Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
117. Keberadaan Yara


__ADS_3

Hai readerrrrs


Welcome back readersss


Thor berterimakasih buat readers sekalian yang sudah membaca cerita ini.


๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Thor selalu sempetin untuk up agar kalian bahagiaaa๐Ÿ˜† walau ini agak molor molorrr waktu updtenya dan i am so sorry banyak typo karena ga pake edit langsung send.


Tetep ya vote yang banyak supaya thor semangat๐Ÿ’ช๐Ÿป๐Ÿ’ช๐Ÿป๐Ÿ’ช๐Ÿปdan like setiap sudah bacaaa yaaa,๐Ÿ˜˜


Author sangat amat berterima kasih buat readers yang sudah meluangkan waktu dan upaya buat nge vote tanpa paksaan karena berarti reader menghargai author yang sudah susah payah bikin cerita ditengah kesibukan yang ada. Sekali lagi makasihh๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Oleh karena itu plissssss, jangan lupa like ( ini gratisssss) dan votee ( ini juga gratis kokkk) hanya butuh wktu sih buat like dan vote


๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜‹ Pantengin karya thor lainnyaaaa


Jangan lupa vote like vote like vote like vote like๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡


Happy reading!!!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


" Sudah dibenerin ya perban dan jahitan lukanya. Makanya tuan, jangan tindih menindih loh ya, lukanya belum kering, kalau bisa puasa dulu aja deh jadi ga usah jerit jerit kesakitan kayak gini saat diganti perbannya." goda dokter itu lagi, yang membuat Saka hanya bisa menyunggingkan senyum ditengah kejengkelannya.


" Kalau tidak ada yang lain saya permisi dulu " lanjut kata dokter itu sambil pamit undur diri.


" Kamu loh , Bby! Bikin malu aja deh! " kata Alana yang wajahnya masih merah katena malu.


" Eits kita ini sah, sayang! Kan ga dosa!" bantah Saka dengan senyum menggoda. Saka ingin Alana tersenyum, walau ia juga tahu sangat bert tersenyum ditengah goncangan seperti ini.


" Bby, kadang aku pingin ga ada masalah, hidup lancar lancar saja. " kata Alana sambil mendesah lelah. Ia merasa kehidupan begitu berat walau ia juga bersyukur ada Saka yang jadi tumpuan saat ia terpuruk seperti ini.

__ADS_1


" Ditengah badai pasti ada pelangi! Percayalah! Mungkin papa merasa lega sekarang karena beban rasa sakitnya hilang. Bukankah dia sudah tersiksa selama ber puluh tahun. Raganya sudah bebas, Sayang. Kamu harusnya bersyukur." jelas Saka menghibur istrinya.


" Tapi, aku belum bisa buat bahagia. Aku hanya menyusahkannya saja." kata Alana sambil menitikkan air matanya.


" Balas budimu kepada papa tidak akan pernah bisa selesai dihitung, harus terus menerus sampai hayat terpisahkan. Tapi kamu sudah melakukan yang terbaik kok, sayang. Papa selalu bangga sama kamu. Itu pernah papa katakan kepadaku saat aku datang membawa perawat laki laki untuk membawa papa keluar jalan jalan." kata Saka sambil matanya menerawang jauh. Ia ingat kata kata papa Alana yang waktu itu sempat menitipkan Alana kepadanya. Supaya Saka menjaga permata hatinya itu. Papa merasa bersalah karena dikehidupannya Alana selalu dirundung masalah. Papa merasa membuat Alana terus menerus menderita.


" Sayang, maafkan aku ya, aku juga sering buat kamu gak bahagia. Dengan status kamu dan sebagainya. Tapi yakinlah, aku juga mencintaimu meski mungkin untuk saat ini cintaku belum sempurna, masih ada Yara yang menempati sebagian hatiku. Maafkan kalau kamu merasa aku belum adil, maaf karena aku selalu membawamu kedalam jurang kesedihan dan keadaan yang tidak mengenakan. Aku mencintaimu." kata Saka sambil mengecup kening Alana yang hatinya menghangat karena ucapan Saka itu. Ia tahu kalau Saka mencintainya, Alana juga tahu kalau Saka sudah berusaha untuk tampak adil, karena ia juga tidak mau dianggap mengabaikan Yara.


Dunia memang tidak sempurna, jangan harapkan kisah cinta yang selalu sempurna bak kisah dongeng pangeran tampan yang mempersunting upik abu yang miskin harta namun cantik jelita, begitupula dengan cinta mereka berdua.


Begitupula dengan Alana dan Saka. Selalu saja ada yang mencelanya. Kehidupan Alana sebagai istri kedua selalu menuai cibiran dan cemoohan. Saka dianggap sebagai pria yang tidak setia dan dianggap tidak bisa menjaga hati kepada satu orang wanita. Apalagi Yara, ada yang memujanya karena kasihan dan menganggap bahwa Yara adalah sosok yang karena ketidaksempurnaannya membuat suaminya berpaling. Ada yang mencemooh dianggap selalu menyusahkan, hidup itu memang begitu, gak ada yang sempurna guys๐Ÿ˜˜. Kesempurnaan hanya milik Allah semata kan?


Back to Saka dan Alana..


Deep talk yang mereka lakukan membuat mereka sadar, bahwa mereka emang terikat karena Allah menentukan begitu. Kita sebagai pelakon hanya wajib melakoni dengan penuh rasa syukur. Wajah Saka sudah mendekat ke arah Alana. Alana pun hanya diam tanpa respon. Alana membiarkan apa yang akan Saka lakukan pada dirinya.


tok tok tok cekrek


" Bos, eh.. maaf maaf." kata Lio sambil membuang muka. Ia tahu pasti bosnya lagi ingin mesrah mesrahan bersama istrinya. Tapi kabar yang ia bawa sangatlah penting. Menyangkut perusahaan dan juga Yara.


" Pintu berfungsi untuk memisahkan antar ruangan, bos!" jawab Lio dengan enteng dan polos, jawabannya membuat Alana menyemburkan tawa yang sangat absurd, antara ketawa karena Lio konyol atau karena Lio yang polos.


" Pintu yang tertutup fungsinya adalah diketuk, Lio! Coba bayangkan kalau aku sama Alana lagi wik wik wik, emang kamu ga dosa melihat kami?" tanya Sak ketus.


" Bos tadi sebelum saya buka saya juga mengetuk bunyinya tok tok yok." jelas Lio dengan pandangan tidak bersalah.


" Masa? Aku kan belum ngijinin kamu masuk."


" Eh, ya bener juga. Tapi kabar ini penting, bos!"


" Apaan?"


" Pak Burhan sadar setelah koma beberapa waktu yang lalu kan?"

__ADS_1


" Oh ya? Trus di bilang apa?"


" Dia mau ketemu si bos, dia ga akan bicara kalau bos gak nemuin dia."


" Argggh, kamu tahu kan betapa aku membencinya. Secara tidak langsung ia yang bikin aku kayak gini!"


" Hmmh sebenernya sayabdah bilang gitu, bos! Tapi ia berkeras kalau ia akan menyimpan rahasia sampai mati."


" Gilakkkk!! Kalian gimana sih? Malah dia yang nyetir kita. Jeblosin ke penjara saja, Yo!" kata Saka geram.


" Bby! sabar.. kamu harus sedikit mengalah, supaya dia mau mengatakan dimana Yara." kata Alana sambil menyabarkan prianya yang tampak menahan amarah. Saka memang masih ada di brankarnya, tapi sebenarnya ia sudah bisa turun dari brankar dan berjalan walau harus pelan pelan, karena luka bekas tembakan di dadanya akan terasa nyeri kalau dirinya melakukan aktifitas berlebih.


" Hmmh" Saka masih tidak berkomentar apa apa selain deheman.


" Bby, temuilah! Kita juga harus memakai strategi. Jangan karena ego kita, Yara yang tersiksa. Okey?" kata Alana lagi sambil mengelus tangan Saka yang ada di dalam jangkauannya. Saka memandangi wajah Alana lama sebelum kemudian memgangguk.


" Bawa aku menemui ba**ngan itu. Kalau sampai Yara kenapa kenapa, aku pastikan dia juga tidak akan hidup lagi. " kata Saka dengan datar, ia berpikir kalau apa yang Alana katakan itu benar. Maka ia berusaha memenuhi permintaan Alana.


" Bos, tunggu sini, saya akan ngambil kursi roda untuk membawa bos kesana." kata Lio dengan wajah gembira. Sekarang ia hanya perlu berkata kepada Alana kalau ingin menyuruh Saka. Saka sudah terjerat akan Alana. Dia akan mencoba menuruti segala keinginan Alana. Tapi semua laki laki yang normal pasti akan terjerat karena Alana memang memiliki daya tarik yang lebih.


Lio sudah menyiapkan kursi roda dan membantu Saka untuk menemui pak Burhan. Alana hanya diam dan mendorong kursi roda Saka, sedangkan Lio hanya berjalan disisi Alana.


Ruangan dimana pak Burhan dirawat berada di bangsal kelas 1, dia hanya sendirian disana. Dua orang dari anggota kepolisian berjaga di depan pintu rawat inap pak Burhan. Pantas saja karena pak Burhan adalah tersangka pembunuhan Saka, walau akhirnya Saka tidak meninggal, tapi pak Burhan terjerat pasal pembunuhan terencana dan tersangka penculikan Yara.


" Kamu datang juga, Narendra!" kata pak Burhan dengn senyum sinis yang menghiasi wajahnya yang tampak pucat.


" Hmm, sekarang katakan dimana Yara?" kata Saka dengan suara dingin. Dia malas berbasa basi kepada seorang penjahat macam pak Burhan ini.


" Dia ada di.."


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2