
“ Tau kalau kamu cuman mau minta jatah, kamu bisa lakukan di kantor tadi. Jadikan kamu ga usah pulang kerumah cuman buat begituan doang. Jadi kan gak perlu buru buru begini!” rajuk Alana yang terburu buru masuk ke mobil Saka yang akan mengantar Saka balik ke kantor. Karena Saka akan berangkat menggunakan heli yang disiapkan dan berangkat langsung dari kantor.
“Emang kamu kurang puas ya? “ tanya Saka dengan tidak tahu malunya membuat Alana berdecak sebal melihat tingkah suaminya itu.
“Aku kasihan lihat kamu terburu buru begitu, Bby! Lagian kalau di kantor kan kamu gak usah setir bolak balik. Aku kasihan kamu capek sayanggg.” jawab Alana mencebikkan
bibirnya yang seksi, membuat Saka ingin ******* bibir Alana yang menggodanya.
“Jadi istri aku yang cantik mau kalau diajak begituan di kantor? Katanya menjaga
professional kerja? Katanya gak boleh melakukan di jam kantor? “ tanya Saka
sambil menaik turunkan alisnya dengan tujuan menggoda Alana. Tatapan Saka balik
ke jalanan, karena dia juga masih focus menyetir balik dari rumah ke kantor.
“Ya itu kan cuman saran agar terjadi efesiensi kerja, jadi kita ga usah bolak balik, dan
kamu gak kecapean.” Sahut Alana sambil mengedikkan bahunya.
“Baiklah… deal ya! Lain kali kita main di jam kantor dan di kantor.” Sergah Saka sambil
tersenyum smirk.
“ Itu cuman khusus hari ini, gak ada hari lainnya. Weekk!” kata Alana sambil menjulurkan lidahnya mengejek suaminya dan menggodanya dengan gesture tubuh mengundang.
“Alana jangan menggodaku dengan tubuhmu. Bisa bisa sesampainya kita ke kantor kamu
kubawa masuk ke ruang rahasiaku lagi.” Seru Saka sambil masih focus menatap
jalanan ibukota yang merayap padat. Untunglah jarak rumah ke kantor tidak terlalu jauh.
“Stop, jangan berpikir yang macam macam. Hati hati selama di jalan, jangan lupa kamu
juga harus jaga kesehatan. Kabari aku kalau kamu udah sampai sana. Jangan lupa
video call. .. bla .. bla .. bla”
“Iya istriku tersayang… “ sahut Saka yang langsung turun setelah mobilnya sampai ke basement kantor.
__ADS_1
“Sayang, kamu langsung jemput Genta aja, kamu nanti tidur di rumah kan? “
“Iya aku tidur di rumah.” jawab Alana sambil mengecup bibir Saka, dan kemudian
memindahkan badannya menuju ke tempat kemudi, karena Alana hendak langsung
pulang setelah Saka menurunkan barangnya yang ga terlalu banyak.
“Inget ya sayang, jangan kecapean, besok pagi kamu gantiin aku untuk urus project yangbemailnya udah di forward Lita ke emailmu. Periksa hari ini saja, jadi besok
sudah bisa dibikin. Maaf aku merepotkan kamu ya sayang.” kata Saka sambil
mengecup kening Alana setelah menurunkan barang bawaannya.
“Hmmh, apa yang engga buat kamu sih sayang?” balas Alana dengan wajah sendu, gak tau kenapa, Alana tiba tiba mellow saja ditinggal oleh Saka.
“Rindukan aku ya sayang, karena aku pasti rindu kamu.” bisik Saka lirih.
“Sama… muach.” Kata Alana sambil mencuri kecupan di pipi Saka yang sedang menunduk
saat ia berbisik tadi.
Alana langsung meninggalkan Saka di kantor, takut kalau tiba tiba dia meneteskan air matanya karena belum apa apa sudah rindu.
Alana menghiasi sepanjang dia di mobil.
***
Mobil yang Alana kendarai sudah melengang di jalan raya menuju rumah orang tuanya, untuk menjemput Genta . Sebelum sampai ke rumah orang tuanya Alana pun berniat
mengisi perutnya yang berteriak minta diisi disalah satu kafe langganannya
dulu. Tala’s café, dimana Alana biasa membeli pasta alfredo, tiba tiba bayangan
pasta bisa membuat Alana ngiler mendadak. Sesampainya ke kafe itu, Alana cuman memesan itu dan mangga jus, semangkuk salad buah, membuatnya terheran sendiri, karenabdia tiba tiba jadi kepingin sesuatu yang ekstrim, menaruh saus sambal yang banyak di pasta dan salad buahnya! Untung jus mangganya ga dicabein sekalian, bisa bener bener aneh kalo sampai Alana
melakukan itu.
Tapi Alana berpikir mungkin karena dia akan masuk masa period nya, jadi suka makan makananbyang pedas dan segar. Bahkan dia kepikir untuk beli rujak di pinggiran komplek
__ADS_1
perumahan orang tuanya, dimana ada rujak eskrim langganan yang dia biasa beli.
Semangkuk rujak yang pedas dan eskrim manis yang meleleh, membuat Alana menelan salivanya susah payah. Masalahnya Pasta pedas dan salad buah yang dibuatnya
pedas saja belum selesai ia makan, masa udah bayangin makanan lainnya.
Tapi Alana juga menganggap ini wajar karena setiap dia akan datang bulan, dia akan menjadi pemakan segalanya yang pedas dan asam.
“Lana..” suara lembut itu mengingatkan Alana pada seseorang yang tak ingin dia ingat lagi.
Alana hanya memandang wajah pria yang menyapa dengan tatapan dingin dan tidak berminat untuk sekedar basa basi menjawab panggilan pria tadi. Alana segera pergi sambil
meraih ponsel dan slingbagnya. Dia tak menghiraukan panggilan pria itu, Alana
hanya menaruh beberapa lembar seratus ribuan di mejanya tanpa menyuruh pegawai
di Tala’s menghitung atau mengembalikan, karena ia adalah langganan ditempat ini,
Alana tahu bahwa uang itu sudah lebih dari cukup untuk membayar yang ia makan.
Ia masuk ke dalam mobilnya menganggap sepi panggilan pria yang pernah mengisi hari harinya sebagai suami dan sejak tadi mengekorinya, bahkan ketika pria itu menggedor jendela mobilnya, Alana hanya berusaha keluar dari parkiran tanpa menabrak pria yang sangat ia hindari saat ini.
Dan Alana menghela nafas lega saat ia keluar dari Tala’s kafe tanpa menabrak siapapun,
sekalipun tadi rasanya ia hendak melakukan tindakan criminal itu. Yang saat ini
ia ingat hanya Genta. Apa jadinya kalau tadi ia menabrak Irvan Sanjaya, mantan suaminya itu? Pasti ia akan berurusan dengan pihak berwajib, dan bisa bisa menelantarkan Genta, dan Alana gak mau itu terjadi.
Alana berusaha focus dengan kemudinya, walau tangannya bergetar hebat, entah karena emosi yang membuncah atau karena dia masih lapar, maklum makanan yang tadinya dia idam idamkan baru separuh ia makan.
“Sialan, bahkan aku belum selesai makan makanan yang tadi aku pesan. Rugi bener … sudah aku gak bisa menikmati makanan, aku masih harus berurusan dengan pria menjengkelkan, sudah bagus dia gak pernah kelihatan selama ini, huh!” monolog Alana, tapi ia tiba tiba teringat dengan cita citanya tadi yang kepingin menikmati rujak eskrim di warung langganannya.
“Baiklah, gak ada salad buah, aku mau menikmati rujak es krim saja, yang pedes dan segar,” tak terasa air liur Alana menetes membayangkan makanan yang diidamkan itu.
Mobil yang dikendarai Alana pun sampai ke warung langganannya, dan dengan sigap ia memesan menu yang diidamkan dan mulai menikmati rujak eskrimnya saat penjual menyajikan makanan itu didepan matanya. Alana melirik jam di tangannya, dan mendesah. Baru saja beberapa jam berpisah dengan Saka, suami yang baru menikah dengannya sekitar semingguan tapi dia sudah rindu. Apakah Saka sudah nyampe apa belum ya?, pikir Alana sambil menghabiskan rujaknya dengan focus tidak pada tempat ini ia pijak, melainkan pikirannya melayang layang entah kemana. Sampai akhirnya Alana sadar bahwa ia sudah terlalu lama ditempat itu, karena niat awalnya adalah ia ingin menjemput Genta yang dia titipkan di rumah orang tuanya dan pulang ke rumah barunya bersama Saka.
.
.
__ADS_1
.
TBC