Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 61. Firasat Yara*


__ADS_3

Ketika Yara keluar dari rumah sakit di Singapura. Yara merasa sangat bahagia. Ia seperti burung liar yang dilepas dari sangkar emasnya. Ia sangat senang karena ia sudah tidak merasakan penyiksaan saat therapy yang ia jalani selama di Singapura.


" Kamu sudah siap pindah ke rumah sakit Penang?" tanya paman Yara sambil mengusap kepala keponakannya ini. Paman Raharja sangat menyayangi keponakannya ini. Ia sudah mengasuh Yara dari sejak sebelum ia menikah karena orang tua Yara sudah meninggal sejak Yara masih bayi. Paman Yaralah yang merawat Yara bayi sampai Yara menjadi dewasa.


" Iya. Tapi kita gak langsung kesana kok. Kita nunggu di hotel dulu kan?" ucap Yara dengab nada riang. Bahkan saat saat seperti ini membuatnya lupa kalau ia memiliki penyakit yang bisa sewaktu waktu membawanya menghadap orang tuanya.


" Benar. Tadi mas Rendramu titip pesan kalau kita disuruh berangkat, dan langsung masuk ke hotel. Kita harus nunggu dia sampai datang besok. Karena ada masalah yang harus ia tangani dulu. Kamu gak pa pa kan?" jelas paman Yara itu dengan nada hati hati. Ia melihat binar bahagia dimata keponakannya itu, ia juga tahu kalau keponakannya itu ingin memiliki waktu waktu bahagia semacam ini, bukan hanya melihat 4 tembok rumah sakit yang berwarna putih.


" Aku sudah tahu kok. Nanti konsulnya dokter rumah sakit sana harus sama mas Rendra. Makanya kita nanti ke hotel dan beristirahat dulu. Mudah mudahan mas Rendra datengnya lusa, jadi Yara bisa jalan jalan dan santai santai dulu. Gitu kan?" tanya Yara dengan wajah bahagia yang tidak dapat ditutupi.


" Lha kamu kok malah bahagia? Mas Rendramu aja belum bisa datang. Paling paling ngurus istri keduanya itu." sergah paman tidak suka. Ia membenci Alana, ia menganggap Alana lah yang membuat Yara sedih dan tidak bahagia.


" Paman, ga usah bahas kayak gitu. Gak inget kejadian yang lalu. Sudahlah Yara capek berdebat. Intinya jangan ganggu Alana. " bantah Yara dengan tatapan tajam. Yara merasa pamannya tidak belajar dari pengalaman masa lalu. Gak mau bertobat padahal sudah tahu salah. Yara hanya bisa mengelus dada nya. Saat ini tugasnya adalah melindungi Alana dari tingkah pamannya yang kadang terlalu jahat.


" Paman hanya membela kamu, sayang."


" Cukup! Kita bicara yang enak aja. Sekarang Yara mau main ke mall, mau makan di resto. Mau jalan jalan ke taman depan hotel. Mau kuliner. Mau.."


" Yaraaaa. Kamu itu masih sakit. Harus banyak istirahat."

__ADS_1


" Hadeh paman. Yara itu harus bahagia. Biar bisa sembuh. Gimana mau bahagia kalau hanya di dalam kamar rawat inap, dan hanya di dalam kamar hotel?"


" Tapi nanti kalau kamu pingsan?"


" Aku yakin mas Rendra sudah mengirim banyak bodyguard kesini. Pasti banyak yang akan nolongin paman. Sudahlah. Kita nikmati sebentar sebelum Yara harus ada di rumah sakit lagi."


" Tapi..."


" Tolonglah paman. Yara bosan di dalam kamar melulu. Yara pingin bisa jalan ke Mall dan jalan jalan keluar. Kalau paman gak mau nemenin. Biar aku sama anak buahnya mas Rendra. Paman bisa didalam kamar hotel saja. "


" Oke oke, biar bibimu yang akan menemani kamu belanja di mall, paman gak hobby, mending paman baca majalah bisnis di lounge. Dia lagi menata baju baju kamu untuk nanti malam."


" Dinnerlah. Katanya gak mau dikungkung di kamar terus. Paman akan ajak kamu makan di resto yang cukup terkenal disini. Katamu kamu mau bersenang senang?" ujar paman sambil tersenyum.


" Tapi, syaratnya kamu istirahat dulu di kamar, nanti kita ke mall, dan dinner disana. Gimana?" lanjutnya lagi.


" Siap paman. Yara akan istirahat di kamar. Sampai jumpa nanti." senyum sumringah Yara mengembang saat mengucapkan salam perpisahan dengan pamannya, menuju kamarnya. Tapi saat pintu ditutup, dan Yara sendiri di dalam kamar, raut wajah bahagia yang tadi tersungging di wajah Yara menghilang seketika, diganti raut wajah sendu.


" Firasatku mengatakan, Alana pasti lari dari rumah. Itulah kenapa mas Rendra dan Alana belum menyusulku kesini. Aduh, Alanaaaa. Bagaimana kalau bayimu kenapa kenapa. Aku pasti akan mengalah kalau kamu emang hanya mau mas Rendra untukmu seorang diri. Karena kamu emang layak bersanding sama dia. Bukan kayak aku yang penyakitan dan tidak bisa memberi kepuasan dan tidak bisa memberi keturunan." linangan air mata pun jatuh di pipi Yara.

__ADS_1


AUTHORS POV


Yara mengalami kanker ovarium stadium akhir, pada stadium ini Yara harus menjalani operasi histerektomi lengkap (yaitu : ovarium dan uterusnya diangkat) jadi bahasa gampangnya rahim dan kedua indung telurnya diangkat, prosedur ini akan membuat Yara mengalami perubahan hasrat seksual, menjadi dingin. Karena ovarium yang bertugas memproduksi hormon testosteron dan estrogen yang penting dalam berhubungan dan berkaitan dengan gairah se*sual. Kadar estrogen yang  menurun menyebabkan daerah inti Yara kering dan jaringan inti dalam nya menipis membuat kegiatan se*s yang seharusnya menyenangkan menjadi kegiatan yang menyakitkan buat Yara. Rasa sakit tidak hanya menimpa Yara, tapi juga menimpa Saka, karena itulah Yara sering bilang kalau ia tidak pernah bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang istri kepada Saka. Mereka tidak bisa melakukan hubungan badan dengan normal. Sebagai wanita, ia merasa rendah diri karena dia tidak bisa memberi kepuasan batin dan tidak bisa memberi keturunan. Padahal Saka atau mas Rendranya adalah anak tunggal di keluarga Langit Perdana. Tak dapat dipungkiri, kalau keluarga Saka ingin memiliki keturunan dari darah dagingnya sendiri.


POV END


" Aku harus membeli ponsel. Selama ini mas Rendra menghubungiku melalui paman, karena diwaktu lalu aku tidak boleh memakai ponsel. Tapi kali ini aku harus memilikinya sendiri. Aku ingin tahu perkembangan Alana. Aku juga rindu video call sama mas Rendra. Kalaupun mas Rendra ingin menceraikan ku karena ia ingin bersama Alana dan anak anaknya, aku bisa apa. Tapi aku berharap untuk bisa tetap bersama mas Rendra. Karena aku mencintai dia. Aku juga akan selalu ikhlas kalau mas Rendra lebih mencintai Alana dan lebih banyak tinggal bersama Alana, karena ada anak yang harus mereka prioritaskan."


"Ahhrgh... ya Allah, semoga disisa akhir hidupku, aku masih sempat memohon ampun pada anakku yang sudah aku campakkan. Maafkan ibu, nak. Yang tidak pernah bisa mempertahankan kamu, yang tidak bisa membelamu dan tidak ada saat kamu membutuhkan ibu. "


Yara membenamkan wajahnya yang penuh air mata kesedihan ke bantal dan menjerit didalam tekapan bantal tersebut agar suara jeritan dan tangisannya teredam dan tidak sampai keluar kamar hotel itu.


Yara memuaskan hasratnya menangis, meluapkan kesedihan yang dia pendam sejak lama.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2