
JANGAN LUPA VOTE YANG BANYAK YA... LIKE DAN GIFT YANG BANYAK...
SUPAYA DITENGAH KERJAAN YANG BANYAK THOR SEMANGAT UPDATE, THANK YOU🙏🏻
***
"Alana.." desis pak Raharja dengan geram. Wajahnya mengeras, giginya bertautan sampai berbunyi gemeletuk saking ia menahan emosi yang tiba tiba meluap melihat Alana. Baginya Alana adalah salah satu musuhnya yang layak dibasmi.
"Dasar j*lang!! Lagi lagi kamu yang menghancurkan seluruh rencanaku. Kamulah pembunuh Yara. Dasar pe**cur!! Aku pastikan kamu akan mati bersama Rangga." teriaknya sambill mengacungkan senjatanya. Orang orang yang tadinya tampak sibuk menahan orang orang pak Raharja tidak menyadari kalau pak Raharja membawa senjata.
Posisi pak Raharja tertutupi oleh Kalandra yang berdiri tepat di depan opanya, sehingga tak seorangpun yang bisa menahan ketika senjata itu diletuskan 3 kali.
"Tidakkkkkk!! Alanaaaaaa!" teriak Saka yang posisinya ada dibelakang Alana. Tubuh Alana ambruk dengan darah yang keluar dari tubuhnya. Saka tidak tahu bagian mana dari tubuh Alana yang tertembak Padahal posisi Alana begitu dekat dengan dirinya, tapi ia masih saja tidak bisa melindungi istrinya. Saka meraung seperti beruang yang kesakitan, melihat tubuh Alana yang ia dekap terkulai tak berdaya. Komandan yang posisinya paling dekat dengan pak Raharja langsung membekuk pak Raharja yang tertawa terbahak bahak setelah melihat Rangga dan Alana jatuh terkulai karena tembakannya.
Indra langsung mendekati Rangga untuk melihat bagian mana yang terkena tembakan, karena posisinya yang lebih dekat dengan pak Raharja peluru yang mengenai dadanya tembus sampai keluar. Rangga masih dalam posisi sadar.
"Lihat Alana, Ndra. Cepat!" Rangga dengan sisa tenaganya mendorong Indra untuk melihat kondisi Alana terlebih dahulu.
"Sak, biar aku lihat Alana." tolak Indra ingin meraih tubuh Alana yang pingsan
"Tidakkk, jangannn Alanaa" raung Saka masih saja mendekap tubuh istrinya yang bersimbah darah.
"Alana tertembak 2 kali, Satunya menyerempet pelipisnya, yang satunya ada sedikit di dadanya tapi yang di dada kayaknya pelurunya masih tertanam, ayo mereka harus segera kita selamatkan, bawa mereka ke Nashospital di dekat gedung ini." perintah Indra dengan cepat ingin menggendong Alana, yang segera ditepis oleh Saka, yang dengan sigap menggendong tubuh lunglai Alana.
Semua panik, pak Aji tidak menyangka kalau acara ulang tahun anaknya akan berakhir tragis semacam ini, Ia tidak menyangka kalua teman kongsinya pak Raharja adalah orang psycho yang kejam dan gila.
__ADS_1
"Andra, kamu ikut om ya. Kamu ga perlu takut, om ini masih saudara angkat papamu, yang itu juga." kata Lio sambil menunjuk Saka dan Alana yang pergi setelah Indra memerintahkan anak buahnya untuk membawa mobilnya. Lio berusaha membujuk Andra dan kasihan melihat anak itu yang hanya diam tak bergeming. Lio sangatt yakin kalau Andra juga shock melihat drama yang terpapar di depan matanya. Ia seperti melihat refleksi dirinya di dalam anak itu. Anak yang harus mengalami kehilangan orang tuanya dan orang yang mengasuhnya ternnyata adalah orang yang membunuh orang tuanya didepan matanya.
Kalandra hanya mengangguk dan menerima uluran tangan Lio yang menggandeng tangannya. Anak sekecil dia sangat bingung membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
"Om, Andra mau lihat papa." pintanya dengan suara lirih. Dia melihat dengan nata kepalanya sedniri saat opanya membunuh papa dan tante itu, ia seperti tidak mengenali opanya yang selalu baik , lembut dan penuh perhatian padanya. Lio hanya tersenyum dan mengangguk.
"Jangan khawatir, papa kamu orang yang kuat. Dia dokter yang hebat, kamu pasti bangga punya papa seperti papa Rangga." kata Lio membesarkan hati anak kecil itu, benar saja ketika ia mendengar bahwa papanya bak superhero, matanya jadi berbinar binar bahagia, ia bangga memiliki papa seperti itu.
"Iya om, Andra bangga punya papa, soalnya opa selalu bilang kalau papa mama Andra sudah meninggal." jelas anak itu, matanya kembali keruh, ia teringat peristiwa tadi lagi. Lio hanya bisa mengusap kepala anak itu dengan sayang dan menggandengnya menuju mobil untuk menyusul orang orang yang sudah berangkat ke rumah sakit.
Pak Aji dan anak buahnya juga sudah berangkat kesana. Segala kericuhan yang terjadi sudah dibereskan oleh pasukan berbaju sipil tadi, bahkan pak Raharja pun sudah dibekuk dan dibawa ke penjara menunggu keputusan dari atasan mereka. Lio berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit sambil menggendong Kalandra, ia tadi sudah nanya kepada receptionist rumah sakit tentang keberadaan orang yang menjadi korban tembak tadi, mereka bilang bahwa keduanya sedang dirawat di ruangan UGD, Lio langsung berangkat kesana.
Di luar ruangan ia memandang Saka yang tampak kacau. Tubuhnya penuh dengan darah Alana, kejadiannya sangat mirip dengan mimpi yang dialamai oleh Saka. Ia takut kejadiannnya akan sama persis dengan mimpi yang dialaminya yaitu kehilangan Alana untuk selamanya.
"Bos?" Saka tidak menghiraukan sapaan Lio. Ia hanya termenung.
"Maksudnya apa bos?" tanya Lio sambil menurunkan Kalandra dan mendudukannya agak jauh dari Saka dan dirinya supaya Kalandra tidak mendengar perkataan Saka yang mungkin akan sedikit ngawur dan tidak pantas didengar oleh anak kecil macam Kalandra.
"Alana selalu saja masuk rumah sakit gara gara aku, Alana selalu menjadi sasaran musuh musuh aku, Alana selalu menderita gara gara aku."
"Bos, Alana bahagia hanya bersama kamu, sebelum denganmu ia juga dikecewakan oleh Irvan kan? Apa kamu rela menyerahkan Alana kepada orang lain?" tanya Lio dengan seringai di wajahnya.
"Aku akan membunuh laki laki yang bersamanya!"
" Kamu tidak membunuh Irvan ketika Irvan menikahi Alana?" ejek Lio lagi.
__ADS_1
"Dulu aku hanya menghargai persahabatan." sahut Saka menerawang jauh.
"Seandainya aku tahu kamu menghargai Alana hanya sebagai sahabat kecil kamu, aku akan maju dan mengejar Alana." bisik Lio lirih yang masih bisa ditangkap dengan baik oleh telinga Saka, mata Saka langsung membulat, ia menatap Lio dengan tatapan yang setajam sinar laser, tapi Lio hanya menanggapinya dengan senyumnya yang dingin.
"Aku mendengarnya Lio!"
"Aku memang mengucapkannya untuk kau dengar! Kamu gak bisa lemah, kamu punya Genta dan Alendra.Apa kamu rela mereka aku angkat jadi anak aku?" Lio memang sengaja menggugah kesadaran Saka dengan kemarahan. Saka orang yang posesif, ia tidak akan rela kalau seandainya miliknya dimiliki oleh orang lain. Lio tahu betul itu.
"Kamu tidak bisa mengambil milikku."
"Berdooalah! Supaya Alana bisa sembuh, karena masih ada aku dan Indra yang akan mengejarnya kalau kamu sekali lagi melepaskan Alana," kata Lio dengan enteng. Ia yakin Saka akan meradang.Dan menjadi lebih kuat kalau ia marah.
"Enak saja!! Alana milikku dan aku takkan melepaskannya. "
"Lha tadi katanya kamu bintang sial Alana. Kalau kamu membawa sial buat Alana, gimana kalau Alana sama aku saja. Seingat aku dia ga pernah merasa tersakiti loh." perkataan Lio mulai berani, ia seperti menggugah beruang yang lagi tidur. Muka Saka sudah merah padam menahan amarah, rasanya ia ingin menghajar laki laki yang menggodanya itu, sekalipun ia adalah saudara angkatnya.
"Lioooooo!!!"
"Aku cuman bercanda, bos!!! Tenang, aku masih tahu diri. Ini semua adalah bagian takdir yang emang harus dilewati. Percayalah, Alana sangat mencintaimu, ia juga tidak akan meninggalkanmu. Ia wanita kuat dan mandiri yang pernah aku temui. Ia akan bisa bertahan. Tenanglah!!"
.
.
.
__ADS_1
TBC