulanglah, salam buat Alana, jangan lupa ajak dia mengantarkanku besok.” Kata Yara
membuang mukanya, ia tidak ingin menangisi takdirnya.
“Yara, dengarkan aku… “
“Please, Mas… aku hanya mengungkapkan apa yang menjadi isi hatiku, maaf kalau itu menyinggung perasaanmu.”
“Yara…”
membelakangi Saka.
“Baiklah, aku pulang dulu sayang, istirahatlah.” Kata Saka sambil mencium pipi istrinya, tapi Yara tidak membalas. Saka hanya menghela nafasnya dengan kasar, dan
berlalu dari kamar itu, ia masih mencoba coba mencuri pandang siapa tahu Yara
berbalik, tapi sampai ia menutup pintu ruang rawat inap, Yara sama sekali tidak
memandangnya. Mata Yara terpejam, tapi dari sudut matanya mengalir air mata
yang mendadak tumpah keluar tanpa dapat ia tahan.
“Maafkan aku, Mas!” bisiknya lirih.
***
“Lana..” panggil seorang laki laki yang masih dapat Alana dengar, tapi suara itu adalah
suara orang yang ingin dia lupakan. Alana sedang duduk di café yang letaknya
dekat dengan rumah sakit tempat Yara dirawat, ia hanya ingin menunggu Saka
disana, sementara Saka mengunjungi Yara.
__ADS_1
“Kamu…” Alana hendak beranjak keluar untuk pergi dari café itu, tapi tangan laki laki
itu menahannya.
“Lana, aku hanya ingin berbicara sebentar.” Desak laki laki itu dengan nada memohon.
“ Aku tidak ingin mendengarkan.” Ujar Alana dingin. Alana kembali duduk di kursinya, laki laki itu menempatkan diri duduk di depan Alana, membuat Alana membuang wajahnya kesamping.
“Ck.. kenapa kamu malah duduk disini?” tanya Alana sambil berdecak sebal.
“Aku mau bicara sama kamu tentang kita.”
“Sudah gak ada kata kita dalam hubungan ini.”
“Aku tahu, maksudku aku mau menjelaskan kenapa …”
“Apa yang kamu lakukan disini… IRVAN SANJAYA? Pergi dan jangan ganggu istriku!!” bentak Saka penuh dengan penekanan dalam setiap kata yang ia ucapkan, banyak orang
yang akhirnya memandang kearah mereka, membuat Alana jengah dan menyentuh
tangan Saka dan menarik nya duduk disampingnya, serta mengkodenya untuk tidak melakukan tindakan melukai mantan suami Alana itu.
“Ehm, kebetulan kamu juga ada.. Narendra Sakabumi… aku sudah tahu tentang kalian dan pernikahan kalian, aku tidak bermaksud untuk mengganggu hubungan kalian, aku
hanya ingin mengatakan sesuatu rahasia yang berkaitan dengan kalian berdua.”
“Kamu jangan pernah bermimpi kalau kamu bisa mendapatkan Alana maupun Genta lagi, karena itu tidak mungkin.” Ujar Saka dengan nada datar dan dingin, matanya menatap Irvan dengan pandangan tajam, seandainya itu pisau maka yakinlah itu bisa untuk
mengiris tubuh Irvan menjadi potongan kecil kecil. Irvan menelan salivanya
berkali kali, ia salah tingkah dengan pandangan Saka yang berapi api seakan
ingin membumi hanguskan dirinya.
“Aku memang menantikan saat bertemu Alana dan…”
“Sudah kubilang, buang pikiranmu jauh jauh untuk kembali kepada mereka…” desis Saka
lirih, tapi penuh penekanan, ia tahu Alana tidak mau keributan mereka menjadi
konsumsi orang banyak, tangannya saja masih digenggam dengan kuat oleh Alana.
“Dengarkan penjelasanku dulu, Narendra… aku tahu apa yang aku lakukan dimasa lalu tidak termaafkan tapi aku hanya sedikit meminta pengampunan dosa dari kalian..”
“Cihh!!! Mudah sekali kamu meminta maaf….”
“Bby… sudahlah”
“Sayang, aku gak terima dengan apa yang ia lakukan dimasa lalu terhadapmu, aku sudah
berjanji kalau ketemu dia dimanapun aku akan menghajarnya sampai babak belur.”bantah Saka dengan nada emosi yang membulat bulat.
.
.
__ADS_1
.
TBC