Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
82. Permintaan Terakhir?


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit yang dituju, Yara langsung disambut dan ditaruh di brankar oleh dokter dan perawat yang di stand by kan oleh Lio, sedangkan sepasukan pengawal Saka, mereka langsung mengawal  Yara maauk ke dalam ruang gawat darurat mengingat kondisi Yara yang lemah.


Kondisi Yara yang sangat memprihatinkan membuktikan bahwa Yara sudah sangat memforsir tubuhnya untuk dapat bertemu dengan mas Rendra nya dan Alana. Baginya biarlah ini menjadi permintaan terakhirnya, setidaknya ia bisa meninggal diantara orang orang yang dikasihinya.


Dokter langsung segera melakukan tindakan untuk Yara yang sudah diletakkan di brankar rumah sakit. Memasang alat bantu pernafasan dan mengecek tubuh Yara.


" Dok? Apakah saya akan mati sekarang?" tanya Yara didalam kondisi antara sadar dan tidak.


" Ibu jangan berpikir yang tidak tidak. Ibu sudah mengeluarkan banyak tenaga. Mestinya ibu harus beristirahat total." sahut seorang perawat senior yang sedang melakukan pengecekan rutin bagi pasien yang baru saja masuk ke dalam ruang gawat darurat.


Seorang dokter menyuntikan sesuatu ke dalam tubuh Yara. Yang membuat tubuh Yara menjadi sangat ringan. Rasa sakit yang tadinya sangat menyiksanya agak berkurang membuat Yara berkata,


" Kayaknya ajal saya semakin dekat, bisa saya bertemu dengan suami dan madu saya?  Tolong dok! Anggap saja ini permintaan terakhir saya." rengek Yara kepada suster dan dokter yang ada disitu.


Kondisi Yara emang sudah sangat parah. Rasanya kelelahan membuat dirinya semakin parah.


Dokter pun keluar, di luar UGD dokter disambut oleh ayah Langit, ibu Irsyana dan Lio. Tampaknya Lio sedang dimarahin habis habisan oleh orang tua Saka. Ibu dan ayah merasa pengawal yang diberikan kepada Yara sangatlah teledor. Mereka dibayar untuk menjaga keselamatan Yara bukan untuk bersantai saja.


Kondisi Yara yang drop karena menyusul Saka diam diam membuat ayah dan ibu merasa bersalah. Paman Yara tak habis habisnya menelepon ayah Langit menanyakan keberadaan Yara yang menghilang di Penang. Paman Yara takut kalau Yara akan pingsan di jalan. Ternyata apa yang ditakutkan oleh ayah, ibu dan paman Yara terbukti. Yara tidak kuat dan sesampainya di rumah sakit yang merawat Saka, ia kembali kesakitan.


"Maaf, dengan keluarga pasien?" tanya dokter itu dengan suara datar.

__ADS_1


"Kami mertua pasien, dok. Suaminya juga sedang dalam perawatan intensif dok. Suaminya juga tidak sadarkan diri dan ini sudah hari kedua semenjak ia tidak sadarkan diri." jelas ayah Langit.


"Pasien minta bertemu dengan suami dan madunya? Maaf kalau saya salah, apakah pasien istri pertama dan suaminya memiliki istri kedua? Sekali lagi maaf karena ini emang ranah pribadi dari pasien." kata dokter itu dengan suara datar, ia agak sedikit takut kalau melanggar privasi pasien yang sedang dirawatnya.


"Ehm suaminya ya emang punya istri kedua, itu permintaan dari Yara istri pertamanya itu, karena kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan untuk memiliki anak dari rahimnya sendiri. " jelas ibu dengan suara terbata, sebenarnya ia malu mengungkap aib, tapi ia juga tidak mungkin menutupi, mestinya dokter bertanya karena ada sesuatu.


"Kondisi pasien sangat parah. Penyakitnya emang membutuhkan mukjizat. Saya rasa anda semua sudah tahu apa yang menjadi efek dari penyakitnya ya?" tanya dokter itu lagi.


"Iyaa dok, kami tahu. Bagaimana dengan kondisi menantu saya itu dok?" tanya ayah dengan suara berat.


"Rasa sakit yang diderita karena ia kelelahan membuat pasien tersiksa, Kami memberi penghilang rasa sakit tingkat tinggi. Ini merupakan gabungan dari morfin, karena ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya. Ada mati rasa di daerah tertentu, karena jaringan syarafnya juga sudah beberapa yang terkena. Saya tidak bisa memberikan opini lebih lanjut, Karena ini membuituhkan observasi lagi. Mungkin medical record dari rumah sakit sebelumnya kami butuhkan. Sementara penuhi permintaan pasien yang ingin bertemu dengan suami dan madunya itu. Saya tinggal dulu, kami akan melakukan observasi terkait dengan pasien." ujar dokter itu sambil berlalu.


"Baik terimakasih dok." sahut ibu memandang punggung dokter yang sangat tergesa gesa berlalu dari hadapan mereka.


"Ayah, jangan marahi Lio terus. Sekarang kita harus mencari solusi. Ibu akan menelepon Alana untuk segera bersiap. Biar supir kita yang akan menjemput Alana untuk datang ke rumah sakit. Kita harus balik ke kamar rawat inap si Saka, siapa tahu anak itu sudah sadar. Ia harus cepat sadar, tanggung jawabnya akan Yara dan Alana tidak boleh ia tinggalkan begitu saja. Ibu kayaknya tahu bagaimana menyadarkan Saka." sahut ibu menengahi.


"Baiklah! Ayah kira itu sebuah usulan yang menarik. Langsung ditelepon saja Alananya bu, arghhh ayah sebenernya kangen sama Genta."


"Yah, ini kan rumah sakit, gak mungkin kalau kita mengajak Genta ketempat ini. Disini tuh banyak virus dan bakteri, kasian cucu kita nanti."


Tanpa menunggu jawaban ayah, ibu langsung menjauh dan menekan no ponsel Alana yang termemory di ponselnya. Tak lama kemudian, ibu sudah balik ke dekat ayah dan Lio. Lio hanya terdiam saja karena ayah Langiit masih saja memarahi Lio. Supaya tidak terlalu menuruti Saka dan membantu Saka apabila yang dilakukannya itu tidak benar. langsung melaporkan kegiatan terlarang Saka kepada ayah dan bukannya malah membantu saka.

__ADS_1


"Bu, kok cepet amat. " ujar ayah keheranana, karena ibu balik dengan cepat dan masih dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


"Ya cepet dong, soalnya ternyata Alananya sudah ada disini. Alana itu ingin menjenguk Saka diam diam, gitu loh yah!!"


"Oalah, masih cinta rupanya." sindir ayah.


"Tetep cinta, itu ulah dari cucu kamu, ia tidak pingin daddynya menyiksa mommynya terus." bela ibu lagi.


"Lha itu ndak si Alana datang." lanjut ibu dengan wajah yang gembira melihat menantu kesayangannya datang. Perut Alana yang buncit tidak menghalanginya untuk bergerak lincah. Alana langsung meraih tangan ayah dan ibu dan menciumnya bergantian. Wajahnya yang sendu, matanya yang bengkak membuat ayah gak tega untuk memarahi Alana.


"Lana. kamu tahu kesalahanmu?" tanya ayah dengan nada lembut, ia tahu Alana gak bisa disalahkan juga, tapi juga tidak bisa dibenarkan.


"Iya ayah, maafkan Lana, yah. " tangis Alana pecah. Ayah jadi kelimpungan dan dari sorot matanya ia ingin meminta petolongan pada ibu, tapi ibu hanya cuek dan diam saja.


"Eh loh eh, kok kamu malah nangis. Ayah itu gak marah sama kamu, tapi akibat yang ditimbulkan dari kepergianmu adalah Saka jadi pingsan dan belum sadar samapi sekarang. Ayah tahu kalau semuanya adalah salah Saka tapi ayah maunya kamu terus terang sama ayah biar ayah yang menghajar Saka, dan masalah tidak berlarut larut. "


jelas Ayah dengan suara lembut. Alanapun menghentikan tangisnya mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2