Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
111. Harta yang berharga, Keluarga!!!


__ADS_3

Ayo klik vote dan likenya dongg, ceritanya kan emang harus ada up and downnya ha ha haπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» Yang udah vote ... i lap yu pullllll


Mau sedikit cerita ya, jadi ini itu harus diedit dan di revisi ulang, karena ada sedikit mis komunikasi dri awal saja dengan editor. Jadi ini ceritanya harus diselesaikan di satu buku.. ntar penjabaran di buku yang satunya. Karena belum bisa edit beneran jadi yang buku satunya dipindah langsung kesini.


Oleh karena itu plissssss, jangan lupa like ( ini gratisssss) dan votee ( ini juga gratis kokkk) 😭😭😭... biar review dan updatenya bisa cepet.


πŸ˜˜πŸ˜πŸ˜‹


Jangan lupa vote like vote like vote like vote likeπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Happy reading!!!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sekarang, keinginan Saka hanya untuk bermain bersama anak anaknya, pengalaman hampir kehilangan baby Al membuat dia sadar kalau keluarga adalah hal yang paling penting walaupun mencari uang juga hal yang penting juga. Jadi saat ini Saka masih menghabiskan sebagian besar waktunya untuk keluarganya.


" Tapi, bosss.."


" Yo, carilah pacar atau istri, Alana mulai curiga sama kamu!" kata Saka sambil menaikkan satu alisnya.


" Lha kenapa sih, bos?" tanya Lio bingung, apa hubungannya punya pacar dengan dicurigain Alana.


" Kamu tahu kan Alana dekat sama ibu suri?" tanya Saka sambil berbisik. Lio tahu ibu suri itu ibu Irsyana. Ia paling segan dengan ibu Irsyana.


" Iya, apa hubungannya?"


" Alana curiga kalau kamu itu penyuka sesama jenis! Karena kamu ga pernah punya pacar dan ga pernah mau pacaran."

__ADS_1


" Hah????!!"


" Kamu kan tahu dia masih trauma masalah Irvan dan yang kutakutkan dia akan melapor sama ibu, trus kamu dijodohin dehhhh!!" kata Saka sambil tertawa lepas dan melenggang masuk ke dalam rumah megah seperti istana itu. Sedangkan Lio masih termenung di luar rumah karena perkataan Saka yang membuatnya shock. Astafirullahhhhh! Saya masih normal bos, gak suka main pedang. Cuman karena belum ketemu jodohnya saja. Saya kan punya kriteria cewek idaman, boss!! pikir Lio dengan muka yang kecut. Resiko usia mapan, kehidupan mapan dan belum punya gandengan ya begini ini. Ada kecurigaan penyimpangan s*x.


Lio mendesah dan mengikuti jejak Saka masuk ke rumah besar itu. Lio memandangi Saka yang sedang menggendong Genta yang langsung menyapanya, dan meminta gendong dengan Lio.


***


" Bby, sudah pulang?" tanya Alana yang baru saja menaruh baby Al yang baru saja Alana selesai mandikan.


" Iya, sayang! Sini baby Al sama daddy..."


" Nope, daddy! Daddy mandi dan bersih bersih dulu baru boleh cium cium baby Al yang sudah bersih dan sudah wangi, okey?" kata Alana sambil mendorong tubuh Saka untuk segara masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang baru saja dari luar rumah.


" Ehm kalau ga boleh cium anaknya, boleh gak kalau cium cium mommynya yang cantik dan selalu menggoda daddynya untuk selalu mendengarkan mommynya mendesah.." kata Saka yang langsung menerima cubitan di pinggangnya yang tak berlemak.


" Mommy kok dorong dorong daddy ke kamar mandi emangnya mau mandiin daddy?" tanya Saka sambil.mengelus punggung Alana dengan mesra.


" Daddy, ini masih sore. Jaga tangannya gak gerak ketempat tempat.. ahhh!" perkataan Alana terpotong karena tangan Saka membelai tepat di titik sensitif yang sudah diketahui oleh suaminya, yang membutnya secara tidak sadar mendesah. Alana langsung menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Baby Al masih bermain di box baby dekat ranjang mereka. Ia tak mau membuat babynya mendengar suara suara yang aneh seperti itu.


" Kalau gak sore brarti mau ya? " tanya Saka lagi, sambil menarik tangan Alana dan menciumnya dengan mesra.


" Huum." jawab Alana dengan wajah merah. Walau sudah sah dengan Saka dan sering melakukan hubungan intim, tapi entah kenapa ia selalu malu kalau diajak roman romanan macam begini.


" Oke, janji ya mommy. I love youuuu!" kata Saka senang sambil mengecup bibir Alana singkat. Saka langsung masuk ke dalam kamar mandi untik membersihkan diri. Biasa kalau sore hari seperti ini ia menyempatkan untuk bercanda tawa dan bermain bersama Genta dan Alendra. Sesaat pikirannya akan misteri hilangnya Yara pun sedikit teralihkan. Sekalipun Saka sering bingung apa yang sedang terjadi dengan Yara, dan kenapa Yara pergi meninggalkannya tanpa pesan dan tanpa ijin. Kalau pergi ijin mah bukan hilang tapi holideiii babang Saka!!πŸ˜…πŸ˜…


Keluar dari kamar mandi, Saka tidak mendapati Alana dan baby Al di dalam kamar. Oleh karena itu Saka dengan tenang melepas handuk yang ia pakai dan berjalan tanpa sehelai benang ke walk in closet miliknya dan mencari pakaian serta memakainya dengan santai.

__ADS_1


Setelah memakai kaus polos warna putih dan celana bermuda warna navy, Saka pun bergegas keluar dan memcari orang orang tersayangnya, yang ia tengarai ada di ruang santai dekat kolam renang dan taman belakang. Genta dan orang tuanya sedang duduk duduk disana. Genta dipangku oleh ayah Langit.


" Yah, Bu, Alana dan baby Al dimana?" tanya Saka sambil mebcari keberadaan Alana dan baby Al ke sekeliling tempat itu.


" Baru pulang? Mana Lio?" tanya ibu Irsyana.


" Saka nanya malah ditanya balik, gimana sih ibu? " sahut Saka cemberut. Ibunya hanya tertawa melihat anak tunggalnya yang tampak alay.


" Alana paling masih di kamarnya Genta dan baby Al, mungkin menyusui baby Al, dan menyuruh baby sitter untuk jagain baby Al dulu.Baru kemudian bantu maid untuk siapin makan malam buat kita. Kayak kamu ga tau istri kamu saja!" jelas ibunya dengan senyum di wajahnya yang masih tampak cantik diusianya yang sudah lebih dari setengah abad.


" Ooohh." jawab Saka singkat karena ia masih sibuk bermain dengan Genta.


" Gumana dengan usaha pencarianmu ? Katanya siang ini kamu bertemu dengan paman Yara? Gimana hasilnya?" tanya ayah Langit ingin tahu tentang perkembangan usaha pencarian Yara. Ini sedikit mencurigakan karena setiap jalan yang ditempuh seakan menemui jalan buntu.


" Paman Yara menyangkal menculik Yara. Arghh, Lio juga berkata yang sama seperti kata Alana. Ia jadi tidak yakin kalau Yara hilang karena pamannya menculiknya." kata Saka sambil menyugar rambutnya dan menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya.


" Lalu siapa yang menculiknya? Apa mungkin benar kalau ada yang bilang kalau Yara pergi sendiri karena merasa tersisihkan. " kata ayah sambil matanya menerawang jauh. Ia berpikir keras, siapa dalang semua kekacauan ini.


" Saka ga tau, yah. Semuanya begitu membingungkan. Semua bukti yang mengarah ke seseorang juga ga ada. Jadi siapa yang harus Saka curigai itu menguap satu per satu. Bahkan kecurigaan yang mendalam akan paman Yara pun sekarang terkikis karena tidak adanya bukti bukti yang kuat. Saka juga bingung harus bagaimana." sahut Saka dengan suara lirih. Ia sudah hampir jatuh pengharapan. Tidak adanya bukti atau saksi membuat Saka sulit mencari pelakunya.


" Sabar lah Saka, mungkin ini emang kesalahan darimu. Kamu kan tahu kalau ayah dari dulu gak pernah setuju kalau kamu melakukan poligami. Bukan ayah bermaksud mengungkit ungkit. Cuman poligami itu berat. Saat Alana merasa kamu tidak adil, ia pergi darimu. Mungkin saat Yara sakit hati merasa kamu menyisihkannya, ia pergi darimu juga. Maka, carilah Yara, dan selesaikan semua permasalahanmu dengan baik dan adil. " kata ayah Langit memberi nasihatnya.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2