Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
86. Masih sama


__ADS_3

Jangan lupa vote like vote like vote like vote like๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡ karena vote like dan juga gift itu men support authornya dalam memberikan mood buster.


Sambil nunggu update, bisa cek karya thor yang lain.๐Ÿ˜˜


Happy reading!!!


***


" Nona Lita? " panggil dokter Indra.


"Ah dokter? Maaf, ada perlu apa ya? Adakah perkembangan pasien yang perlu saya tahu?" tanya Alana dengan pandangan wajah heran.


" Maaf, mungkin saya terlalu mencampuri, apakah hubungan anda dengan pasien?" tanya dokter Indra dengan pandangan menyelidik.


Alana tidak langsung menjawab, ia hanya memandangi wajah dokter tampan itu dan mendesah perlahan. Alana menangkap sinyal suka di mata dokter Indra kepadanya. Alana tidak ingin ke ge er an, tapi ia percaya pada feeling dan intuisinya.


" Dok, mari kita bicara sambil duduk di selasar taman depan. Kehamilan saya yang sudah mencapai minggu minggu akhir ini sangat menyiksa kaki saya dok. Tidak keberatan untuk duduk berdua bersama seorang wanita hamil yang bengkak kan dok?" tanya Alana sambil dengan berani memandang ekspresi wajah dokter Indra dengan intens. Sedangkan yang ditatap malah tampak malu malu.


Oh duniaa, betapa terbalik, seharusnya cewe yang malu malu, sekarang malah cowo nya yang malu malu. Yah tak heran, karena Alana emang tak menyimpan perasaan apapun kepada dokter Indra sekalipun tak dapat dipungkiri dokter Indra memang tampan.


" Tentu tidak keberatan, duduk berdua bersama wanita secantik anda merupakan keberuntungan bagi saya." jawab dokter Indra sambil menaruh tangannya di tengkuk tanda ia sedikit salah tingkah.

__ADS_1


" Ha ha ha, dokter bisa saja. Duduk dengan wanita hamil seperti saya bisa menurunkan pasaran anda, dok!" sahut Alana dengan tawa yang menghiasi pipinya. Alana tampak seperti orang yang busung lapar. Gimana tidak? Kalau sebiasanya wanita hamil pada tri semester terakhir macam Alana itu akan tambah bobot secara signifikan. Lha ini Alana hanya tampak perutnya dan dadanya yang tampak berisi, sedangkan wajah, tubuhnya yang lain biasa saja. Kecuali kakinya yang akhir akhir ini sering bengkak. Mungkin karena efek kecapean juga.


" Untuk wanita seperti anda, saya rela." sahut dokter Indra diplomatis sambil mengikuti Alana duduk di kursi taman yang tak jauh dari ruang rawat inap Saka.


" Oh ya dok, langsung to the poin aja. Apa yang hendak dokter tanyakan berkaitan dengan kesehatan pasien ?" tanya Alana tanpa basa basi. Semakin kesini ia tambah yakin kalau dokter itu menaruh hati kepadanya.


" Hubungan anda dengan pasien, nona?" tanyanya lugas.


" Maaf, apa ini berkaitan dengan pasien?" tanya Alana sambil memandang mata dokter Indra untuk mencari kejujuran disana. Walau perasaan Alana mengatakan bahwa Alana harus menjauhi laki lkai ini karena kayaknya laki laki ini ada rasa padanya.


" Bisa ya dan bisa tidak! " sahut dokter Indra dengan cepat. Ia tahu sebenernya gak boleh nanya sesuatu yang tidak berkaitan dengan privasi pasien. Tapi ia naksir dengan gadis didepannya. Siapa tahu ia masih ada peluang. Setidaknya bisa berteman baik dulu dengan gadis di sampingnya itu. Alana hanya mendesah pelan. Ia harus memberi ketegasan dan tidak memberi peluang harapan palsu kepada dokter itu.


" Dok, maaf, dari awal emang saya tidak jujur kepada dokter. Sebenarnya, saya Alana, istri dari pasien yang dokter rawat. Tadi adalah anak saya yang pertama dan ini anak saya yang kedua." jelas Alana tanpa berbelit. Ia tahu ia tidak bisa memberikan pengharapan yang nanti malah akan semakin membuat dokter itu terpuruk. Makanya ia bercerita apa adanya saja.


Alana hanya menghela nafasnya, masa dokter itu masih ngeyel bukannya ada bukti jelas bahwa perutnya itu melendung karena hamil, bukan karena makan kekenyangan๐Ÿ˜, jadi pastinya ia punya suami atau minimal punya pasanganlah. Masa ya naksir ama emak emak macam dirinya.


" Dok, terserah pendapat anda. Yang pasti begitulah kenyataannya. Emang status saya ada kaitannya dengan penyakit pasien? " tanya Alana dengan pandangan menyelidik.


" Ehm, ada! Kalau tidak salah saya mendapatkan laporan dari suster yang mengecek kondisi pasien setiap malam, pasien mengigau, ia menggunamkan nama yang tidak jelas. Makanya kalau emang ada hubungan suami istri, kemungkinan andalah yang ia igaukan. Pendekatan anda akan mempercepat pemulihan paaien. "jelas dokter Indra, walau rasa dalam hati nya tercabik cabik, tapi ia tetap harus profesional kan?


ใ€€

__ADS_1


" Oh ya? Baiklah, itu akan menjadi pertmibangan saya untuk lebih intens membangunkannya dari koma nya. Tapi dia tidak memiliki penyakit apa apa kan? " tanya Alana dengan nada khawatir. Ada perasaan sesak yang mendera dokter tampan itu, saat Alana memperhatikan pasien yang ia rawat. Ya iyalah kan pasien dokter itu kan suaminya Alana๐Ÿคฆ๐Ÿปโ€โ™€๏ธ.


" Tidak nona Lita, ehm maksud saya nona Alana. Nona bisa berkonsultasi dengan saya mengenai pasien. Nona bisa menghubungi aaya kapan saja, baik siang ataupun malam." jelas dokter Indra membuka peluang untuk Alana menghubunginya. Mungkin ia bisa berteman dengan Alana dulu. Siapa tahu kalau mereka tidak lanjut kan dia bisa mendekati Alana ini.


" Ah terimakasih dokter. Saya sangat menghargai perhatian anda, dok." lanjut Alana sambil menjabat tangan dokter itu, sambil beranjak menuju ruang rawat inap Saka lagi. Ia ingin menjenguk suaminya. Alana bertekad Saka harus bangun. Dan kalau emang ia bisa membangunkan Saka maka ia akan lakukan.


Alana membuka pintu ruangan Saka, kondisi Saka masih sama, ia terbujur di tempat tidurnya dengan banyaknya selang dan alat bantu pernafasan. Genta juga masih setia menggoyang goyangkan tubuh daddynya. Genta berharap daddynya bangun dan mengajaknya bermain.Sudah lama Saka tidak mengajak Genta bermain. Pemandangan itu membuat Alana kembali merasakan sesak di dalam dadanya. Bahkan perutnya juga terasa mulas. Seakan akan anak di dalam kandungannya protes karena daddynya tidak mengelusnya apalagi menjenguknya.


" Genta, cucu kakek tersayang, yuk kita keluar sebentar. Biar dulu daddymu tidur, dijaga oleh mommy mu. Genta , kakek dan nenek beli mainan di wahana permainan yang kakek janjikan tadi. Kalau kita kelamaan nanti mallnya tutup loh." bujuk ayah. Ia turut sedih melihat Genta sedih. Walau ia tidak mengeluarkan air mata, ayah yakin Genta kecewa. Daddynya tidak bangun walaupun ia mengguncang guncangkan lengannya.


" Tapi, daddynya Genta belum bangun." protes Genta dengan nada khas anak kecil yang menggemaskan.


" Mungkin daddy masih ngantuk. Nanti kalau Genta selesai main, kita bangunin lagi, okey?" bujuk ibu Irsyana menahan air mata yang siap meledak melihat ketulusan cucunya untuk melihat daddynya bangun dan mengajaknya bermain bersama.


ใ€€


ใ€€


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2