Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 54. Ketahuan*


__ADS_3

Tapi Alana tidak peduli, matanya masih memandang pergerakan Saka yang diintipnya melalui kamera yang ia pasang di ruang tamu apartemennya. Alana mungkin tidak dapat mendengar apa yang diomongkan oleh Saka disana. Tapi dia bisa membaca gerak gerik dan bahasa tubuh Saka. Saka tampak keluar meninggalkan apartemennya bersama anak buahnya.


"Kenapa kamu tidak bawa bajunya tadi sih. Begini kan repot mesti harus ke apartemen Saka lagi." gerutu Irvan sambil memanyunkan bibirnya.


"Kamu ini niat mau bantuin ga?" tanya Alana dengan nada dingin.


"Iya iya, bantuin." jawab Irvan dengan nada ga ikhlas.


"Makanya jangan cerewet, mas!" sungut Alana.


"Kamu sekarang galak banget." lanjut Irvan dengan wajah masam.


"Yah mungkin efek karena aku hamil." jelas Alana sambil lalu, matanya masih menatao layar laptop yang kameranya terhubung di apartemennya


"Aku heran kok Saka bisa tahan ya sama kejudesan kamu." cebik Irvan dengan ketus.


"Aku judes sama kamu karena aku masih jengkel bin sebel sama kamu. Bisa bisanya kamu bikin skenario yang menjijikan macam itu." ingat Alana dengan kelajuan Irvan yang membuatnya jadi marah dengan dirinya sendiri. Ditambah kehamilannya membuat ia labil.


"Iya dulukan aku khilaf. Lana."


"Sekarang?"


"Makanya aku sekarang mau bantu karena mau nebus dosa aku."


"Bagus!! Masih takut ketahuan saka?" tanya Alana lagi dengan pandangan  menyelidik.


"Enggaaaa." galakan Alana daripada Irvan. Irvan agak mengkeret dibentak Alana tadi.


"Yaudah, sekarang kamu ambil baju Saka di apartemennya, nanti aku kasi passcode kunci masuk apartemen Saka."


"Kok jadi aku sendirian?" tanya Irvann dengan nada takut.


" Ya iyalah, kamu kan tahu kalau aku ini lagi hamil. Jadi aku gak mungkin lari larian ke tempat Saka hanya untuk ambil bajunya saja." sergah Alana dengan wajah bete.


"Nah kamu tadi bilang kita berdua?"


"Aku berubah pikiran. Aku takut kalau ada jebakan disana yang aku gak tahu."


"Jadi kamu mau mengumpankan aku?"


"Ya kalau emang ada yang menjebak dan kamu tertangkap, tinggal bilang saja kamu gak tahu menahu, hanya ingin sekedar mampir saja."

__ADS_1


"Kamu gila. Aku memencet passcodenya, Lana. Orang bodoh juga tahu kalau aku pasti ada sangkut pautnya dengan kamu. Karena hanya kamu dan Saka yang tahu passcodenya."


"Ya kalau ketangkap ya anggep aja nasib. Paling tidak aku masih ada waktu untuk melarikan diri."


"Oh my God. Kamu mau bikin aku dihabisin Saka?"


"Gak mungkin dia bunuh kamu, Mas. Tenang saja."


"Disini aku jadi bingung, sebenernya yang cowo kamu apa aku sih. Kenapa untuk urusan seperti ini kamu kayaknya tenang banget sih." tanya Irvan sambil menepuk jidatnya.


"Sudahlah! Kamu segera berangkat. Beri aku kode kalau kamu tertangkap, setidaknya aku punya waktu untuk melarikan diri."


"Tapi hati hati, Lana, jangan sampai kamu kenapa kenapa."


"Iya. buruan kamu berangkat, keburu ada yang balik lagi."


"Lana, nanti kuambilkan baju Saka sekoper ya, jadi kamu gak perlu bolak balik kesana."


"Ya udah terserah kamu. Kamu ambil saja bajunya dikoper yang ada di kamar aku, di pintu yang ini." kata Alana sambil menunjuk sebuah tempat di ponselnya yang menggambarkan ruangan disana.


" Lana doakan aku."


"Kamu cuman ambil baju, bukan mau maju ke medan perang, mas."


"Jangan bawel, berangkat sekarang. Atau kamu mau aku tidak maafin kamu? Biar aja dosamu tambah besar." ancam Alana sambil melotot.


" Bisa ga usah aja gak?" tawar Irvan lagi sambil memandang Alana dengan pandangan memohon.


Tapi Alana bergeming, ia tetap diam sambil melotot, yang membuat akhirnya Irvan berangkat dengan kepasrahan maksimal.


" Ya sudahlah kalau ketangkep Saka ya anggep aja aku lagi apes." gunamnya lirih.


Tapi gunamannya didengar oleh Alana sekalipun tidak jelas Irvan sedang ngomong apa.


" Kamu disuruh gitu saja ngedumel to , mas. Pas aku nglahirin Genta dan kamu menceraikan aku.."


" Iya, iya, aku berangkat. Anak kamu ini niat banget pengin nyusahin aku." potong Irvan sambil mengurut urut keningnya yang tiba tiba pusing.


Irvan bergegas keluar dari kamar studio Ascott Orchard yang disewa Alana, lingkungannya menyatu dengan apartemen mewah yang dimiliki Saka. Jadi Irvan ga perlu keluar dari kompleks apartemen hanya berpindah jalur lift saja. Dia ingin segera mentuntaskan keinginan bumil yang aneh aneh. Dan percaya atau tidak, Irvan malah berdoa agar ia tertangkap, karena ia merasa Alana lebih kejam dari Saka.


***

__ADS_1


Lio masih dengan intens menatap layar laptopnya. Anak buahnya disuruh bersembunyi untuk berjaga didekat pintu apartemen Saka, sedangkan Lio dan Saka sendiri sekarang ada di lobby and lounge menunggu pergerakan yang ada di laptop Lio.


Dan 5 menit kemudian, Lio menunjukan sama bosnya kalau mangsa sudah masuk ke dalam perangkap.


Saka hanya menyunggingkan senyum smirknya. Saka menyuruh Lio agar anak buahnya menyergap mangsa yang tertangkap tanpa menyentuhnya sama sekali, karena Saka ingin dirinya sendiri yang akan menghukumnya secara pribadi.


Saka dan Lio segera membereskan barang barang dan segera balik ke apartemen Saka. Saka tidak sabar untuk menemui mangaa buruannya. Setiba di ruangan apartemennya, Saka duduk di sofa ruang tamunya, dan menyuruh anak buahnya untuk membawa si mangsa ke hadapannya, tapi senyum Saka menghilang karena mangsa yang ditunggunya berbeda dengan apa yang di pikirkan.


" Kamu?" kata Saka sambil menuding wajah seorang laki laki yang sudah pasrah ketika ketangkep.


" Ehm saya cuman mampir."


"Kamu pikir aku bodoh? Dimana Alana?" tanya Saka dengan nada dingin.


" Ehm saya juga janjian ketemu disini kok, tapi ternyata dia gak ada. Ya udah mungkin lain kali saya mampir lagi."


" Ayolah, Irvan Sanjaya. Jangan menipuku. Kamu kan yang menyembunyikan Alana."


" Narendra Sakabumi temanku, ga mungkin Alana bisa aku umpetin, yang ada Alana yang bisa menculik aku."


" Apa maksudmu?"


" Alana itu cerdas, yang ada aku yang bisa ditipu sama dia." jelas Irvan dengan nada memelas.


" Waktu Alana hamil Genta.." pancing Saka.


"Ya ampun.. ga istri, ga suami semuanya suka ngancam pake masa laluku yang kelam. Dulu itu yang bikin skenario Tonny dan orang tuaku. " jelas Irvan yang tanpa sengaja mengungkap bahwa dirinya emang bersekongkol dengan Alana.


" Jadi bener, kamu bersekongkol dengan Alana?" selidik Saka dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah melihat Irvan muter muter kayak gasingan.


" Hadeh jadi kelepasan omong kan... dasarrr mulut!" runtuk Irvan lirih.


" Kalau kamu mau dilepaskan dan ga disiksa oleh anak buahku, cepat katakan dimana Alana dan dimana Alana menyimpan kameranya?" lanjut Saka dengan nada dingin, aura membunuh tampak jelas disana, karena ia sudah tidak sabar dengan permainan Alana yang membuat dirinya kalang kabut.


" Tuan Narendra yang terhormat, biarkanlah saya pergi. Alana cuman ingin menghindar sebentar dari kamu. Pasti dia akan balik kok. Dia hanya butuh waktu untuk sendiri dulu."


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2