
“Makan dulu yuk, kasian dedek yang di dalam perut kamu. Habis itu baru aku mau cerita sama kamu.” lanjut Saka sambil merangkul dan menuntunnya ke meja makan. Alana hanya menurut saja, bahkan saat Saka menyuapinya, Alana hanya menurut sambil membuka mulutnya dan mengunyahnya perlahan.
“Bby, tadi aku barusan video call sama ibu. Ibu bilang Genta dan baby sitternya, kemarin
diajak Lio ke Rumah Sakit, apa kamu jadi melakukan pemeriksaan?” tanya Alana
dengan nada lembut. Saka menegang, dia ingin memberitahukan hasilnya tapi
setelah Alana menyelesaikan makannya.
“Makan dulu, nanti kalau kamu sudah selesai makan baru aku mau cerita.” jawab Saka lagi
sambil menyuapkan makanan ke mulut Alana. Alana pun hanya menurut dan
menyelesaikan makannya dengan cepat.
“Gak usah terburu buru sayang, aku gak ingin mengambil makanan kamu.” saran Saka sambil menyodorkan minuman saat Alana hampir saja tersedak karena terlalu terburu
buru.
“Aku gak sabar…” jawab Alana dengan malu malu.
“Gak sabar apa? Ingin daddy nengokin baby lagi?” goda Saka yang membuat Alana memutar bola matanya dengan kesal.
“Bby! Kamu sekarang super nyebelin deh.”
“ Ha ha ha .... godain kamu itu super menyenangkan." ujar Saka sambil mencolek dagu Alana, tapi sejurus kemudian Saka terdiam seperti memikirkan sesuatu.
“Kenapa?” tanya Alana dengan raut heran melihat Saka tiba tiba diam.
“Kamu percaya jodoh gak?”
“Kamu ini apa tho, Bby! Tiba tiba ngomongin aneh aneh.” tanya Alana dengan kesal.
“Kamu percaya jodoh ga?” tanya Saka lagi dengan nada memaksa.
“Percayaaaa!” jawab Alana pendek, ia gak ngerti arah pertanyaan Saka.
“Menurutku... kita ini JODOH!!” Saka lagi.
“Hmm, kita ini jodoh bukan ya?” tanya Alana, lebih bertanya dengan dirinya sendiri, karena ia masih bingung mendefinisikan keruwetan yang dialami mereka.
Kalau Saka jodohnya, kenapa Allah membuat dia menikah dengan Irvan?
Kenapa Allah membuat Saka menikah dengan Yara kalau ujung ujungnya tetep membuat mereka bersatu.
Bukannya kasihan sama Yara dan Irvan yang hanya menjadi pelengkap dari cerita kehidupan mereka.
Berjuta kenapa sekarang memenuhi pikiran mereka. Alana pun menyudahi acara makannya dengan alasan kenyang.
__ADS_1
“Bby, apa kita berjodoh?” tanya Alana sekali lagi, setelah mencoba mengurai benang ruwet hubungan mereka, mulai berteman sejak kecil, eh ternyata malah dihamili teman kecilnya saat ia menikah dengan Irvan karena dijebak, trus malah akhirnya menjadi istri kedua dari teman kecilnya yang mengambil keperawanannya itu. Ruwet kan? (Gara gara thor yang super labil nihhh 😭)
“Rasanya seperti itu, kemana pun kita lari, akhirnya kita kembali bersama.” Jawab Saka
setelah terdiam beberapa saat.
"Berarti kemanapun aku pergi, aku pasti ketemu kamu lagi kan?" tanya Alana dengan raut muka aneh.
" Tentu!! Tapi kamu jangan punya pikiran konyol. Kita hadapi saja takdir kita yang aneh ini bersama sama." ujar Saka sambil mengusap lembut rambut Alana.
“Sekarang apa yang tadi mau kamu ceritakan? Hasil DNA Genta ya?” tanya Alana sambil
mempersiapkan hati. Jujur Alana deg
deg an menanti apa yang akan dikatakan Saka. Saka hanya mengangguk dan menarik
nafas dalam dalam. Ini membuat Alana jadi takut mendengar hasilnya.
“ Menurut pemeriksaan DNA, Genta benar anakku.” Jelas Saka pendek. Alana hanya terdiam, dia sibuk mengolah informasi itu di kepalanya.
“Kenapa ini harus terjadi ya, Bby?” tanya Alana lirih, wajahnya menyiratkan kesedihan, membuat Saka tidak habis pikir.
“Maksudmu kamu tidak suka dengan kenyataan bahwa Genta itu benar anakku?” tanya Saka dengan nada satu oktaf lebih tinggi.
“Bukan! Aku hanya menyesal mengapa aku harus menikah dengan mas Irvan. Mengapa aku tidak dari dulu menikah dengan kamu saja? Jadi hubungan kita gak ruwet seperti ini.” jelas Alana sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit.
“Memang mungkin suratan takdirnya harus begitu, Sayang.” sahut Saka dengan nada yang lembut, ia tahu maksud Alana. Alana tidak bisa memiliki dirinya seutuhnya, anaknya pun tidak, masih ada perasaan yang harus dijaga, mungkin anaknya yang bakal lahir juga akan mengalami hal yang sama.
menangisi takdirnya yang maha aneh, menjadi istri kedua dari orang yang
mengambil keperawanannya dan ayah dari anaknya.
Saka hanya bisa memeluk Alana dan semakin mengeratkan pelukannya mengingat yang dipikirkan Alana benar adanya. Mengapa dulu ia tidak pernah melirik Alana? Ia mengenal
Alana lebih dulu. Ia baru mengenal Yara kemudian. Apakah rasa yang ia miliki
kepada Yara adalah sebuah obsesi belaka? Atau memang benar itu cinta?
Saka ingat, ia dahulu harus mengalahkan beberapa pesaingnya untuk bisa mendapatkan Yara.
Apakah itu yang membuat takdir
mempermainkannya sedemikian rupa?
“Kenapa kita ditakdirkan Tuhan begini ya, Bby?” tanya Alana masih setia dengan isaknya, beban didadanya mungkin tidak ada seorangpun yang mengerti.
“Huum… mungkin kita dulu kurang peka ya? Jadi kita sekarang harus belajar peka dengan menjaga perasaan orang lain yang di
titip Allah kepada kita.” sahut Saka masih memeluk Alana di dalam dekapannya.
__ADS_1
Dada Saka basah oleh air mata Alana, perasaan sakit yang mungkin tidak akan ada
seorangpun yang tahu, orang akan cenderung menghujatnya, merebut Saka dari
Yara, orang akan cenderung menghinanya, menghina Genta dan anaknya kelak. Dan
saat Genta bertanya siapa daddy sebenarnya, apa yang Alana harus jawab?
Orang tidak pernah tahu perasaannya, orang gak akan mengerti apa yang dialaminya. Cacian, hujatan pasti itu yang akan diterimanya, tanpa orang tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Sayang, kamu jangan sedih dong. Kasihan dedek, nanti dia ikut sedih.” kata Saka sambil
mengurai pelukannya, berganti memegang bahu Alana dan memandang istrinya yang
masih berlinang air mata dengan perasaan yang sama sakitnya. Saka mengusap air
mata Alana.
“Kita hadapi bersama ya! Kalau kamu ada yang kamu rasakan, kamu katakan padaku, kita bahas bersama. Maafkan aku, sayang…maafkan aku. Maaf karena membawamu ke situasi yang rumit seperti ini.” kata Saka sambil mengecupi pipi istrinya yang penuh dengan air mata, sambil berulang ulang mengungkapkan penyesalannya.
Alana hanya diam dan menikmati pelukan dan kecupan Saka. Dia harus kuat demi
Genta dan anaknya ini. Suatu saat dia harus mengatakan kebenarannya kepada kedua
anaknya. Dia harus menata hati, memikirkan kemungkinan terburuk bahwa anaknya
akan menghujatnya.
Alana menghela nafasnya yang serasa berat, dadanya serasa terhimpit beban, tapi
didalam pelukan Saka ia merasa nyaman.
Dia hanya ingin menikmati Saka untuknya seorang diri sekarang.
“Bby, setelah anak ini lahir, marilah kita bercerai saja! Aku ikhlas kalau seandainya
Yara sembuh, anak ini kalian asuh. Biarlah aku pergi dari kehidupan kalian. “ kata Alana lirih, membuat Saka meradang.
“Pikiran macam apa itu?” tanya Saka dengan nada marah.
“Bby, aku rela…”
“Aku tidak akan mungkin melepaskanmu!!” sergah Saka cepat. Ia tahu mungkin ini efek dari hormon kehamilan Alana yang membuatnya berpikir macam macam.
.
.
.
__ADS_1
TBC