Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
106. Paman Yara


__ADS_3

Ayo klik vote dan likenya dongg, ceritanya kan emang harus ada up and downnya ha ha haπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» Yang udah vote ... i lap yu pullllll


Mau sedikit cerita ya, jadi ini itu harus diedit dan di revisi ulang, karena ada sedikit mis komunikasi dri awal saja dengan editor. Jadi ini ceritanya harus diselesaikan di satu buku.. ntar penjabaran di buku yang satunya. Karena belum bisa edit beneran jadi yang buku satunya dipindah langsung kesini.


Oleh karena itu plissssss, jangan lupa like ( ini gratisssss) dan votee ( ini juga gratis kokkk) 😭😭😭... biar review dan updatenya bisa cepet.


πŸ˜˜πŸ˜πŸ˜‹


Jangan lupa vote like vote like vote like vote likeπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Happy reading!!!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Alana tidak menjawab perintah Saka, Alana langsung memejamkan mata dan membelakangi Saka. Menaikan selimut menutupi seluruh tubuhnya dan membenamkan kepalanya ke dalam selimut itu juga. Ia sebel dengan Saka karena tidak percaya dengan dirinya. Dan selalu mencemburui untuk hal hal yang ga penting.


Saka mendesah lelan. Dia paling ga bisa kalau dikasi punggung doang sama Alana. Apalagi dia lagi pusing parah karena Yara kondisinya tak kunjung membaik. Tadi Yara meminta nya untuk bisa menengok Alendra, tapi Saka masih belum ngijinin karena Alendra masih dalam kondisi yang belum memungkinkan. Belum lagi paman Yara yang marah marah karena Saka dianggap menyembunyikan tentang Yara.


" Lala sayang, maafin aku ya. Kuakui aku cemburu dengan dokter ganjen itu. Aku takut kamu pergi dariku. " kata Saka lembut sambil memegang selimut Alana dan mengelusnya perlahan.


Alana hanya diam membisu di dalam selimut, mendengar ungkapan Saka. Ia sangat tahu kalau Saka cemburu. Tapi maksudnya nanya dulu lah, jangan main marah marah ga jelas. Toh Alana tidak pernah memberi harapan sama dokter itu Kalau ternyata dokter itu anak pemilik rumah sakit dan menyukainya trus dia harus gimana? Dia kan gak bisa membuat orang menyukainya trus membencinya.


Saka membuka selimut yang menutupi wajah Alana.


" Sayang, maafin aku ya. Aku lagi pusing banget nih sayang." rengek Saka kepada Alana yang masih diam, sekalipun selimutnya sudah dibuka. Alana menatap Saka yang mengacak rambutnya karena masih kepikiran masalah Yara dan paman Yara.

__ADS_1


" Makanya jangan suka nuduh. Berasa kayak aku jadi tersangka selingkuh aja, Bby!! Kamu kan tahu aku sukanya sama siapa." decak Alana sebal. Ia bener2 kesel sama Saka.


" Emang kamu sukanya sama siapa?" goda Saka dengan senyum smirknya.


" Gak tau!! " jawab Alana sambil mencebikan bibirnya.


Cup!! Saka mencuri sebuah kecupan singkat di bibir Alana. Alana melotot, karena Saka mencium tanpa meminta ijin padanya.


" Bby!!"


tok tok tok


" Masuk!! " perintah Saka dingin.


" Bos.." Lio melangkah masuk dengan ragu karena wajah Saka siaga tiga. Kalau Alana senantiasa menampilkan wajah terbaiknya apabila ada orang yang datang.


" Ehm, bos. Paman Yara ada di rumah sakit ini. Ia menelepon ponsel saya bos. Katanya ponsel bos tidak aktif."


" Argghh, baru saja masalah satu selesai, dah muncul masalah lainnya. " seru Saka sambil menggerutu.


" Emang dia ada dimana? Di ruang rawat inap Yara?" tanya Alana kepada Lio.


" Masih di lobby rumah sakit, nona!" jawab Lio dengan datar.


" Alana, Lio!! Bukan nona!!" decak Alana dengan nada ketus. Ia tidak suka kalau Lio memanggilnya nona, karena ia tahu ibu mertuanya sudah mengangkat Lio sebagai anak angkat. Jadi tidak sepatutnya Lio memanggilnya nona.

__ADS_1


" Sudah biarkan saja! Lio emang selalu begitu, sayang. Aku akan menemui paman Yara di lobby rumah sakit dan mengantarnya ke ruangan Yara. Kamu tunggu disini." kata Saka kepada Alana, menarik Alana kedalam pelukannya dan mencium kening Alana dalam dalam. Saka tidak merasa sungkan untuk melakukan hal itu. Lain halnya dengan Alana. Ia merasa masih ada Lio disitu, tidak sepatutnya memamerkan kemesraan kepada Lio yang notabene juga masih jomblo. Gimana kalau jiwa jomblo Lio meronta ronta? Tapi Saka sudah berlalu bersama Lio meninggalkan Alana yang hanya bisa terdiam dan membisu.


***


" Paman?" sapa Saka dengan nada datar. Sebenarnya semenjak pengakuan Yara tentang anak Yara yang dibuang oleh pamannya, Saka sudah tidak respect dengan pamannya. Cuman orangtuanya dan Alana belum tahu tentang kebusukan paman Yara yang menjadikan Yara hanya sebagi komoditas. Walaupun semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, tapi bukan berarti membuang anak atau keturunan yang dilahirkan dong.


Emang ga tau ya? Kalau ada banyak orang yang sulit punya anak?


" Kamu ingin memisahkan Yara dengan seluruh keluarganya?" tanya paman dengan nada datar dan dingin. Paman datang dengan bibi Yara. Mereka memang bukan orang tua kandung Yara, tapi merekalah yang merawat Yara sejak kecil. Mereka menyayangi Yara karena merekapun tidak memiliki keturunan. Dan mereka telah menganggap Yara sebagai anak mereka sendiri.


" Tidak ada niatan sedikitpun bagi Renda untuk memisahkan Yara dengan keluarganya. Memang Rendra akui itu bagian dari kesalahan Rendra, karena tidak bisa menjaga Yara dengan baik sesuai amanat yang diberikan paman. Tetapi waktu itu Rendra sedang sakit dan tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Kekhawatiran Yara akan Rendra membawanya menyusul Rendra dari Penang ke Bandung. Karena memang waktu itu Rendra pingsan disini. " jelas Saka singkat dan padat masih dengan nada yang dingin. Mereka sama sama berdiri dengan suasana yang sangat tidak bersahabat.


Paman Yara menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar, tanda ia memendam emosi yang sangat besar.


" Kalau sampai ada apa apa dengan Yara, kamu dan Alana akan menanggung akibatnya!" kata paman dengan suara tertahan. Ia benar benar emosi. Ia menganggap Alanalah dalang dari semua ini. Alana yang mempengaruhi Saka untuk membuat Yara menderita.


" Bagaimana bisa Alana yang menjadi sumbernya, paman? Apakah paman lupa kalau sebenarnya pamanlah yang menjadi sumber ketidakbahagiaan pernikahan kami? Gara gara paman yang mencoba berkali kali menggugurkan kandungan Yara, dan membuang anaknya sehingga Yara menjadi depresi dan kandungannya lemah?" tanya Saka dengan seringainya yang dingin. Ia tidak habis pikir ada orang yang seperti pamannya Yara. Ia mengaku mencintai dan menyayangi keponakannya bak anaknya sendiri tapi ia lah yang selalu menyakiti dan membuat Yara depresi karena harus mengikuti keinginan pamannya yang selalu dengan dalih kebahagiaan Yara. Kebahagiaan Yara yang mana? Kalau ternyata paman Yara bisa dengan kejam memisahkan bayi yang baru lahir dengan ibunya?


" Alanalah yang merayu kamu untuk menyakiti Yara." bantah paman Yara dengan nada dingin.


" Alana tidak pernah ingin menguasai saya sekalipun ia telah melahirkan dua anak untuk saya, keturunan Perdana. Dan untuk paman, Rendra harap, paman tidak lagi mencampuri urusan keluarga Rendra, Yara dan Alana. Kalau sampai paman masih berusaha mencampuri urusan kami, Rendra tidak akan segan lagi dengan paman." sergah Ska dengan nada dingin. Ia tidak akan menoleransi siapapun yang akan menghancurkan biduk rumah tangganya dengan kedua istrinya, bahkan dengan paman Yara sekalipun. Karena jauh dilubuk hatinya ia sudah tidak lagi menaruh hormat kepada paman Yara semenjak rahasia Yara terbongkar. Dulunya ia sangat hormat pada paman Yara, karena sekalipun bibi tidak bisa memberinya keturunan, tapi paman Yara tidak pernah berpaling dan tidak menikah lagi untuk mendapatkan keturunan.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2