Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Extrapart 16.


__ADS_3

Di Rumah Sakit.


Tuk tuk tuk.


Indra hanya mengetuk ngetuk meja prakteknya dengan pen yang ia bawa. Ia terngiang dengan perkataan Alana tadi pagi di mobil sesudah breakie.


flashback


" Kak, belajarlah membuka hatimu pada gadis lain. Menjauhlah dari sumber masalahmu. Obat sakit hati yang terbaik adalah dengan menemukan pengganti."


Perkataan Alana itu terulang seperti kaset rusak di pikirannya.


" Membuka hati? Menemukan pengganti? Arghhhhhh... seandainya ini semudah itu aku ga bakal kayak orang gila macam ini." monolog Indra sambil memikirkan perkataan Alana yang memenuhi otaknya yang berputar kayak hardware komputer.


Tok tok tok.


" Masuk!" kata Indra, ia tahu itu pasti perawat yang berjaga di depan ruangannya. Ia sudah tidak memeriksa pasien. Siang ini ia tugasnya di balik meja. Mengurus perkembangan Rumah Sakit yang sudah benar benar diwariskan padanya.


" Dok, ada dokter Rangga." info dari perawat yang berjaga di depan. Indra memang menantikan kedatangan sahabatnya si Rangga. Kayaknya sudah lama Indra dan Rangga jarang bertemu karena kesibukan masing masing. Si Rangga dan Kalandra lagi membangun chemistry dibantu oleh Saka dan Alana. Jadi selain praktek di rumah sakit mengurus kliniknya, Rangga juga sibuk mengurus Kalandra, supaya Andra dekat dengannya.


" Iya, suruh masuk!"kata Indra dengn dingin dan berwibawa.


" Ndra, ada apa kamu mencariku?" tanya Rangga dengn to the point, tanpa tedeng aling aling. Rangga sudh biasa untuk melakukan segala sesuatu dengan blak blak an dan apa adanya.


" Sudah lama aja kita ga ketemu. " basa basi si Indra.


" Boong banget!" decih Rangga dengan segera, ia sudah tahu apa yang bakalan Indra utarain. Gak akan jauh jauh dari masalah Alana.


" Kamu tahu banget?" umpat Indra dengn segera memdengar hinaan sahabatnya itu.


" Alana kan? Pasti ga jauh jauh dari itu." tebak Rangga dengan yakin.

__ADS_1


" Huum. Tadi pagi Alana berbicara berdua dengn ku." jelas Indra sambil.matanya menerawang jauh, ia membayangkan kecantikan Alana saat tadi pagi mengajaknya bicara.


" Gilak! Kemajuan. emang singanya kemana?" tanya Rangga dengan tatapan heran. Ia heran.karena kenapa Saka.tidak.ada untuk.menghalang halangi. Biasamya kan Saka menolak kalau Alana dan Indra hanya berduaan.


" Gak tau juga aku. Saka kan paling takut sama Lana. Jadi yah, mungkin Lana minta ijin sama Saka untuk bisa bicara berdua dengnnku. Tapi aku juga yakin kalau ia ada di sekitaran mobilku dengan membawa pistol kalau kalau aku meluk Alana,Saka pasti udah nembak aku dan beralasan pada Alana kalau gak sengaja. Huft." sahut Indra dengan wajah lelah. Bukan lelah dengan penantian cintanya sama Alana, tapi lelah ditolak oleh Alana.


" Ha ha ha, gitu kamu tahu kalau suaminya posesif. Sudah lelah mengejar?" tanya Rangga dengan gaya menjengkelkan bagi Indra.


" Alana minta aku mencari pengganti dirinya. Ia minta aku jangan menyakiti diriku lagi. Ia minta aku menjauh. Tapi aku juga sudah jelasin kalau aku gak bisa jauh darinya. Jauh darinya membuat aku sakit dan terlebih sakit. Masih baik kalau aku masih bisa melihat dia dari dekat. Aku masih rela. Gilanya, Ngga.. aku rela kalau dia mau menduakan aku. ****!! Segitu cintanya aku sama dia!" kata Indra sambil mengacak acak rambutnya dengn frustasi, sedangkan Rangga hanya bisa memandang temannya dengn raut kasian. Indra dan Saka adalah orang orang yang sudah terjerat dengan cinta Alana dengan begitu dalam. Sebenernya ia juga dengar dari Lio kalau Alana itu bener bener banyak penggemarnya. Bahkan katanya Alana juga sudah pernah memiliki suami sebelum dengan Saka, walau akhirnya berpisah.


" Kmu gila!! Kamu mjngkin mau jadi pria kedua bagi Alana. Tapi pertanyaannya apakah Alana mau? Apakah Saka rela? Jangan gila gitu;" bentak Rangga berusaha menyadarkan sahabtnya yang sudah tergila gila.


" Aakku mungkin terobsesi?" tanya Indra dengn lirih.


" Obat mujarab untuk melupakan Alana adalah dengan mencari pengganti." nasihat Rangga lagi.


" Alana juga bilang yang sama!" jawab Indra sambil.menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan bertumpu pada meja.


" Kalau semudah itu, aku ga akan manggil kamu." decih Indra.


" Aku bukan.dokter ahli jiwa, aku ahli penyakit dalam. " kilah Rangga lagi, apa yang dikatakannya benar, setiap dokter mau mendalami suatu major, ia harus belajar lagi dan menempuh pendidikan lebih lama. Rangga kan ga di bagian kejiwaan. Dia memdalami tentang penyakit dalam.


"Sialan, kamu pikir aku sakit jiwa?" tanya Indra dengan sewot.


" Ya begitulah kategorinya. Sakit jiwa karena cinta. Ha ha ha ha ." tawa Rangga membahana. Rupanya ia sangat bahagia bisa menjatuhkan sahabatnya itu. Sebenernya bukan sekali ini saja Rangga menasehati Indra. Ia sering melakukannya tapi dasar temennya aja tuh yang ga mau move on.


" Sialan!! Ngomong sama kamu malah bikin aku jadi tambah emosi." seru Indra sambil menyandarkan diri ke kursi nya yang empuk dan nyaman.


" Oke oke, maafkan aku. Aku cuman yah, kesel sama kamu. Bukankah aku sudah sering bilang untuk melupakan kisahmu dengan Alana. Dia wanita baik baik. Dia ga akan mungkin mau sama kamu. " jelas Rangga lagi. Ia bosan berbicara halis, Indra itu harus ditegesin.


" Iya, aku tahu." kata Indra lagi dengan lirih.

__ADS_1


" Apa papa kamu sudah bosan untuk jodohin kamu dengan anak temennya?" tanya Rangga dengan heran. Kayaknya sudah lama Indra tidak disuruh kencan buta.


" Ha ha ha, aku melakukan beberapa persetujuan dengan papa. Aku juga ingin mama Lina jadi mama aku, Ngga!!" kata Indra sambil tertawa terbahak bahak mengingat apa yang ia lakukan terhadap papanya. Itu membuat papa Indra mikir mikir kalau mau menjodoh jodohkannya dengan anak temannya.


" Bentar deh. Maksud kamu apa?" tanya Rangga dengan segera, ia ga ngerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Indra.


" Jadi gini, aku bilang sama papa. Kalau papa mau menjodohkan aku dengan anak anak temannya yang membosankan itu. Aku terima dan aku juga mau. Tapi aku juga ada syaratnya. Syaratnya adalah, papa aku juga harus mau dijodohin sama mama Lina sehingga mama Lina jadi mama aku. Gitu!" jelas Indra sambil tertawa lagi.


" Lalu? Papa kamu mau menerima persyaratan kamu itu?" tanya tangga dengan raut heran. Indra ini akalnya bulus banget. Rangga aja ga pernah kepikir untuk melakukan seperti yang Indra buat.


" Ha ha ha nah inilah lucunya. Papa aku bilang gini, Ndra cinta itu ga bisa dipksakan. Lhah dia bilang gitu sama aku, tapi dia sendiri mau maksain aku jatuh cinta dan menikah dengan jodoh yang ia pilihkan. Kan aneh?" tawa Indra membahana lagi, saat ia mengingat ekspresi dan tanggapan papanya yang cengo saat itu. Rangga juga tertawa saat itu.


" Kamu itu emang aneh! kamu emang ular kadut!! Licik!" lanjut Rangga lagi.


" Aku bakal menikah dengan gadis yang aku cintai dan mencintai aku. Itu yang aku mau. Seandainya Alana.."


" Sudah jangan ngomong tentang Alana lagi. Kapan kamu bisa move on kalau di otakmu itu isinya cuman Alana?" potong Rangga sebal.


" Seandainya Alana ada kembarannya..." racau Indra lagi.


" Dasar kutu kupret, kamu harus nunggu Sha jadi gede, karena Sha itu mirip Alana. Tapi mungkin saat kamu nikah sama Sha, halangan kamu adalah Saka dan Alana, dan mereka akan jadi mertua.."


" Dasar gila!! Kamu pikir aku pedofil? " Indra melempar pen yang ia pakai ke kepala Rangga yang terbahak bahak memikirkan idenya yang absurd.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2