Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 68. Resiko Orang Tampan


__ADS_3

Hai gengs...


thor kembali lagi membawa update.


Karena kesibukan mungkin thor hanya bisa berusaha setiap hari update, belum bisa crazy update


Hari ini Saka masih jadi trend setternya ya. Dibully rame rame yuuuuu🤣🤣🤣


Jangan lupa like dan votenya.


Makasi banget buat voters aku. Tanpa kalian, aku hanya remahan rengginang. 😂😂


Jangan lupa di..


like like like like like like like


like like like like like like like


Dukung thor dengan


vote vote vote vote vote vote


vote vote vote vote vote vote


jangan lupa juga buat baca karyaku yang lain ya....


Terjebak dalam tubuh Keyra.


Menikah dengan ipar


Rasa itu masih ada.

__ADS_1


Kalau mau ikut di grup untuk dapet poin gratis dariku juga silahkannnn.


Yukk langsung baca aja.


Happy reading.


Salam dari thor cantik pengemis like dan vote. Muachhhhhh muach 💓💓


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sementara pagi hari di Penang.


"Mas, kamu gak sarapan dulu?" tanya Yara sambil menyodorkan sandwich dan mengambil dasi yang ada di tangan Saka, Yara hendak memasangkan dasi seperti biasanya.


"Aku langsung ke kantor dulu saja, Yar. Aku masih ada meeting dengan pemilik saham di hotel." jawab Saka sambil menerima sandwich dari tangan Yara, dan membiarkan memasangkan dasi untuk Saka. Yara sekarang tinggal di apartemen yang dibeli Saka karena sejak 3 bulan yang lalu Yara sudah tidak mau tinggal di rumah sakit. Saban kali ia ada di rumah sakit ia malah tambah drop. Mungkin karena pengaruh depresi selama dirumah sakit. Ia mulai bosan ada di rumah sakit. Oleh karena itu Saka membeli apartemen yang letaknya sangat dekat dengan rumah sakit Yara.


"Gimana dengan kondisi kamu, Yar?"


"Mas, kita pulang ke Indonesia saja ya."


"Mas, terima saja kenyataan kalau aku gak bisa sembuh. Di akhir sisa hidupku biarkan aku melakukan apa yang aku sukai. Aku juga ingin menjagai Alana yang sedang hamil. Dan lagi Mas, aku lihat kamu kok jarang pulang ke Indonesia, kasihan Alana harus berjuang sendiri." ujar Yara sambil membawa tas Saka, karena Saka tampak tergesa gesa bahkan hanya untuk sekedar makan pagi saja.


"Iya, aku juga merasa bersalah. Aku punya kepikiran kalau pas Alana hamil 9 bulan semua urusan bisnisku disini udah selesai, jadi aku bisa nungguin Alana full di sana. Ini urusan bisnis di hotel sama di Resort baru itu masih numpuk, dan harus segera diberesin. Aku juga kepingin nungguin persalinan Alana dan dedek" ujar Saka dengan nada lembut. Ia tidak ingin menyakiti Yara dengan perkataannya, karena bagaimanapun Yara juga istrinya yang mengijinkan dirinya dan Alana menikah.


 " Mas, kamu juga harus perhatiin Alana dan bayi yang dikandungnya. Jangan cuman kerja saja. Disinipun kamu juga kerja berangkat pagi kayak gini, pulangnya hampir tengah malam." protes Yara dengan nada santun. Ia tidak mau membuat Saka marah dengan argumennya. Ia merasa Saka berambisi meraih yang lebih lagi untuk bisnisnya. Entah apa yang ada di pikiran Saka.


" Hmmh." Saka hanya berdehem ria menjawab argumen yang diberikan Yara kepadanya. Apakah dia kangen dengan Alana? Jelas, ia sangat kangen. Bukan hanya dirinya, Juniopun rindu sarangnya. Tapi apa daya, kadang Saka tenggelam dalam pekerjaannya yang tidak pernah habis.


Yara hanya mendesah. Ia tahu ucapannya hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan Saka. Obsesi membangun kerajaan bisnisnya membutakan hati Saka akan tujuan nya semula.


" Aku pergi dulu. Gak enak kalau sampai telat meeting. Walaupun aku ini bosnya tapi memberi teladan yang baik pada anak buah adalah kewajibanku. Kamu istirahat, minum obat dokter, nanti Via, pengawal kamu yang akan antar kamu ke dokter untuk check up harian. Mengerti kan?"

__ADS_1


" Ya."


***


" Vela, semua dokumen untuk meeting sudah kamu siapin?" tanya Saka kepada seorang gadis cantik, yang berusia sekitar 20th dan memakai kemeja ketat warna abu dan rok span diatas lutut. Ia bernama Marvela, biasa dipanggil Vela, ia sebenarnya adalah keponakan pak Burhan, salah satu pemegang saham di kantor Saka.



" Semua sudah siap, pak." sahut Vela dengan nada suara yang lembut menggoda. Namun, Saka hanya menanggapi sekretarisnya itu dengan datar dan dingin. Ia sama sekali tidak menikmati pemandangan yang seharusnya menggetarkan iman kaum adam. Pikiran Saka sebenarnya tidak sedang ada di kantor. Ia tiba tiba merindukan Alana. Karena tadi malam ketika ia mencoba menghubungi ponsel Alana, tidak juga tersambung. Saat ia menghubungi rumah ART bilang semua sudah pada istirahat. Gak biasa biasanya seluruh rumah sudah tidur pada jam jam segitu.


" Perasaanku gak enak deh. Aku akan mencoba suruh Lio datang kerumah." gunam Saka lirih.


" Apa pak? " tanya Vela, karena Vela mendengar Saka berbicara namun ia tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Saka. Vela memajukan badannya supaya telinganya lebih jelas menangkap, efeknya belahan dada milik Vela pasti bisa dilihat oleh Saka. Tapi Saka hanya mengernyit tidak suka melihat Vela mendekat dengan posisi yang sangat intim.


" Vela, apa yang kamu lakukan? Saya tidak suka kalau kamu dekat dekat seperti ini. Kamu kan juga tahu kalau saya sudah menikah?" sergah Saka dengan nada ketus. Ia tidak menyukai cewe agresif seperti Vela.


" Maaf pak." sahut Vela lirih, ia kaget Saka sama sekali tidak tergoda dengan tubuhnya. Padahal ia sudah mati matian berdandan, hanya untuk bos dingin yang ia kagumi diam diam.


" Jangan diulangi lagi dan tolong berpakaianlah yang sopan sesuai SOP kantor kita. Pakaian kamu terlalu terbuka, dan seperti cewek penggoda saja." ujar Saka masih dengan nada ketus, karena perilaku Vela membuyarkan lamunannya tentang Alana.


' Emang saya kepingin menggoda kamu, bos. Tapi sayangnya kamu tidak tergoda. Huft, sialll!,' pikir Vela dalam hati. Ia malu ditegur seperti itu. Ia tahu Saka punya istri yang sakit sakitan, yaitu Ivara, kalau ia bisa menggoda Saka dan membuat Saka menikahinya, kan lumayan walau hanya jadi istri kedua. Tapi Vela gak tau kalau Saka bahkan sudah punya istri kedua, masa ya Vela mau daftar jadi yang ketiga.


Tapi siapa yang gak naksir sama Saka, wajahnya yang tampan, kulitnya yang putih, badannya yang atletis, terlihat macho dan mengairahkan. Satu lagi poin pentingnya, Saka sangat tajir melintir. 😂😂


" Jangan diam aja. Segera siapkan dokumen di ruang meeting. Saya ingin sendiri dulu. Jangan diganggu. " ujar Saka lagi dengan nada dinginnya. Vela langsung ngacir, ia tidak mau lagi menerima kemarahan dari bosnya yang kayaknya tidak dalam mood yang baik.


Setelah Vela menutup pintu ruangannya. Saka langsung menghembuskan nafas kesal. Baginya inilah Resiko Orang Tampan. Ia sering sekali menerima tamu cewe cewe gak jelas, yang nyata nyata suka menggodanya terang terangan. Eh sekarang malah diperhadapkan oleh sekretaris keturunan pelakor. Mau dipecat, kerjanya bagus, mau dipindah sementara dia masih belum punya gantinya, apa dirolling aja ya dengan Lita atau Alex di kantor pusat. Hmmh ide bagus.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2