Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 27. Kejujuran Alana*


__ADS_3

“Alana punya anak.” Kata Saka lagi, sambil memandang ekspresi ayah ibunya yang biasa biasa saja.


“Kok ayah dan ibu gak senang kelihatannya?” tanya Saka dengan ekspresi heran.


“ Lha ibu dan ayah kan sudah tahu kalau Alana punya anak, kenapa kamu kasih tau lagi?” tanya ibu Irsyana dengan nada heran.


“Kamu itu lo, Sak!! Kalo ngomong mbulet kayak benang layangan ruwet.” Sentak Ayahnya yang mulai menaikkan satu tone suaranya menghadapi anak semata wayangnya yang menjengkelkan.


“ Maksud Saka, Alana itu hamil anak Saka, itu di perutnya ada cucu keturunan Perdana, dibilangin begitu kok malah gak ada ekspresi senang dan bahagia sama sekali sih!” ujar Saka dengan wajah heran melihat ekspresi orang tuanya yang datar datar saja.


“Loh, maksudnya Alana sekarang hamil?” tanya ibu Irsyana dengan wajah masih tidak percaya.


“ Ibuuuuuu, kan Saka sudah bilang tadiii..” Saka semakin frustasi dengan reaksi ayah ibunya yang tidak sesuai dengan bayangannya.


“Lha ayah tadi pikir kamu memberi info kalau Alana punya anak. Kan emang Alana punya


anak, si Genta, cucu ayah juga kan? Makanya kamu kalo ngomong tu yang jelas jangan ambigu, bikin orang bingung saja.” jelas ayah Langit yang sontak membuat Saka malu karena sudah salah sangka, dipikir orang tuanya tidak suka dengan hamilnya Alana.


“Apalagi kalau lagi hamil begitu, kamu jangan dekat dekat dulu sama Alana, Sak! Soalnya kamu kan habis menemani Yara takut nanti radiasinya berpengaruh pada anakmu yang di perut Alana.” Lanjut ibu Irsyana protektif takut kalau mantunya kenapa kenapa, karena Alana sedang mengandung keturunan Perdana. Alana hanya diam memandang keluarga Saka yang sedang berdebat.


“Ibuuu, kan Saka hari ini gak menemani Yara, lagian Saka gak seruangan dengan Yara, Saka kalau disana hanya memantau dari kaca disebelah kamar rawat inap Yara. “ jelas Saka.


“Sudah, yang penting Alana harus cukup nutrisinya dan makan makanan yang sehat…  lha ini tadi kenapa Alana kok bisa pingsan?” cecar ayah Langit.


“ Kata dokter kecapean dan kurang makan. Mungkin pikiran juga karena Saka sudah lama gak disini. Anak Saka di dalam kandungan Alana kangen katanya.” Jelas Saka sambil mengerlingkan matanya menggoda Alana.


“Kamu kepedean, sudah Alana biar dirumah Ayah saja, kamu ga becus ngasih makan


istrimu, apalagi kamu kan harus juga jagain Yara, jadi kalau kamu pergi Alana


ada yang jagain. Genta juga biar dirumah kakek neneknlnya, kasian to sama oma Lina harus ngurus opa, masih juga ngurus Genta ” ujar ayah Langit dengan nada ketus, dianggapnya Saka gak becus jagain Alana yang sedang berbadan dua.


“Ayah, Saka baru tahu kalau Alana hamil, kasihan Saka, yah… jangan dimarah marahin.” Ujar


Alana sambil meneteskan air mata tiba tiba, gak tahu kenapa, Alana merasa sedih


melihat Saka terpojok, mungkin karena bawaan baby yang gak tega daddynya dimarahin sama eyangnya.


“Iya iya, sudah, Al… kamu jangan nangis. Ayah cuman ngasih tahu suamimu supaya lebih


bertanggung jawab apalagi kamu sudah hamil, tanggung jawabnya kan berarti


bertambah. Sudah, ayah gak marah kok! Ini pasti kerjaan cucu eyang yang


dikandunganmu ya?. Sudah berapa bulan, Lana?” tanya bapak Langit, mertua nya


dengan nada lembut, berbeda dengan waktu berbicara dengan Saka membuat Saka mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


“Menurut pemeriksaan dokter Clara, jalan 5 minggu, yah! Soalnya Lana gak inget


itungannya, jadi itu menurut hitungan dari dokter, yah.“ jelas Alana yang


tangannya selalu digenggam oleh Saka, Saka sangat bahagia, begitu juga kedua


orang tuanya, mereka memang merindukan hadirnya cucu dalam masa tuanya.


“Tapi kamu gak pa pa to, nduk?” tanya ibu Irsyana dengan nada khawatir.


“Gak pa pa, bu! Emang gak ada rasa mual muntah, gak nyusahin kok babynya. Cuman ya itu, kepinginnya emang ketemu sama daddynya terus.” Jelas Alana sambil menunduk malu, membuat Saka semakin mengeratkan genggaman tangannya, Saka sedih karena Alana harus berkorban perasaan saat hamil, seakan dia tidak ada bedanya dengan Irvan yang meninggalkan Alana saat berbadan dua.


“Maaf sayang…” bisik Saka lirih.


“Yawes… kalian baik baiklah… pasti banyak yang ingin kalian omongkan to? Kan udah gak


ketemu hampir sebulan… ibu dan ayah pulang dulu… besok pagi ibu kesini lagi.”


Kata ibu Irsya sambil mengkode suaminya untuk turut beranjak, memberi waktu


buat suami istri yang saling merindu.


“Ayah pulang dulu…”


“Iya, Yah… Bu… hati hati dijalan! Saka gak nganter ke depan ya… biar kalian diantar sama Lio saja.” Ujar Saka sambil memanggil Lio .


Saka hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.


Setelah ayah ibunya berlalu dari ruangan rawat inap itu, Saka langsung mengunci pintu dan berjalan menghampiri ranjang Alana dan duduk diam diam di samping Alana sambil memandang Alana dan menggenggam tangannya dengan erat.


“Kenapa, Bby?” tanya Alana dengan pandangan heran.


“Maaf..” jawab Saka sambil mengecup punggung tangan Alana yang sedang ada dalam genggamannya.


“Kenapa?” tanya Alana lagi.


“Maafkan aku karena meninggalkan kamu disaat saat kamu hamil begini.” Lanjut Saka dengan tatapan wajah penuh rasa bersalah.


“Lha kan kamu juga harus memperhatikan Yara yang sedang sakit dan butuh support dari kamu. Aku kan cuman hamil, Bby! Aku sudah pernah melahirkan Genta sendiri juga.” Sahut Alana teringat masa lalunya harus berjuang melahirkan Genta seorang diri.


“Justru itu yang membuat aku merasa bersalah,  karena aku ingat, waktu itu kamu berharap kalau dikehamilan kamu selanjutnya kamu  gak mau hamil dan melahirkan tanpa ada yang menemani. Ternyata malah aku yang membuat kamu hamil dan menghadapinya sendirian.” Sahut Saka dengan nada lirih.


“Sudahlah, Bby… ini juga bukan mau kamu kan? Sudah ahhh, nanti anakmu jadi ikut sedih loh kalau daddynya sedih, inget anak kamu ini pembela daddy no 1… aku juga gak tahu tiba tiba bisa sedih banget saat kamu dimarahi ayah.” Lanjut Alana sambil memonyongkan bibirnya karena iri.


“Jelaslah.. kan daddynya ganteng.” Jawab Saka dengan PDnya.


“Gak nyambung…. Bby, aku mo ngomong sesuatu tapi kamu gak boleh marah!” kata Alana sambil memainkan jari jarinya tanda dia cemas.

__ADS_1


“Apa sih? Aku gak akan marah kalau itu gak menyakitin kamu.” Sahut Saka cepat.


“ehm… waktu hari pertama kamu pergi ke luar negeri, aku ketemu sama Irvan.” Jelas Alana perlahan.


“Dia ngapain kamu?” tanya Saka dengan tatapan tajam.


“Gak ngapa ngapain sih… dia ngejar aku, kayak mau ngomong.”


“Mau ngomong apa?” tanya Saka lagi.


“Gak taulah… kan langsung kutinggal pergi..”


“Emang kamu ketemuannya dimana?”  selidik Saka lagi.


“Aku gak ketemuan sama dia… gak sengaja aja..”


“Iya, gak sengaja ketemunya dimana?”


“Di Tala’s café…”


“Ngapain kamu disana? Sama siapa?


“Makan! Sendirian!” jawab Alana ketus, dia merasa diinterogasi sama polisi.


“Kenapa kamu gak cerita pas kita video call?” tanya Saka lagi.


“Ya gaklah… karena itu obrolan yang gak perlu… aku emang mau cerita tapi pas kamu ada disisiku gini, kalau video call enak bahas kita saja.” Jelas Alana, yang membuat Saka menjadi lega dan mengecup kening istrinya dengan sayang.


“Lain kali kalo ketemu dia, hindarin aja… kecuali kalau pas ada aku … paham?”


“Iya, aku juga sudah tahu… sebenernya aku mau nanya kenapa dia ninggalin aku, tapi aku gak mau kalau ketemuannya sendirian, daripada nanti jadi fitnah!” lanjut Alana lagi.


“Hmm, istri pintar… “ bisik Saka ditelinga Alana.


Alana hanya tersenyum tanpa menjawab, ia memejamkan matanya, rasanya kantuk yang menyerang tidak bisa lagi dikendalikan.


Dengkur halus Alana membuat Saka menyunggingkan senyum di sudut bibirnya, Saka yang masih menggenggam tangan Alana kemudian menggeser tubuh istrinya, karena ranjang VVIP emang muat untuk 2 orang berdesakkan sehingga Saka menidurkan tubuhnya disamping tubuh Alana serta memeluk tubuh Alana yang ramping, tak lupa mengelus perutnya yang masih datar.


“Met bobok, anakku sayang… jangan nakal ya didalam sana… daddy tidak sabar bertemu kamu.” Bisik Saka lirih sambil menghirup aroma vanilla sweet milik istrinya … aroma khas yang menenangkan jiwa Saka sehingga Saka tertidur nyenyak menyusul istrinya yang sudah bermimpi indah.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2