
“Lain kali kalo mau berbuat mesum, tolong pintunya dikunci dulu. “ katanya sambil terkekeh
geli kalau teringat dengan pemandangan yang tadi ia lihat, yang pantasnya dilihat oleh 17 th keatas.
Ketika pintu ruangan VVIP itu sudah tertutup sempurna, Saka langsung bergerak untuk mengunci pintu ruangan itu, menuruti nasihat dokter Clara, daripada kecolongan untuk
yang kedua kalinya, lagi mau wik wik wik eh ada orang yang tanpa permisi nyelonong masuk.
“Bby, kenapa pintu dikunci?” tanya Alana sambil memandangin suaminya yang senyum senyum gak jelas.
“Mau nengokin anakku.” Jelas Saka singkat. Saka langsung memeluk Alana, dan menciumi wajah Alana dengan sejuta rindu.
“Bby… kamu kok tiba tiba bisa datang?" Saka hanya diam dan kemudian ia menjawab,
" Kangen kamu dan the baby.."
“Bby… Aku juga rindu, eh bukan anak kamu yang rindu.” kata Alana manja sambil menarik Saka ia malu kalau harua ngomong terus terang.
“Masa, baby? Bukan mommynya yang kangen? ” goda Saka sambil menyentil hidung mancung Alana.
“Uhmmm mommy juga kangen…tapi lebih banyak anaknya yang kangen.” ujar Alana dengan nada manja, matanya yang memandangi Saka dan wajahnya yang ayu membuat Saka tidak tahan untuk menjauh walau hanya sekedar menggoda Alana.
“Hmmh, kangen kan sama aku?” tanya Saka sambil kembali menggoda Alana .
“Kamu gak kangen ? “ Tanya Alana sambil menggoda Saka, berjauhan dengan Alana membuat Saka menahan rasa rindu yang sangat besar.
“Sayang..?” tanpa menunggu jawaban Alana, Saka menarik tubuh Alana dan memeluknya dengan sayang. Alana yang tadinya masih lemas, karena kehamilannya seakan energinya dicharge ulang dengan kehadiran suaminya yang dirindukan, mungkin kehadiran Saka membuat anak di dalam kandungan Alana merasakan kasih sayang dari daddynya. Setelah itu Saka pun segera kembali membantu Alana untuk merapikan bajunya, takut kalau nanti tiba tiba ada orang yang datang untuk menjenguk Alana.
Tok tok tok…
‘Untung sudah dikunci, kalau tidak pasti akan ada kejadian tercyduk sesi kedua.’ Batin Alana.
Saka pun berjalan untuk membukakan pintu . Ternyata yang mengetuk pintu adalah Lio yang membawakan makan malam untuk Saka, mengingat Saka belum menikmati makanan semenjak datang tadi sore.
“Ini makanannya, bos!” kata Lio sambil menyerahkan 2 box makanan.
“Hmm, kamu sendiri sudah makan?” tanya Saka sambil mengambil box makanan yang disodorkan asistennya itu.
“Sudah, bos. Maaf tadi ibu suri menelpon, menanyakan kondisi nona Alana.” Lanjut Lio dengan nada datar.
“Lalu… apa yang kamu katakan?” tanya Saka balik.
“Ibu suri mau datang kemari.” Kata Lio memberi info, tanpa menjawab pertanyaan Saka.
“Oh… sekarang?” tanya Saka lagi.
“Iya!” jawab Lio singkat.
“Baik… kamu tunggu diluar dulu, kabari aku saat ibu dan ayah datang. Kamu belum bilang kalau Alana hamil kan?” tanya Saka lagi.
__ADS_1
“Belum bos… “ jawab Lio lagi.
“Ya sudah!!” kata Saka sambil menutup pintu.
“Ibu mau datang, Bby?” tanya Alana setelah mendengar percakapan Saka dengan Lio.
“Iya, mungkin sama ayah.” Info Saka kepada Alana yang masih duduk bersandar di ranjang rumah sakit.
“Kamu belum cerita sama aku loh, gimana kondisi Yara? “ tanya Alana dengan nada menyelidik.
“Masih seperti kemarin, mudah mudahan dengan kabar kehamilanmu dia tambah semangat.” Ujar Saka tapi dengan nada yang tak semangat.
“Dia kan taunya aku emang sudah hamil, Bby!” kata Alana mengingatkan akan kebohongan Saka beberapa minggu yang lalu.
“ Ya, aku lupa…” masih dengan nada yang tidak seantusias saat bertemu Alana.
“Apa yang kamu simpan dihatimu ini, Bby?” tanya Alana sambil menyentuh dada Saka dan mengusapnya perlahan.
“Aku tidak tahu... rasanya hatiku beratttt banget, ....” Ujar Saka dengan nada sendu, sambil menangkupkan tangannya ke wajahnya, untuk menutupi wajahnya yang sarat dengan kesedihan.
“Kamu harus bisa menguatkan Yara, Bby! Sayangnya aku tidak bisa kesana untuk membantu menguatkan dia.” Lanjut Alana dengan nada sedih.
“Aku tidak sanggup melihat dia penuh dengan kesakitan setiap kali selesai terapi.” Saka
masih menutupi wajahnya, hanya suaranya yang masih terdengar.
Alana hanya bisa menghela nafasnya perlahan, ia tidak mau berkata apa apa, ia tahu kalau kata kata darinya malah akan menambah beban suaminya yang sudah sangat tertekan dengan kondisi Yara yang tak kunjung menunjukkan titik terang.
dihadapannya.
“Kamu pasti bisa menguatkan Yara, karena kamu laki laki kuat yang tegar dan luar biasa,
yang sebentar juga akan menjadi daddy lagi dari anak yang di kandunganku.”
Lanjut Alana sambil menarik tubuh Saka dan memeluknya erat, seakan menyalurkan
kekuatan yang baru buat Saka.
Pelukan Alana sanggup menenangkan hati Saka yang gundah.
"Makanlah dulu, Bby!" saran Alana sambil membuka box makanan yang ditaruh Saka di samping tempat tidurnya, kemudian menyuapkan makanan itu ke mulut Saka, Saka pun menerima walau dengan raut wajah enggan.
Ddrrttt…dddrtt…
“hallo..”
“..”
“hmm… ya suruh masuk saja…”
__ADS_1
Kata Saka sambil menutup panggilan ponselnya.
“Siapa, Bby?” tanya Alana. Tangannya masih sibuk menyuapi Saka.
“ Ibu dan ayah, mau menjenguk kamu…”
“Ohh..”
Cekrek..
“Alanaa… kamu sudah sadar sayang? Apa yang sakit?” tanya ibu Irsyana, ibu Saka.
“Alana gak pa pa, bu… cuman kecapean saja.” Jawab Alana sambil membalas pelukan ibu Saka dan meraih tangan ayah Langit Perdana, ayah Saka dan menciumnya.
“Kok kamu bisa pingsan? Saka kamu dimana emangnya? “ tanya ayah Langit dengan tatapan menyelidik.
“Saka di Singapura, Yah! Menemani Yara terapi.” Jawab Saka sambil menundukkan kepalanya.
“Berapa hari kamu disana?” tanya ayah Langit lagi.
“Hampir sebulan, Yah!” jawab Saka masih menundukkan kepalanya, Saka emang paling segan dengan ayahnya, wibawa ayah Langit begitu besar.
“Mestinya kalau kamu mau menemani Yara terapi, kamu juga jangan meninggalkan Alana tanpa ngomong dengan ayah dan ibumu, supaya kami bisa ikut menjaga Alana.” Ujar ayah Langit dengan intonasi yang tegas tapi tidak membentak.
“Iya, Saka…Alana juga istri kamu, jadi kamu juga wajib memperhatikan Alana. Benar kata
ayahmu, kalau kamu mau menemani Yara terapi, Alana dan Genta biar ibu yang
urus. Kasihan kalau mama Lina yang harus urus, soalnya mama Lina kan ngurus
papanya Alana juga.” Jelas ibu Irsyana dengan lemah lembut.
“Iya, bu. Saka mau ngomong sesuatu sama ayah dan ibu.” Kata Saka dengan suara yang
sedikit bergetar.
“Ada apa, Ka? Soal Yara?” tanya Bapak Langit.
“Bukan… soal Alana.. “ lanjut Saka sambil memandang ekspresi ayahnya yang kesal melihat anaknya seakan mengulur ulur waktu untuk bercerita, serasa kepingin njitak kening anaknya yang menjengkelkan.
“Lha ya… Alana kenapa?”tanya ayah Langit lagi dengan nada ketus.
“Alana punya anak.” Kata Saka lagi, sambil memandang ekspresi ayah ibunya yang ternyata biasa biasa saja dalam menanggapi berita gembira yang disampaikan oleh Saka.
“Kok ayah dan ibu gak senang kelihatannya?” tanya Saka dengan ekspresi heran.
.
.
__ADS_1
.
TBC